Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Pertempuran Pertama


__ADS_3

"Sejak kapan Abang dekat dengan Dokter Vivian?" Kira mengalihkan pandangannya dari mata yang menatapnya dengan sendu. Ini sangat melemahkan dirinya.


Kening Harris berkeriut naik, "Sejak kamu hamil, kami semakin dekat! Memangnya kenapa?"


Dada Kira bergemuruh hebat. Napasnya mulai naik turun tak beraturan. Bukankah Vivian pernah mengungkapkan perasaan pada Harris? Pikir Kira.


"Ada apa sih, Yang?" Harris menggenggam tangan Kira, dia tidak mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh istrinya. Adakah yang aneh? Batin Harris.


Bayangan perselingkuhan menari-nari di benak Kira. Momok mengerikan itu selalu menjadi ketakutan terbesarnya. Mungkinkah? Tapi rasa-rasanya tidak mungkin jika Harris sampai setega itu padanya. Apalagi beberapa waktu lalu, Harris masih bersikap dingin pada Vivian. Kenapa suaminya kini malah perhatian pada Vivian yang sudah bersuami? Batin Kira terus bergolak, diskusi kecil yang saling melempar prasangka terjadi tanpa bisa dicegah.


"Aku benci Abang!" Kira berkaca-kaca, hatinya sakit saat mengatakan itu. Dia tak mampu membenci suaminya ini. Benar, jika pikirannya benar, dia akan terluka lebih dalam, sebab dia sangat mencintai pria ini.


Duar.


Deg...deg.


Bagai petir menyambar, menghentikan laju jantungnya. Harris bahkan membelalak saking tak percayanya dia pada telinganya.


"Apa yang kau bicarakan, ha? Benci apa? Bagaimana bisa kau berkata seperti itu? Apa salah Abang? Katakan, Sayang!"


Harris menahan bahu Kira, agar dia tidak lari darinya, saat lagaknya seakan ingin menghindari pertanyaannya. Apa ini juga efek hormon kehamilan? Sialnya, Vivian belum memberi penjelasan apapun. Juga, Vivian sedang dirawat saat ini, sebab kelelahan dan morning sickness yang berlebihan.


"Abang masih memiliki hubungan dengan Vivian kan? Abang mau menduakanku kan?" Dada Kira seakan meledak, dia sudah berurai air mata saat ucapan itu terlontar dari bibirnya.


"Hubungan apa?" Harris masih bingung. Dia memandang istrinya menuntut kejelasan, "Menduakan siapa, Yang?"


Harris menyeka airmata yang mengaliri pipi istrinya. Astaga, apa sih yang ada di pikiran wanita ini?


"Tadi Abang pegang-pegang tangan Vivian! Apa Abang sekarang menyukai Vivian? Setelah beberapa tahun berlalu?"


Harris terkejut, sedetik kemudian dia tertawa terbahak-bahak. Sampai memegangi perutnya. Astaga. Jadi ini penyebabnya...


Tetapi, sikap Harris malah membuat Kira semakin kesal. Apanya yang lucu? Pikir Kira. Dia segera membaringkan tubuhnya, membelakangi suaminya yang masih tertawa. Ditariknya selimut hingga menutupi kepalanya. Matanya terpejam, mulutnya menggerutu, namun dia belum tidur. Telinganya masih siaga.


"Kau ini lucu sekali sih, Yang!" Harris mengusap selimut diatas kepala Kira. Harris masih menyeringai. Dibiarkannya istrinya bersembunyi di balik selimut, kemudian dia melepas kemeja yang dikenakannya, melemparnya ke depan wajah istrinya.


"Kau boleh marah padaku, tapi tidak bisa menolak keringatku," Gumam Harris sambil berlalu ke kamar mandi.


Benar saja, aroma itu sangat memabukkan. Dari balik selimut aroma itu sudah sangat menusuk-nusuk hidungnya. Si pemilik aroma yang membuatnya gila. Ah, tiba-tiba ada seutas dawai yang mengencang, bergetar pelan seakan ada jemari memetiknya. Menggetarkan sesuatu di dalam tubuhnya.


Kira menggoyang kepalanya, dia sudah kehilangan akal, dia sedang dalam mode kesal sekarang. Atau cemburu. Tunggu sebentar. Apa ini cemburu?


Kira masih mengerjap saat mendengar pintu kamar mandi menjeblak terbuka. Buru-buru dia memejamkan mata. Pura-pura tidur.


