
Sepanjang perjalanan pulang, Kira hanya diam, tenggelam dalam pikirannya. Kejam. Adalah kata yang tepat untuk dirinya. Memperlakukan orang yang memohon pengampunan sekejam itu. Bukankah setiap orang berhak mendapatkan maaf bila telah mengakui perbuatannya?.
Kira pernah bilang, jika dia ingin hidup tenang tanpa ingin balas dendam. Tapi apa yang terjadi sekarang, bukankah itu termasuk balas dendam?. Tidak ikhlas, tidah sepenuh hati, dan memaafkan karena keadaan mereka yang memprihatinkan.
Kira menangis dalam diam, benih-benih dendam itu ada, dan tumbuh dengan liarnya, seperti tumbuhan berduri menancap di setiap inci relung hatinya. Mencengkeram kuat. Menggerogoti hatinya. Ia ingin menghapusnya, merajam setiap batang berduri yang menyakitinya.
Kira masih menangis hingga dia tidak sadar bahwa Doni, sopir yang mengantarnya, membawanya ke kantor Grup WD.
"Nona, sudah sampai," Ucap Doni menyadarkan Kira dari lamunannya.
Kira mengerjapkan matanya berulang, meneteskan bulir bening yang masih tersisa di pelupuk matanya. Dan mengusapnya dengan kedua belah telapak tangannya.
"Ini di mana, Don?," Tanya Kira sembari memutar tubuhnya ke kanan dan kiri. Ini seperti tempat parkir, melihat banyaknya mobil yang berjajar rapi.
"Mari, Nona," Doni sudah membukakan pintu untuknya.
Kira masih bingung, dia mengedarkan pandangannya ke seluruh area itu. Hingga, suara merdu yang selalu di dengarnya, menyapanya.
"Selamat datang," Harris tersenyum dengan tangan terbuka lebar menyambut istrinya. Melihat kebingungan di wajah Kira. Sepertinya, kejutannya berhasil.
Setelah mendapat laporan dari Doni, bahwa Kira bertemu dengan mantan suaminya. Harris yakin, bahwa istrinya kembali mengalami suasana hati yang buruk. Sehingga meminta Doni untuk membawanya kemari, karena Harris masih punya banyak pekerjaan dan belum bisa pulang.
Kira berbalik, tersenyum, dan menangis. Teharu. Lelaki yang paling di butuhkannya, lelaki yang mengerti setiap detik perubahan dalam dirinya. Tanpa pikir panjang, Kira menubruk tubuh indah itu, hingga membuatnya terhuyung. Memeluknya erat, seperti gurita, melekat ketat.
Harris yang tidak siap dengan pelukan tiba-tiba dari istrinya, hanya bisa tertawa lirih, membalas pelukannya, menciumi wangi rambutnya. Membiarkannya meleburkan semua lara dalam dirinya.
Kira masih menempel, membasahi dada suaminya dengan air mata. Mungkin efek datang bulan yang membuat emosinya naik dan turun dengan cepat. Terhanyut dalam perasaan, yang semestinya sudah biasa baginya.
"Sudah, nanti makin jelek lho, kalau nangis," Ucap Harris mencandai istrinya seraya mengusap pelan dari belakang kepala hingga punggungnya. Namun, itu tidak mempengaruhinya. Kira masih setia nempel, sudah seperti tokek di tembok.
"Yang, kamu ngga malu di lihatin Johan dan Doni?," Bisik Harris dengan nada rendah, seperti nada yang biasa mereka mainkan di peraduan.
Seperti di sentil ujung kupingnya, Kira melepas dengan tergesa pelukannya. Melirik ke arah Johan dan Doni yang ternyata membelakangi mereka. Kira memanyunkan bibirnya, kesal, karena Harris terus menggodanya. Kira memukul pelan dada suaminya, Kira sudah malu bukan kepalang karenanya. Wajah Kira terasa panas dan terbakar, merah merona, sehingga membuat Harris tertawa.
"Kenapa pipimu merah?," Harris mengusap pipi Kira dengan kedua ibu jarinya. Semakin membuat Kira terbakar. Kira menggigit bibir, dan semakin tertunduk dalam.
Kira semakin malu, saat Harris merangkulnya melewati seluruh lantai di bagian depan kantor. Bahkan, beberapa orang melongo di buatnya. Kira sudah seperti tahanan yang sedang di giring ke dalam jeruji besi.
Harris berjalan dengan angkuh saat melintasi mereka, tanpa menghiraukan tatapan sarat keheranan dan pertanyaan. Tidak ada lagi amarah terpancar di raut wajah Harris. Padahal beberapa waktu lalu, Harris memarahi beberapa karyawan yang kedapatan melakukan kesalahan dalam pekerjaannya. Akhir tahun selalu menjadi momok mengerikan bagi karyawan.
