
"Kau berlebihan Mas!" Nina merengut, malu, dengan tingkah konyol Rio. Tapi juga senang mendengar ucapan Rio. Ah, bahagianya.
"Sebelah mana aku berlebihan, Yang? Aku hanya melindungi apa yang sudah jadi milikku!" Rio begitu serius mengatakan ini. Jemarinya sudah bertaut dengan jemari Nina yang kukunya di beri tambahan kuku palsu. Dan membawanya ke bibir merekah Rio.
"Ah, kapan acara ini berakhir?! Aku ingin segera memeluk dan menciummu, Yang!" Rio mencubit lembut pipi Nina. Membuat Nina menampar tangan Rio dan berdecak.
"Malu ih dilihatin banyak orang!" Nina merengut dan membuat Rio terkekeh.
Diujung ruangan, Kira dengan semangat menikmati aneka menu makanan yang tersedia. Pagi mual, malamnya balas dendam dengan memenuhi lambungnya dengan berbagai makanan yang dia inginkan. Harris dibuat kerepotan dengan sikap Kira yang benar-benar menguji kesabarannya.
"Abang, kita pulang yuk! Aku mau makan di tempat mamang jualan mi ayam kemarin!" Kira meletakkan sepiring makanan yang tidak disentuhnya sama sekali.
"Itu ngga dimakan?" Kira menggeleng, "Ya ampun, Yang!" Harris memijat keningnya. Untung saja ini acara keluarganya sendiri, kalau tidak pasti sudah menanggung malu.
"Ya sudah, ayo!" Harris hendak merangkul pundak istrinya, namun dengan cepat Kira menjauh. Harris mendengus sebal lalu membiarkan Kira berjalan mendahuluinya. Ranu tidak dibawa serta kali ini, sebab dia tidur sesaat sebelum menuju kemari.
Pedagang mi ayam yang dimaksud Kira malam ini tidak menggelar lapaknya. Sekalipun mereka mencari ke sekeliling tempat itu.
"Biar Abang tanya sama pedagang lain ya, Yang!?" Harris menepikan mobil hitam kesayangannya di sisi jalan. Kira menahan pergelangan tangan Harris yang masih memegang kemudi.
"Ngga usah Bang! Mungkin mamangnya ngga jualan! Kita makan mi instan aja di rumah, Bang!"
Harris sampai memiringkan kepala dengan alis bertaut. "Berubah lagi kemauannya?"
Kira mengangguk dengan bibir terlipat dalam. Mengguncang rambut yang menjuntai di sisi wajahnya.
"Baiklah, tapi dengan syarat!" Harris menghadapi Kira yang waspada. Mengacungkan telunjuknya.
"Biarkan Abang memelukmu malam ini!"
"Tapi Bang, dari jarak sedekat ini saja aku ingin muntah lho!" Kira tampak keberatan.
Harris mengangkat bahunya dengan kedua tangannya, seperti "terserah".
"Well, no mie instan kalau begitu! Pertama itu tidak baik untukmu dan bayimu, ke dua Abang tidak percaya kau tidak tahan dengan bauku!"
"Kau tau bukan, berapa lama Abang harus menahan diri berjauhan darimu?! Apa kau sudah tak mencintai Abang lagi?"
Kira berdecak, "Bukan begitu, Bang! Ini tak ada hubungannya dengan masih cinta atau tidak! Tapi, aku benar-benar tak tahan, Bang!"
"Sampai kapan?"
"Jangan tanya Bang! Ini bukan mauku! Kau tahu tentunya, aku juga merindukanmu, Bang!"
Harris mendengus, lagi-lagi dia kalah dengan anehnya ngidam. Dan kalah dengan bocah yang bahkan belum pernah berduel langsung dengannya. Bahkan belum ada nyawanya. Harris takluk, mengangkat tangan.
"Kita ke mini market Bang, beli mie instan!" Kira merasa jurus terakhirnya berhasil membuat suaminya tak punya pilihan. Tapi Kira tidak berbohong dengan ucapannya. Iya, dia rindu, sangat rindu.
Harris menghembus napas pendek. "Baiklah, kurasa aku yang menang kali ini," batin Harris. Tak peduli jika Kira akan muntah. Keduanya sama-sama memendam rindu, jadi tidak ada pilihan lain selain menuntaskannya
Harris menyempatkan diri meneliti wajah sok polos itu. Mencari jejak kebohongan, tapi mata cokelat itu malah berbinar ketika Harris menyalakan lagi mobilnya, alih-alih mengiyakan atau menolak permintaan Kira.
