
Malam sudah menyambut pagi, tetapi, mata Harris tak kunjung terpejam. Sekalipun dia memakasa matanya untuk memejam namun, berjauhan dengan wanita yang amat di kasihinya membuatnya kesal. Biasa mereka berbagi bantal yang sama, bahkan tangannyalah yang menjadi penopang kepala istri tercintanya.
Kira menolak berdekatan dengan Harris sekalipun Harris sudah mandi dan berganti baju. Bahkan Kira masih menatapnya penuh permusuhan saat Harris enggan tidur terpisah darinya. Harris mengusap wajahnya dengan kasar. Emosinya stabil tapi tingkahnya aneh, hamil memang tak pernah masuk akal baginya. Semoga dia tidak mengada-ada, pikir Harris.
Harris bangkit dari tidurnya, dia menatap ranjang besarnya dengan wanita aneh sedang berbaring memeluk Ranu dan guling yang dijepit di antara dua kakinya.
Harris menepuk keningnya, "dia wanita atau bukan sih? Tidur tidak ada cantik-cantiknya!"
Harris berjalan ke arah meja lampu, mengambil remot untuk menurunkan suhu kamar agar tidak terlampau dingin, lalu di tariknya selimut untuk menutupi kaki istrinya yang terpampang jelas.
Hembusan napas Harris begitu kasar terdengar, ketika dia menyibak sulur rambut Kira yang menutupi sisi wajahnya.
Memperhatikan istrinya saat tidur adalah sesuatu yang sangat dia sukai. Menusuk ujung hidung medium milik Kira, dan memainkan bibir yang terkadang membuatnya jengkel.
"Entah apa yang membuatku begitu mencintaimu, Yang! Padahal kau tidak ada bagus-bagusnya," gumam Harris sambil mengecup kening Kira, lalu beralih ke malaikat kecil yang begitu menggemaskan.
Benar saja, Harris langsung mengantuk setelah kepalanya mencapai bantal empuk kesukaannya. Di halangi Ranu, Harris mengulurkan tangannya di pinggang Kira.
***
Hidung Kira bergerak, seakan mengendus bau yang amat menusuk hidungnya. Diantara pikiran yang belum sepenuhnya sadar, Kira mencoba mencerna apa yang dibauinya.
Kira membuka matanya selebar yang ia bisa, dan bangkit dengan segera. Ranjang empuk itu sampai bergoyang karena ulahnya. Kira menarik dirinya ke atas, menjauh dari tangan suaminya yang masih lemas terhempas dari pinggang Kira.
Kira segera memblokir hidungnya, aroma khas suaminya yang dulu sangat disukainya, kini menjadi sesuatu yang sangat di bencinya. Bibir Kira sudah berjejal dengan kemarahan dan kekesalan. Tetapi, melihat bagaimana bayi kelinci itu tidur dengan Ranu menempel di dadanya, Kira mengurungkan niatnya. Tak sampai hati dia membangunkan suaminya hanya karena ngidam yang terkesan aneh.
Kira segera beranjak ke kamar mandi, sambil membungkam mulutnya. Perutnya sudah bergolak hebat, yang segera meluncur tanpa bisa di cegah. Hingga merasa lega dia baru menegakkan kembali tubuhnya. Dipandanginya alat test kehamilan yang tergeletak sembarangan. Kira mencebik, mungkin Harris telah melihatnya semalam. Kemarin pagi, dia melakukan test sebab dia merasakan mual dan pusing. Juga tamu bulanan yang baru sekali datangpun, tak mengunjunginya lagi. Meski terkejut mendapati dua garis merah yang tampak begitu pekat, Kira tetap berusaha tenang. Hanya saja, dia segera menghubungi Vivian dan membuat janji dengannya.
Satu per satu, busana yang melekat pada tubuhnya mulai tanggal, dan di lemparkan ke keranjang khusus pakaian kotor. Sebelah tangannya menyalakan shower dan sebelah lagi, menadah air yang mulai menitik lirih.
