Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Complicated Situation 2


__ADS_3

"Kau mengenalnya, Sayang?" Tuan Winata mengusap pipi berpulas perwarna merah muda, saat kedua mata wanita piaraanya menatap nanar pada orang-orang yang berdebat tak jauh dari tempatnya berdiri.


"Iya, Om. Dia mantan kakak iparku, dan yang di sana, adalah suamiku," Riana masih memaku pandangannya pada Kira dan juga Raka yang bersembunyi di balik tembok, mencuri dengar apa yang di bicarakan oleh dua wanita itu.


"Mantan kakak ipar? Tapi sepertinya dia tidak menyukai suamimu? Apa dia juga tidak menyukaimu?" Tuan Winata, pria berusia 45 tahunan itu, menyeka rambut gelombang Riana, ke belakang telinga. Begitu lembut penuh perhatian, sehingga membuat Riana nyaman.


"Ya, aku sangat membencinya, karena dia hidupku dalam neraka, Om. Dia hanya wanita kampungan yang memanjat ranjang pria-pria berduit, untuk mengangkat derajatnya," Ucap Riana, begitulah, setidaknya itu yang di pikirkan Riana tentang Kira. Meski di sini dialah si pemanjat ranjang itu. Setiap wanita yang berada di sisi pria kaya, adalah wanita perayu seperti dirinya. Jika tidak, bagaimana bisa wanita yang bahkan bukan apa-apa itu berada di sisi pewaris grup WD, dan mendapat perhatian penuh sanjungan dari setiap orang? Ayolah, bahkan Riana rela merangkak untuk sekedar mendapat kesempatan menghangatkan malamnya.


"Om rasa, wanita itu memiliki sesuatu yang bisa membuat pria takluk," Tuan Winata berbicara dari sudut pandangnya, hanya penilaian biasa. Dan Riana yang berada di depannya tidak melihat ekspresi lapar dan dahaga seorang pemain cinta. Tuan Winata menaruh minat pada Kira yang tubuhnya berbalut kaus turtleneck berwarna gelap, sedikit longgar berpotongan pas dengan celana jeans panjang melebar di bagian bawahnya. Jika saja lengannya terangkat pasti akan mengekspos titik tengah tubuhnya. Rambutnya yang tergerai bebas, dan wajah sendu itu tampak ayu saat bersanding dengan pria tinggi yang posesif merengkuhnya.


Bukan, bagi Tuan Winata, seorang wanita akan sangat menggoda untuk di miliki, jika masih dalam dekapan pria lain. Tuan Winata terpaku, pikirannya melayang, di penuhi bayangan kotor akan apa yang mereka lakukan. Kantor? Suami istri? Pasti akan sangat menyenangkan, bisa mengalihkan pikiran dari fluktuasi harga saham di pasar saham.


Tuan Winata, meremas lengan Riana tanpa sadar. Jakunnya naik turun, membayangkan wanita bertubuh tinggi itu berada dalam kekuasaannya.


"It's hot," Desisnya.


"Jangan di sini, Om. Kita ke apartemen saja," Riana mengusap jemari kokoh Tuan Winata. Dan menyandarkan tubuhnya di dada bidang pria matang itu. Sehingga membuat Tuan Winata sadar dari fantasi liarnya.


Dia mendesah, membasahi kerongkongannya yang terasa kering. Bukan perkara mudah mendapatkan wanita dalam pelukan Dirgantara Junior. Tuan Winata tahu betul karakter generasi Dirgantara. Tapi bukan hal yang mustahil, dengan sedikit gesekan dan percikan api.


"Ayo, Sayang. Om tidak ada jadwal untuk hari ini dan dua hari mendatang," Ujar Tuan Winata dengan senyum penuh misteri. Mata Tuan Winata tidak lepas memperhatikan Kira dari meski tubuhnya sudah membelakangi.


"Kau dalam bidikanku, Sweety," Gumam Tuan Winata dalam hati, sekali lagi, tangannya tanpa sadar meremas pinggang Riana. Dan berhasil membuat Riana menggigit bibir.


***


Rio mengikuti Vivian, mengambil tempat duduk yang sedikit jauh dari Harris yang seperti kaku saat berhadapan dengan Vivian. Begitu duduk Harris langsung membuka smartphone-nya


"Ris, maaf ya, soal pembatalan janji dengan istrimu," Vivian membuka percakapan satelah beberapa saat hening.


"Bukan masalah, yang penting dia tidak mempermasalahkan, aku tidak keberatan," Jawab Harris cepat dan, tanpa memandang Vivian sama sekali. Harris masih asyik memainkan smartphone-nya.


"Baguslah kalau begitu, aku takut kau akan marah," Ujar Dokter Vivian lirih. Dia tersenyum getir, dan pias. Dia sedikit tidak nyaman dengan keadaan yang serba canggung ini.


"Aku tidak punya alasan untuk memarahimu, kau di bawah wewenang Rio, bukan aku," Ucap Harris acuh. Dia hanya melirik sekilas ke arah Vivian dan Rio.


