
Kira mendorong sebuah troli di sebelah tangannya, dan tangan lainnya menelisik secara horisontal, melintasi jajaran display sebuah produk susu. Kira sedang berbelanja beberapa barang kebutuhan harian di salah satu toserba yang ada di pusat perbelanjaan itu. Kira memang di bebaskan mengatur keuangan rumah tangganya. Harris menyerahkan semua kepada istrinya. Dan, Kira walaupun dia lebih dari mampu untuk membeli Mal itu, tapi dia tidak mau berlebihan. Biar saja di bilang pelit, yang penting dia tetap bisa amanah menjalankan tugas dari suaminya.
Ibu dan Nina mengekor di belakang Kira dengan mendorong keranjang berisi belanjaan mereka masing-masing. Sementara, yang lain menemani anak-anak bermain.
"Mbak, bilang sama Pak Harris, belanjaanku sekalian di bayarin, ya! Aku kan pengangguran usai di blacklist di WD," Ucap Nina secara tiba-tiba, di sisi kanan Kira.
"Kau saja yang bilang, aku tidak berani melebihi jumlah yang di tetapkannya," Jawab Kira tanpa mengalihkan pandangannya dari barang yang hendak di belinya. Kira sebenarnya hanya membohongi Nina, Harris tidak membatasi uang belanja Kira, bahkan tidak pernah bertanya, uangnya untuk beli apa.
"Yah, Mbak, ngga asik, ah. Aku bisa mati berdiri jika berhadapan dengan Pak Harris," Nina merengut, menyangka ucapan Kakaknya adalah kebenaran.
"Dia ngga bakal nelan kamu kok," Jawab Kira asal.
"Hiih, dia mah jinak sama Mbak saja. Sama kita tetep aja garang," Nina menimang-nimang barang di tangannya. Lalu mengembalikan lagi ke rak, terlalu mahal, pikir Nina.
Nina masih merengek dengan berbagai rayuan pada kakaknya. Hingga akhirnya, Kira merasa telinganya penuh dengan suara Nina.
"Hentikan Nin, atau Mbak ngga akan bayar belanjaan kamu," Kira berbalik menghadap Nina yang berada di belakangnya.
"Bener Mbak?" Mata Nina membola sempurna. Dia sampai melompat-lompat kecil saking girangnya. Beberapa orang yang tak jauh dari mereka, melempar tatapan sinis kepada keduanya.
"Norak," Cibir Kira kepada adiknya.
***
Usai membayar seluruh belanjaan mereka, Kira segera menyusul anak-anak yang menunggunya di sebuah food court untuk makan siang yang sudah sangat terlambat. Kira berjalan sedikit tergesa karena ponselnya terus-terusan berdering.
Bruk!
"Maaf, Bu, maaf, saya ngga sengaja," Kira menoleh ke arah wanita yang di tabraknya. "Ibu?"
Kira terkejut bukan main, saat mengetahui wanita yang di tabraknya adalah Ibu Rian.
"Kira," Ibu berusaha bangkit saat mengetahui yang menabraknya adalah mantan menantunya.
"Ibu, tidak apa-apa?"
"Tidak, Nak. Ibu baik-baik, saja," Ibu memunguti tas belanjaan yang berserakan.
Entahlah, memang dasarnya, Kira itu masih menyimpan sakit hati kepada mantan ibu mertuanya atau memang dia sedang lelah, tapi melihat Ibu Rian tampak ringkih dan lemah, membuatnya kesal.
Ingin rasanya, Kira membiarkan wanita tua itu kerepotan membereskan barang belanjaan yang keluar dari kantongnya, tetapi, dia tidak sampai hati, apalagi dia yang salah di sini, dia yang menabrak Ibu Rian, saking tergesa-gesa agar cepat sampai di tempat anak-anaknya menunggu.
"Astaga, aku ingin jadi penjahat saja rasanya. Nasib jadi orang labil ya gini, mudah baper," batin Kira.
