Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Tentang Kristal (Final)


__ADS_3

Rumah sakit sangat lenggang saat sore hari, tak banyak orang yang berkunjung, sebab jam kunjung akan di buka sekitar jam 6 petang. Kira menyusuri koridor dengan perasaan lega.


"Hai, Vi!" Sapanya saat melihat Viona yang sedang dilepas jarum infus di tangannya. Dia tampak sangat cerah, meski dia terlihat lelah.


"Apa dia rewel?" Kira mendekati bayi yang tidur dengan pulasnya.


"Tidak juga, dia nangis pas haus dan popoknya penuh saja," Viona melegakan pergelangan tangannya.


"Kau sudah siap?" Pertanyaan Kira membuat Viona tercengang, inikah akhirnya?


"Tentu, semua sudah aku kemas," Jawab Viona sambil tersenyum. Dia segera menghampiri Kira yang tengah menggendong bayinya.


"Ayo," Kira menyerahkan Bayi Nicky ke gendongan Viona. Sedangkan Kira mengambil beberapa tas dan mengikuti Viona dari belakang.


Viona menciumi putranya sambil berjalan. Airmatanya meleleh begitu saja. "Kemana yang lain?"


"Entahlah, aku hanya bersama Doni tadi, Harris dan Johan mungkin masih belum menyelesaikan pekerjaan mereka," Jawab Kira santai. Dia menenteng tas-tas milik Viona di kiri dan kanan tangannya.


Viona mengulas senyum, dia mengangguk sebagai tanda dia mengerti. Namun, semua itu tak membuat segurat kesedihan sirna dari sorot wajahnya.


Doni menyambut Nona-nya, mengambil alih semua barang yang di bawanya, dan meletakkan di bagasi mobil. Kira dan Viona duduk berdampingan. Doni segera melajukan mobil setelah memasang sabuk pengaman.


Sepanjang jalan, Viona dan Kira tidak saling bicara. Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing. Apalagi Viona, dia tak mengalihkan pandangannya dari bayinya.


***


Viona mengerjap, dia masih belum mengerti apa yang terjadi. Alih-alih dibawa ke penjara, Viona kini berada di depan sebuah rumah minimalis dan sangat asri.


"Welcome home," Tepukan hangat di kedua bahunya mengangkatnya dari pusaran lamunan. Home? Pikir Viona. Dipandanginya wanita yang tengah tersenyum ceria ke arahnya ini.


"Ya, ini rumahmu yang baru, Vi!" Ucap Kira seakan menjawab pertanyaan dan keterkejutan Viona. "Hei, kau pikir Harris setega itu untuk memenjarakanmu?"


Viona makin terperangah mendengar perkataan Kira. Dia sama sekali tak menyangka. Bahkan seujung kukupun.


"Kau harusnya mengerti dia, Vi. Meski dia acuh padamu, tapi dia peduli padamu. Kau pikir, siapa yang menyuruhku untuk memperhatikanmu? Hem?" Kira mematahkan kepalanya ke kanan.


Kira mempersilakan Viona untuk memasuki halaman berselimut rumput tebal. Pagar setinggi pinggang membatasi halaman. Pohon perdu berpucuk merah bagai bola daun berjajar rapi disudut halaman. Dan kolam kecil berisi ikan warna warni membuat indah rumah kecil ini.


"Selamat datang...." Begitu pintu menjeblak terbuka, koor panjang membahana di ruang sempit dan penuh sesak oleh keluarga besar Kira.

__ADS_1


Si bayi menggeliat saat mendengar suara berisik, tapi tak mampu mengusik tidur nyenyaknya.


"Ra, ini...?" Viona menatap Kira tak percaya. Terlalu banyak perasaan yang bercampur menjadi satu. Emosi yang berwarna warni, seperti konfeti yang di semburkan Jen dan Kristal.


Pertanyaan Viona tenggelam dalam riuhnya sambutan untuknya. Bahkan dengan tak sabar Ibu merebut Bayi Nicky dari tangan Viona. Ibu hanya mengeluh sepanjang waktu karena dilarang oleh Kira untuk menjenguk Viona, malah dia harus sibuk mempersiapkan kejutan untuk Viona. Bukan kebetulan juga, rumah ini hanya berjarak sekitar enam rumah dari rumah Ibu.


