
Dedaunan gemerisik, berbisik lirih menari bersama sang bayu. Menunggu adalah hal yang paling membosankan, sekalipun menunggu datangnya kekasih hati.
Andai lantai meninggalkan jejak, entah sudah berapa banyak sepatunya meninggalkan bekas. Hilir mudik, mengikuti tiupan angin. Ujung gaunya melambai, rambut ikalnya berombak menggantung di punggung mencapai pinggang. Tubuhnya ramping berisi, wajahnya cantik berpoles riasan sederhana. Anggun.
Berulang kali dia menarik lengannya, melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Seakan berpacu dengan waktu, dia menghembus napas perlahan. Manik matanya tak henti mengawasi ujung jalan dimana seharusnya suaminya muncul. Sesekali dia menggosok kedua telapak tangannya.
Hingga datanglah sebuah motor berhenti di ujung undakan paling bawah. Tanpa membuka helm fullfacenya, pengendara itu mengulurkan helm kepada Kira. Pikiran Kira berkecamuk dengan berbagai tanya. Kemana suaminya?
Kira mau tak mau memperhatikan penampilan si pengendara ojol, terlalu necis untuk ukuran pengendara ojek online. Biasanya teman-teman seprofesinya dulu, hanya menggunakan celana jeans dan sepatu kets biasa. Ini, menggunakan celana bahan yang sangat licin, sepatu pantofel berkilat dan sarung tangan dari kulit. Tukang ojek kelas atas, batin Kira sambil mengulas senyum.
Sebuah pesan masuk dari suaminya mengisyaratkan untuk mengikuti driver ojek online yang menjemputnya. Kedua alisnya mengkerut, apa-apaan ini? pikirnya.
Kira menggerutu, meski gaunnya tertutup tapi dengan mengenakan dress akan kesusahan jika mengendarai motor. Meski begitu, dia tetap naik di belakang pengendara motor itu. Mengenakan helm, duduk menyamping dan mengamankan ujung gaunnya.
Ada perasaan aneh saat dia bersinggungan dengan si pengemudi ojol. Rasa yang sangat familiar.
Kira tidak bertanya apapun, sebab helm fullface itu pasti memblokir semua suara. Sepanjang jalan, Kira menikmati suasana hangat sore hari. Seolah mengenang masa tersulit dalam hidupnya, masa dimana dia harus merasakan pahitnya kehidupan. Bulir bening rasa syukur mengalir disudut matanya.
Menoleh lagi ke masa itu membuat dia bersyukur menemukan cinta yang menghujaninya kini. Hatinya tak berhenti menggemakan ungkapan cinta untuk suaminya. Ribuan kali dan tak terhingga.
Entah berapa lama dia berjalan dan kemana mereka menuju, Kira tak memikirkannya. Sampailah kini, di sebuah pantai dengan pasir putih yang hangat. Pantai begitu sepi, hanya ada segerombol muda mudi yang tengah memainkan gitar sambil bernyanyi.
Deburan ombak yang berlarian ke pantai, meneduhkan pandangan Kira. Dia seperti anak kecil yang bahagia melihat banyaknya air. Dengan langkah pelan dan bibir mengukir senyuman dia berjalan menyusuri pasir pantai.
"Kau suka?" Suara khas suaminya menggema di telinganya, seperti magnet yang langsung menarik tubuh Kira untuk memutar tubuhnya.
"Abang?" Kira melebarkan kelopak matanya. Dilihatnya, Harris tengah melepas helm dan jaket khas driver ojol yang dikenakannya.
"Apa anda nyaman berkendara dengan saya, Nona?" Harris melebarkan senyuman. Kejutannya selalu berhasil.
"Tidak! Aku hampir saja jatuh demi menjaga jarak dengan anda!" Kira merengut, namun detik berikutnya dia tersenyum.
"Anda bisa memeluk saya sekarang, Nona! Dan selamanya!" Harris merentangkan tangannya, menyambut kekasihnya yang selalu merona mendengar rayuannya.
Kira melabuhkan tubuhnya di dekapan pria yang selalu membuatnya jatuh cinta berkali-kali.
"Abang mengejutkanku!" Gumam Kira di dada suaminya. Memejamkan mata, merasakan cinta yang mengalun bersama debar jantungnya.
Harris tertawa lirih, dihujaninya kepala istrinya dengan kecupan lembut. "Kau selalu terkejut, apapun yang kulakukan padamu!"
__ADS_1
Tiba-tiba, terdengar sebuah lagu dari gerombolan pemuda tadi. Kira membuka matanya, lalu menarik dirinya dari tubuh suaminya. Tubuhnya berbalik untuk melihat suara indah itu. Musik akustik begitu indah mengalun diantara desau angin laut yang berhembus. Ditambah semburat sinar surya saat senja menggurat lembut di kaki langit.
Kira ikut bersenandung, lagu yang sangat akrab di telinganya. Di belakangnya, Harris melingkarkan tangan di perut Kira, menyatukan kepalanya.
