
Cuaca di Jepang begitu cerah di musim gugur tahun ini. Hari ini, Jeje sudah memakai jersey kebanggaan klub Cerezo Osaka yang akan berlaga.
Pria muda itu terus saja tersenyum sampai ketika mereka masuk ke Kincho Stadium, kawasan Osaka. Langit tampak biru menggantung. Jeje menatapnya seolah sedang mengatakan padanya bahwa suatu saat dia akan berlaga di sini.
"Bertaruh untuk Shonan." Excel mencondongkan badannya ke depan. Menumpu lutut dengan gayanya yang super cool.
Jeje mendengus seraya tertawa. Meremehkan prediksi sang kakak yang menurutnya sama sekali tidak memahami peta kekuatan masing-masing klub.
"Cerezo Osaka masuk empat besar. Pemain yang diturunkan adalah pemain andalan yang memperkuat timnas." Jeje mengisyaratkan bahwa dirinya lebih tahu segalanya ketimbang Excel.
Excel melirik Jeje, bibirnya melukiskan senyum meremehkan. "Imbang satu sama, atau menang dua satu, untuk Shonan."
Excel mengulurkan kartu ATM miliknya, yang berisi tabungan pribadi Excel. Isinya hanya sekitar dua puluhan juta, sisa uang jajan selama tiga bulan terakhir.
Jeje menghela napas. Pikirnya, tabungan kakaknya tidak seberapa dibandingkan miliknya, yang sudah bersaldo ratusan juta. Dia boleh menolak, bahkan melemparkan kartu itu ke tanah. Tetapi gengsi Jeje sangatlah besar. Dia tidak pernah mau kalah dari sang kakak. Yang selama ini memang belum bisa dia kalahkan prestasinya.
"Uang hadiahmu takut habis?" Excel meremehkan. Dia segera mengantongi lagi kartu tersebut.
"Eits ... tunggu," cegah Jeje seraya menahan tangan Excel.
Excel menatap adiknya dengan sebelah sudut bibir tertarik.
"Aku terima! 2-0 untuk Cerezo!" Jeje menarik kartu Excel dan memutarnya di depan sang kakak. "Jangan menyesal, Broh!"
Dagu Jeje mengendik, meminta skor taruhan kakaknya dengan pasti.
Excel berpikir sejenak. "1-1 untuk Shonan, atau berikan padaku setengah isi ATM-mu!"
"Tidak akan!" Jeje memainkan lehernya penuh ejekan. Bibirnya tertawa lepas seraya meraba sakunya. "Ups, punyaku tertinggal di hotel."
"Awas kalau kau ingkar janji!" Excel mengecam. Sekali lagi, dia mempertaruhkan instingnya. Kemarin, dia sudah salah satu kali, tujuannya kini mengambil kembali uang yang sempat masuk ke kantong Jeje.
"Aku pria sejati, tidak akan pernah ingkar janji." Jeje mengejek Excel. Dia percaya diri dengan apa yang dipertaruhkan saat ini, dia tidak akan salah.
__ADS_1
"Hei ... berhentilah mengoceh! Sebentar lagi Kick off!" seru Rega dari sebelah Excel.
Jeje menarik tubuhnya dan fokus ke lapangan dimana wasit sedang melakukan coin toss untuk menentukan posisi masing-masing klub.
Rega akhirnya ikut bersama Jeje ke Jepang, tanpa mamanya. Mereka bertiga ke stadion bersama Doni dan juga Riko, sementara kedua orang tua mereka sedang di Kyoto untuk menikmati liburan romantis dengan naik kereta api.
Jen, Kristal, Kakek Dirga, dan Asisten Toni sedang menikmati suasana musim gugur di Minoo Park dan juga Osaka Castle.
Tiga balita juga bersama mereka, beserta pengasuhnya. Memberikan waktu untuk orang tua mereka berbulan madu.
Kakek Dirga mengusap punggung dan melegakan kakinya sesaat ketika si Kembar tidur di atas kereta dorong masing-masing.
"Mereka sungguh membuatku sakit punggung," keluh pria tua kaya raya dan bahagia itu seraya meringis.
"Biar saya pijat, Tuan." Asisten Toni menawarkan. Meski dia sendiri juga tidak kalah lelah dan pegal.
"Tidak usah!" Dirga mengalihkan kakinya menjauh dari tangan Asisten Toni yang siap memijat. "Di sini, banyak sekali tempat pijat yang menyenangkan, kenapa harus kamu yang melakukannya?"
Asisten Toni ternganga, "kalau begitu saya ikut, Tuan. Kalau perlu saya bawa pulang satu."
"Saya masih kuat kalau harus menghidupi satu wanita." Asisten Toni seumur hidupnya melajang, hanya merawat anak kerabat dan juga anak pembantu rumah tangganya. Ya, Riko adalah anak pembantu rumah tangga di rumah Asisten Toni. Riko bahkan akan mewarisi aset milik pria botak berkaca mata tersebut.