Alphi adalah tujuan Kira malam ini, Harris memarkirkan mobilnya di seberang jalan. "Ingat beli satu saja, atau kau akan tahu akibatnya!"
Kira membalas tatapan penuh peringatan dari Harris, lalu mendesah. "Abang pelit atau lagi ada masalah sama Alphi? Yakali Bang, kesana beli mie satu doang?"
__ADS_1
"Abang tidak peduli!"
"Dua!" Kira menawar dengan dua jari mengacung didepan suaminya.
Harris melayangkan tatapan tajam dengan telunjuk mengacung tepat di ujung hidung Kira. Serta merta Kira menggigit telunjuk itu. Keras. Hingga Harris meringis dan menjepit hidung Kira.
"Kau ini wanita atau bukan sih? Sikapmu bar-bar sekali?!" Harris mengibaskan tangan yang menyisakan 4 bekas gigitan di atas dan di bawah ujung telunjuknya.
"Kemarin yang Abang lihat apa? Kalau terong aku bukan wanita!" Kira bergegas keluar dan membanting kasar pintu mobil.
Harris merapatkan giginya mendengar jawaban Kira. "Sialan, kalau terong udah kutendang, Yang!"
Harris memandangi Kira yang menjauh, tubuh istrinya yang tampak tak berubah itu melenggang dengan santai. "Ya Tuhan, kepelet apa gue sama janda banyak anak itu? Bisa-bisanya haluan gue berubah hanya gara-gara janda!"
Harris mengusap keningnya kasar sambil mengukir senyuman. Dia tahu jawabannya, wanitanya harus lain dari yang lain. Wanita yang harus menumpahkan seluruh cinta dan menyerahkan hidupnya, hanya padanya. Membuatnya menjadi satu-satunya dan istimewa. Harris menjatuhkan keningnya diatas kemudi. Dia sudah gila.
"Sudah ingat belum, kau tidur dengan terong atau bukan saat bersamaku?" Harris berjingkat saat Kira sudah duduk dengan sebelah kaki masih diluar mobil.
"Kau membuatku kaget, Yang!" Harris memegang dadanya.
"Kebanyakan mikir terong ya gitu! Sampai ngga denger pintu kebuka!" Kira meletakkan kantung putih di belakang.
Harris enggan membalas istrinya walau kesal dengan ucapannya. Akan ada saatnya sendiri membalas wanita kurang ajar ini, pikirnya.
Tak butuh waktu lama, mereka tiba di rumah. Sepi, meski baru jam 10 malam. Kira menelpon Rina yang menemani ketiga anaknya. Mereka dalam perjalanan pulang sekarang.
Kira langsung menuju dapur yang bercahaya redup. Selagi dia masih memiliki hasrat pada dua bungkus mi instan dan beberapa camilan dikantung itu, Kira segera menjalankan niatnya.
"Yang, jangan banyak-banyak cabenya! Seneng banget bikin orang khawatir sih?!" Harris merampas kotak beisi cabai hijau yang menguarkan aroma menusuk. Terlihat sekali itu sangat pedas.
"Ayolah, Yang! Jangan bandel, kalau muntah nanti panas di kerongkongan!" Harris meletakkan cabai diatas lemari dapur, yakin istrinya tak mampu menggapainya.
Kira berdecak, lalu segera memasak mi kuah panas dan pedas. Harris setia menunggui Kira memasak. Tak berapa lama, aroma harum khas menari-nari di ujung hidung Harris.
"Enak Yang!" Harris yang memainkan ponselnya langsung menaruh minat pada mangkuk ditangan Kira.
"Abang mau?" Kira menggoyangkan mangkuk berasap pekat itu ditengah-tengah meja makan. "Tidak boleh!" Kira segera menjauhkan mangkuknya dan mulai makan dengan lahap.
Harris mencibir, dia memilih berlalu dari meja makan, membiarkan Kira menghabiskan mienya
Harris memang pria yang tak pernah ingkar. Melanggar perintahnya adalah hal yang harus di sesali Kira -atau tidak-
Begitu Kira membuka pintu kamar, tangan panjang kokoh Harris menyambutnya. Menyatukan rindu. Sekalipun Kira membungkam mulutnya, tapi Harris tak peduli. Dia hanya peduli satu hal, Kira juga memendam rindu. Meski begitu, Harris tak membuat Kira dalam tekanan dan tetap memperlakukan lembut wanita yang amat dicintainya ini.