Tetapi bagi Kira, retih air bagai ribuan jarum menghujam pori-pori kulitnya. "Masa iya aku takut air lagi? Persis sekali saat hamilnya Excel!" Gumam Kira sambil bergegas menyelesaikan mandinya.
__ADS_1
Benar saja, usai mandi tubuh Kira menggigil, "Ya Tuhan, jangan lagi!" Kira segera berpakaian dan membalut tubuhnya dengan selimut yang nyaris jatuh dari ranjang akibat ulah anak dan suaminya.
Kira membawa selimut itu ke atas sofa, tubuhnya mendarat mulus di sana. Membiarkan Ranu dan Harris melanjutkan tidurnya yang sama sekali tak terganggu olehnya. Seperti inilah saat dia hamil Excel, menggigil usai mandi bedanya, jika dulu dia tak bisa santai untuk menghangatkan diri, kini, dia sesuka hati bergelung selimut tanpa takut mendengar teriakan penuh amarah dari mertuanya.
15 menit berlalu, Kira menaikkan wajahnya melihat jam yang bertengger di dinding, sebelum beranjak membangunkan suaminya. Kira bangkit dan mendekati ranjang, untuk mengguncang tubuh suaminya agar terbangun.
Kira menarik napas panjang dan menghembuskannya pelan. Dia memberanikan diri untuk menghirup aroma tubuh prianya. Tetapi, tetap saja, aroma itu membuat perutnya bergolak. Dengan tangan kirinya, Kira mencapit hidungnya.
"Abang, bangun!" Suara Kira terdengar sengau, namun justru itu yang membuat Harris membuka mata.
Harris mengerjap, matanya masih berat yang langsung diusap dengan tangan kanannya. Lalu dengan gerakan memutar dia memijat kening hingga pelipisnya. Dengan malas, Harris memutar kepalanya ke arah Kira yang masih condong diatas tubuhnya sambil mencapit hidung.
"Apa bau badanku sangat tidak enak, Yang?" Harris bangkit perlahan agar Ranu tidak terganggu tidurnya. Bayi itu menggeliat dengan memanyunkan bibirnya. Tangannya meregang ke atas lalu meraba-raba dimana Papanya berada. Harris meraih guling dan meletakkan di lengan Ranu. Bayi perempuan itu segera tidur kembali setelah mendapat pengganti Papanya.
Kira menjauhkan dirinya, "Abang wangi kok, tapi sepertinya anakmu yang tidak suka! Maaf, Bang!"
Tatapan Kira begitu sendu, dia merasa bersalah saat melihat suaminya tersiska oleh sikapnya.
Kira merengut, "Abang tak percaya padaku? Mau bukti?"
"Jangan keras-keras ngomongnya, nanti Ranu bangun!"
Kira berdecak saat Harris mendelik sebal ke arahnya. Mungkin juga sebal karena tak bisa menjamah tubuh istrinya seperti biasa. Entahlah.
Harris bergegas ke kamar mandi. Membersihkan diri untuk berangkat bekerja. Sedangkan Kira dia menyiapkan baju untuk suaminya seperti biasa. Hanya mungkin tak bisa memakaikan dasi untuknya.
Ranu bergerak dalam tidurnya, sepertinya guling itu tak mampu menggantikan hangat tubuh Papanya. Dengan ocehan tak jelas Ranu merangkak ke sisi ranjang.
Kira mengambil langkah panjang untuk segera mencapai ranjang, di letakkannya baju suaminya di sebelah Ranu sebelum meraih Ranu dalam pelukannya.
"Ouh, cayangnya Mama! Unch...unch...udah bangun ya! Keganggu sama Mama ya?" Kira mendaratkan bagian belakang tubuhnya di ranjang dan meletakkan Ranu di pangkuannya, menghadapnya. Ranu segera mendaratkan tubuhnya di dada Mamanya, tangannya menyampir tak sampai di pundak.