"Aku tidak menerima protes atau penolakan, ini adalah keputusan kami. Mulailah hidupmu yang baru tanpa melupakan kami. Selamanya, kami adalah bagian hidupmu. Di masa lalu, seseorang berbuat salah, tapi saat dia mau mengakui dan merubah diri, tak ada harga yang pantas kecuali menerima manusia baru yang akan memulai perjalanan ke masa depan," Kira tersenyum ke arah Viona yang mulai berkaca-kaca.


Sesal memang selalu datang terakhir, tapi, tidak semua sesal berakhir buruk. Tinggal bagaimana kita menyikapi dan mengolah sesal kita.


Viona, untuk pertama kalinya, memeluk wanita yang dulu sangat dibencinya. Menumpahkan semua rasa. Viona tak pernah membayangkan, akan ada mentari yang bisa menghangatkannya, ada secangkir teh dan sepotong roti yang akan di nikmatinya. Dan tersenyum memandangi kedua buah hatinya bermain dihalaman hijau. Dalam benaknya, hanya akan ada suramnya lorong penjara dan dinginnya jeruji besi yang mengungkungnya. Sendirian meratapi sesal.


***


Kejutan tak berhenti di situ, Nyonya Darmawan  dengan bahagia menggendong Nicky yang mengedipkan mata perlahan membuatnya semakin menggemaskan.


"Hei, kenapa kau tak mengunjungi Mami, hem? Evan menunggumu!" Ucap Nyonya Darmawan sambil mengekuarkan sebuah foto keluarga dari dalam tasnya. Keduanya berada di dalam kamar yang menghadap ke halaman belakang, dimana Kristal dan Jen tengah berlarian menangkap capung.


Viona terperanjat mendengar penuturan Nyonya Darmawan, terlebih saat Viona melihat sosok yang pernah membuatnya bahagia dan sakit dalam satu waktu. Viona mengigit bibir saat perih hatinya menyeruak lagi. Airmatanya menetes diatas foto berbingkai kaca itu.


"Maafkan putra Mami, Viona. Evan sangat mencintaimu, dan dia tak ingin kau menderita melihatnya berubah dari waktu ke waktu. Dia tidak ingin membuatmu menangisi kepergiannya," Nyonya Darmawan menggeser posisinya sedikit menghadap Viona yang masih berurai air mata.


"Mami tidak tahu, Nak. Evan tak pernah memberitahu Mami alasannya yang pasti. Mami sudah berusaha mencarimu, tapi Mami tak penah menemukan jejakmu, bahkan siapa wanita yang membuat Evan tersenyum dalam tidurnya, Mami tidak tahu," Nyonya Darmawan mengerti, Viona tak akan mudah menerima ini. Dia hanya mengatakan kebenaran.


"Maafkan Evan, Nak!" Nyonya Darmawan berlutut di hadapan Viona. Memohonkan semua salah dan luka yang telah putranya torehkan pada wanita ini.


"Mami jangan begini!" Viona terkejut dengan tidakan Nyonya Darmawan. Viona tahu semua tak akan mudah. Tapi, saat ini, dia hanya ingin berdamai. Viona menantang hatinya, dia ingin kuat seperti Kira. Meski cerita mereka tak sama, namun satu garis dapat dia tarik dari sini. Baik dirinya dan Kira harus menapaki jurang terjal untuk melihat pelangi.


"Mami, Evan adalah cinta pertama Viona yang harus berakhir menyedihkan. Jika Evan mencintai Viona, harusnya Evan tidak melakukan ini. Cinta itu berbagi Mi, suka dan duka. Masih terasa sakit itu di sini, Mi," Viona menyentuh dadanya.


"Tapi, Viona yakin Evan melihat semua penderitaanku dan putrinya selama ini. Aku yakin, Evan lebih terluka daripada aku. Evan sendirian, sedangkan aku bersama putri yang sangat dia inginkan. Mi, Kristal adalah anak sah dari pernikahanku dan Evan, kami menikah diam-diam karena aku masih terikat kontrak. Ini alasanku menyembunyikan Kristal, Mi."


Nyonya Darmawan menubruk tubuh Viona dari posisi berlututnya. Dia tak tahu seberapa berat dan dalamnya luka yang Viona tanggung selama ini. Keduanya larut dalam tangis.


Viona melegakan pelukannya, meredakan tangisnya. Diraihnya bahu Nyonya Darmawan, untuk mendapatkan perhatian penuh.