"Kira, apa kau,.... Ki...ra?," Suara seorang wanita memaksa Kira menoleh. Wanita itu takut-takut dan ragu menyelesaikan panggilannya saat tahu siapa yang merangkul orang yang di panggilnya.
"Kalina?," Kira terhenyak, ini kantor Kalina. Dunia ini sempit, dan takdir begitu tidak terduga. Beberapa waktu lalu, Kira masih memakai jaket ojol, dan menunggu Kalina di luar gerbang kantor, dan sekarang dia berada di pelukan pemilik kantor ini. Kira menelan ludah memikirkan fakta ini. Kini, dia sadar siapa suaminya dan siapa dirinya.
"Kira," Kalina mengulangi panggilannya, semakin lirih. Sedikit banyak dia tahu siapa Kira sekarang, hanya belum mengerti keadaan seperti apa yang di lihatnya kali ini.
"Pergilah, jika kau ingin ngobrol dengannya," Ucap Harris seperti tahu apa yang mereka berdua inginkan. Mungkin dengan berbagi cerita dengan teman, bisa memperbaiki suasana hati yang buruk.
Kira berbinar, suaminya sangat mengerti tanpa dia merengek meminta di izinkan. Efek datang bulan memang mengejutkan, perasaan meluap-luap ini, tak mampu di bendung oleh Kira. Kira tersenyum sebelum melayangkan ciuman kilat di bibir suaminya. Di depan semua orang.
__ADS_1
Harris terhenyak, titik hitam bak tetesan tinta itu, melebar sempurna. Dia tidak menyangka, singa ini semakin tidak punya malu dan liar. Tanpa pikir panjang, Harris menarik pergelangan tangan Kira, hingga Kira yang sedianya menghampiri Kalina, terurung. Harris membawanya menabrak lagi dada bidang miliknya. Membenamkan ******* kecil di bibir sensual milik istrinya. Semakin dalam, dan dalam saat Harris meraih pangkal leher istrinya. Dan Kira mulai membalas isapan-isapan kecil di bibirnya, melingkarkan sebelah tangannya di pinggang dan satu lagi tersampir di bahu Harris. Mengabaikan Kalina yang membatu, juga Doni dan Johan yang mencuri-curi pàndang ke arah mereka berdua.
"Nasib jomblo," Batin Doni dan Johan. Mereka berdua beradu pandang, lesu.
Beberapa orang yang hendak melewati tempat itu, saling pandang, bingung. Tapi enggan melewatkan. Namun, Johan dan Doni, menghalau mereka menjauh, meninggalkan tempat itu.
Mereka baru saling menjauh, saat udara dalam tubuh mereka tak mencukupi lagi. Keduanya tersenyum, puas, rasanya waktu berhenti untuk mereka. Bagi mereka yang sudah kenyang dengan asam garam kehidupan, cinta bahkan tak perlu di ungkapkan. Hati mereka sudah mengutarakan semuanya. Seperti ini.
.
.
.
Di kafetaria kantor,
Kalina masih megap-megap, dia masih tidak bisa berbicara selain, Omaigat, yang berulang-ulang. Semetara, Kira menghabiskan jus jeruk di tangannya. Kira tidak tahu, harus berkata apa. Selain karena sudah ketahuan, dia juga sudah menunjukkan kemesraan di depan banyak orang.
"Ini bukan mimpi kan, Ra?," Kalina masih menolak percaya dengan apa yang di lihatnya.
"Ya Tuhan, Kalin, sudah deh, jangan lebay begitu. Malu, ih," Kira geli melihat Kalina yang melebarkan mata saat memandangnya.
"Ra, kau pakai pelet apa untuk memikat laki macam dia?,"
"Kepepet," Jawab Kira acuh. "Andai ngga kepepet, aku ngga nikah sama dia!."
Kalina mencebik, "Mana ada kepepet dapet yang kualitas super?,"
"Kamu memang menyebalkan sekali, membuatku iri saja," Kalina mendengus, kesal karena Kira tidak memberi penjelasan apa-apa selain fakta bahwa mereka berdua sudah menikah. Kira tertawa di buatnya.
Memang, beberapa bulan lalu, Tuan Dirga memberi bonus kepada semua karyawannya, tanpa terkecuali, karena pernikahan Harris. Tapi dengan siapa tidak ada yang tahu.
Mereka masih asyik ngobrol sepanjang perjalanan kembali dari kafetaria, hingga kasak-kusuk di belakangnya, mulai menyakiti telinga.
"Katanya, si bos istrinya janda, lalu wanita tadi siapa?," Salah seorang karyawan wanita mulai bergosip.
