Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Tentang Kristal 2


__ADS_3

Kira merangkak naik ke ranjang usai membersihkan diri, menyusul suaminya yang sudah memejamkan matanya terlebih dahulu. Berbagai pertanyaan masih berjejal di otak Kira, seakan mendobrak, memaksa keluar dari kungkungan tempurung kepalanya. Kira bersimpuh membentuk huruf W , di tengah-tengah ranjang.


"Sayang," Panggil Kira penuh rayuan. Namun, itu tak membuat Harris bergeming, malah dia menutup matanya dengan lengan kirinya.


"Masku Sayang, Papanya anak-anak," Kira beringsut mendekat, memijat pelan lengan suaminya. Piama satin yang couple-an dengan Kira itu terasa licin di tubuh Harris, saat Kira menyentuhnya.


"Sialan, dia manja-manja, bermanis-manis kata di saat seperti ini. Kurang ajar," Batin Harris. Rasanya seperti ada onde-onde bersarang di tenggorokannya saat ini. Dongkol. Membuat Harris kesulitan menelan salivanya.


"Mas Harris, Adek boleh tanya ngga?" Lagi, Kira menancapkan telunjuk dan jari tengahnya di dada Harris, membuat jari itu berjalan, berputar-putar di area terlarang.


Huh, Harris menaikkan lengan yang menutup wajahnya, dan membuka lebar kelopak matanya. Seketika Kira menarik tangannya dari bongkahan dada yang keras itu. Mengedipkan mata berulang agar Kira terlihat imut. Harris berusaha tidak tersenyum, sorot matanya masih menebar ancaman di remang-remang kamar.


"Dasar wanita nakal, awas saja kau nanti," Gumam Harris dalam hati. Harris merapatkan giginya, menahan kesal atau entah apa yang membuatnya gemas pada wanita itu, malam ini.


"Sayangku, cintaku, tadi aku kan mau incip tu sirup, kenapa ngga boleh sih?" Kira memanyunkan bibirnya beberapa senti. Kira tergoda merasai red wine yang terlihat pekat dan berbau tajam. Selama ini, dia hanya melihat, di film-film barat. Atau perjamuan yang baru sebiji dua biji di hadirinya bersama Rian, dulu.


"Kau sedang datang bulan, dan kau belum tau rasanya, pasti akan kau semburkan saat menyentuh lidahmu," Harris melirik malas pada Kira yang antusias mendengar jawaban Harris.


"Makanya aku mau coba, Yang. Kata Ivy, itu enak, asem, pahit, sepet, manis, asin gitu katanya," Kira menumpu badannya, dan sedikit condong ke arah suaminya. Harris menahan nafas, saat melihat sesuatu yang mengintip di antara lengan istrinya yang membentuk "V". Baju terkutuk, pikir Harris. Mini dress dengan tali di pundak itu, hadiah dari Vivian, sebagai permintaan maaf karena tidak bisa menghadiri acara Harris kemarin.


"Kau pikir itu bumbu dapur? Nanti aku ajari minum yang benar, tapi ingat, hanya saat denganku kau boleh meminumnya. Dan sedikit, itu hanya untuk sopan santun saja, mengerti?" Harris menunjuk kening Kira dan mendorongnya pelan. Kira menampik telunjuk suaminya, dan mengangguk penuh semangat.


"Makasih Sayang," Kira mengecup pipi suaminya, dan ikut merebahkan diri di sisinya.


Harris kembali mencoba tidur, apalagi yang bisa di lakukan saat wanita itu berhalangan. Menggodanya, malah akan jadi bumerang buat dirinya. Entahlah, mungkin benar janda lebih menggoda, Kira bahkan lebih enak daripada Viona. Harris mengumpat dalam hati, membayangkan saat Kira meronta-ronta kenikmatan, membuat api dalam dirinya berkobar.


"Meski ku usir sampai ujung galaksipun, bayangan wanita nakal itu pasti kembali lagi," pikir Harris. Harris mengatur nafasnya, mencoba memikirkan hal lain yang menyenangkan. Harris memiringkan tubuhnya, meninju bantal, frustrasi. Hal lain yang menyenangkanpun berujung pada hyena licik yang tengah memeluk guling di belakangnya.


Hening,


"Sayang, di rumah Mami kok banyak miniatur kapal sih?" Kira melompat bangun, sehingga membuat kasur bergoyang-goyang.


Harris yang sudah rileks pun, mengeram tertahan. Giginya saling beradu di dalam mulutnya yang terkatup rapat.


