Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
SURPRISE....


__ADS_3

Semilir angin malam membuai insan yang tengah bersandar pada lamunan. Menumbuk ujung sepatu runcingnya dengan lantai marmer. Pikirannya berkelana, mencoba memahami sesuatu.


Namun, dia sedikit bisa menguasai hati dan perasaannya, sehingga kini tidak terlalu larut dalam lingkaran rasa. Kelopak mata berbingkai bulu lentik itu memejam sebentar, sebelum helaan napas panjang sarat beban menghembus perlahan. Seolah sedang mengosongkan tindihan berat masalah.


Tubuh yang semula bersandar, tangan yang awalnya terlipat begitu rapi di depan dada, kepala yang sejak kehadirannya di teras rumah ini terus saja menunduk, kini berdiri tegak.


Langkahnya tertuntun ke pinggiran teras yang menampakkan hamparan langit luas nan hitam tetapi bertaburan kerlip bintang. Pikiran wanita cantik ini terus saja berputar, mencari celah jalan keluar. Hingga deru mesin mobil terdengar lirih berhenti di halaman. Riko yang keluar dari mobil mewah itu membungkukkan badannya saat melihat Nyonya Harris melihat ke arahnya dengan tatapan serius.


Seperti melihat cahaya terang, bibir Kira melengkungkan senyuman sebelum melambai memanggil Riko. Langkah cepat Riko begitu mantap saat melihat majikannya membutuhkan kedatangannya. Mereka berbicara lirih nyaris berbisik saat keduanya berada dalam jarak dengar. Tak berapa lama, Riko segera menjauh saat sudah mengerti apa tugas yang harus dijalankannya.


"Semoga ini jalan yang paling baik," harap Kira dalam hati. Manik matanya masih mengawasi kepergian Riko yang melintasi halaman. Entah apa yang akan dilakukannya pertama kali, Kira enggan menerka.


Tiba-tiba, pandangan Kira menjadi gelap, saat kedua matanya ditutup kain.


"Abang apaan sih?" Kedua jemarinya berusaha membebaskan kain itu dari matanya. Dia begitu terkejut dan kesal, pasalnya dia memakai riasan mata yang sedikit memberi kesan tajam dan menggoda. Sedikit banyak dia tahu akan seperti apa dia berakhir malam ini.


Harris menangkap kedua tangan itu sambil tetap memegangi penutup mata yang belum terikat sempurna. "Jangan berontak. Cukup turuti Abang saja!"


Perintah yang tak pernah sekalipun bisa dibantah. Tangan Kira melemas, tapi tidak dengan ketidaksukaannya. "Abang jangan aneh-aneh."


"Ngga aneh kok, cukup diam dan menurut saja!" Kecupan singkat mendarat ketika Harris membopong tubuh Kira. Membuat Kira menjerit tertahan. Sebelah tangannya mengait leher Harris, sebelah lagi menggedor dada yang begitu liat.


"Aku berat Bang... turunkan sekarang!"


"Mau kututup juga mulutmu itu?" Suara Harris sedikit meninggi, akan tetapi bibirnya mengukir senyum kemenangan saat melihat bibir Kira mengerucut.


"Good girl!"


"Memangnya aku pudel betina?"

__ADS_1


"Mirip,"


Kira mendecakkan suaranya, seiring bibirnya yang merengut dalam.


"Jangan menunjukkan wajah seperti itu, kau membuatku ingin memangsamu sekarang!" Sejenak Harris berhenti, meski Kira tak dapat melihat ekspresinya, tapi Harris yakin, istrinya ini tahu ucapannya tak pernah ingkar. Sehingga Kira langsung menormalkan bibir dan riak wajahnya.


***


Supercar kesayangan Harris menjadi tunggangan yang membawanya ke tempat tujuan. Sepanjang jalan Kira tak henti-hentinya menanyakan kemana tujuan mereka kali ini. Tetapi, tak pernah menyerah pula, Harris merahasiakan tempat tujuan itu.


Meski mata tertutup tapi bibir semerah cherry -bahkan baunya seperti cherry- itu mengerucut sesekali bila tak mendapat jawaban yang memuaskan. Membuat seorang Harris tak tahan untuk menepi dan mengecup sekilas bahkan lebih, jika dirasa dia terlalu gemas.