Ia masih ingat tekatnya untuk memaafkan dan merelakan masa lalu, tapi nyatanya, dia masih menyimpan sakit hati, walau hanya setipis kabut.
"Ibu sendirian?" Putusnya saat pertarungan di dalam hatinya, dimenangkan oleh sisi putih.
"Ada Melisa dan Rian, mereka menunggu Ibu di sana," Ibu menunjuk pintu keluar.
Sumpah demi apapun, di mata Kira, Ibunya Rian sangat aneh saat berkata lembut. Kira bahkan merindukan tatapan tajam penuh ejekan, merendahkan, meremehkan, menghina, menghardik, membentak, dan apapun sejenisnya. Sepuluh tahun dia hidup berdampingan dengan itu semua, sehingga dia merasa terbiasa.
"Aku pasti sudah gila," Gumamnya dalam hati.
"Biar Kira antar Bu," Ingin rasanya Kira menampar mulutnya, yang tidak mau menuruti egonya.
"Tidak usah, Nak. Nanti merepotkanmu," Ibu tersenyum, senyum yang tak kalah aneh bagi Kira.
"Tidak, Bu. Anggap saja sebagai permintaan maafku sama Ibu, karena sudah menabrak Ibu barusan," Kira mendesah pasrah.
__ADS_1
"Hai, terserah kau sajalah, mulut," batin Kira.
"Nona," Suara Doni samar-samar di dengar Kira. Baik Kira ataupun Ibu menoleh ke sumber suara.
"Apa masih ada yang harus saya bawa ke mobil lagi, Nona? Tuan bilang Anda tidak boleh terlalu lelah," Ucapan Doni membuat Kira ingin mencabiknya.
"Tidak ada lagi, Don. Dan, aku tidak lelah," Jawab Kira ketus. Doni berlagak seperti bodyguard yang sesungguhnya, sehingga membuat Ibu bingung menatap mantan menantunya.
"Kau kembalilah bergabung dengan yang lain, aku akan mengantar Ibu ke depan," Kira menyuruh Doni pergi, tapi, sepertinya Doni lebih memilih di hajar Kira dari pada nyawanya di ujung telunjuk Tuannya.
"Saya akan mengawal anda, Nona. Sesuai perintah Tuan," Ucapan Doni berhasil membuat Kira mengangkat tinju yang berisi tas belanjaan Ibunya Rian. Namun, segera di turunkannya, saat matanya menangkap ekspresi kebingungan Ibu Rian.
"Biar saya saja yang membawa semua ini, atau perlu saya panggil yang lain, untuk menuntun Nyonya ini hingga ke mobilnya, Nona?" Kira merapatkan giginya dengan ketat. Seiring tatapan tajam dan tinju terkepal di sisi tubuhnya.
Doni meraih begitu saja, tali-tali tas yang tidak seberapa beratnya.
"Mobil anda dimana, Nyonya?" Doni beralih kepada Ibu Rian yang seperti kena hipnotis. Linglung.
"Saya bersama anak saya di depan sana," Meski keheranan, tapi Ibu patuh pada Doni yang tiba-tiba berwajah tegas.
"Apa perlu, Nona saya mengganti kerugian Anda, Nyonya?"
"Don, pergilah, ini Ibu dari mantan suamiku, tak ada yang perlu kamu cemaskan."
"Saya hanya mengikuti perintah, Nona," Doni mendebat Kira dengan cepat. Sehingga membuat Kira meninju bahunya. Doni berusaha tetap tegak, meski tubuhnya bergeser dua langkah ke belakang, akibat tinju itu. Terlihat lemah, tapi cukup terasa di tumpukan otot dada Doni.
Entah sejak kapan semua ini di mulai, tapi Kira mulai kesal jika Harris mulai posesif padanya. Atau, ini hanya sekenario yang Doni mainkan, agar Ibu Rian menjadi segan padanya. Entahlah,
"Nak, Ibu sungguh tidak apa-apa, Ibu tidak mau membuatmu kesulitan."
