
Harris masih menatap tajam Tuan Winata yang tersenyum, entah itu senyum ejekan atau penghargaan, Harris tidak tahu. Satu hal yang pasti, satu kata saja, jika dia mengatakan menyakiti Kira, ujung telunjuk Harris yang berbicara.
"C'mon Bro. Kita bisa bicara baik-baik!" Tuan Winata berbicara seolah tidak terjadi apa-apa, dan itu berhasil membuat Harris kembali meradang.
"Aku memang membawa istrimu, dan aku bermaksud menyerahkannya padamu, tapi dia kabur, dia mengira aku akan mencelakainya! Jadi, itu bukan salahku!" Tuan Winata mengendikan bahu di iringi bibir yang meliuk turun.
Harris menurunkan senjatanya, lalu Harris menyunggingkan senyum di salah satu sudut bibirnya.
"Yah, kau benar Winata, itu bukan salahmu, tapi salahku karena membawanya menemuimu! Menemui pria licik sepertimu!" Ucap Harris penuh sindiran.
Tuan Winata berjalan ke arah Harris, lebih dekat. Seperti mendapat komando, anak buah Harris langsung bersiaga dengan membidikan senpi ke arah Tuan Winata, dua yang lain memasang badan di depan Harris yang tidak memakai alat perlindungan diri.
"Wow, mereka mempertaruhkan nyawa untukmu, Bro?" Tuan Winata mengangkat kedua alisnya. Seakan tidak mempercayai penglihatannya.
"Jadi, Saudaraku!" Sambung Tuan Winata sambil mundur dua langkah. "Bisakah kita anggap ini, selesai? Carilah istrimu yang kabur! Jangan mengurusiku!"
Harris tertawa sinis, "Oh, selesai? Setelah semua alibimu? Bukankah beberapa saat lalu anda bilang anda sedang di luar negeri?! Bagaimana jika saya mempercayai ucapan anda dan tidak menemukan anda sekarang? Apa yang akan terjadi pada istri saya? Apa anda tidak akan memburu istri saya yang kabur dari anda?"
Tuan Winata membeku, seharusnya dia tahu, Harris tidak akan mudah padanya.
"Ayolah, sekarang bukan waktu yang tepat untuk berdiskusi! Cari istrimu, mungkin dia dalam bahaya!"
"Saya tetap bisa mencarinya, tanpa harus meninggalkan tempat ini!" Ujar Harris datar, namun sorot matanya sama sekali tidak mereda.
Tuan Winata jengah, dia sama sekali tak mendapat celah dari Harris. Desas desus itu benar, Harris selalu tangguh dan tidak akan mudah pada lawannya. Dalam hati Tuan Winata berharap, dia tidak mengalami nasib yang sama dengan lemari kaca dan seisi kamar itu. Hancur berantakan.
"Baiklah, baiklah! Aku mengakui bahwa aku tertarik pada istrimu, Bro!" Tuan Winata menarik wajahnya ke satu titik. Sebelum melanjutkan.
"Dan, aku memanfaatkan j***** kecil itu untuk menculik istrimu! Yah, dendamnya pada istrimu dan juga pancingan-pancingan kecil dariku, cukuplah untuk membuat dia mewujudkan balas dendamnya!"
Awan hitam merangkak naik memenuhi wajah datar itu. Petir akan segera menyambar, namun, fajar semakin putih. Dia enggan menodai gelapnya operasi senyap mematikan, ciri khas nya.
Tuan Winata heran dengan sikap Harris yang di sangkanya akan segera menghajarnya. Tetapi, dia seakan menunggu sesuatu. Bahkan, jika memungkinkan, Tuan Winata ingin mendapat kejelasan nasibnya sekarang. Jika sampai menunggu nanti, entah bagaimana nasibnya.
Salah seorang anak buahnya masuk, dan berbisik kepada Harris. Setelah itu, Harris memberi kode kepada anak buahnya yang masih siaga untuk meringkus Tuan Winata.
"Hei, Brother, kau tidak bisa seperti ini! Ayolah, kita bisa menyelesaikannya sekarang, lagi pula, istrimu tidak ada padaku saat ini!" Tuan Winata mulai cemas, rencana pelarian dirinya gagal. Semua rencananya gagal.
Harris yang semula sudah memunggungi Tuan Winata dan menyarungkan senpinya di pinggang, sejenak membeku. Lalu berbalik dengan kesan yang menakutkan, membuat siapapun bergidik ngeri melihat gelapnya tatapan itu.
"Apa saya lupa mengatakan pada anda, Tuan Winata? Nasib anda tergantung pada keadaan istri saya! Berdoalah istri saya selamat, jika sampai dia tergores sedikit saja, saya akan membalas anda dua kali! Hitung saja! Tidak berlaku jika nyawa istri saya dalam bahaya! 10 kali bahkan lebih ringan daripada sakit yang di alaminya!"
