
Johan begitu menikmati perjalanan ke kantor pagi ini. Dia harus berterimakasih pada Agiel, karenanya, kini dia merasakan menjadi penumpang Harris. Johan terkekeh dalam hati.
Menyandarkan tubuhnya, sedikit terbuai sebab laju kendaraan ini sangat pelan. Rasa kantuk tak pelak melanda matanya. Sejak menikah, Johan memang kurang tidur. Sesalnya kini menjadi-jadi. Kenapa tidak dari dulu saja menikah lagi. Sesekali senyumnya terkembang tipis, tidak ingin memancing kemurkaan Tuannya yang sedang kerepotan dengan putranya dalam pangkuannya.
Tangan Harris menahan perut Agiel, menekannya sedikit, menempel ke tubuhnya. Perjalanan yang seharusnya tak sampai 20 menit, kini memakan waktu nyaris satu jam penuh. Selain macet, juga Harris tak bisa leluasa melajukan kendaraannya. Bocah ini menghalangi pergerakannya.
Sesekali manik mata hitam itu melirik istrinya yang juga kuwalahan dengan kelakuan putranya. Namun, Azziel lebih gampang diatur meski sama-sama berteriak nyaring.
Decakan kesal terdengar entah keberapa kali, sebab Harris terpaksa menepikan mobil saat Agiel kembali berontak. Dia memaksa pindah dari pangkuan Papanya menuju Johan yang tengah memegang ponsel.
"Giel, please!" Harris menatap sendu putranya. "Papa bisa telat nanti jika bolak balik berhenti,"
Bocah itu abai saja meluncur nyaman kedalam uluran tangan Johan.
"Giel, sering-sering ngambek kaya gini ya! Biar Paman menikmati menjadi bos!" Bisik Johan, setelah Agiel dalam pangkuannya. Menciumi pelipis bocah itu dengan gemas meski sering menjengkelkan.
Harris semakin kesal mendengar penuturan Johan. Segera dia melajukan mobilnya dengan kecepatan lebih tinggi, selagi bocah itu tidak mengerecokinya. Juga, sekarang dia tak bisa lagi mengancam Johan seperti dulu, Johan mendapat dukungan penuh dari keluarga Darmawan.
***
Lobi kantor sudah tampak sepi, sebab sekarang jam kantor sudah mulai beroperasi. Petugas keamanan dibuat heran dengan kedatangan Bosnya yang sudah sangat terlambat pagi ini. Namun, mereka tak punya hak untuk bertanya. Mereka menunduk hormat saat mobil melintas didepan mereka. Dan sekali lagi mereka dibuat ternganga melihat keanehan pagi ini.
"Gendong Agiel sampai diatas!" Titahnya pada Johan yang langsung melemas. Sementara Harris segera turun dan mengambil alih Azziel dari gendongan Kira.
"Aku kuat kok gendong Azziel!" protes Kira, dia merasa sungkan sebab ini di wilayah Harris, dimana dia harus menjaga wibawanya. Namun, Harris mengabaikan istrinya, malah menariknya kedalam rengkuhannya.
"Aku hanya mengikuti saran Vivian, agar kau tidak membawa beban berat!" Desakan dari lengan Harris memaksa Kira melangkah dengan pasrah.
"Tapi Azziel bukan beban berat, Bang! Aku kuat kok!"
"Simpan tenagamu untuk Abang malam nanti! Aku ngga suka kamu nyerah sebelum-"
Ucapan Harris tertelan sempurna oleh jemari lentik dan wangi milik Kira. "Bisa ngga jangan ngomongin itu mulu!"
__ADS_1
Dibalik tangan Harris menahan senyum, melihat Kira yang melebarkan kelopak matanya. Membuat Kira kesal selalu meningkatkan semangatnya, namun dia tak pernah berani membuatnya marah. Bisa jadi malamnya akan terasa dingin dan hampa sampai berhari-hari.
Sampai memasuki pintu utama Kira baru melepaskan tangannya. Berusaha tersenyum ramah kepada resepsionis dan beberapa karyawan yang berpapasan dengan mereka.
