
Kira memasuki kamarnya dengan perasaan yang "entah". Dia merasa sangat kesal dan tiba-tiba saja menjadi penuh emosi. Setiap kali bertemu dengan keluarga mantan suaminya, selalu saja dia mengalami suasana hati yang buruk.
Kira mencoba memghibur diri dengan menikmati suasana sore dari balkon kamarnya. Membiarkan hangat sinar mentari, mengguyur tubuhnya, melahirkan titik-titik air di keningnya. Hangat membakar.
Kira mencengkeram pagar pembatas balkon hingga buku-buku jarinya memerah. Menengadah, dengan mata terpejam. Seakan melakukan protes kepada langit, sakitnya belum tuntas. Hingga tanpa terasa bulir bening mengucur deras dari sudut matanya. Kira menggigit bibir, menahan rontaan kecil dalam dirinya. Meronta, ingin di bebaskan.
***
Derap langkah sepatu pantofel beradu dengan lantai, menggema di seluruh ruangan. Jika bukan karena urusan pekerjaan, Harris enggan sekali mengunjungi tempat ini.
Semua orang gemetaran saat melihat mata elang itu memindai satu persatu penghuni lantai paling atas, di kantor ini.
"Selamat sore, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" Salah seorang manager senior bernama Sofyan itu melangkah maju untuk menyapa Harris. Meskipun lututnya terasa bergetar, tapi dia berusaha menguatkan kakinya untuk tetap berdiri menyambut Bos besar.
"Kemana pimpinan di sini? Mengapa kamu yang berada di sini?" Harris melayangkan tatapan membunuh.
"Maaf, Tuan. Pak Rian sedang ada urusan pribadi yang tidak bisa di tinggalkan," Jawab Pak Sofyan hati-hati, sembari mengikuti Harris ke dalam ruangan di mana pimpinan perusahaan berada.
"Tidak bisakah dia fokus dengan pekerjaannya sebentar saja? Semua orang punya kepentingan pribadi, tapi lihatlah, semua laporan yang seharusnya sudah berada di mejaku, masih teronggok di sini. Kalian sangat lamban dalam bekerja," Ucapan Harris tidak lebih tinggi dari ucapan seorang guru saat menjelaskan sebuah materi. Tetapi, siapa saja pasti akan ketakutan di bawah sorot mata yang begitu dingin dan tajam.
Harris memindai pria paruh baya yang menunduk dalam. Jelas sekali dia sangat ketakutan, saat bosnya tiba-tiba melakukan sidak. Terlebih, saat atasannya yang bertanggung jawab di sini tidak ada di tempat, otomatis dialah yang akan menghadapi amukan dari Harris.
Harris duduk dan mulai melihat tumpukan berkas itu bersama Johan yang sejak tadi mengekor di belakangnya. Intinya, semua pekerjaan ini, baru setengah jalan.
"Pak Sofyan, tolong sampaikan kepada pimpinan anda, besok saya tunggu di kantor. Saya sangat kecewa sekali dengan kinerja orang-orang di sini. Saya kira, kemurahan hati Papa saya, dengan memberikan gaji tinggi, tidak membuat kalian semua mau memberikan usaha terbaik kalian."
Harris menautkan jari jemarinya di atas meja. Meletakkan wibawanya. Harris menekan amarahnya, menyimpannya untuk esok hari. Harris memang menghindari tempat ini, tidak ingin urusan pribadi mereka turut campur dalam urusan pekerjaan. Tetapi, dia tidak punya pilihan, saat kinerja seseorang menurun, tentu di butuhkan evaluasi, agar perusahaan tetap bisa beroperasi.
"Pastikan dia tidak terlambat, Pak. Saya tidak suka menunggu," Harris menekankan setiap perkataannya.
"Baik, Tuan. Saya akan melakukan sesuai perintah anda," Pak Sofyan semakin dalam tertunduk. Keringat dingin membanjiri seluruh tubuhnya. Kehadiran Harris, untuk pertama kalinya ke sini, membuatnya sesak nafas. Benar desas desus yang beredar, bahwa Harris adalah orang yang sangat menyeramkan bahkan tanpa dia menunjukkan amarahnya.
Harris melangkah cepat meninggalkan ruangan itu, tatapannya tidak menyurut sama sekali, tanpa menoleh ataupun membalas sapaan yang tertuju padanya.
"Tuan, sebaiknya anda pulang, sepertinya, Nyonya tahu kemana Tuan Rian pergi hari ini," Johan melaporkan apa yang baru saja di informasikan oleh Doni saat keduanya berada di dalam mobil.
