Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Jangan Mengasihaniku


__ADS_3

Raut wajah Johan seakan digelayuti mendung pekat. Sejak mendengar keputusan Harris beberapa waktu lalu, Johan dilanda gundah. Pikirannya terus berputar, memikirkan cara agar Tuannya menggugurkan keputusan yang dirasanya sangat kejam.


Sebanding memang, tapi apa ini tidak berlebihan? Johan duduk dengan dagu menumpu pinggiran boks bayi. Dielusnya pipi bayi merah yang tengah tertidur pulas. Bukan hanya sekali, dua kali dan berkali-kali, sehingga terlahir desiran halus menjalar dari bagian tengah tubuhnya. Lalu merambat hingga kesekujur tubuhnya. Hangat dan memikat. Seakan candu yang memabukkan.


"Sampai kapan kau akan memandangi bayiku, Jo? Apa kau tidak bekerja?" Suara Viona terdengar nyaring. Sepertinya pengakuan dosa membuat bebannya terangkat, wanita ini bahkan mengulas senyum sejak Johan kembali ke kamar inap.


Johan bangkit dari posisinya yang semula membungkuk, ditariknya napas dalam-dalam sebelum berbalik. "Kau sendirian nanti!"


Viona terkekeh geli, "Tak masalah buatku, aku kuat kok. Aku bisa berjalan, mengurus diriku dan bayiku sendiri!"


Johan terdiam, alasannya sungguh tidak masuk akal. Mereka bukan kekasih, hanya teman yang belum terlalu dekat.


"Kenapa kau menyerahkan dirimu?" Pertanyaan aneh lain yang terlontar begitu saja dari mulutnya yang lancang. Dia sudah tahu jawabannya. Johan mencibir dalam hati, betapa bodohnya dia.


"Setidaknya aku tak punya beban lagi. Beberapa tahun di sana, kurasa akan mengurangi sedikit lagi rasa bersalahku padanya," Viona mencoba tegar, meski mata bening itu mulai mengembun. Viona menyadari dirinya terlalu meninggikan ego, sehingga tak melihat besarnya cinta Harris padanya.


Johan menatap lekat kedua manik mata Viona, "Katakan sejujurnya, apa kau masih mencintainya?"


Viona tertawa lepas, sehingga membuat Johan mengerutkan keningnya. Entah, Johan hanya ingin tahu saja.


"Pertanyaan macam apa itu, Jo? Kau ini lucu sekali," Viona tertawa lagi, sampai keluar airmatanya. Bagi Johan itu tawa kekalahan.


"Aku menebak, kau baru menyadari bahwa kau sebenarnya cinta sama dia, tapi kau datang sudah sangat terlambat!" Ucapan Johan menghentikan tawa Viona. Seakan tangan besar membekap mulutnya. "Apa aku benar?"


Viona menunduk, titik-titik bening mulai menghujani pangkuannya. "Kau benar, Jo. Tapi, kurasa di sinilah titik puncak semua penatku. Aku dengan ikhlas menerima apapun. Apalagi, Kira dan ibunya terlalu baik padaku."


Viona menyeka airmatanya dengan kasar, lalu tertawa kecil. "Jangan mengasihaniku, aku pantas mendapatkannya."


Sejenak, kedua pasang mata mereka kembali bertemu.


"Aku tidak mengasihani kamu, tapi bayimu. Siapa yang akan mengasuhnya nanti?" Johan masih menatap lekat Viona yang terlebih dulu memutus kontak mata mereka.


"Jangan tanya, aku sendiri tidak tahu," Viona mengangkat bahunya. "Kurasa panti asuhan tidak buruk juga."


"Kau sudah tidak waras, ya?" Bentak Johan. Suara menggelegar Johan membuat bayi itu terkejut dan menangis.


Johan langsung bangkit dan menuju boks bayi. Dengan hati-hati, dia menggedongnya, dan diserahkan kepada Viona.

