
Perpisahan itu tetaplah ada, seberat apapun, tetapi hati sudah lapang menerimanya.
Musim panas yang telah dijanjikan, Harris bersama keluarga besarnya berangkat ke Amerika. Kali pertama dia datang ke kediaman Johan dan Viona yang ada di sana.
Dua pesawat sewa diatur mengangkut seluruh keluarga besar mereka secara acak, sementara Harris berada di penerbangan umum. Dia sendirian selama 23 jam terbang. Ini biasa terjadi jika kau adalah pewaris sebuah perusahaan besar, mereka berjaga-jaga jika terjadi sesuatu yang tak diinginkan.
Pesawat tiba dengan aman setelah mengudara melintasi benua. Di sambut Johan langsung, mereka menaiki empat limo mewah yang biasa digunakan untuk mengangkut rombongan artis atau pejabat penting yang memakai pesawat milik DermAir. Sisa Harris dan Johan yang masih saling merangkul di depan mobil yang menjemputnya.
"Apa kabar Bapak?!" Harris memeluk Johan dengan tepukan keras mendarat di punggung lebar mantan asistennya itu. Mereka tertawa lebar, menyembunyikan perasaan rindu yang membuncah.
"Aku makin lupa cara tidur setelah punya anak." Johan menjawab sedikit bergetar. "Tapi aku baik sejauh ini, Tu—Harris ... ya, aku belum terbiasa dengan panggilan yang anda mau. Aku terbiasa dan seharusnya tidak ada yang perlu diubah."
"Kau terlalu tua untuk punya bayi, Jo ... stamina berkurang padahal anak-anak energinya selalu penuh, seolah-olah ada baterai cadangan di tubuh mereka." Harris mengalihkan topik. Dia tidak mau menyangkal fakta bahwa Johan sekarang berada jauh diatasnya. Harris sadar akan keadaan itu, dan dia sama sekali tidak masalah.
"Ngomong-ngomong, Asisten Toni ada perlu apa sampai dia butuh pesawat sendiri setelah dari mengantar Tuan Dirga kesini?"
Melerai suasana yang canggung, Johan ingat kalau Toni akan berangkat esok hari ke suatu tempat yang sedikit dirahasiakan.
"Dia bertemu keluarganya yang tinggal di Kanada. Belum lama mereka pindah setelah kemarin tinggal di Manhattan." Harris menjelaskan.
"Dia punya keluarga, kah? Kupikir dia jomblo abadi." Johan sedikit heran, pasalnya tak pernah ada satu kabar pun yang sampai ke telinganya soal pria itu memiliki keluarga. "Kerabat atau anak angkat?"
"Anak biologisnya," jawab Harris dramatis dan terkekeh. "Dia diam-diam berbahaya. Kira sampai heran, ada robot yang bisa punya anak. Agak kontras dengan sikapnya yang galak saat kita main perempuan dulu, ya! Dia sendiri ternyata parah."
Johan lebih terkejut lagi mendengar ini. "Kutukan berlaku kalau begitu ... dia yang sering menyeret kita dari club ternyata malah punya anak diluar nikah. Tapi dia tampak tertekan selama ini, apa karena itu?"
"Entah ... kata Riko mereka sudah baikan. Dan Claudia mulai menerima. Bahkan ini adalah undangan langsung dari Claudia dan is—maksudnya mamanya Claudia. Mereka tidak menikah."
Johan mengangguk, "sudahlah, biar saja pria tua itu bahagia. Kita di sini akan bersenang-senang. Tampaknya anak-anak sudah tidak sabar untuk berjalan-jalan."
__ADS_1
Dia menunjuk ponsel yang berdering. "Mau apa mereka saat baru sampai beberapa menit kalau tidak karena ingin bersenang-senang?"
"Aku tau Kira pasti tidak bisa menahan anak-anaknya. Ayo kita segera menyusul mereka. Aku ingin tidur." Harris memang tampak kelelahan, dia naik kelas bisnis, tetapi tentu tidak senyaman pesawat sewa milik DermAir.
Johan mengangguk lalu meminta sopir bulenya untuk segera membawa mereka kembali ke rumah. Semua pekerja Darmawan di sini adalah warga asli. Hanya pembantu di rumah yang berasal dari Indonesia.
Sesampainya di rumah, Tuan dan Nyonya Darmawan menyambut Harris dengan ramah seperti biasa. Canda tawa dua keluarga besar itu pecah saat mereka memenuhi ruang tengah yang mewah dan lega. Baby Xavier bahkan ikut hadir di sana, meski dia hanya menyumbang tangis yang memekakkan telinga.