"Bagaimana keadaanya?" Harris kembali menegang, dia tahu benar, apa yang di rasakan oleh istrinya jika dia bertemu mantan suaminya.
"Sepertinya, Nyonya tidak baik-baik saja, Tuan."
"Cepat, Jo," Harris semakin khawatir, dia duduk tegak dengan tangan mengepal keras. Apa dia belum bisa melupakan mantan suaminya, sehingga ketika bertemu dengannya, dia masih saja merasakan sakit? Pikir Harris.
***
Harris mendesak ke dalam ruangan latihan dan gym di bagian belakang rumah. Tampak olehnya, istrinya tengah berlari di treadmill. Perlahan, Harris mendekati istrinya dan mengurangi kecepatan papan lari tersebut.
Kira menyeka keringat dan air mata yang telah bercampur menjadi satu. Napasnya terengah-engah seakan kehabisan stok udara. Tatapannya semakin sendu saat melihat Harris berada di depannya.
__ADS_1
Harris menuntun istrinya untuk duduk di sebuah kursi besi panjang yang memang tersedia di sini. Menghadap kaca yang sengaja di pasang memenuhi dinding. Memantulkan bayangan mereka berdua di sana.
Harris melepas jasnya, dan menggulung lengan bajunya hingga ke siku. Merentangkan tangannya, untuk menyambut istrinya ke dalam pelukannya. Tanpa berpikir dua kali atau berpikir betapa banyak keringat yang membasahi tubuhnya, Kira menubruk tubuh kekar suaminya. Tempat paling nyaman untuk berlabuh. Kira sangat tersentuh dengan perhatian suaminya.
"Maaf, aku tak seharusnya seperti ini. Aku harusnya tidak membuatmu cemas," Ucap Kira di dalam dekapan suaminya. Dia sangat merasa bersalah.
Harris tersenyum, "Apa yang masih menjadi bebanmu, hem?"
Kira melepas pelukannya dan menatap kedua mata elang itu bergantian, memastikan bahwa apa yang akan di ucapkannya tidak akan memberatkan suaminya.
Harris tersenyum lagi, "Kau tak perlu takut, aku akan terbebani dengan apa yang menjadi masalahmu, percayalah padaku, di sini, selalu ada tempat untukmu," Harris menuntun tangan Kira untuk menekan dada sebelah kirinya.
Kira tersenyum, di hadapan suaminya, dia hanyalah seorang wanita lemah, yang selalu ingin berlindung di dalam hangat tubuhnya.
"Hatimu masih sakit? Karena masih mencintai mantan suamimu, atau-,"
Kira buru-buru menutup mulut Harris dengan gelengan kepala yang cepat, "Bukan, aku sakit bukan karena itu,"
Kira merengut, "Bagaimana bisa kau masih berpikir aku mencintainya? Apa aku kurang jelas mengatakan padamu, siapa yang aku cintai?"
Harris tertawa, "Lalu kenapa kau masih suka menangis setiap kali bertemu dengan mereka?"
"Aku, aku, masih sakit hati dengan mereka, rasanya tak adil, saat aku sudah siap membalas, mereka tidak berdaya. Aku ingin membalas Ibunya Mas Rian. Aku ingin membalas Mas Rian, aku ingin Melisa merasakan bagaimana rasanya suaminya di rebut orang, aku ingin mereka menderita," Kira terisak, sesak terasa di dada.
"Kalau kau ingin, aku bisa membantumu," Harris mengusap pipi Kira dengan ibu jarinya. Dengan telapak tangan menangkup hingga ke belakang telinga.
"Apa aku tidak terlalu jahat jika membalas mereka? Aku ngga tega."
"Di antara mereka, siapa yang paling kamu benci?"
"Melisa," Jawab Kira cepat.
"Jika mereka berpisah, apa kau akan senang?"
"Sepertinya, aku juga tidak tahu. Aku takut, jika aku sudah terlanjur melangkah, aku tidak bisa mundur lagi. Aku takut akan membuatmu kesulitan,"
"Kau ini bodoh, ini akibatnya jika hanya uang saja dalam otakmu," Harris mengecup kening istrinya. "Mereka sudah setengah jalan menuju kehancuran. Aku hanya perlu memberi sedikit dorongan agar mereka cepat jatuh."