Jeritan histeris namun tertahan juga lompatan lirih seakan dikomando mulai memenuhi ruangan ini. Bagaimana tidak, Bos super keren yang begitu tampan terlihat semakin memesona dengan bocah menggemaskan dalam pelukannya. Pemandangan indah, namun juga mengecewakan. Tentu saja, wajah penuh ketidaksukaan dari wanita dalam jangkauan bos, membuat beberapa hati patah.
-Sudah memiliki permaisuri yang merangkap jadi selir hati-
Johan sudah menanti Harris didepan pintu lift, dengan banyak karyawan yang mengerubuti Agiel.
"Kira.." diantara kerumunan itu ada Kalina yang begitu gemas dengan Agiel yang tampan. Dia berlari menghampiri Kira dengan tangan terulur kedepan. Namun, segera terkatup saat melintas di depan Harris. Sebagai gantinya dia menunduk hormat lalu menggaet lengan Kira sedikit menjauh.
"Sorry Ra, kemarin aku ngga bisa datang! Mertuaku sakit, dan aku harus menjaganya." bisik Kalina.
"Iya ngga apa-apa. Gimana mertuamu? Sudah sehat?"
"Belum Ra! Mama ngga mau dirawat dirumah sakit, dan maunya sama aku terus! Meski kakak suamiku menawarkan diri merawatnya!"
Kalina reflek menutup mukanya dengan kedua belah telapak tangannya. "Kelihatan banget ya?"
"Ngga apa-apa kali, itu tanda baktimu pada mertuamu! Apalagi mertuamu sayang banget sama kamu!"
"Iya sih, Ra!" Bibir Kalina mengerucut. "Eh Ra, jatah cutiku sudah habis! Tapi aku sewaktu-waktu butuh bantuanmu untuk minta tambahan izin ya!" Alis Kalina naik turun.
"Iya, nanti aku bantu!"
"Kalau jatah cuti sudah habis, harus izin dengan jelas dan dalam batas waktu yang sudah ditentukan sejak awal! Jika mau fokus pada hal lain, bisa minta form resign di bagian personalia!" Tegas Harris tanpa menoleh. Rupanya telinga tajam Harris menangkap semua pembicaraan mereka berdua.
Seakan napasnya direnggut paksa, Kalina membeliak. Manik matanya bergerak ke arah Kira dan Harris bergantian. Tak lama berubah menjadi sendu. Hampir menangis.
"Jangan dipikirkan, itu jadi urusanku nanti!" Kira menepuk pundak Kalina untuk menenangkan hatinya. "Sebaiknya mulai bekerja, Lin! Biar dia ngga makin kesel!"
Kalina mengangguk dengan melingkarkan telunjuk dan ibu jarinya. "Sampai nanti ya, Ra!"
__ADS_1
Kira tersenyum mengantar kepergian Kalina. Senang sekali rasanya melihat sahabatnya itu memiliki mertua yang sangat sayang padanya. Suami yang setia dan kakak ipar yang pengertian. Meski dulu sempat sesak setiap Kalina berbicara tentang keluarganya, kini Kira akhirnya bisa merasakan apa yang Kalina rasakan.
"Kau juga beruntung seperti Kalina Yang! Hanya suaminya Kalina bukan pria buruk sepertiku!" Seperti mengerti apa yang ada dalam pikiran istrinya, Harris meraihnya kembali dalam rangkulannya.
Suara decakan diiringi cibiran meluncur dari bibir menggoda itu. "Aku suka pria buruk yang tampan dan penyayang sepertimu, Bang!"
"Sebaiknya kau tidak melakukan itu demi tambahan cuti Kalina! Itu dua hal yang berbeda, Akira!" mendadak Harris menjadi tegas, sorot mata penuh peringatan itu menebarkan ancaman yang tak bisa ditawar-tawar.
Meski kesal Kira hanya bisa pasrah, ada saat tertentu pria tinggi ini takluk di bawah kekuasaannya.
"Aku sabar menunggu hari itu."
.
.
.
.
.
.
.
.
Maafkan saya yang jarang up ya man-teman😔🙏
Meski dikit ku usahakan up...😔
Maafkan Typo yang bertebaran🙏😔
__ADS_1