Bahkan, diusia Riko yang masih muda, sudah Toni didik untuk menjadi penerusnya mengabdi pada keluarga Dirgantara. Kini, dia bisa menyambut masa pensiun dengan perasaan lega.
"Sudah terlambat! Sekarang wanita yang kamu nikahi, hanya menginginkan hartamu saja!" Dirga mendengus kesal. Dia sudah berulang kali menjodohkan Toni, tetapi pria ini selalu menggagalkannya. Dirga kini tidak peduli dan terus marah bila Toni ingin memiliki pendamping.
"Nyonya Giza pasti mau sama saya." Asisten Toni memainkan telapak kakinya berjinjit dan turun, untuk mengurangi kegugupannya. Dia hanya bercanda, tapi jika direstui, kenapa tidak?
"Aku tidak mau kamu jadi menantuku—paham!" Dirga mendelik, sebelum mendorong kereta cucunya menjauh.
Asisten Toni merengut, kemudian bergumam, "aku calon suami dan kandidat menantu yang berkualitas, Tuan! Anda jangan meremehkan."
Asisten Toni menghela napas, lalu menyusul tuannya yang sedang bersama Jen. Gadis manis itu sedang memakai yukata dan berfoto.
__ADS_1
"Kakek, apa Kakek melihat Kristal? Dari tadi aku mencarinya, sampai lelah." Jen mengeluh seraya memegang lututnya. Kakinya sakit sebab memakai sandal tradisional jepang yang terbuat dari kayu. Totalitas dalam berpakaian ala jepang ini.
"Kalian berdua masuk ke sana! Selebihnya Kakek tidak melihatnya." Dirga menunjuk tempat dimana dia melihat Kristal terakhir kali. Dia juga bingung.
"Kek, Kristal diculik Yakuza," ucap Jen panik. Dia memegang tangan kakeknya erat-erat.
"Ngawur!" Dirga kepikiran juga, bagaimanapun, yang bersama dia hari ini adalah calon pewaris seluruh kekayaan Dermacorp yang terkenal itu. Tapi, Kristal kan pewaris yang baru ditemukan, jadi agak mustahil bila penculik mengetahuinya.
Tapi ... tidak ada salahnya untuk waspada bukan?
Dirga seperti baru bangun dari lamunan. Seperti singa yang dibangunkan, pria itu mencari-cari Toni dan bersikap waspada.
"Toni ...! Cari Kristal sekarang juga! Temukan sebelum jam lima sore!" Dirgantara sendiri segera mengambil ponsel untuk melacak Kristal. Yang sayangnya, keberadaan gadis itu sama sekali tidak ditemukan dimanapun.
Sementara semua pengasuh panik mendengar kabar menghilangnya Kristal dan langsung mengamankan anak-anak. Membawa mereka kembali ke hotel dengan kawalan ketat orang Dirgantara.
Yang dicari sementara itu, sedang menyusup diantara barisan penonton sepak bola di stadion. Kristal memakai topi untuk menutupi wajah dan syal tipis membalut leher hingga mulut, lalu duduk di belakang Rega setelah bernego dengan orang yang seharusnya menempati kursi tersebut.
Tangan Kristal menutup mata Rega, membuat pria itu kaget dan berteriak.
"Lepaskan!" Rega meraba tangan itu, lalu berusaha menepisnya. Tangan yang dingin dan lembut membuat Rega berpikir yang tidak-tidak. Apa mungkin ini geisha? Atau bintang film dewasa? Ini pasti ulah Jeje.
Kristal tertawa melihat Rega ketakutan, lalu melepaskan tangannya untuk mengerling pria yang disukainya ini dari samping.
"Taraaa! Kejutan!" Kristal tersenyum, kemudian mencium pipi Rega.
"Dasar gadis aneh!" Jeje mendengus kesal sebab kedatangan Kristal membuat konsentrasinya pada pertandingan buyar.
"Pasti Jen dibawa kemari, juga!" Excel menghembuskan napas kesalnya. Dia juga agak risih bila Jen ada disini. Gadis itu tidak suka bola, dan kalau kesini, pasti hanya mengacaukan fokus saja.
"Jen menelpon." Jeje menunjuk ponselnya yang bergetar. "Biarkan saja! Biar dia berada di luar sampai pertandingan usai!"
Jeje menolak panggilan Jen dan menyalakan mode silent. Dasar pengganggu!
__ADS_1
Excel berpikir sejenak, mencoba mengingat kebiasaan adiknya tersebut. Lalu tak lama kemudian, dia juga mematikan ponselnya. Setelah panggilan ke Jeje ditolak, berikutnya pasti giliran nomornya kena teror Jen. Lagipula, Jeje benar, Jen sebaiknya di luar saja. Sampai pertandingan usai!