"Kenapa tadi kamu tidak tanya?" Ucap Harris ketus seraya berbalik.


"Lupa, Yang. Aku sibuk menanyakan kamu sama Mami, tadi."


"Mami bilang apa?" Harris melunak. Semoga Mami tidak bilang sesuatu yang buruk tentangnya.


"Ada deh, jawab dulu pertanyaanku tadi!"


"Dasar ekor sembilan," umpat Harris dalam hati.


Harris mendesah," Kau ingat Pearl? Yacht yang kita pakai kemarin?"


Kira menangguk,

__ADS_1


"Itu punya Papi, di beli saat Evan belum kambuh, Evan ingin memberikan itu pada anaknya nanti, tapi kau tahu kan, Evan meninggal sebelum menikah? Jadi, Papi menganggapnya sebagai kenangan dari Evan. Dan, uang sewanya, sebagian besar di sumbangkan ke yayasan yang menangani penderita Kanker."


"Katamu gratis, Yang?" Kira memang teliti dengan ucapan Harris, terlebih usai otaknya terguncang, pasti dia akan mengingat semua yang di katakan suaminya.


"Iya, memang gratis, tapi sebagai gantinya, aku menyumbang yayasan itu seumur hidupku," Harris menyangga kepalanya, berhadapan dengan istrinya.


"Oh, begitu, tapi Yang, aku tuh lihat senyumnya Evan, kok jadi ingat Kristal pas awal-awal di bawa ke sini, ya? Apa mungkin kekasih Evan itu Viona?" Kira menarik wajahnya ke atas, dia berpikir keras.


"Kau memang perhatian sekali ya, sama Evan? Sampai kau ingat membandingkan senyumnya dengan anak itu," Harris benar-benar kesal, niatnya untuk tidur terganggu oleh ocehan istrinya yang malah mengingat orang lain.


"Aku belum cerita ya, tentang Bibi Yun? Tentang Kristal?" Kira mengabaikan protes Harris.


"Siapa lagi itu?" Harris menghempaskan kepalanya ke dasar bantal. Wanita ini, kelebihan energi saat dia tidak memberinya pelajaran.


Kira menarik tangan Harris dan menyeretnya ke ruang kerja. Kira mendudukkan Harris di kursi kebesarannya. Sedangkan Kira membuka laptop, dan mengambil flashdisk di laci paling bawah, berserta foto Ayah Kristal.


Harris yang semula terpaku pada tubuh bagian belakang istrinya, kini beralih menatap video dalam layar laptop. Yang awalnya malas-malasan, kini Harris mencodongkan tubuhnya ke depan, agar lebih dekat dan lebih jelas dia mendengar suara video itu.


"Kau dapat ini dari mana?" Harris menoleh ke arah istrinya yang masih berdiri dengan tangan tersilang di dada.


"Aku meminta Riko untuk mencari tahu, usai Kristal memberi tahu alamat Bibi Yun itu. Rumahnya hanya sekitar 4 jam dari kampung Ibu," Kira mengulurkan selembar foto ke depan Harris.


"Ini foto Ayah kandung Kristal, Yang. Bibi Yun yang memberikannya pada Riko,"


Harris meneliti foto yang sedikit lusuh itu. Menyipitkan matanya, memandang istrinya dan foto itu bergantian. "Kau yakin ini foto dari Bibi Yun?"


Harris menggerakkan jemarinya dengan cepat di atas keyboard, dan kemudian menunjukkan sebuah file berisi foto kepada Kira.


Harris menarik istrinya ke atas pangkuannya, "Lihat itu baik-baik, apa dia pria yang sama dengan yang ada di foto itu?" Harris menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, memejamkan mata, membiarkan fantasi menguasai pikirannya.


Kira mengulurkan wajahnya lebih dekat dengan foto-foto itu. Beberapa foto itu menunjukkan orang yang sama dengan kekasih Viona, dan yang lain, adalah foto keluarga Darmawan, kalau tidak salah juga ada Vivian di sana, dan foto pria dengan selang mengulur ke hidungnya, sama dengan yang di rumah Tuan Darmawan.


"Sayang, ini orang yang sama, bukan?" Kira bergumam, jantungnya berpacu lebih cepat, napasnya memburu pendek-pendek. Kedua mata Kira melebar sempurna, kerongkongannya tiba-tiba kering.


Karena tidak mendapat jawaban, Kira memutar sebagian tubuhnya, bersamaan dengan Harris yang mengangkat kepalanya, yang semula bersandar di sandaran kursi. Sehingga wajah Harris membentur aset istrinya.