"Selingkuhan kali,"
"Makanya nikahnya diam-diam, malu kali si bos,"
"Penasaran sama istrinya bos,"
"Namanya juga janda, pasti udah jelek dan melar,"
Mereka saling menimpali, menjelek-jelekkan istri bosnya. Sebagian besar mereka memang sudah waktunya pulang, sehingga mereka bebas bergosip sepanjang jalan menuju pintu keluar.
Kalina, mendelik sebal. Mereka tidak tahu bahwa yang berpapasan dengan mereka adalah orang yang mereka gunjingkan. Kalina ingin menegur tapi dicegah oleh Kira.
"Sudah, biarkan saja, jangan membuat keributan di sini?," Kira mencekal pergelangan tangan Kalina.
__ADS_1
Kalina merengut, namun dia menuruti Kira. Kira menghela nafas. Tidak semua orang di beri anugerah pengendalian diri yang kuat. Meski Kira merasa kesal, tapi dia tidak ingin membuat keributan di kantor suaminya.
Kalina dan Kira berpisah, tetapi mereka sepakat untuk tetap saling berhubungan setelah ini. Kira menuju lantai dimana suaminya bekerja. Namun, Kira di kejutkan dengan adanya Papa mertuanya dan Asisten Toni, di ruangan Harris.
"Papa!," Seru Kira. Dengan langkah tergesa, Kira menghampiri Papa mertuanya. Menyalaminya dengan takzim, sebagai bentuk rasa hormat. Dan membungkuk kepada Asisten Toni, yang hanya di balas dengan anggukan tak ikhlas.
"Kau di sini, rupanya?," Tuan Dirga tersenyum, merasakan kepuasan dengan pilihannya. Rupa bisa di ubah, tapi karakter seseorang sudah di bentuk sejak lahir, dan hanya bisa di tempa, oleh waktu dan kerasnya kehidupan.
"Iya, Pa. Papa sudah lama?," Kira duduk berseberangan dengan Tuan Dirga. Mengabaikan Harris yang menatapnya dengan sebal, karena di anggap tidak ada.
"Sudah, hampir setengah hari Papa di sini. Membantu dia," Tuan Dirga menunjuk Harris dengan dagunya.
"Oh, Papa sudah makan malam?,"
"Belum, setelah ini kita makan malam bersama, bagaimana?,"
"Sebenarnya, saya akan segera pulang, karena anak-anak hari ini ada dirumah," Kira merasa tidak enak menolak ajakan Papanya. Tapi melihat waktu yang hampir malam, Kira takut anak-anak menunggunya.
"Anak-anak ada di rumah Papa hari ini," Tuan Dirga kembali melihat kertas-kertas di hadapannya.
"Hah?," Kira di buat kaget, anak-anak sepertinya mudah sekali meninggalkan Mamanya sekarang. Kira kembali harus kecewa. Berharap mereka bisa menghabiskan waktu bersama-sama malam ini.
"Menginaplah di rumah Papa, kita makan malam dirumah," Tuan Dirga melanjutkan ucapanya yang terpotong oleh keterkejutan Kira.
Tuan Dirga sengaja membawa mereka kesana, agar anak dan menantunya bisa menginap di rumahnya. Agar dia tidak merasa kesepian. Terkadang, Tuan Dirga ingin bersikap egois dengan menahan mereka berlama-lama di rumahnya, tapi itu tidak akan baik untuk kondisi psikologis mereka. Membiarkan mereka berada dimanapun mereka inginkan, membiarkan tawa menghiasi hari-hari mereka adalah kebahagiaan tersendiri bagi Tuan Dirga. Terlebih, menurut Johan, hubungan anak dan menantunya mengalami kemajuan yang sangat baik. Tuan Dirga berharap agar dia bisa menimang cucu, dari Harris.
Kira menoleh ke arah Harris, namun Harris mengabaikannya. Dia kesal karena di abaikan Kira sejak tadi. Kira mendesah pelan, tidak mengerti apa yang ada di pikiran Harris.
"Bagaimana, Ris?," Tanya Tuan Dirga kepada Harris yang masih sibuk dengan laptopnya.
"Terserah Kira saja," Jawab Harris cuek.
Tuan Dirga memandang Kira melalui kaca mata berbingkai hitam miliknya. Seolah menyerahkan semua keputusan kepada Kira. Kira mengangguk, mendengar jawaban Harris, terserah artinya iya.
.
.
.
.
👋👋 yang manis dulu ya, kurmanya eh karmanya belakangan,
jangan lupa, like👍, komen👄, vote,❤. untuk dukung Author agar tetap mengudara.😘😘
Yang sudah mendukung, tak bosan-bosan, author ucapkan terimakasih banyak, semoga rezeki melimpah ruah dan berkah, dan selalu di beri kesehatan. Aamiin 🤲
Luv yu oll❤😘
__ADS_1
Author