"Apa ini tidak apa-apa? Aku tidak mau kau akan mendapat masalah, Yang,"
"Tidak akan," Harris meraih Kira dalam dekapannya sekali lagi, "Kau mau memukul Melisa atau Rian?"
Kira menjauhkan tubuhnya. "Andai aku bisa, Yang. Sudah kulakukan sejak tadi."
"Kalau begitu, ayo, kita hajar dia," Harris menuntun Kira berdiri. Menempatkannya di depan cermin dan melepaskan kaos oversize istrinya, menyisakan sport bra. Kira sedikit keberatan, tapi begitu melihat Harris yang memberi isyarat agar diam dan patuh, akhirnya dia menurut saja, dengan kedua tangan menyilang di dada.
Harris melepas kemejanya, menyisakan celana bahan yang di kenakannya sejak bekerja tadi, menampilkan petakan indah di perutnya.
__ADS_1
"Ya Tuhan. Aku ingin ngontrak di salah satu petakan itu," batin Kira, saat melihat pantulan tubuh suaminya di kaca. Tangannya menangakup pipinya sendiri yang terasa panas. Ah, tiba-tiba saja dia ingat saat tubuh itu menguasainya. Membuatnya bertekuk lutut dan pasrah. Bagaimana rasanya tumpukan otot itu ketika tersentuh oleh tangannya.
Kira menampar-nampar sisi kepalanya, "Otakku benar-benar kotor."
Harris tersenyum melihat istrinya yang selalu terpesona akan tubuhnya. Dia sengaja berlama-lama berdiri di belakang Kira, agar istrinya dapat melihat tubuhnya dengan jelas, sampai puas. Dia sangat suka melihat istrinya merona seperti itu.
Harris membalutkan hand wrap di telapak tangan hingga pergelangan tangan Kira sebelum memasang sarung tinju di kedua tangan Kira. Harris sendiri memakai Thai Pads di kedua tangannya.
"Pukul aku, Sayang. Sekuat yang kau bisa, oke," Perintah Harris.
"Kau yakin?" Kira sedikit ragu-ragu, takut akan menyakiti suaminya.
"Ya, percaya saja padaku,"
Kira memukul bantalan itu sekencang mungkin, tapi Harris tidak bergeming sama sekali.
"Apa ini? Ini hanya pukulan bayi. Bayangkan kedua tanganku adalah Rian dan Melisa,"
Kira menarik nafas, sebelum menerjang Harris dengan pukulan membabi buta. Teriakannya sangat nyaring hingga membuat Johan yang sedang menikmati camilan buatan Ibu, berlari ke ruang gym.
"Dasar, pasangan aneh," gumam Johan. Dia sangat iri melihat kebersamaan mereka. Apalagi melihat wanita itu tertawa, dia sangat cemburu. Dia segera kembali lagi untuk menghabiskan makanannya dengan menggerutu.
"Stop, Yang. Aku lelah," Kira membungkuk memegang lututnya. Napasnya memburu, seiring keringat menetes-netes dari sekujur tubuhnya. Harris melepas bantalan di tangannya, dan membantu Kira melepas sarung tinju.
"Keringkan badanmu," Harris menyerahkan handuk kecil ke arah istrinya. Harris pun melakukan hal yang sama, keringatnya juga membanjir di sekujur tubuhnya. Meski dia hanya menahan pukulan dan tendangan Kira, tapi lama-lama pukulan itu semakin keras dan terasa.
Harris memeluk tubuh Kira yang masih berkilat penuh keringat. "Yang, jangan peluk-peluk, badanku penuh keringat."
"Kau pikir aku tidak?" Harris menekan kedua lengan Kira yang berusaha berontak.
"Yang, aku bau keringat," Ucap Kira manja.
Harris tidak mengubris malah memeluk semakin erat, "Sayang, kita tidak bisa mandi bersama,"
"Otak mesum,"
"Kau juga, otakmu malah jauh lebih kotor dari pada aku,"
Kira bersandar di dada suaminya. Menatap pantulan mereka di kaca. Harris mengusap pelan perut Kira, dalam hati dia sangat ingin agar segera tumbuh benih di sana. Tapi, dia harus bersabar, kata Vivian, hanya perlu sedikit waktu lagi.
"Bagaimana perasaanmu sekarang? Lebih baik?"
Kira mengangguk, dia merasa sangat baik, dan yakin. Dia tidak pernah meragukan apa yang suaminya janjikan padanya. Dia hanya perlu bertahan dan terus mencintainya.
•
•
__ADS_1
•
•