Degg
Jantung Tuan Winata berhenti beberapa jenak. Rahangnya mengeras menahan giginya yang gemeletuk mengigil. Dia yang tinggi tidak ada artinya di hadapan seorang Harris yang kejam. Tidak. Seorang suami yang mencintai istrinya teramat dalam. Sangat dalam.
Harris melangkah keluar dengan ekspresi yang tidak bisa di tebak. Halaman sudah bersih, semua normal. Bahkan tak ada bercak darah setetespun tersisa. Sekalipun rumput yang roboh karena terinjak, sudah berdiri tegak kembali. Harris selalu seperti itu, tanpa jejak. Meski dia tidak akan mendapat masalah, tapi dia juga tidak ingin menimbulkan masalah untuk konektornya.
__ADS_1
"Clear," Lapor Johan pada Harris yang masih termangu, menatap rerumputan.
"Saat ini, Tiger sedang menyisir lebih dalam ke area pemukiman!" Sambungnya saat Harris terlihat sayu, namun tangannya mengepal. Di balik kepalanya pasti memikirkan berjuta kemungkinan.
"Jo, cari Kira di rumah sakit, klinik, bahkan tempat praktek dokter, jika perlu!" Perintahnya pada Johan, yang sebenarnya kurang mengerti.
"Kenapa harus rumah sakit, Tuan?" Johan yang sudah melangkah menjauh, berbalik lagi, sebab otaknya tiba-tiba buntu.
"Seberapa jauh Tiger menyisir lokasi ini?" Tanya Harris sambil menatap Johan dengan serius. "Jauh bukan? Berapa jauh kita mengepung tempat ini? Ku rasa, Kira sudah keluar tempat ini sebelum kita sampai!"
Johan mengangguk, "Bagaimana jika tidak ke rumah sakit? Mungkin mencari tumpangan untuk pulang?"
"Ku rasa rumah sakit lebih dahulu, Jo! Setidaknya, jika Kira kenapa-napa, rumah sakit dulu tujuannya!" Johan menghela nafas, Tuannya sudah berkehendak, dia bisa apa?
"Baik, Tuan!" Johan mengangguk dan benar-benar meninggalkan tempat itu.
Tuan Winata keluar rumah dengan tangan terikat di belakang, dia menatap Harris penuh permohonan. Namun, Harris abai, jika nasib istrinya sudah ada kejelasan, bukan mustahil dia mengabulkan permintaan Tuan Winata untuk menyelesaikan semua sekarang.
"Dragon, izin melapor!" Suara di telinga Harris memaksanya memutus kontak dengan Tuan Winata.
"Di temukan darah masih segar di dua tempat berbeda, dan bekas ban yang masih baru di tak jauh dari lokasi kedua penemuan darah," Sambung Tiger alias Doni, usai Harris menjawab panggilannya tanpa suara. Mereka paham, jika memanggil Dragon alias Harris, tidak boleh satupun menjawab. Sebab, itu akan merusak sandi mereka. Jika ada yang menyadap, Dragon tidak akan mudah di ketahui.
Tanpa berkata apa-apa, Harris berlari ke arah mobil yang paling dekat dengannya.
"Kalian tahu harus kemana, bukan? Pastikan saja, dia masih bernafas sampai Kira di temukan!" Tegas Harris dari balik kemudi sebelum menginjak pedal gas dan melesat melewati jalanan sempit yang membelah pemukiman ini.
***
"Ini ada apa ya, Pak?" Tanya Angga sok polos. Sedikit ragu tapi penuh selidik. Tangannya terangkat ke atas, sesuai perintah anak buah Harris.
"Tidak ada apa-apa, hanya ada sedikit masalah!" Jawab anak buah Harris sambil menggeledah tubuh Angga.
"Tapi, Pak, jika ada penggeledahan seperti ini, harusnya ada surat tugasnya! Ini melanggar privasi seseorang lho!" Ucap Angga sok drama. Padahal dia sendiri tidak tahu menahu hal seperti ini. Bahkan dia ragu jika orang itu percaya.
Sejenak anak buah Harris menghentikan aktifitasnya. Bukan sebab ucapan Angga melainkan ada laporan dari Tiger. Senyap beberapa saat, pun dengan orang yang memeriksa mobil Angga. Mereka terdiam namun masih siaga. Angga nyengir sambil menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal.
"Ada apa ini?" Johan yang baru keluar dari gang menatap Angga penuh selidik. Penampilan Angga yang santai malah membuat Johan curiga.
