Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Satu Slice Alpukat


__ADS_3

"Maafkan aku, Yang! Aku bahkan sudah beli testpack lima biji pagi ini, dan sudah diantar juga! Aku sudah sangat yakin, untuk melakukan test awal di sini! Tapi, saat aku ke kamar mandi, nongol tuh tamunya!" Harris dengan sabar mendengar cerita istrinya perihal test yang gagal. Tangannya tak henti membelai punggung istrinya. Hangat dan lembut. Tak jarang, menimbulkan desiran mirip grafik pendeteksi gempa bumi. Naik dan turun, seirama dengan gerakan jemari yang tak jarang memberi pijatan lembut. Sesekali, dia menyeka air mata yang meleleh di pipi istrinya.


"Sudah selesai ceitanya?" Harris menumbuk pipi tirus itu dengan ujung hidung yang menekan lembut. Decak yang tak menyentuh pipipun ikut terdengar. Kira mengangguk, merontokkan sisa air matanya yang masih menggantung.


"Ayo makan kalau begitu! Biar Abang suapi, ya!" Harris masih menatap istrinya dari sisi kanan. Memandang penuh limpahan sayang.


Kira menggeser tubuhnya ke bawah, "Aku ke kamar mandi dulu ya, Yang!"


"Heem, jangan lama-lama! Nanti makanannya ngga enak, udah kena angin!" Perintah Harris sambil menyodorkan kantung berisi harta karun istrinya.


"Iya, Yang!" Kira mengambil bungkusan itu dan melenggang ke kamar mandi.


[Tanggung jawab lo, Vi! Produk gue gagal lagi]


Harris mengirim pesan pada Vivian. Di susul dengan kobaran api yang di kirimnya beberapa puluh kali.


"Eror aplikasimu, Vi! Kebakar akibat kobaran amarah gue!" Gumam Harris dalam hati. Giginya saling beradu di dalam bibirnya yang terkatup rapat.


Harris segera menegakkan badannya yang semula bersandar malas di sofa, ketika pintu kamar mandi menjeklak terbuka. Dia melakukan senam wajah sebentar untuk mengembalikannya pada sosok pria penyayang istri.


Begitu Kira duduk di sebelahnya, Harris langsung menodong istrinya dengan sumpit yang mencapit nasi gulung.


Dengan semangat dia menangkap sumpit itu ke dalam capitan bibirnya dengan senyum merekah. Lucu, pipi gembul yang membuatnya imut.


"Makan yang banyak dan sehat! Jangan cilok atau gorengan mulu yang di makan!" Ucap Harris di sela makanan yang di suapkan bergantian dengan istrinya.


Jangankan sumpit, baju saja gantian. Dan juga....


Nikmat kok, makan dengan bekas suami itu.


"Yang, kita honeymoon lagi yuk!" Sambung Harris yang masih menyodorkan sumpit di antrian bibir Kira. Kira tidak bisa menjawab, mulutnya penuh dan tidak ada henti Harris menjejali makanan ke dalam mulutnya.


Kira lambaikan tangannya tanda berhenti. Seret. Susah payah Kira menelannya.


"Yang, kok aneh ya! Ada rasa alpukat di dalam nasinya, iya ngga sih?" Kira mengambil salah satu nasi dan melihat isinya. "Tuh kan ada beneran?!"


"Jus alpukat saja mau, masa cuma sepotong gini ngga mau sih?" Harris menarik buah berwarna kuning kehijauan itu keluar dan memakannya. Harris mencecap-cecap satu slice tipis buah itu di dalam mulutnya. "Enak tuh!"


"Biasanya kamu ngga mau alpukat, kok sekarang mau?" Kira menatap suaminya yang mengambil seluruh irisan alpukat itu dan memakannya.

__ADS_1


"Aku jijik sama warna dan sensasi saat meminumnya saja, kurasa! Jika dalam bentuk irisan, rasanya tidak buruk meski aneh!" Jawab Harris acuh sambil terus mengutak atik gulungan nasi hingga menjadi acak-cakan sebab dia mencarinya hingga benar-benar tak bersisa.


"Habiskan semuanya kalau begitu! Yang ada ikan mentahnya aku ngga mau! Amis!" Kira menjulurkan lidahnya. Untuk yang satu itu, Kira benar-benar emoh. Membayangkan saja, dia sudah bergidik.


"Makan yang lain aja kalau begitu! Ini biar ku habiskan semua! Sayang jika di bagi sama Pak Satpam!" Harris menunjuk kotak lain dengan sumpitnya.


Kira membuka kotak berwarna pink menggoda. Manis. "Wah, Yang! Ini cantik banget, sayang kalau di makan!"


Kira terkesima, takjub. Donat dengan toping warna warni yang terlihat sangat manis. Jemari  Kira dengan tak sabar mencomot satu donat dengan glaze berwarna pink lembut, dan salur-salur mirip pucuk tanaman paku berwarna putih.


Harris hendak menyauti, tetapi, rupanya makanan berbentuk roda itu sudah mendarat mulus di bibir istrinya, menyisakan krim gula di sudut bibirnya. Harris menggeleng, melihat wanita itu diam dengan mulut penuh dan boks donat di pangkuannya.