Harris dan Johan berdiri di ambang pintu ruang keluarga yang hangat dan meriah ini.
"Semoga kita bisa jadi ayah yang baik untuk anak-anak kita, ya, Jo." Harris merasa terharu. "Masa lalu kita terlalu suram saat mengharapkan anak kita mendapatkan yang terbaik untuk masa depan. Terkadang aku masih sering menyesali kenakalanku di masa muda."
"Kita berdua sama. Tapi kita harus tetap berharap agar anak kita selalu dimudahkan dalam semua urusan. Meski kita tahu, tidak ada jalan hidup manusia yang mudah. Aku hanya berharap mereka diberi kekuatan dan kesabaran, pikiran yang jernih dan akal yang sehat. Setidaknya, mereka tetap berada di jalan yang lurus." Johan tersenyum. Sejujurnya dia khawatir dan sedikit tidak yakin pada ucapannya sendiri. Ada masalah yang belum tuntas. Dan dia hanya harus bersiap jika suatu saat badai tiba-tiba datang dan memporakporandakan kebahagian yang susah payah dia ciptakan.
"Kita hanya harus bersiap. Semua serahkan pada Tuhan." Harris tersenyum, merangkul Johan lagi, menepuk pundak pria itu berulang-ulang.
"Ayolah, jangan panggil aku begitu. Aku adikmu, oke!" Harris merengek.
"Ini yang terakhir—maaf!" Johan tertawa seraya mengusap air matanya.
"Kalian pacaran, ya? Cemburu aku!" Kira. baru saja melihat dua orang itu saling berpelukan, lalu mendekat dan menatap mereka penuh rasa cemburu.
"We are soulmate. Kamu nggak bisa cemburu karena kamu adalah hidup dan matiku." Harris meraih Kira dan menciumnya.
Kira membalasnya. Johan kesal dibuatnya.
"Ayolah, kalian jangan melakukannya di depanku lagi. Viona dan aku belum sempat bersentuhan karena Xavier kelewat rewel." Johan berdecak, seraya membuang wajah ke samping.
Harris dan Kira tertawa lalu dengan gerakan cepat, Kira menarik Harris keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
"Uncle Jo, titip anak-anak, ya ... mau honeymoon!" teriak Kira saat sampai di ujung ruang depan. Dia melambai riang. Johan menggeleng.
"Mereka masih sama saja!"
Sementara Toni di luar masih sibuk menghubungi Amanda dan Claudia soal kedatangannya besok. Dia sedikit tidak sabar dan memaksa untuk berangkat sekarang.
"Maaf, Pa ... tapi Papa harus datang besok. Aku masih ada urusan hari ini, dan Mama belum siap bertemu Papa." Di seberang sana, Claudia mengarahkan kamera ponsel ke bagian dalam ruangan yang merupakan ruang fitting baju.
"Papa besok harus menikah dengan Mama. Meski terlambat, Claudia ingin punya orang tua yang lengkap. Maaf kalau Claudia terlalu lama memutuskan dan sempat berpikir buruk soal Papa. Dan Claudia harap, semua keluarga besar Mr. Dirga bisa datang ke sini besok." Claudia tersenyum meski dia tidak menampakkan wajahnya. Dia terlalu malu.
Asisten Tony menangis, suaranya serak. "Tidak masalah, Nak ... sama sekali tidak ada kata terlambat. Meski tidak ada pernikahan, kamu tetap anak Papa."
Riko melihat itu semua, dia memeluk ayah angkatnya ini yang sedang dilanda rasa bahagia dan terharu.
"Ini waktumu, Pak! Jangan sia-siakan." Riko berbisik dan menepuk pundak Toni pelan.
Tony mematikan panggilannya, lalu memeluk Riko erat-erat. "Kamu harus menjadi pendampingku besok, Nak! Kamu adalah anak pertama ku!"
Riko tersenyum dan membalas pelukan Asisten Toni erat-erat. "Ya, aku pasti akan selalu bersamamu, Pak!"
—END—
Kebahagiaan akan selalu datang tepat pada waktunya. Tidak pernah lebih awal atau terlambat. Manusia punya batas, terkadang kita yang tidak sabar.
♡♡♡♡♡
Senin, 9 Januari 2023
With Love♡Misshel♡
__ADS_1