__ADS_1


"Oh, anak Mama kaget, ya? Uh, Sayang," Viona menepuk pelan paha kecil bayinya. Bibirnya tak henti mengucapkan penghiburan.


"Aus ya, Sayang? Uh..." Viona menempatkan bayinya di posisi yang nyaman untuk menyusu. Tetapi, tangannya berhenti saat hendak membuka kancing bajunya.


"Apa yang kau lihat? Keluarlah!" Seru Viona di sela rengekan bayinya, pada Johan yang masih menatapnya.


Johan terpana, sehingga tubuhnya terasa kaku. Dia sudah seperti patung hidup. Johan seperti melihat sisi lain dari seorang Viona yang tinggi.


"Maaf, maaf! Aku tak bermaksud apa-apa. Em, sebaiknya aku kembali ke kantor saja!" Ucap Johan terbata-bata. Johan melesat ke pintu secepat yang dia bisa. Dia kepalang malu.


***


Harris sedang duduk bersandar di balik meja kebesarannya, tangan kirinya memegang lembaran kertas yang disusun dalam satu kaitan. Sedangkan tangan kanannya menempel di dagu. Sesekali membalik lembaran kertas itu. Pahatan indah sempurna, dambaan setiap wanita. Mapan dan tampan.


Pintu diketuk dari luar, menandakan ada yang ingin memasuki ruangannya. Harris mengangkat wajahnya, bersamaan dengan pintu yang terbuka. Keduanya bertatapan tapi tak mengucap sepatah katapun. Harris heran dibuatnya. Biasanya, Johan menyapanya terlebih dahulu.


"Kenapa kau lama sekali?" Seru Harris, saat Johan melenggang santai tanpa berniat menyapanya.


"Tuan, bisakah anda mengubah keputusan anda? Kasihan bayi Viona jika harus hidup di dalam sana!" Johan menghindari menyebut tempat yang menurutnya mengerikan.


Johan mengerjap dan menipiskan bibirnya. Kelu. Sebagai bawahan, seharusnya dia tidak banyak meminta. Atau menawar. Tetapi, nuraninya berontak saat melihat nyawa tanpa dosa ikut menanggung beban kesedihan. Tunggu. Nurani? Ya, nuraninya, sebagai sesama manusia. Itulah jawabannya. Alasan yang tak mampu menggoyahkan prinsip mendudanya. Selamanya, hanya ada satu nama.


"Maaf, Tuan. Tapi mohon dipertimbangkan lagi. Apalagi anda akan segera punya bayi, saya harap anda bijak dalam mengambil keputusan!" Johan segera berbalik dan berjalan menuju pintu. Ucapan Johan menggelitik nalurinya. Entahlah, Harris sendiri tidak tahu. Selain kebiasaan yang menular, rupanya sikap labil istrinya dengan cepat menyatu dengannya. Huft.


Harris menghenyakkan tubuhnya pada sandaran kursi putarnya. Dipijatnya kening yang terasa berat, dengan penekanan di ujung jemarinya. Berat. Dua sisi yang agak berat sebelah. Diraihnya lagi, lembaran kertas yang tergeletak sembarangan, dibaliknya dengan cepat hingga nyaris sobek, ketika gerakannya semakin cepat dan tak beraturan.


Harris bangkit dengan cepat setelah melempar berkas ditangannya. Kesal, setelah hatinya mantap untuk membalas Viona, tiba-tiba Johan seperti menghalangi niatannya tersebut. Harris menyudutkan tangannya, dia berjalan hilir mudik, dengan sebelah tangannya menarik-narik rambutnya. Seharusnya ini mudah bagi seorang Harris yang tak mudah goyoh.


"Anda sudah ditunggu di ruang rapat, Tuan!" Harris menoleh ke arah pintu di mana Johan tengah berdiri dengan tangan memengang gagang pintu. Ekspresi Johan tenang sedikit menajam saat melihat Harris.