"Sayang, pesenin lagi ya, donat tadi! Gemes sama topingnya yang cantik!" Kira menggenggam kedua tangannya di bawah dagu. Wajahnya berbinar bahagia.


"Besok ya! Tadi kamu udah makan banyak banget! Ngga bagus makan yang manis-manis terlalu banyak!" Harris yang sudah setengah jalan menuju pintu berbalik lagi. Semula dia hendak kembai ke kantornya, usai makan siang yang sangat lama. Dia mengulurkan tangannya, menyisir pelan rambut istrinya.


Kira merengut, kecewa. Baru saja bibirnya terbuka sedikit, Harris sudah meletakkan telunjuk di atas bibirnya.


"Aku tidak suka pada bibir yang suka demo ini! Jadi, patuhi suamimu atau, akan ku beri pelajaran yang tak pernah bisa di lupakan!" Harris mengusap sedikit menekan ke atas bibir bawah Kira, seakan ada sesuatu yang tumpah dari sana.


Kira mencekal lengan berbalut kain abu tua itu, membawanya kembali ke sisi tubuh Harris. "Pergilah, aku takut kau berubah pikiran!"


Kira bergidik ngeri, membayangkan tangan yang menekannya barusan. Perutnya langsung bergolak. Kira melangkah mundur dengan tangan membekap mulutnya sendiri. Di iringi seringai jahat suaminya.


***


[Situ yang gagal kok gue yang salah? Bibit lo ngga berkualitas kali?]


Sebuah pesan dari Vivian membuat Harris meradang. Wanita cupu itu benar-benar meremehkanku, batinnya.


Harris buru-buru membalasnya. Wajahnya berubah serius.


[Ya situ yang salah, kasih saran ini itu tapi ngga terbukti! Gue ngga yakin lo lulusan dokter ahli bikin anak?]


[Lo mau cepet jadi? Transfer 2 kali lipat, besok melendung bini lo!]


"Sialan," Harris melemparkan ponselnya ke samping. Mendarat mulus di kursi yang lembut.


Johan terkejut, "Ada masalah, Tuan?"

__ADS_1


"Transfer si cupu 2 kali lipat!" Perintah Harris pada Johan.


"Awas saja kalau ngga ada hasilnya!" Gumam Harris.


"Baik, Tuan," Jawab Johan mengerti maksud Tuannya.


[Nanti gue transfer, gue masih di jalan]


[Gitu dong! Udah, jangan ganggu gue! Gue mau kawin]


Harris tertawa membaca balasan terakhir dari Vivian. Wanita yang dulu pernah menyukainya itu, selalu kaku kepada orang lain, tapi tidak dengannya.


[Seneng banget yang mau kawin? Siap-siap pingsan lo di serang Hendra]


[Iya, gue seneng banget sampai mau kabur rasanya]


Harris tertawa terbahak-bahak, jika saja mobil ini tidak berjalan, bisa terguling saking kerasnya dia tertawa. Dia tidak menyangka, wanita kaku itu bisa melucu padanya, hanya pada seorang Harris.


***


"Saudara Melisa, anda boleh keluar sekarang! Pelapor mencabut laporannya, karena kurangnya bukti!" Ucap salah seorang pria berseragam itu.


Melisa yang sejak kembali ke sel hanya diam dan merenung, terkejut mendengarnya. Antara senang dan takut. Di luar dia tidak punya apa-apa dan siapa-siapa. Di sini, meski dia seorang pesakitan setidaknya, dia aman dari ancaman yang bisa saja melecehkannya. Dalam diam, Melisa berjalan keluar sambil memeluk outernya.


Panas. Paving blok dengan rumput di sela-selanya, seakan menyerap cahaya matahari. Menyimpannya untuk memanggang daging berbalut kulit yang menginjaknya.


Kaki mulus itu, berjinjit, namun, tak jarang menginjaknya dengan tak sabaran. Bukan karena seseorang dengan teduh menyambutnya. Bukan. Tapi, halaman yang hanya beberapa yard ini terasa sangat menyiksa dari atas dan bawah.


"Pakailah!" Seorang pria muda dengan kemeja rapi, sepatu pantofel berkilat dan rambut hitamnya tersisir rapi. Menyodorkan plastik berisi sandal wanita. Dia membenarkan posisi rangselnya, sebelum berlalu tanpa menoleh lagi kepada Melisa.


Kedua mata Melisa mengikuti langkah pria itu hingga hilang di telan pintu kaca jauh di depannya. Melisa mengerjap berulang, sadar, kakinya sudah matang di bawah sana. Buru-buru dia membuka plastik itu dan memasangnya di kedua kakinya.


Sekali lagi dia menoleh ke pintu, seakan mengucapkan terimakasih. Lalu, dia melangkah lagi meninggalkan tempat yang sebenarnya nyaman.


Semua pemandangan tadi tak luput dari pandangan seorang pria dari dalam mobil. Dia menatap wanita yang pernah bersamanya, dengan perasaan entah. Iba tapi juga tega. Benci tapi juga mengasihi. Andai, dia mau berubah, segalanya akan lebih mudah.


Mungkin harus seperti ini. Suratan kehidupan yang di gariskan Tuhan. Jalani dan resapi.


__ADS_1




__ADS_2