__ADS_1
"Cayangnya Mama akan jadi kakak lho! Apa Ranu suka?" Kira meletakkan pipinya di ubun-ubun Ranu, sesekali mengecupnya. Tangannya mengusap punggung Ranu pelan. Meski Ranu tak menjawabnya, Kira tetap melanjutkannya.
"Ranu sayang, maafin Mama jika asi untuk Ranu sekarang tidak sebanyak dulu! Ranu masih boleh kok minum asi langsung dari Mama, tapi sekarang Ranu harus minum dari botol juga! Itu juga asi dari Mama, Sayang! Agar tubuh Ranu tetap sehat dan kuat!"
Harris terpaku di ambang pintu kamar mandi. Melihat pemandangan yang biasa di saksikannya setiap hari, tapi kali ini dengan rasa yang berbeda. Harris membasahi bibirnya, sebelah tangannya menggenggam erat kusen pintu. Rasa bersalah begitu menggerogoti hatinya. Menyakiti buah hatinya, yang sepertinya akan disapih lebih awal.
Harris menubruk tubuh kedua wanita yang sangat di cintainya. Berlutut, menumpukan kepalanya diantara tubuh Kira dan Ranu. Merangkul keduanya dalam sekali pelukan.
"Ranu, maafin Papa ya, Sayang!" Lirih Harris, dia bahkan tak mampu membendung air matanya. Pikirnya, Ranulah yang paling terdampak karena ulahnya.
"Abang, jauh-jauh ih!" Kira menggerakkan tubuhnya. Sekalipun ditahan, dia sungguh tak kuat.
Dengan tergesa, Kira meletakkan Ranu yang bercicit sambil meremas-remas rambut Papanya di atas ranjang. Dan segera berlari ke kamar mandi. Menumpahkan sesuatu yang mendesak di tenggorokannya.
Harris menndengus, dan bergegas mengambil ponselnya di atas meja lampu dengan Ranu di gendongannya. Sesekali di kecupnya rambut Ranu yang mengeluarkan aroma khas.
"Rin, antarkan air hangat ke kamar, kalau sarapannya sudah siap, sekalian kamu bawakan!" Perintah Harris melalui sambungan ponsel. Tanpa menunggu jawaban Rina, Harris menyerahkan ponsel yang sejak tadi ditarik-tarik oleh Ranu.
"Gadisnya Papa mau telepon siapa, hem?" Harris meraih Ranu di kedua belah tangannya lalu mengangkatnya tinggi-tinggi. Bayi yang belum genap satu tahun itu tertawa memperlihatkan senyum yang membuat semua orang gemas. Pipi besarnya menggusur matanya hingga menyipit. Rambutnya berwarna cokelat dan ikal terlihat berantakan. Tangan gemuknya masih mempertahankan ponsel Papanya yang berat.
Harris meletakkan Ranu di tepi ranjang, dan berlutut di depan putrinya. Dipandanginya wajah Ranu lekat-lekat, diusapnya rambut Ranu penuh kasih.
"Sayang, maafkan Papa ya! Karena Papa, Ranu harus berbagi dengan adik bayi yang ada di perut Mama! Tapi, Papa pastikan, kasih sayang Mama dan Papa tak akan pernah berkurang untuk Ranu! Apa Ranu mengerti yang Papa katakan?"
Ranu yang semula asyik memukul-mukul ponsel, kini memandang Papanya. Bukan karena mengerti, tapi untuk memukul Papanya dengan ponsel yang di pegangnya.
"Awh..." Harris meringis memegangi hidungnya. Dia tak sempat menghindari timpukan Ranu yang begitu tiba-tiba. Harris merapatkan bibirnya, "Untung kamu anak Papa, Ran! kalau tidak, udah habis kamu sama Papa!"
Harris mendorong tubuh anak perempuannya, dan menciumi wajahnya, menggelitiki Ranu hingga bayi itu tertawa terbahak-bahak.
-Adakah kebahagiaan yang lebih indah daripada memiliki mereka dalam hidupku? Tidak ada-
__ADS_1