Harris menghela nafas, diambilnya beberapa barang yang diperlukan untuk pertemuan kali ini. Kedua orang yang biasanya banyak bicara itu kini membisu, larut dalam pikiran masing-masing.


Bahkan, Johan tetap irit bicara hingga malam hari. Usai mengantar Harris sampai di rumah, Johan langsung melesat kembali, entah tak tahu kemana.


Harris berdecih, "Sama orangnya marah, tapi mobilnya dipakai, huh."


***

__ADS_1


Kira tengah menyandarkan punggungnya yang sedikit pegal. Diapit empat bocah yang sejak tadi berebut mengusap perut mamanya yang mulai terlihat menonjol.


"Ma, adiknya gerak, Ma!" Jen yang semula berbaring, berteriak nyaring saat merasakan gerakan dari dalam perut mamanya. Dia begitu terpana, bergantian dia memandang Kira dan telapak tangannya yang menangkup perut Kira.


Excel dan Jeje yang semula berbaring juga ikut bangun dan ikut memegang perut mamanya. Keduanya saling pandang, sebab mereka tak merasakan apa-apa. Mereka mendengus sebal, merasa dipermainkan Jen. Dengan malas keduanya kembali merebahkan diri di sebelah mamanya.


Kira membuka matanya yang terpejam, dia juga merasakan gerakan pertama dari janin di kandungannya. Meski sudah pernah mengalami, tetapi, Kira tetap merasakan desiran yang luar biasa membahagiakan hatinya.


"Itu gerakan adik Jen. Jen suka tidak punya adik?" Kira mengulurkan tangannya menggapai kepala Jen yang duduk tegak dengan mata berkilat-kilat bahagia.


"Suka, Ma! Adik Jen pasti perempuan seperti Jen!" Terdengar decakan dari Jeje yang membuat Jen membeliak lebar. Memandang Jeje yang tak melihat ke arahnya, dengan galak.


"Lelaki perempuan sama aja, Jen," Kira susah payah bangkit dari rebahannya. "Kenapa Kristal diam saja?"


"Aku kangen Mama, Tan!" Ucap Kriastal tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar televisi.


Kira mengulas senyum, "Kan tadi udah tengok Mama di Rumah sakit!"


"Iya, Tan. Tapi Kristal ingin menemani Mama. Pasti Mama kesepian," Kristal bangkit dan menatap Kira berharap Kira mengerti keinginannya.


"Besok Mama pulang kok, Kristal tunggu saja di rumah. Jadi anak yang baik dan jangan menyusahkan Mama, oke!" Kira menyatukan ibu jari dan telunjuknya membentuk lingkaran. Kristal mengangguk, meski sebenarnya dia sedikit kecewa.


"Kalian cepat tidur, ya!" Kira mengusap kepala empat bocah itu bergantian, ekor matanya melirik jam yang mengantung di dinding. Seharusnya Harris sudah pulang sekarang, bahkan ini sudah terlalu larut.


Keempat anak itu segera beranjak ke tempat tidur masing-masing. Tanpa banyak rengekan lagi, mereka menarik selimut dan memejamkan mata. Kira mengecup kening mereka bergantian sebelum mematikan lampu dan menutup pintu.


Kira melangkah hati-hati menuruni tangga yang landai. Tangannya menelusuri pembatas tangga yang terbuat dari kayu. Bibirnya bersenandung lirih, mengikuti gerakan daster batik yang dipakainya.


Sepi. Biasanya masih ada Viona jika Papa mertuanya tidak berada di rumah seperti sekarang. Kira melangkah masuk ke kamar, dia hendak menutup tirai yang belum ditutupnya. Tetapi, ketika tangannya meraih tirai bernuansa emas itu, matanya menangkap sinar terang dari ruangan di mana pelengkapan olahraga Harris berada.


Kira menyipit, mungkinkah suaminya disana?




__ADS_1


__ADS_2