Harris menggosok rambutnya yang basah. Badannya sudah terasa segar, lelahnya juga hilang. Pun dengan kebingungan akan sikap istrinya. Seperti biasa, Harris bertelanjang dada usai mandi. Dia memanggil Art untuk mengambil makanan yang tak tersentuh sama sekali melalui telepon di sebelah pintu kamar.

__ADS_1


Lalu, Harris ikut masuk ke dalam selimut, sedekat mungkin dengan Kira, sambil menunggu Art. Harris bersikap seolah-olah istrinya sudah tidur. Dengan santai dia mengambil ponsel dan mulai mencari-cari artikel tentang kehamilan. Sebelah tangannya membelai kepala yang menyembul di balik selimut.


Ketukan di pintu memaksanya mengangkat wajahnya yang menyeringai, usai menemukan sesuatu untuk menjahili istrinya.


"Permisi, Tuan-,"


"Dia ketiduran, Bi! Bawa saja, nanti jika dia bangun akan kuambilkan sendiri," Potong Harris cepat, dia sudah tak sabar ingin mengerjai istrinya yang pemarah itu.


"Baik, Tuan!" Art itu bergegas mengambil nampan dan meninggalkan kamar setelah membungkuk dengan sopan pada Harris.


Kira memejamkan matanya rapat-rapat saat tubuh suaminya tepat berada di depan wajahnya. Tubuh yang selama satu bulan ini membuatnya nyaman bahkan dia tidak bisa tidur jika tidak memeluknya.


Sudut bibir Harris melengkung sempurna, saat mata itu memejam semakin rapat.


"Sayang," Bisik Harris di telinga istrinya. "Kau tidak ingin memelukku?" Harris menuntun tangan istrinya untuk membelai dadanya. Meletakkan tepat di atas jantungnya


Kira mengigit bibir, manik matanya mengintip di balik kelopak mata yang membuka sedikit. Kira meruntuki dirinya sendiri saat tangannya mulai bergerak pelan. Kesal, sebab dia selalu lemah dihadapan suaminya yang pandai merayu.


"Sayang," Sekali lagi, bisikan itu berhasil membuat Kira meleleh. Ingin rasanya dia menyahuti panggilan suaminya yang berirama bagai desahan bayu. Namun dia masih bertahan, akalnya masih meraja.


"Kau tidak rindu padaku, hem?"


Kira membalik badannya secepat kilat, saat tangan itu membelai sisi wajahnya hingga ke leher. Kira benar-benar kalah, mana ada orang tidur bisa bergerak secepat itu.


Jangan membelakangi musuhmu. Jika tidak mau musuhmu dengan mudah menangkapmu


Harris menyusuri ceruk mulus yang seakan merayu untuk disinggahi. Harris berlabuh disana, cukup lama, meninggalkan jejak. Satu, dua, tiga, empat, sebelum turun lebih dalam.


Rencana tinggal rencana, dia tidak bisa lagi menahan laju kerinduan satu bulan ini. Sesuatu yang lolos dari bibir istrinya terasa dalam merasuki jiwanya. Menariknya lebih dalam pada permainan yang sudah diciptakannya sendiri.


Penutup dada dengan kait berada di depan membuatnya leluasa bergerak, membakar gelora. Ia harus berterimakasih pada bayinya. Kini, tangannya tak mampu lagi mencakup seluruh buah yang selalu memuaskan dahaganya.


Artikel dari sebuah laman seakan terjiplak sempurna di dalam memori otaknya. Apa yang boleh dan apa yang tidak boleh. Pelan dan hati-hati. Namun, dia suka gemas sendiri sehingga tanpa sadar, tindakannya terlalu kasar, menghasilkan suara merdu itu lebih keras terdengar.


"Sayang, aku ingin melihat bayiku," Bisik Harris dibelakang telinga Kira.


Kira tak mampu melawan atau menolak. Dirinya sudah tak bertulang lagi sejak dirinya dijajah. Lupa segalanya. Lupa beberapa saat lalu dia masih menggerutu pada suaminya ini.


Kira masih membelakangi suaminya, satu perintah dari suaminya, membuatnya membuka mata, berbalik, seakan bertanya "Bolehkah?"


"Tentu Sayang! Aku tidak ingin menyakitimu!"


Kira hanya patuh, tak bisa lagi mengelak, toh dirinya juga sudah tak mampu lagi untuk sekedar berlari.


