Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Serangan Satu Setengah Bulan Lalu


__ADS_3

"Sayang, tunggu..." Harris berlari kecil menghampiri Kira yang sudah sampai di tepi jalan, berdiri di samping motor. "Kenapa kau jalan cepat sekali?"


"Abang yang lelet, banyak mikir!" Kira mengambil helm dan mulai memakainya.


Harris menarik kembali helm yang hendak dikaitkan penguncinya. "Kita ngga butuh helm untuk pulang, Sayang!"


Harris meletakkan kembali helm diatas jok motor. Kemudian, Harris melambaikan tangan kepada salah seorang pemuda yang telah usai membawakan lagu untuk mereka.


"Terimakasih atas bantuanmu, tunggu Asisten saya munghubungimu," Harris menyerahkan kunci motor kepada pemuda yang masih melongo, dia tak bisa mencerna dengan benar ucapan Harris.


"Tapi, Tuan! Motor ini masih baru? Lalu bagaimana dengan yang itu?" Pemuda itu menunjuk motor yang masih dikelilingi rekannya.


"Nanti akan ada yang membawa motor itu," Harris menepuk pundak pemuda tinggi, berwajah manis itu. "Pakailah motor ini, gunakan dengan baik."


"Terimakasih, Tuan!" Pemuda itu menunduk dalam. Lalu melangkah mundur dengan wajah bahagia.


"Mereka siapa sih, Bang?" Kira masih memaku pandangannya ke arah pria muda yang sedang berteriak kegirangan.


"Mereka pengamen yang aku temui di jalan, suaranya bagus, jadi kuminta mereka untuk menyanyikan lagu untukmu, lagu kesukaanmu! Kau tahu kan, suaraku sangat harganya mahal?!" Harris meraih pinggang istrinya. Sebelah tangannya mengusap perut rata Kira. "Apa dia membuatmu susah kali ini?"


Kira mencibir sembari menggeleng, wajahnya terangkat menghadap suaminya. "Tidak Bang, hanya cepat lelah, karena Ranu nempel terus sama aku!"


"Bagaimana dengan asinya Ranu, nanti?" Harris mendadak sendu, dalam benaknya teringat Ranu yang enggan menyusu dari botol. Bahkan dia membuang botol itu jauh-jauh. Ranu menyukai asi langsung.


"Pelan-pelan diberi pengertian, Bang! Asiku juga masih lancar kok!" Kira mengulas senyum, menenangkan suaminya. Meski asinya sekarang lebih sedikit dari biasanya.


"Mungkinkah dia mengerti, Yang?" Tentu saja, Harris tidak mudah percaya, bahkan Ranu belum bisa berbicara.


"Mungkin saja, asal kita sama-sama melakukannya!" Direbahkan kepalanya di bahu suaminya. Disana semua ragu ada jawabnya.


Harris mengusap lembut kepala istrinya. "Maaf, Sayang! Seharusnya aku bisa menahan diriku!"


"Abang sih, pulang dari luar negeri bukan bawa oleh-oleh, malah bawa rindu segede kapal tongkang! Beneran jadi kan?"


Kira tak mengubah posisinya. Dia malah semakin merapatkan tubuhnya. Mencari kenyamanan saat hatinya tidak baik-baik saja. Harris mendesah, Kira bukan tidak mengingatkan, tetapi Harris tak menghiraukannya sama sekali. Serangan satu setengah bulan lalu, menuai hasil sekarang. Harris selalu lupa dengan "keamanan" saat rindunya mendahului akalnya.


Keduanya terdiam, bergelung dengan pikiran masing-masing. Tak ada suara hanya debur ombak, hanya helaan napas Kira yang makin berat terasa. Harris, tentu mengetahui bahwa Kira sedang tidak baik, tetapi, bukan bertanya padanya, melainkan kepada Vivian.

__ADS_1


Mobil sport pabrikan Italia dengan atap terbuka berwarna merah berhenti tepat di depan keduanya. Kira mengangkat kepalanya melihat ini, matanya tak henti menatap mobil dan suaminya bergantian. Beberapa saat dia terpaku.


Harris meraih bahu Kira, dibawanya untuk menghadapnya.


"Sayang, terimakasih untuk tahun yang indah, terimakasih telah menghadirkan Ranu dan calon anakku sekali lagi," Harris menatap lekat manik mata yang masih menyiratkan kebingungan.


