
Hujan masih sering menimpa bumi, menghujam sisi yang lemah hingga berkecipak menjadi kubangan lumpur. Mendera sisi yang keras hingga menyisakan lubang menganga mendulang air.
Di antara derai air hujan yang turun menyilang dan rapuh terberai oleh angin, tampak wanita bertubuh tinggi sedang memayungi satu persatu dari empat bocah secara bergiliran memasuki sebuah mobil.
Hawa dingin bertiup mengibarkan gaun di bawah lutut bernuansa bunga-bunga kecil sewarna bunga sakura. Usai mendorong pintu dengan hentakan keras, dia melambai hingga mobil itu tertelan oleh pintu gerbang yang berwarna hitam menjulang, setidaknya hingga atap pos keamanan.
Dengan ujung jemari panjang yang semakin kurus, bagai kerangka tangan Dementor, wanita itu menggosok hidungnya. Pengar. Tak kuasa rasanya menahan gelitik di dalam ujung hidungnya yang tumpul.
Haciw...haciw...haciw.
Menggunakan telapak tangan memutih dengan buku-buku tegas menggurat, dia menutup hidungnya yang malah mampat pada gebrakan ketiga. Dia menurunkan irisan bibir atasnya, dan menahan dengan bagian bawah, meremehkan sesuatu yang di katakan sebagai alergi dengan suhu dingin.
Setidaknya, itu yang selalu dia dapatkan setiap kali dia meminta resep untuk sakit musimannya. Berlebihan rasanya, jika itu menjadi sesuatu yang pantas untuk di khawatirkan. Meski dari tampilannya, tidak menutupi bahwa wanita itu tidak baik-baik saja. Di balik riasan tipis dan pewarna bibir sedikit menyala demi menimbulkan efek segar, tidak mampu menyembunyikan fakta bahwa dia sangat kelelahan.
"Sayang, kau sudah siap?" Laki-laki jangkung dengan kaki panjang itu melangkah ke sisi wanitanya. Langkah tegas dan berwibawa, di sertai tatapan yang membuat siapapun membeku. Sebelah tangannya mengusap pipi yang semakin tipis, menonjolkan tulangnya.
Senyum yang hangat tersemat di kedua sudut bibirnya, anggukan sarat keraguan, membuat suaminya tertawa tanpa suara. "Johan akan bersamamu sepanjang waktu, dan ini hanya sebentar sampai para pemegang saham menentukan seseorang menggantikan dia."
Menghindari menyebut nama orang itu, malah akan menumpuk ketakutan, seakan menebar teror. Ulu hatinya seakan teriris, melihat suaminya menjaga perasaannya, menjaga gairah hidupnya dalam satu garis irama.
"Aku sungguh tak tahu apa-apa, Sayang. Bagaimana jika aku salah dan di tertawakan oleh mereka?" Jemari itu bertumbuk menjadi satu, menggesek pelan, menimbulkan gemerisik menggelikan. Sorot mata itu redup di penuhi beban kecemasan. Ketakutan ikut menguar dari sana.
"Jika kau ragu, lebih baik kau diam! Dengarkan saja, anggukanmu atau satu kata darimu akan membuat mereka tunduk padamu! Kau lupa dengan apa yang kau pelajari semalam dan berhari-hari lalu?"
Bagaimana dia bisa lupa? Otaknya seakan berjejal dengan pengetahuan dasar dalam berbisnis. Sekali waktu dia mencibir, ini tidak cocok dengannya, dia adalah wanita yang mengandalkan otot dari pada otak. Baginya, otak adalah pengatur kinerja organ tubuhnya. Bukan untuk mencerna hal-hal rumit dan angka-angka.
Lebih dari itu, dia pasti akan sangat gugup berhadapan dengan lusinan orang dalam sebuah organisasi yang di namakan perusahaan.
"Bolehkan aku mundur?" Ulu hatinya nyeri, mengigil seakan ada tangan dingin mencengkeramnya. Tatapan sayu, di buat-buat agar dia bisa melarikan diri.
"Ayo berangkat," Senyuman itu mengabaikan semua protes. Baginya, tidak ada kata mundur.
