Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Sweet Memories Assistant


__ADS_3

Pagi hari selanjutnya, Riko masih tidak mempercayai cerita Asisten Tony tadi malam. Itu agak bulshit dan dirinya sedikit hilang kepercayaan pada pria itu.


Apa mereka mabuk lalu bercinta? Kisah cinta semalam kah? Siapa yang terpikat lebih dulu? Atau bagaimana pria kaku bak robot itu memulai serangan cintanya? Tampak ganjil dalam bayangan angan Riko.


"Berhentilah memikirkan sesuatu yang bukan merupakan pekerjaan, Nak! Fokus bekerja, atau kau tidak akan tahu sama sekali kisah yang sebenarnya!" Tepukan keras di bahu Riko membuat pria itu terlonjak kaget. Asisten Tony sudah rapi dengan kemeja dan celana khasnya yang berwarna hitam.


Riko sejenak menatap panutannya tersebut.


"Ini sungguh mengejutkan saya, Pak! Saya bahkan tidak pernah berpikir anda bisa melakukan kegiatan semanis itu melihat betapa kerasnya anda pada kami."


"Semua pria punya romansa dan sisi manis yang tersembunyi jauh di sudut hatinya. Aku punya, dan hanya tidak punya kesempatan menunjukkannya." Asisten itu terkekeh. "Sudahlah, kelak kau akan kubawa menemui mereka. Cucuku perempuan sudah sekolah, jadi harus mengatur jadwal jika ingin bertemu."


"Anda sudah berkabar dengan ibu dari anak anda?" Riko syok. Pikirnya, mereka sudah tidak lagi berkomunikasi. Tapi selama anak itu ada mereka akan terus berkomunikasi kan? Dari mana memangnya asal pikiran itu?


"Tadi pagi dia mengirim pesan, mengatakan dia sedang bersama cucu dan anakku di Disney Land. Dia sedang mengunjungi anaknya di Amerika selama musim panas." Asisten Tony berkata seraya membuka ponselnya.


"Sudahlah, Ko ... tidak usah dipikirkan lagi. Mereka bahagia, dan aku juga bahagia. Setidaknya dosaku berkurang sedikit." Pria tua itu terkekeh lalu beranjak meninggalkan kamar.


Riko membuang napas begitu keras. Jujur saja ini mengguncang jiwanya. Jadi wajar kalau dia masih kepikiran.


Dering ponsel meraung begitu keras saat Riko hendak memakai sepatu. Memaksa pria itu menjawab dengan menjepit ponsel di bahu dan kepalanya.


"Saya segera ke sana, Tuan!"


Riko masih setia dengan posisinya sambil memakai kaos kaki dan sepatu. Agak kepayahan, tetapi dia harus cepat kan? Ini semua karena pikiran bodohnya, dia sampai ditelpon oleh bosnya hanya karena kepikiran urusan si pria tua itu. Ah, Riko mendengus kesal. Lantas ia buru-buru menuju restoran untuk sarapan, tanpa mematikan panggilannya. Harris sudah menunggu di sana.


"... terpaksa karena Kristal membuat ulah, tapi Papa tidak tahu kalau Darmawan benar-benar kemari hari ini."


Riko sedikit kaget saat mendengar kedua bosnya berbicara dengan suara yang keras dan penuh kebingungan. Riko segera meletakkan ponsel ke dalam sakunya, lalu mengambil jarak agar kedua bosnya melihat kehadirannya.

__ADS_1


"Lagian kenapa sih, Papa bilang kalau Kristal bersama kita? Coba Papa tidak ngelantur kemana-mana kalau sedang telepon? Kan ini nggak akan terjadi. Bikin repot saja!"


Harris begitu kesal setelah ceria beberapa saat. Niatnya hari ini adalah bersenang-senang dengan anak-anak. Ini malah kedatangan tamu yang akan mengganggu waktunya untuk 'mengganggu' Kira.


"Telpon Johan saja. Mungkin dia bisa diajak kerja sama," saran Dirga setelah bingung beberapa saat.


"Papa saja, aku nggak mau!" Harris membantah, setelah itu dia beranjak pergi. Biar saja masalah itu diurus sendiri oleh papanya.


Rega melihat semua kekacauan pagi ini dengan perasaan tertekan. Semua ini salahnya dan Kristal yang tidak bisa menahan diri, sehingga semuanya menjadi kacau. Lagipula, Kristal masih anak-anak, wajar jika kakek Dirga marah, terlepas siapa Kristal. Rega pikir itu hanya alasan saja. Mereka orang dewasa, sudah pasti paham apa yang dirasakan dan terjadi diantara anak-anak muda.