Obrolan yang sedianya di tujukan untuk mencairkan suasana malah membuat keadaan memburuk dan kaku. Dan Rio hanya diam, tanpa berusaha menimpali obrolan sekedar menyelamatkan perbincangan yang tidak berjalan lancar ini.


"Ya, kurasa kau benar." Vivian mengusap tengkuknya yang merinding. Vivian menyiku lengan Rio, seolah menyuruh Rio ikut menghidupkan suasana.


"Bang, tadi Nina sama Johan ya?" Pertanyaan Rio membuat Vivian berkerut geram. Dan, dia mengusap keningnya alih-alih menepuknya.


"Mungkin masih di luar," Jawab Harris acuh.


"Nina?" Rio seperti tergelitik rasa penasaran. Dan itu berhasil membuat Harris mengangkat wajahnya.

__ADS_1


"Untuk apa kau tanyakan dia? Dia paling di antar pulang oleh Johan," Mata Harris kembali melubangi dada Rio. Aneh sekali anak ini? Tumben nanyain Nina. Pikirnya.


Rio mengangguk saat tatapan menyelidik diarahkan padanya. Namun dia yang paham isi hati Harris, memilih cara aman agar terhindar dari interogasi lebih lanjut.


"Bang, aku keluar dulu ya, ada urusan sebentar," Rio meminta Izin Abangnya, yang segera dianggukinya, namun Vivian menarik ujung lengan kemeja Rio, dia keberatan jika di tinggalkan sendirian dengan Kira dan Harris sekaligus.


"Hanya sebentar kok, kau baik-baik di sini, ya." Rio melepas capitan kecil di ujung lengannya dengan mudah, seraya melayangkan senyum untuk menenangkan Vivian.


Rio segera melajukan mobilnya dengan perasaan kacau. Semoga pikirannya keliru, dia tiba-tiba menjadi sangat takut kehilangan wanita itu.


***


Nina memejamkan mata, terasa panas dan sesak. Sejak duduk di sebelah Johan hingga setengah jalan menuju rumahnya, Nina belum mengucap sepatah katapun. Hanya desah nafasnya terlihat naik dan turun, sangat berat. Seakan tertimpa sesuatu yang menyesakkan dada.


Johan mengerti benar apa yang di rasakan gadis muda ini. Dan situasi apa yang sebenarnya dilihatnya tadi.


"Kau baik-baik saja?" Johan yang sedikit khawatir menepikan mobilnya, memperhatikan Nina yang memalingkan wajahnya ke arah luar mobil. Dia terus terisak, dan semakin keras.


Johan keluar dari mobil dan membuka pintu di sebelah Nina. Dengan sabar Johan menuntun Nina ke bagian depan mobil. Mendudukannya di sana. Lalu Johan melakukan hal yang sama, menghadap sebuah kebun kecil dengan tanaman perdu dan pepohonan yang menghembuskan angin sejuk sore hari. Membelakangi matahari yang membakar kain menembus hingga kulit. Matahari akhir tahun yang memberi sakit menusuk hingga ke hati.


"Sakit?" Satu kata yang berhasil meluluh lantakkan perasaan Nina yang sedikit membaik ketika angin menerpa wajahnya.


Nina menutup mulutnya dengan kedua belah tangannya, pandangannya kabur dengan cairan yang menumpuk di pelupuk matanya. Antara anggukan sebagai jawaban atas pertanyaan Johan juga guncangan akibat tangisnya yang tak mampu di sembunyikannya lagi.


Johan menepuk pelan punggung Nina, Johan tahu apa yang di rasakan Nina. "Jadi dia orangnya?"


"Kamu suka dia dan dia menolakmu, begitu?" Johan masih memandang Nina, tangannya masih mengusap punggung gadis itu.


Nina mengangguk lagi, tangannya berusaha menghentikan aliran air matanya, yang masih tak tahu diri meluncur tanpa permisi.


"Kau masih lebih baik dariku, setidaknya dia menolakmu, jadi kalian tahu bagaimana harus bersikap, membenci atau berdamai," Johan menerawang jauh, "Kau masih beruntung, nasibmu tak sepelik diriku."


"Pak Johan juga menyukai seseorang?" Nina telah mendapatkan suaranya kembali. Bibirnya basah karena berulang kali dia menarik bibirnya ke dalam.


Johan tersenyum getir, "Bukan sesuatu yang patut di banggakan, Nin. Aku sadar, dia bahagia bukan denganku. Meski sulit, aku akan merelakan."


"Pak Johan hebat, tidak mudah lho Pak, melupakan dan merelakan itu," Nina melengkungkan senyum lemah, tapi saat ada orang yang mengalami hal yang sama, rasanya ada seseorang yang mengerti perasaan kita.


"Iya, tapi mau bagaimana lagi, Nin. Aku sudah tidak memiliki harapan lagi. Tapi kalau kamu kayaknya masih ada peluang. Asal mau berusaha," Johan menarik senyum samar, namun masih bisa di lihat oleh Nina.


"Tidak, Pak. Ku rasa aku tahu kapan harus menyerah, sebelum perasaanku semakin dalam padanya," Nina tertunduk, air matanya kembali membanjir deras. Menetes-netes di celana jeans biru miliknya. Nina menyesal melabuhkan cinta yang salah untuk kedua kalinya.