Kira mendesah pasrah, di bawah lengan suaminya yang mendorong tubuhnya masuk ke dalam mobil. Di bawah naungan tangan suaminya, dia melintasi beberapa tetes air hujan.
Kira duduk tegak dengan tas di pangkuannya. Setelah pintu menjeklak, mobil pun melaju. Dua buah mobil meluncur beriringan membelah hujan.
__ADS_1
Kira mengerjap, tak henti menggerakkan kepalanya ke kiri atau ke kanan. Mengalihkan pikiranya dari apa yang akan di dapatinya nanti. Tetapi hanya titik hujan yang tampak di sisi kaca mobilnya. Buram.
Dia memutar kepalanya ke arah suaminya, saat tangan kekar itu mengusap rambutnya. Menenangkan.
"Sudahlah, jangan terlalu cemas, ini hanya formalitas. Aku tidak bisa di Giant sepanjang waktu. Sewaktu ada Rian saja, mereka berkerja semaunya, apalagi tanpa pimpinan? Jika saja, dia tidak menelantarkan pekerjaannya, aku tidak akan menurunkan jabatannya. Sejujurnya, dia sangat kompeten, mengabaikan siapa dia bagiku dan bagimu."
"Sefatal itukah kesalahannya?" Kira memiringkan kepalanya, memperjelas maksud suaminya.
"Ya, aku masih bermurah hati tidak memecatnya. Jika saja Papa, sudah pasti langsung di pecat! Bahkan aku saja, dulu harus bekerja keras untuk mempertahankan Star. Padahal, aku adalah anaknya! Apalagi dia yang hanya terhubung karena pekerjaan!"
"Kau tidak tahu gaji mantan suamimu dulu?" Kira menggeleng cepat.
"Eum, pas pacaran dia bilang gajinya bisa mencapai puluhan juta, dan akan menjadi ratusan jika naik jabatan! Tapi, aku tidak melihat itu, ada pria yang menyatakan cinta padaku saja aku sudah senang," Kira memajukan bibirnya, matanya menatap lurus ke depan.
"Kau bodoh! Kau tahu, mantan suamimu itu salah satu orang kepercayaan Papa. Aku dan dia sama posisinya. Tentu kau tahu mobil mewah milik mantanmu itu kan?"
Kira mengangguk. "Itu bonus dari Papa. Atas kinerjanya yang baik dan tekun. Giant berada di puncak saat itu. Star saja masih jauh di bawah Giant. Belum lagi yang berbentuk uang tunai, juga rumah yang di tolaknya."
"Rumah?" Kira yang semula sedang melalang buana menghubungkan ingatannya dengan cerita suaminya, terperanjat.
Kira melirik lagi suaminya, yang mengangguk dalam diam, tangannya masih membelai rambut hingga ke punggung. Kira mengepal tanpa sadar.
"Kini tak ada lagi alasan bagiku untuk mengasihani mereka," Batin Kira. Tentu, tinggal dengan mertua yang selalu menusuk perasaannya dengan kata-kata tajam, bukan hal yang bisa di terima oleh hati yang tidak lebih dari sejengkal luasnya. Ibarat pisau, dia sudah mencabik hingga tinggal remahan dengan setetes kesabaran. Memiliki rumah sendiri adalah impian Kira demi, demi, keutuhan keluarga dan kewarasannya. Tapi kenyataan bahwa Rian memang tak berniat untuk mengentaskannya dari siksaan ibunya, membuat Kira tak segan lagi melihat mereka semua hancur. Biar saja.
***
Seorang pria dengan baju yang sedikit basah, berjalan tergesa menuju ruangan tempatnya bekerja kini. Kubikel sempit dengan barang-barang tertumpuk sembarang. Dia sudah sangat terlambat di minggu keduanya bekerja sebagai bawahan. Posisi yang sama sekali belum pernah di tempatinya. Sejak awal bekerja di sini, dia langsung bekerja di bawah Pak Sofyan.
Rian menghempaskan tubuhnya hingga kursi itu melesak turun. Menyangga kepalanya di meja, dengan jemari terbuka mengusap kasar wajah hingga rambut. Berantakan, kurus, dan terlihat menua.