"Jadi Pak, saya harus kerumah pacar saya, mengambil beberapa keperluannya yang tertinggal!" Jawab Angga asal.
"Mana pacarmu?" Tanya Johan saat melihat Angga hanya seorang diri.
"Dia di rumah sakit!" Jawab Angga. Niatnya memang mengorek info tanpa membuat orang-orang ini curiga.
Johan meneliti wajah Angga, dia berharap Angga mengatakan kebohongan, tapi Angga dengan santai membalas tatapan Johan.
"Sedang apa di rumah sakit?"
__ADS_1
"Ayolah, Pak! Bukan urusan anda juga kan?" Jawab Angga pura-pura jengah saat urusannya di campuri.
"Ada bekas darah mengering di jok mobil, Pak!" Lapor anak buah Harris yang memeriksa mobil.
Mendengar ini, Johan melemparkan tatapan membunuh pada Angga.
"Kenapa? Ada yang salah?" Tanya Angga tanpa rasa bersalah.
"Darah siapa di mobilmu?" Tanya Johan sambil mendekat ke arah Angga.
"Maaf Pak, saya tidak bisa memberitahu anda! Itu soal hidup mati seseorang yang baru saja saya tolong!" Jawab Angga, dengan tegas. Angga hanya berpikir, jika mereka orang jahat, pasti akan langsung menodongnya dengan senjata atau mengancamnya.
"Apa kau menolong seorang wanita?" Tanya Johan lagi.
Namun, sebelum Angga menjawab, deru mobil hitam mengaum tak jauh dari mereka.
"Kenapa masih di sini? Kira pasti di rumah sakit sekarang! Doni baru saja menemukan jejak darah segar, pasti belum lama!" Teriak Harris. Kentara sekali dia sangat panik. Antara harapan dan juga kemungkinan buruk.
Semua orang membeku, namun langsung bergerak menuju pos. Tetapi saat Harris masuk lagi ke dalam mobil, Angga yang terkesima melihat siapa yang berteriak, dia langsung berlari ke depan mobil Harris.
"Tuan, Anda Tuan Harris Dirgantara? Saya baru saja menemukan wanita yang terluka, dia, dia di klinik tak jauh dari sini, Tuan!" Ucap Angga tanpa jeda. Bahkan Harris sedikit bingung, namun, mendengar wanita terluka, dia langsung tanggap.
"Tunjukkan jalan!" Perintah Harris. Dia tidak berpikir lagi. Dia terlalu lama membuang waktu.
Angga berlari ke mobilnya, dan segera melajukan mobil secepat yang dia bisa. Angga memiliki keyakinan bahwa Harris Dirgantara tidak memiliki niat yang buruk pada wanita itu. Angga yakin, wanita itu istri Harris. Dan, Angga tidak punya niat lain selain menolong wanita itu. Meski dia milik Harris.
Klinik pagi itu sangat sepi, hanya ada beberapa orang lalu lalang di depan klinik. Namun, keheningan ini rusak, sebab tak kurang 5 mobil meluncur masuk ke pelataran klinik dengan cepat dan parkir sembarangan. Membuat orang-orang keheranan. Dua orang dari dua mobil beda kasta keluar dan langsung berlari menuju UGD klinik.
"Sebelah sini, Tuan!" Angga menunjuk UGD dimana dia dan Nisa berpisah.
Namun, ketika sampai di sana dia tidak menemukan siapapun, ruangan itu tampak kosong. Angga membuka tirai berwarna hijau hingga menunjukkan seluruh isinya. Seorang perawat yang baru saja masuk dari arah belakang, bahkan terlonjak saat melihat kerumunan orang yang baginya, mungkin, menyeramkan.
"Suster, di mana wanita yang belum lama masuk ke sini?" Angga menyerbu perawat yang masih membeku dan pucat itu.
"Ma-maaf, Pak, sa-saya, baru saja ke sini," jawab perawat itu terbata.
"Kau menipu kami?" Teriak Johan yang merangsek dari arah belakang Harris, sambil meraih bagian depan kaos sweater Angga. Wajah Johan sangar semakin mengerikan saat putih matanya mengurat merah, membelalak nyaris lepas.
Angga mengerjap ketakutan, kepalanya otomatis menjauh. "Tidak, Pak! Sungguh!"
Angga menggoyangkan tangannya dengan cepat, di samping tangan Johan di bawah lehernya.
"Biar saya telepon Nisa dulu, Pak!" Ucap Angga sambil merogoh saku celananya, saat Johan semakin erat menekan dada atas nyaris ke jalan nafasnya.
"Astaga, mati lagi ponselku," Batin Angga kecut. Habislah sudah, pikirnya.
•
__ADS_1
•
•