"Mi, kita harus hidup lebih baik demi Evan. Jangan kecewakan dia, Mi. Selamanya, Evan memiliki tempat di hati Viona," Ucap Viona mantap.


Nyonya Darmawan kembali berurai air mata. Bukan lagi kesedihan, tapi kebahagiaan. Jika dia harus menyusul Evan dia sudah siap. Urusan dunianya sudah selesai.

__ADS_1


***


Langit sore mulai memerah, jingga diujungnya. Semua menyukai senja. Untuk melihatnya bukan untuk mendatanginya. Kemana senja bermuara? Pekatnya malam. Kau butuh cahaya bulan dan kelip bintang untuk mengusir dingin dan gelap yang tak bertepi.


Harris memalingkan wajahnya ke arah kanan, menikmati lampu jalanan yang mengejarnya. Manik matanya mengikuti lalu lalang kendaraan di lajur yang berlawanan dengan laju mobil yang di tumpanginya.


Johan berada di sisi kursi kemudi, dimana Doni sedang bersenandung kecil mengusir kecanggungan. Johan menikmati jajaran gedung dan bagunan berpendar cahaya di sebelah kirinya.


Keduanya, tak bersuara. Hanya pikiran yang berkelana. Mereka seperti sepasang kekasih yang bertengkar, ingin menyapa tapi saling berprasangka. Keduanya tak nyaman saat tak saling bicara.


"Ini rumah siapa, Don?" Tanya Johan pada akhirnya, saat Doni menghentikan mobilnya di depan rumah Viona.


Doni hanya diam, dia turun dan membuka pintu untuk Tuannya. Johan melirik sekilas wajah yang dibuatnya babak belur beberapa saat lalu. Meski tak separah dirinya, tapi itu tetap menyakitkan. Johan membasahi bibirnya, perasaannya tidak enak saat ini. Melihat Harris sangat tenang.


Mereka melangkah beriringan, dengan Johan sedikit menjaga jarak dari yang lain. Dia memandang sekeliling. Tapi tetap saja dia tidak tahu siapa pemilik rumah ini. Dan juga mengapa malah membawanya kemari alih-alih ke rumah sakit atau rumah tahanan. Bertanya pada Harris? Dia masih waras untuk merendahkan diri dan menyapa.


Doni membuka pintu tanpa permisi atau mengucap salam. Johan terperangah melihat siapa saja di dalam sana. Viona tengah duduk disofa berwarna abu-abu muda dengan dress kuning dengan motif bunga kecil. Mereka duduk melingkari meja kecil. Sepertinya Johan melewatkan sesuatu.


Obrolan mereka terhenti dan mereka menoleh ke arah pintu. Selain Kira, semua menganga lebar.


"Jangan heran, tadi ada dua anak TK berkelahi karena rebutan mainan," Jawab Kira santai, dia duduk dengan toples berisi keripik kentang di pangkuannya.


Mereka tak lagi bertanya, meski tak tau apa masalahnya, tapi jelas siapa dua anak TK yang dimaksud.


Harris berdecak kesal, sepertinya Kira masih kesal padanya. Harris melangkah untuk menyalami mertuanya. Dan langsung duduk di samping istrinya yang sama sekali tak melihat ke arahnya. Sekalipun Harris mendaratkan kecupan di kepalanya. Awas saja kalau kau berani marah padaku, gumam Harris dalam hati.


Johan masih membisu dalam tanya, dilihatnya satu persatu orang-orang di sini. Apa aku salah menilai? Mungkinkah? Batin Johan terus berdiskusi. Tapi dia menarik satu kesimpulan. Viona mendapat maaf dari Harris.


Batin Johan senang sekaligus malu. Bagaimana bisa dia menghajar Harris yang nyata-nyata marah karena pekerjaannya menjadi berantakan karena dia? Johan menelan ludah, dia harus minta maaf.


"Saya bersedia menjadi pengganti samsak anda, Tuan," Ucap Johan saat mereka tinggal berdua di ruang tamu. Ayah sudah pulang, Ibu dan Kira sedang di kamar Viona karena Nicky menangis.


"Satu tahun. Baru ku maafkan," Jawab Harris datar sembari bangkit dari sofa. Rasakan, batin Harris.


Johan hanya mampu menghela napas dan mengusap wajahnya. Selain pasrah, apa dia punya pilihan?



__ADS_1



__ADS_2