"Gais, horor hidup kita." Ucap salah seorang rekan kerja Rian. "Bos makin kejam, menyuruh istrinya yang memimpin di kantor kita."
Rian yang masih menunduk mengangkat wajahnya, sebatas matanya bisa melihat temannya yang sedang berbicara. Memastikan apa yang diucapkannya bukan gertakan semata.
"Kayanya istri bos ngga menyeramkan deh?" Salah seorang lain menimpali.
__ADS_1
"Kamu ngga lihat mukanya sih! Dia terlihat galak dan sama mengerikannya dengan si bos."
"Tapi dia cantik, tinggi, dan berkelas, Men! Model mah lewat!" Sahut yang lain yang baru saja masuk membawa nampan berisi kopi.
"Uang berbicara, Men! Kasihan banget tuh suaminya dulu, udah mencampakkan bini cakep macam dia!"
"Bini tuh tinggal bagaimana si suami memperlakukan! Tuh bos contohnya! Gua denger nih, Bos jadi bucin akut, sekarang!"
Pintu membuka dengan lembut, sontak semua mata menoleh ke pintu. Mereka membeku sejenak, sebelum lari tunggang langgang ke kubikel masing-masing. Kira masuk ke dalam ruangan, di ikuti Johan. Tanpa berucap dia mengelilingi kubikel, mengabaikan salam dari mereka. Menatap satu persatu wajah mereka yang menegang.
"Saya minta data karyawan, kepada siapa saya harus bertanya?" Tanya Kira dengan kalem, tanpa penekanan.
"Saya, saya, Nyonya," Seorang yang membawa kabar tadi dengam gugup mencari-cari data yang diminta, lalu, bergegas maju ke depan dengan tergopoh-gopoh "Anda hanya perlu menelpon saluran kami, dan kami akan datang, Nyonya."
"Saya hanya melihat-lihat sebentar, sekalian memperkenalkan diri! Terimakasih, atas bantuannya!" Kira menerima berkas dari pria itu, dengan senyum ramah.
Dia berhenti sekitar tiga kotak dari tempat Rian. Tanpa melihat ke arah Rian. Anggun dan lembut, Kira membalik tubuhnya. Tidak ada suara, bahkan langkahnya pun tidak menimbulkan bunyi. Mereka menahan napas hingga bayangan tinggi itu hilang dari pandangan mereka.
"Beneran cantik banget, meski galak!" Celetuk salah satu di antara mereka.
"Pak Rian, maaf ni yah! Makasih lo, Pak! Karena Bapak, kita dapat bos cantik! Lumayan kan buat mengurangi stress!" Ucap karyawan di sebelah Rian. Dan di sambut gelegar tawa dari yang lain. Tanpa tau apa yang di rasakan pria itu, dan ada hubungan apa antara bos barunya dengan Rian.
Rian terduduk, sesak, membayangkan saja dia sudah hampir gila, apalagi melihatnya setiap hari. Rian mengigit bibir, menahan sakit dan airmata, tangannya meremas dadanya. Seakan tertusuk ribuan jarum.
Form untuk karyawan yang akan resign di tatapnya dengan nanar. Seakan semua akan berakhir jika dia menjauh dari hadapan mantan istrinya. Jika tidak, dia akan kehilangan akalnya. Melihatnya bahagia, membuatnya sekarat.
"Kau memang pandai membuat orang tertekan, Nyonya! Kau bisa saja menyuruhku ke sana atau melihat di dalam file komputermu, tanpa harus susah-susah kesana! Kau hanya membuat mantan suamimu sesak! Aku iba melihat wajahnya yang pucat, seperti terhisap vampir!" Celetuk Johan saat di koridor menuju ruang kerjanya.
"Benarkah? Kalau begitu kau berteman saja dengannya!" Jawab Kira santai sambil membuka-buka kertas di tangannya.
"Kau sudah tertular sifat angkuh dan mendominasi suamimu," Gumam Johan. Senyumnya terangkat. Menatap punggung dengan rambut ikal menggantung.
•
•
__ADS_1
•