"Kau yakin? Kau akan menyesal, Nin, jika kau benar-benar menyukainya," Johan memancing Nina untuk mengeluarkan isi hatinya.


Nina menoleh dengan cepat, bulu matanya yang masih basah berkibar, menghalau rasa ingin tahu, "Maksud Pak Johan apa?"

__ADS_1


"Jangan buru-buru menyerah, Nin. Pertahankan saja dulu meski sakit," Johan tersenyum.


Nina mengerutkan bibirnya kedepan, "Kenapa Pak Johan begitu yakin?"


"Entahlah, ku rasa, gadis baik akan dapat jodoh pria yang baik juga," Johan mengusap kepala Nina berulang-ulang.


"Tapi aku lelah, Pak. Dia terus saja menghindariku, ku rasa, dia memang tidak menyukai wanita sepertiku, yang, yah, Pak Johan tahu sendiri aku seperti apa?" Nina membuka kedua telapak tangannya ke udara. Seakan dia sudah tak ada harapan lagi.


"Kau hanya ekspresif, Nin. Wajar untuk gadis seusiamu, setiap tahapan usia pasti akan ada tantangannya, agar kamu semakin dewasa dan matang. Ku rasa, dia hanya tidak mengerti cara menghadapi wanita," Johan menatap kosong garis putih di sisi jalan raya.


"Pak Johan salah, seingatku Mbak Kira sudah sangat dewasa bahkan sejak dia masih SMA. Dia tidak pernah tuh, heboh kaya aku? Apa Mbak Kira melewatkan salah satu tahapan hidupnya?"


"Kau ini, di kasih tahu bukannya mendengarkan tapi malah membantah. Itu namanya pembawaan, Nina," Johan menimpuk kepala Nina dengan telapak tangannya, sehingga lehernya turun seketika, meski Johan tidak menggunakan tenaga.


"Sakit, Pak," Nina cemberut hingga bibirnya maju beberapa mili, tangannya, menghalau tangan Johan dari kepalanya. Johan tertawa, terbahak, melihat Nina yang kesal.


"Pak Johan, jahat," Nina menghentakkan kakinya ke aspal. Tangannya memukul lengan Johan, sama sekali tidak menyakitkan. Bagi Johan, Nina itu sangat imut dan ceria. Cukup menyenangkan, dan lugas, seperti Kakaknya.


"Lebih baik?" Johan meringis setelah pukulan terakhir Nina yang agak keras. Namun dia senang sepertinya gadis itu sedikit berkurang beban perasaannya.


"Makasih, Pak. Ternyata Pak Johan tidak menyeramkan seperti penampilannya," Ucap Nina spontan, "Eh, maaf, Pak. Maksud saya--,"


"Minta maaf tidak di terima, kau harus menraktir aku," Johan mencubit pipi Nina yang tirus dan lembut itu.


"Sakit, Pak," Nina memukul tangan Johan lagi. "Aku buatin kopi di rumah saja ya, Pak. Ngirit, aku kan pengangguran."


"Dasar pemalas, makanya cari kerja. Ayo, kalau begitu. Kering tenggorokanku, rasanya," Johan mendorong lembut tubuh Nina, mengantarkannya ke dalam mobil.


Setelah mendudukan Nina di kursi penumpang, Johan berlari kecil memutari setengah badan mobil untuk duduk di kursi kemudi. Dia tersenyum ceria, sebentar lagi, akan menikmati kopi seduhan Ibu yang tiada duanya. Hmm, Johan mengendus udara di atas kemudi, seakan asap kopi mengepul di sana. Nina tertawa melihat tingkah konyol pria yang terlihat sangar sepanjang waktu. Seperti keberuntungan, melihat sisi lain asisten Kakak iparnya ini.


Sementara, sepasang mata di buat panas oleh adegan penuh kasih sayang dua orang itu. Dia merasa kesal hingga memukul kemudinya. Dan begitu mobil melaju, tanpa sadar dia mengikuti kemana mobil itu menuju. Sesaat dia merasa ingin berputar arah, sebab ini seperti membuang waktu, tapi, sedetik kemudian dia mendidih lagi mengingat tatapan sarat kasih sayang dan kelembutan dari pria sangar itu.


Berulang kali dia meraup wajahnya dengan kasar, mengutuki kebodohannya, dengan percaya diri dia menyakiti hati gadis itu. Perhatian yang mungkin hanya sekedar ucapan terimakasih atas kebaikannya, malah diartikan lain olehnya. Dan dengan kejam, dia mengatakan tidak menyukai gadis yang banyak tingkah. Masih tergambar jelas bagaimana wajah ceria itu menyurut dan hampir menangis karena ucapannya. Ahh, kenapa jadi begini?


"Mungkin aku hanya merasa bersalah saja. Aku menyukai wanita dewasa dan anggun, bukan gadis yang masih labil seperti dia," Batin Rio.


Rio segera berlalu saat kedua orang itu memasuki rumah, yang di sambut hangat oleh kedua orang tuanya.





__ADS_1


Happy Reading😘😘


__ADS_2