"Ibu sudah membuatku sulit di masa lalu," Jawab Kira, tanpa sadar. Tapi dia tidak berusaha mengubah ucapan yang lolos dari review otaknya.
"Bu, maaf jika Kira harus mengatakan ini," Kira menguatkan hatinya saat melihat wajah penuh sesal di depannya. "Andai seluruh dunia ini di tukar dengan sakit yang kalian torehkan di hati Kira, tapi Kira rasa itu tidak akan merubah apapun. Kalian terlalu dalam melukai wanita bodoh sepertiku, apa Ibu sadar, saat membawa Melisa ke dalam rumah tangga kami, itu tidak akan melukai putra Ibu di masa datang?"
Ibu berurai air mata. Dia tidak berpikir seperti itu, setahu dia Kira sajalah yang akan hancur. Tetapi, kini setelah Kira pergi, malah keluarganya yang terasa seperti neraka.
"Ayo, Bu. Saya antar Ibu kedepan, saya tidak sanggup membalas Ibu dengan kejahatan yang sama dengan yang kalian lakukan padaku. Tapi, saya juga tidak bisa berbaik hati dengan membiarkan kalian merasa sudah mendapat maaf dariku." Kira melangkah mendahului Doni yang menuntun Ibu Rian bersamanya.
Biar saja, siapa saja yang mendengar ini, merasa Kira adalah orang yang sombong dan merasa dirinya berharga. Kira tidak peduli.
"Hei penggoda, kau main kesini juga? Sudah di buang oleh Big Boss?" Melisa meneriakinya saat wajah Kira dalam jangkauan penglihatan wanita itu.
Kira melihat Rian sedang menggendong anaknya, sedangkan Melisa awalnya memainkan ponselnya. Jujur saja, Kira senang, saat melihat Melisa yang seakan membalaskan dendam yang tak mampu Kira lakukan. Tapi, memperlakukan wanita yang melahirkan suaminya seperti itu, terlebih lagi dialah yang membawa Melisa ke dalam hidupnya yang sekarang, itu juga bukan hal yang baik. Dan, Rian juga tidak berusaha membantu Ibunya.
"Aku lega bisa lepas dari lelaki seperti dia," Batin Kira.
"Diamlah, Mel," Sungguh Kira ingin mengatai Melisa dengan sebutan lain. "Kau tidak seharusnya memperlakukan orang yang menjadikanmu ratu seperti ini. Kau sungguh wanita yang tidak tahu diri." Kira menatap tajam keduanya.
"Bukan urusanmu. Pergi sana, cari mangsa baru, jika Big Boss mu itu sudah mencampakkanmu," Ucap Melisa penuh ejekan di akhir ucapannya.
Kira berdecih, "Kau sedang iri padaku? Saat aku bisa punya Big Boss di sisiku? Usaha yang keras, Nyonya. Sekarang kita tidak dalam garis yang sama. Lihatlah dirimu, Mel, bercerminlah," Kira melirik Rian yang masih membisu. Dia terus saja mengusap anaknya di dalam dekapannya.
"Kurang ajar, kamu meremehkanku? Aku tidak tertarik dengan pria kaya yang bermain-main dengan banyak wanita seperti milikmu."
"Apa kau pikir suamimu tidak? Kau sadar, dia juga bermain denganmu saat masih bersamaku? Kau yakin dia tidak melakukan hal itu lagi, suatu hari nanti?"
"Kurang ajar, kau membuatku kesal, Kira." Raung Melisa yang seakan ucapan Kira mengusik ketakutannya yang coba dia tekan. Melisa maju dengan tangan terangkat. Tetapi, Doni dengan sigap menangkap tangan itu, dan menghempaskannya. Rian, hanya melihat tanpa membantu istrinya yang sedang dalam kesulitan.