"Maaf aku selalu melewatkan ulang tahunmu, melewatkan kejutan hari jadi pernikahan kita. Meski tak bisa di gantikan oleh apapun, kuharap pemberianku yang amat sangat terlambat ini, sedikit memberi penghiburan untuk semua hal yang aku lewatkan!"


Kira menarik bibirnya ke dalam, matanya sudah meredup, tanda hujan akan segera turun.


"Sayang, maaf aku melukaimu lagi, maaf aku tak bisa menjagamu-"


Kira buru-buru membungkam bibir suaminya, wajah sendu itu sangat menyakitinya. "Apa selama ini Abang melihatku lemah? Apa Abang melihatku merengek karena kesibukanmu? Atau saat Abang melewatkan satu hari dan mengabaikan hari lain yang lebih indah?"


"Tidak kan, Bang? Kenapa? Karena setiap hariku bersamamu selalu istimewa. Bagiku, bersamamu adalah bahagia!"


Harris tak tahan untuk meraih dagu Kira sekali lagi, mencecap kata-kata manis yang membuatnya tak bisa menahan perasaannya. Menjadikan wanita ini miliknya adalah keputusan paling tepat yang pernah dia ambil.


Direngkuhnya tubuh wanita ini dalam luapan perasaan yang dalam. "Aku sangat mencintaimu, Sayang!"


Kira tersenyum di atas pundak suaminya, "Aku tahu, dan aku bisa merasakannya, Bang!"


"Maaf, Jo!" Kira mengendurkan pelukannya. "Kami sedikit berlebihan."


"Cepatlah menikah! Aku kesal dengan duda tua pengacau sepertimu!" Ketus Harris sambil membuka pintu untuk istrinya. Dia melirik Johan dengan kesal.


Johan mendengus, ketika Kira melewatinya. "Maafkan dia Jo, dia sedang PMS!"


"Kau mengertiku Nyonya! Kaulah bosku, bukan dia!" Bisik Johan. Namun, Johan yakin Harris mendengarnya dengan jelas. Melihat ekspresi mematikan Harris saat menatapnya.


Kira tersenyum sambil melambai saat mobil perlahan menjauhi Johan. Johan tersenyum kecut, sembari merogoh ponsel di saku celananya.


"Dragon, on the way!" Ucapnya saat teleponnya terhubung.


Johan menatap langit di mana drone yang di operasikan Riko mendarat tak jauh dari posisinya.


"Bos bucin parah, Jo! Demi istrinya dia rela melakukan apa saja!"

__ADS_1


"Wajar, ketika berliannya makin berkilau, perlakuannya tentu berbeda ketika masih dalam bentuk kasar. Nyonyaku adalah yang terbaik," ucap Johan sambil melamun, sehingga ucapannya sedikit melantur.


Riko yang mendengar dengan jelas ucapan Johan, hanya mengkerutkan kening. "Sepertinya kalian terlibat perasaan cinta yang dalam,"


"Ya, aku selalu mencintainya!"


Hening.


Riko yang sedang mengemas Drone ke dalam tempatnya, menghentikan kegiatannya. Dia menatap kosong rerumputan di depannya. Dia juga tidak tahu harus berkata apa.


"Sejak kapan?"


Johan membasahi bibirnya. Berulang kali dia mengerjap, mulutnya terbuka tapi tak ada kata yang keluar dari sana.


"Katakan Jo!" Riko menatap Johan yang masih terpaku menapak jalanan yang di tinggalkan Kira. "Atau aku akan memberitahu Tuan Harris nanti."


"Dia sudah tahu kurasa, dan dia tak perlu cemas dengan apa yang aku rasakan pada wanitanya." Johan melegakan dadanya yang sedikit tertekan. "Jiwa mereka sudah terikat, Ko! Aku sudah cukup bahagia bisa bersamanya seperti ini, melihat tawanya, melihatnya bahagia. Aku senang dia menganggapku ada. Aku yang harus move on darinya!"


"Kau benar, Pak! Tapi aku tidak menyangka, cinta membuatmu berhati merah jambu!" Riko menepuk pundak Johan sambil menahan senyum. Sebelum melesat jauh mengambil motor milik bosnya. Motor yang sebenarnya baru namun di buat semirip mungkin dengan motor lama Kira.


"Sialan kau, Bocah!" Johan segera berlari menyusul Riko yang menggendong tas di punggungnya. Baginya, beralih perasaan sangatlah sulit. Meski sudah berusaha.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2