"Kau ini masih saja bercanda, Yang. Itu Evan bukan, Yang?" Kira berusaha menarik Harris dari tubuhnya, tetapi seakan tubuhnya menyedot wajah Harris, memeluknya ketat. Harris hanya mengangguk.


"Terimakasih sudah membantuku, Sayang. Aku sudah berusaha mencari tahu beberapa tahun tahun terakhir, tapi tidak ada informasi yang bisa kudapat. Tetapi, kamu malah sudah dapat, apa yang aku cari," Harris menggosok hidung lancip itu di bawah dagu Kira.


"Geli, ah," Kira memukul pelan pundak suaminya. "Jadi kita harus bagaimana, Yang? Ngga mungkin kan tiba-tiba menyodorkan Kristal dan Viona ke rumah Mami? Atau tiba-tiba memberi tahu Viona, siapa Evan dan bilang kalau Evan sudah meninggal? Dia pasti akan stress lagi."


"Kita dekatkan Kristal dengan Omanya, melalui kamu," Harris menelusuri leher Kira, mengendus, hingga sampai di dagu, dan menggigitnya.


"Kamu harus sering berkunjung ke rumah Mami dengan anak-anak selagi masih libur. Mami pasti senang. Sebelum Mami, ke luar negeri lagi, Kristal harus dekat dengan neneknya," Harris mendorong tubuh istrinya hingga melengkung kebelakang.


"Stop, Yang. Kalau kau terus begini, aku tidak bisa berpikir," Kira menahan kening suaminya yang mulai nakal. Kira bangkit dari pangkuan suaminya yang mulai menegang.

__ADS_1


Harris menatap Kira dengan pandangan sayu, memelas.


"No, kau yang bilang kan, aku tidak enak hari ini, jadi jangan menatapku seperti itu, oke," Seru Kira yang semakin membuat Harris lemas.


"Yang, tolong," Harris merintih memohon. "Bagaimana ini?"


Kira mengangkat bahu, dan melesat dengan cepat ke pintu. Kira masih ingat pelajaran tentang menyenangkan suami. Dan Kira belum bisa menyelesaikan tugas itu.


"Sorry, J," Teriak Kira, "It's not your time," Kira menutup pintu dengan cepat, sebelum suaminya mengejarnya.


Harris memukul meja dengan frustrasi. "Dasar hyena licik, awas saja aku akan menghabisimu."


Harris memandang dirinya sendiri, dengan perasan menangis. Dia meraup kasar wajahnya, menarik sedikit rambutnya, mencoba menenangkan pikirannya, mengembalikan kewarasannya.


"Sialan, aku tidak mau berakhir sendirian," Gumam Harris seraya mengambil ponselnya.


[Jo, ikan sudah di tangkap]


Harris meletakkan ponselnya dan mengejar istrinya ke kamar. Harris menutup pintu perlahan, dan mengayunkan langkah ke sisi ranjang di mana istrinya sedang bergelung dengan selimut.


Harris mendesah pasrah, akhirnya dia membanting dirinya menelungkup di atas ranjang. Dia tahu, dia akan berakhir mengenaskan. Entah berapa lama dan apa yang dipikirikanya, akhirnya Harris terlelap, dan mendengkur halus.


***


Malam belum berakhir bagi tiga pria matang yang tengah duduk di sebuah meja bar. Mereka memesan banyak sekali minuman.


[Dimengerti, Bos]


Johan meletakkan ponselnya di meja. Johan mendesah pelan seraya meraup wajahnya dengan kasar. Lelah, tubuh, hati dan pikirannya. Dia menenggak habis minuman yang di tuangkan sahabatnya. Sehingga membuat kedua sahabatnya tertawa.


β€’


β€’


β€’


β€’


Selamat PagiπŸŒ„ Selamat beraktifitas, πŸ‘©β€πŸ’»


Author sudah normal kembali, yaπŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†, semoga bisa terus bisa baik dan lebih baik lagi ke depannya.


Semoga reader semua, di berikan kesehatan, rezeki yang melimpah, berkah, πŸ€²πŸ™.😍😍😍. Komentar dari kalian lah penyemangat Author saat blank atau lagi ngga ada ide di kepala Author.


Terimakasih untuk semua komentar yang sudah mendarat di lapak Author ala-ala ini.πŸ™πŸ™πŸ™πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜


Love you All,πŸ’•πŸ’•πŸ’•

__ADS_1


Salam manis selalu dari Author πŸ‘©β€πŸ¦°


__ADS_2