"Hentikan Mel, berhentilah selagi kau bisa. Aku tidak pernah mengusikmu, jadi biarkan kita hidup di lajur kita sendiri. Jangan kau membuat semua menjadi kacau," Kira menatap Melisa penuh peringatan. Menyapu wajah Melisa yang pucat dengan napas tersengal menahan amarah.
__ADS_1
"Aku hanya mengantar Ibu ke sini, Ibu kesulitan saat harus membawa barang sebanyak itu," Lanjutnya.
"Terima kasih, Nak." Lirih Ibu berkaca-kaca.
Kira membalik badannya, berniat masuk ke dalam Mal itu lagi. Tetapi, dia berbalik lagi,
"Ada yang salah di sini," Kira meletakkan telunjuk di bibirnya dan sebelah tangannya memeluk perutnya, menopang siku.
"Bukannya ini masih jam kantor? Sebaiknya kau punya alasan kuat mengapa kau di sini saat jam kerja, Tuan Rian. Jika tidak, kurasa suamiku bukan orang yang bermurah hati, dia tidak akan segan membuatmu menuruni tangga ke jabatan paling rendah."
Ketiganya membeku, Rian yang paling parah. Dia seperti patung. Mereka lupa, wanita ini istri Bos besar dimana Rian menggantungkan hidupnya.
Belum sempat mereka mengeluarkan pembelaan, suara riuh anak-anak memanggil Mamanya.
"Mama," Jen menubruk kaki Mamanya sebatas paha.
"Mama lama banget sih? Makanan Mama sampai di embat Paman Riko lho, Ma,"
"Jen," Cicit Rian. Dia menyerahkan Sia kedalam gendongan Melisa yang menahan geram saat suaminya mementingkan anak kandungnya yang lain.
"Papa," Jen menyalami Rian tanpa beban. Seolah orang di depannya ini adalah orang lain yang baru di kenalnya.
"Jen sudah besar ya, sekarang!" Rian mengusap kepala Jen dengan lembut.
"Iya, Pa," Jen melirik Melisa tanpa menyapanya. "Nenek?" Jen sedikit berteriak saat matanya melihat Neneknya.
"Iya Jen, ini nenek Jen. Sini, Nenek peluk," Jen mendekat, dan membalas pelukan haru dari Ibu.
Namun, sakit yang sebenarnya, berada di kiri belakang Kira. Entah siapa yang mengajari, tapi, dua anak itu memasang wajah datar tanpa ekspresi.
"Excel, Jeje, ayo sapa Papamu, Nak!" Kira sedikit memaksa keduanya yang kakinya berubah menjadi kaki gurita, yang menempel ketat pada lantai di bawahnya.
"Jagoan Papa, sudah besar sekarang," Rian mendekati keduanya, tetapi keduanya beringsut mundur beberapa langkah, dengan tegas. Dan, itu berhasil membuat Rian merana.
"Excel, Jeje," Kira melayangkan tatapan penuh peringatan pada kedua anaknya.
"Kami masuk ke mobil dulu, Ma," Jeje menarik Kakaknya dengan kasar, saat mobil mereka yang di kendarai Riko sudah sampai di pelataran Mal.
"Jeje, bersikap yang sopan sama Papa," Seru Kira yang sama sekali tidak di hiraukan oleh keduanya.
"Tidak apa-apa, Ra. Aku bisa mengerti jika mereka masih menolakku," Rian berusaha tegar di hadapan Kira.
"Bagus kalau begitu, jadi aku tidak perlu bersusah payah membujuk mereka untuk segera memahami dan menerimamu, Mas," Kira sedikit berbisik.
Dan, sikap Kira barusan, berhasil membuat Melisa bergemuruh, dia ingin sekali mencabik Kira. Di mata Melisa, Kira sedang menggoda Rian.
•
•
•
•
Hai Hai👋👋, maaf typo bertebaran, matanya udah sepet🤭🤣
Happy reading, nanti akan author revisi lagi usai bobo cantik ya🥰🥰🥰
Love you All😘😘
__ADS_1
Salam manis dari Author👩🦰