"Bair kupastikan kalau bukan terong yang menyambutku!" Kira menggigit bibir saat tubuhnya sudah polos.
"Jangan lama-lama, Bang! Aku tidak tahan! Sumpah!"
"As you wish, Baby!" Harris menempatkan Kira membelakanginya, posisi tercepat bagi keduanya menyeberangi samudra. Sekalipun cepat baginya, hampir memakan setengah putaran waktu.
***
Pesta sudah usai. Menyisakan dua insan yang saling berpagut mesra tanpa melonggarkan busana yang mengikat ketat.
Hingga ketukan dipintu sekali lagi membuat keduanya menjauh.
__ADS_1
"Pasti kawan-kawan yang solidaritasnya level dewa!" Rio mengusap bibir Nina yang berantakan akibat ulahnya.
"Kok mereka bisa tahu, Mas? Kita sudah pindah kamar lho?" Nina melangkah kepintu, Rio hanya mengangkat bahu.
Benar saja, kini setengah lusin saja yang masih setia dengan sumpah mereka. Tapi Rio tak peduli, dia menang banyak. Sekalipun malam ini gagal, apa iya mereka masih mau mengerecoki di malam-malam lain? Ah, mereka terlalu naif.
Rio mengecup bibir Nina tanpa malu-malu dihadapan kawan-kawannya. "Mas keluar dulu, Yang! Lanjutkan obrolan kalian sampai puas ya!"
Senyuman ringan Rio membuat mereka ternganga.
"Yah, kirain laki lo marah, Nin, ngga bisa iya-iya sama lo?" Dinda mengesah pasrah.
"Lo pada malah bantu dia kali! Gue kan lagi dapet! Mungkin Mamasku kembali saat gue udah tidur! Thanks ya guys, udah menemani gue malam ini!" Ucapan Nina sontak membuat mereka buru-buru permisi. Misi gagal total dan tidak lagi menarik.
"Bye kawan-kawan! Hati-hati dijalan ya...!" Nina tergelak setelah pintu tertutup, dia segera melepas pakaian dan segera mandi. Haid hari pertama memang membuat tubuhnya mudah lelah, selain efek samping "Siang Pertama" tadi.
Sementara, Rio sedang berjalan menuju area taman, sekedar menghirup udara malam. Tetapi Rio berjumpa dengan Johan di lantai bawah saat Johan hendak kembali ke kamarnya.
"Gagal malam pertama, Bro?" Goda Johan saat melihat Rio keluar dari lift. Johan tampak membawa tas belanjaan.
"Lo dari mana?" Rio menatap Johan menyelidik.
"Abis ambil baju Viona, bajunya ketumpahan makanan Nicky tadi!" Johan mengangkat tas cokelat di tangan kirinya. "Lo mau kemana? Kawin lagi?
Rio berdecak, "Ada temen Nina di kamar, daripada gue budek, mending gue kabur! Temani yak!"
Rio menyeret paksa tubuh Johan di lehernya, memaksanya berputar haluan. "Lo udah mancing?"
"Ya pastilah! Emang gue lemog kaya lo?" Johan menyodok rusuk Rio. "Gue khawatir sama lo, Bro, ada ganguan terus! Gue khawatir sinyal lo bermasalah setelah ini!"
Johan tak tahan untuk tidak tertawa. "Sorry Pak Tua, gue udah bobol paksa tadi siang! Gue denger rencana temen-temen Nina mau datang lagi! Jadi gue sikat aja!"
"Gila, bukan kaleng-kaleng lo Bro! Ngga nyangka gue, lo bakal seagresif itu!" Johan menepuk bahu Rio yang langsung berguncang.
"Ya, nunggu apa lagi? Toh, dia juga iya aja tuh!"
Keduanya saling pandang dan tertawa. Empat sekawan telah menemukan pelabuhan akhir cintanya, tapi tidak dengan petualangan kehidupan. Jalan panjang masih membentang, ada banyak hari menunggu di isi. Entah itu bahagia, sedih, kecewa ataupun sukacita. Tak perlu menebak, jalani saja, semua akan terjawab pada masanya.
.
.
.
.
.
.
.
Besok langsung ke momen Kira hamil tua aja yak...pasti penasaran kan dengan baby nya Abang? Kira-kira cowok atau cewek? kembar atau enggak? Ayo tebak!!🤣🤣🤣
Makasih yang masih setia sama Harris dan Kira. Love you so Much❤❤❤❤❤❤❤❤❤
__ADS_1