Harris sudah merasa basah dan lembab di sekujur tubuhnya. Dia segera membaringkan istrinya membelakangi dirinya. Harris tahu, ini bukan sesuatu yang pernah mereka coba sebelumnya.

__ADS_1


"Aku akan lembut, Sayang!" Bisik Harris saat dia mulai mengambil posisi.


Kira mengigit bibir, dia terlalu takut dengan perlakuan suaminya yang penuh tenaga. Matanya terpejam sempurna. Tangannya menopang perutnya yang masih rata.


Harris sedikit kesulitan, tetapi, dia benar-benar melakukannya dengan lembut dan penuh kasih. Lampu hijau dari Vivian dimanfaatkan dengan baik olehnya. Meski dia tak bisa berlama-lama dan memang dia tidak bisa bertahan lama, dengan posisi seperti ini. Terlalu kuat.


"Abaang," Kira menggeram dalam. Keduanya saking menggenggam erat. Tak peduli seperti apa, suaminya selalu membuatnya melayang tinggi.


"Sayaang," Harris tersengal-sengal, saat dirinya ikut terbawa arus.


Harris memeluk istrinya lebih dekat, dan menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka. Napas keduanya bersahut-sahutan.


"Jangan marah lagi, ya!" Harris meletakkan dagunya di bahu Kira. Deru napasnya terasa hangat menerpa telinga.


Kira memikirkan sesuatu, alasan agar dia tidak terlalu malu. Entahlah, melihat suaminya perhatian dengan orang lain membuat hatinya terbakar. Lagipula, semua itu terjadi saat dia sedang tidak ada di sana. Pantas bukan, jika dia berprasangka?


"Abang tahu kan, aku memiliki trauma diselingkuhi?"


"Hem, Abang tahu! Tapi masa dengan Vivian kamu cemburu, Yang?" Harris masih berusaha menormalkan irama dalam dirinya. Terbiasa melakukannya lebih dari sekali, membuat Harris sedikit kesulitan meredakan api dalam dirinya.


"Vivian dulu suka sama Abang! Dan apa salahnya? Vivian kan cantik!" Kira menarik dirinya menjauh, sedianya dia ingin menghadapi suaminya. Tetapi, tangan Harris dengan sigap menahannya.


"Jangan banyak tingkah!" Harris memejamkan matanya, dia kesal sekali saat ini. Gerakan sedikit saja, sudah seperti percikan api di atas tumpukan bara.


"Kau tahu, Vivian sedang hamil sekarang! Dia dan Hendra masih belum akur juga. Keduanya memiliki sifat yang bertentangan."


"Kalau belum akur, kenapa bisa hamil, Bang? Aneh itu, Bang?" Kira merasa tidak nyaman, sesuatu di belakang tubuhnya, masih tegak menempel.


"Mereka dinikahkan karena Hendra kedapatan bermalam di apartemen Vivian. Katanya sih, keduanya mabuk berat, mereka ngga sadar saat melakukannya. Tapi menurutku, ngga mungkin Hendra ngga sadar melakukannya. Dia paling kuat diantara kami!" Harris memejamkan mata, mengalihkan pikirannya dari ketegangan yang tak menyurut darinya. Tetapi, itu sangat susah, si rubah kecil ini, terus meronta di depannya.


Kira mengangguk mengerti, "Kasihan Vivian ya, Bang!"


"Makanya aku mencoba membuat mereka bisa akur, kasihan Vivian sampai dirawat karena stress dan kelelahan. Keluarga Vivian juga terlalu keras padanya, dan dia tidak punya teman untuk berbicara," Ucapan suaminya membuat Kira malu. Ternyata, semua tak seperti yang ada di pikirannya.


"Kita jenguk Vivian ya, Bang!"


"Besok saja, sekarang kan sudah malam! Apa kau tidak lelah?" Sekali lagi, Harris menahan Kira di persilangan dada saat Kira hendak bangkit. Engga rasanya berjauhan. Setidaknya, dia tidak tersiksa lebih dalam.


"Ya memang besok, Bang! Siapa juga yang mau pergi sekarang?" Kira menoleh sedikit, membentur wajah yang masih bertengger di bahunya dengan mata terpejam.


"Abang, tangannya dikondisikan! Jangan ngelayap kemana-mana! Bisa-bisa si J ngga tidur tuh!" Kira menahan tangan suaminya yang bergerak tak terkendali. Apalagi disana. Hem.


"Sekali lagi ya, Yang!"


__ADS_1




__ADS_2