"Ga, habisin sarapannya." Jeje menyodok siku Rega yang bertumpu pada meja. "kamu kenapa sih, mukamu kok horor begitu?"


Jeje mengekori kemana pandangan Rega tertuju. Kemudian berkata keras-keras. "Mereka biasa begitu, jadi jangan dipikirkan ... oke!"


Rega mengangguk, lalu menghabiskan sarapannya. Toh dia tidak bisa berbuat apa-apa. Kristal juga sudah berada di pesawat menuju Singapura.


Yah, ini hanya semacam memindahkan arena momong saja. Biasanya di rumah, kini di Osaka.


"Hari ini kau bebas tugas, Ko ... pergilah kemanapun kau mau. Aku sudah tidak punya acara kemana-mana!" Harris berkata tanpa menoleh. Langkah pria itu tetap cepat dan tegas menuju kamarnya.


"Beri tahu Doni juga. Kalian semua bebas tugas hari ini, dan boleh berlibur kemanapun. Besok pagi kita siap-siap pulang!"


"Baik, Tuan," jawab Riko setengah berseru. Meski ini mengejutkan tetapi Riko tidak bertanya. Kejadian tadi sudah menjawab segalanya.


Riko berhenti beberapa langkah dari tuannya, membiarkannya masuk ke dalam kamar. Dia membiasakan diri seperti itu, sebab yakin sekali dengan keadaan di dalam sana pasti sangatlah tidak baik-baik saja. Ya, biasanya Nyonya Bos akan bangun lebih awal, mengurus sarapan anak-anak juga suaminya, tetapi pagi ini bahkan sampai matahari sudah tinggi, beliau tidak muncul. Sesuatu yang mengerikan pasti terjadi semalam hingga pagi tiba.


Riko berbalik dan kembali ke restoran untuk sarapan, berusaha tidak memikirkan kacaunya malam di kamar sang bos. Dia hanya mengirim pesan pada Doni, lalu duduk dengan tenang menikmati kopi.


"Maaf, apa boleh duduk di sini?"

__ADS_1


Riko yang siap menyesap kopi, dikejutkan oleh suara wanita yang begitu lembut. Seketika Riko mendongak.


"Si-silakan." Riko gugup melihat wanita yang begitu cantik meski usianya terlihat tidak lagi muda. Mungkin lima puluhan.


"Terima kasih." Wanita itu duduk, lalu meletakkan gelas di meja.


Riko memperhatikan sekeliling, ternyata semua meja sudah penuh. Bahkan Asisten Tony dan Tuan Dirga sampai berdesakan dengan cucu-cucunya.


Sekilas, Riko melihat Asisten Tony menatapnya dan tersenyum. Hal itu membuat Riko sedikit heran, tidak biasanya ada senyum seperti itu diantara mereka.


Wanita tadi sibuk dengan ponsel saat Riko kembali menghadapi meja. Karena sungkan dan tidak tahu harus bagaimana Riko segera menghabiskan kopi dan menuju meja Tuan Dirga.


Tepat di saat itu, Asisten Tony sedang berbicara pada Tuan Dirga, dan Riko jelas mendengarnya.


"... saya ingin menemui seorang kawan lama, sebelum pulang."


Riko mengernyit melihat ekspresi bingung Tuan Dirga. Sejak kapan pria itu punya hubungan manis bernama kawan? Bukannya semua orang adalah musuhnya?


"Saya bebas hari ini, Tuan ... saya akan bersama anda menggantikan Asisten Tony." Buru-buru Riko menyela. Jarang bahkan tidak pernah Asisten Tony izin pergi saat liburan begini, jadi Riko berinisiatif.


"Kebetulan kalau begitu!" Tuan Dirga mendadak cerah mendengar ucapan Riko. "Kau bisa membujuk Johan untukku."


Riko tercengang beberapa saat. "Soal apa, Tuan?"


Dirga langsung meraih pundak Riko dan berbisik. Tetapi Riko seperti menelan sebuah batu utuh sampai matanya membelalak.


Di saat yang sama, Asisten Tony menyelinap dan pergi ....


Tentu bersama kawan lama yang begitu cantik. Sweet Autumn, right?

__ADS_1


__ADS_2