"Lihatlah, mereka duduk di mana?" Bisik Harris. Kira baru memperhatikan bahwa mereka tengah duduk diatas motor matic hitam. Kira menyipitkan mata untuk memfokuskan lensa matanya.
Kira membelalak lagi, "Itu motorku kan, Bang? Kenapa ada di sini? Bagaimana bisa, Bang?"
Kira memutar tubuhnya lagi, menghadap suaminya. Rentetan pertanyaan yang sudah pasti jawabannya.
"Tak ada yang tak bisa kulakukan, Sayang! Kau harus ingat itu!"
Harris tersenyum sebelum mengecup bibir yang mengatup rapat. Dipenuhi kebahagiaan. Hati yang meluap dengan lelehan cinta.
Harris menahan dagu Kira, menempatkannya pada fokus matanya, "Sayang, aku bukanlah pria yang pandai bernyanyi seperti Rio. Aku bukan pria yang mampu membuat mu tertawa seperti Johan. Aku hanya pria biasa yang berusaha mencintai kamu apa adanya. Mencintai kamu layaknya air pada lautan,"
"Meski seribu bidadari turun ke bumi, hanya kamu, satu-satunya bidadari dalam hidupku!"
Kira mengerjap, matanya sudah berembun terlalu banyak. "Akulah yang beruntung karena aku memilikimu, Sayang! Kau pria yang sempurna, aku memang tak pernah membayangkan ada pria sehebat kamu hadir dalam hidupku yang penuh nestapa. Jangan berkata seperti itu lagi! Aku tidak suka, Bang!"
Harris menarik bola matanya ke atas, "lalu dengan sesuatu yang romantis?"
"Bagaimana dengan ini semua? Kau menyukainya?" Harris masih memaku pandangannya pada raut wajah yang meneduhkan itu. Wajah yang selalu membuatnya merindukan rumah.
"Aku sangat menyukainya," Kira mengangkat tumitnya untuk mencapai pelabuhan cintanya. Menautkan keduanya sekali lagi. Mengabaikan suitan dan gemuruh pantai yang mengamuk melihat pasangan dimabuk cinta.
Hingga rongga dada keduanya kosong, barulah mereka saling menjauh dan mengulum senyum penuh arti.
"Tetaplah seperti ini hingga ambang batas waktumu, Yang! Tetaplah di sisiku untuk menguatkanku! Aku lemah tanpamu!"
Kira mengangguk, "Tanpa Abang minta, aku akan selalu bersama Abang."
Keduanya saling memeluk, menyatukan rasa yang membucah dalam dada. Alunan lagu yang tertelan angin laut masih terus mengalun dengan indahnya. Menghanyutkan keduanya dalam perasaan yang dalam.
"Tapi, mengapa Abang tidak menepati janji kali ini?" Kira menaikan wajahnya yang semula bersandar di dada suaminya.
Harris menatap manik mata istrinya, keningnya berkerut dalam. "Janji? Abang melupakan sesuatu?"
"Iya, Abang berjanji tidak akan menyakiti ku lagi! Tapi buktinya Abang membuatku sakit lagi!" Kira mencucutkan bibir yang sudah hilang pewarnanya.
__ADS_1
Harris membelalak, "Benarkah Abang menyakitimu, Yang?" dia menelan air liurnya dengan kasar. Diguncangnya bahu Kira, lirih.
"Iya," Kira masih manyun dengan kepala mengangguk pasti. Tangannya terlipat di dada, setelah mengambil satu langkah mundur. "Abang membuat Ranu memiliki adik!"
Harris mengerjap, dia tak memahami maksud dari istrinya. "Apa maksudmu, Yang?"
Kira menghela napas, "Kamu akan punya bayi lagi!"
"Secepat ini?" Harris benar-benar terkejut sekarang. "Bagaimana bisa, Yang?"
"Jangan tanya aku, kan Abang yang membuatnya!?" Kira merengut kesal.
"Yang, Ranu bahkan belum genap satu tahun, kau-"
Harris menarik rambutnya kasar. Dia tidak tahu harus bagaimana, senang tapi juga sedih. Membayangkan Kira yang berjuang melahirkan Ranu membuat jiwanya seakan terenggut. Dan sekarang harus sekali lagi?
"Kenapa malah Abang yang senewen? Padahal aku biasa saja!" Kira mencibir suaminya. "Abang harus tanggung jawab, sekarang calon bayimu mau makan yang enak-enak!"
Kira mengusap perutnya yang masih rata. Harris masih menatap istrinya tak percaya, dia mengatakan kehamilan tak terduga seolah membicarakan indahnya langit sore. Tanpa beban.
"Sayang, tunggu!" Harris berlari mengejar Kira yang sudah jauh. Bibirnya mengukir senyum, semoga kali ini jagoan, batinnya.
.
.
.
.
.
.
Hai semuanya....boleh minta pendapatnya tentang cerita yang bersambung? istilahnya sekuel...
Kalian suka ngga sih cerita kaya gitu...
Terimakasih banyak dukungan untukku yang ngga ada bagus-bagusnya ini...ðŸ¤
__ADS_1
Ditunggu komennya yak😊