Kira yang masih merasakan gelap melingkupi pandangannya, rasa penasaran membawa tangannya mencoba menarik penutup kedua matanya itu. Perasaannya sedikit tak menentu, berdebar bahkan serasa memelintir ulu hatinya. Berulang-ulang Kira membasahi bibirnya yang sebenarnya tidak kering, tetapi karena gugup dan tidak tahu bagaimana melampiaskannya.


"Masih lama ngga, Bang?" tanya Kira sekali lagi, meski mobil melaju diatas kecepatan rata-rata, tetapi menikmati kegelapan membuatnya terasa lama dan membosankan.


"Ngga kok," tangan Harris mencubit lembut pipi istrinya yang sedikit memerah akibat blush on yang disapukan tipis.


"Kau cukup diam dan menurut, kau ratunya malam ini," bisik Harris saat Kira sudah berdiri sempurna di hadapannya. "Mau ku gendong lagi?"


Bisikan Harris yang tepat berada dibelakang telinga Kira, membuatnya merinding dan geli.


"Ngga mau," jawabnya seraya menjauhkan tubuh, meski hanya beberapa inci.


"Kalau begitu pegangan sama Abang, Ma Queen! Malam ini kita akan memburu fajar." Kegelapan masih membingkai Kira sehingga dia tak bisa mencerna dengan benar apa maksud suaminya. Kira hanya diam dan menurut saat Harris mengaitkan tangannya dilengan kekar milik suaminya itu. Selalu saja ada ketenangan yang menjalari Kira saat pria yang begitu keras itu menggenggam jemarinya. Hingga melahirkan desiran halus dengan senyum bahagia merekah sempurna.


Perlahan dan sangat hati-hati, Kira melangkah di sisi suaminya. Rasa penasaran begitu kuat menggerogoti perasaannya, tetapi, dia memilih mengunci bibirnya. Kaki panjang itu menapaki undakan yang hanya beberapa buah dengan hati-hati sesuai instruksi Harris.


"Kau sudah siap, Yang?" Anggukan Kira membuat Harris merekahkan senyuman kembali. Segera tangan kokoh berbalut busana hitam itu mendorong pintu hingga terbuka dan menahannya sebentar hingga Kira lolos.

__ADS_1


Begitu pintu menutup kembali, Harris menempatkan dirinya di belakang Kira dan membuka simpul ikatan penutup mata istrinya.


Harris masih memperhatikan Kira yang mengerjapnya kelopak matanya. Mencoba menyesuaikan dengan cahaya yang tak begitu menyilaukan. Namun tetap membuat Kira kesulitan menerima cahaya terang dari lilin yang menyala di atas meja.


Masih mengerjap, Kira memutar haluan kepalanya mengintari seluruh ruangan yang temaram. "Kita dimana, Bang?"


Alih-alih menjawab, Harris justru menarik tangan istrinya ke sisi jendela. "Kau ingat tempat ini?"


Kira menatap bangunan tinggi yang sudah terlihat gelap di beberapa tempat. "Itu Star kan, Bang?"


"Iyap, dan ini adalah....-"


"Ini restoran yang Abang bilang gulung tikar itu?" Sedikit surut dan mengerucut, binar di mimik wajah Kira menurun. "Abang sudah ngga mampu bayar resto mahal? Kenapa ngga ke warteg aja, Bang? Kita mau makan apa di sini?"


Tidak tahan dengan ekspresi Kira, Harris meraih bagian belakang leher dan mendorongnya mencapai dirinya. Memagut bibir yang suka sekali protes dan merengut. Bukankah sudah diingatkan sejak tadi? Jika melanggar tentu ada konsekuensinya, pikir Harris yang masih asyik menikmati bibir semerah cherry. Dia tak melepaskan meski gedoran di dada bidangnya terus terasa. Tidak peduli, malah semakin tegas merapatkan diri mereka berdua.


"Abang tidak suka kau marah dan banyak protes, membuat abang semakin gemas denganmu, Yang!" Ibu jari Harris mengusap bibir yang berantakan karena ulahnya, tetapi dia sangat puas melihat Kira yang bernapas cepat dan kasar. "Ini belum seberapa."


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2