
Memangnya, kau mau kemana hari ini?” Tanya Harris padaku saat kami berada di kamar. Dia duduk di sofa, sibuk dengan ponselnya.
“Aku mau bekerja, memangnya mau kemana?” Jawabku. Aku sibuk mengemas barang-barang milikku. Walau hanya sepasang piyama, tetapi ini milik Tuan Perhitungan di depanku ini.
“Kau letakkan di keranjang baju kotor, biar di urus Bibi Mai saja” Perintahnya sembari mengambil laptop dan meletakkannya di tas. Apa dia masih keturunan cenayang? Tanpa melihat, dia tahu apa yang kulakukan.
“Kenapa? Aku juga bisa cuci baju sendiri”
“Aku takut kau tidak bersih mencucinya” Teriaknya. Membuat telingaku berdengung. Dasar Tarzan.
Aku menurutinya tanpa menjawab. Melihat tatapannya yang sangat menyeramkan itu membuatku takut.
“Ini benar-benar buatku kan?” Aku melipat mukena yang ku pakai subuh tadi. Aku takut jika harus membayar. Iya, aku membuka kotak berisi perlengkapan sholat, karena aku tidak menemukan mukena di kamar lelaki.
“Iya, masa buat ibumu? Ada-ada saja kau ini” Dia terlihat kesal, wajahnya yang cemberut membuatku ingin menggodanya lagi.
“Lalu semua itu?” aku menunjuk kotak seserahan yang menumpuk di sudut kamar. "Itu untukku semua kan? Aku boleh memakainya kan?"
“Iya, Itu milik mu dan kau pakai semau mu. Puas?” Dia mendelik ke arahku. Membuatku menahan tawa karena berhasil membuatnya marah. Apalagi yang harus ku kerjakan sekarang? Mau berangkat kerja, Kafe baru buka jam 10, dan ini masih jam 8.
“Kau bekerja di mana?” Tanya Harris beberapa saat kemudian. Dia sudah memakai jasnya.
“Di Ivy’s kafe. Kenapa?” Jangan-jangan dia melarangku bekerja lagi. Aku menatapnya penuh selidik.
“Tidak, hanya bertanya saja. Apa kau tidak bersiap-siap?” Walau masih datar dan ketus, tapi suaranya sudah bisa di terima kupingku dengan baik.
“Apa yang di siapkan? Begini saja cukup, kan?” Aku melihat pakaian yang ku kenakan. Dari semua baju yang ada di koper itu, baju ini paling pantas untuk bekerja, walau tidak nyaman. Biasanya aku memakai celana panjang dan kaos atau kemeja. Kali ini memakai dress seperti mau menghadiri pengambilan rapor saja. Kulihat dia seperti mengejek penampilanku. Baiklah, Tuan Tarzan, ejek aku sesukamu, sampai kau muntah.
“Kau tidak berdandan?”
“Tidak, memangnya kenapa? Apa aku membuatmu malu?” Aku mengangkat wajahku, sengaja, seperti menantang.
“Bukan urusanku” Dia mengambil tas berisi laptop, ponsel yang segera di masukkan ke saku. Lalu berjalan ke pintu.
“Bagaimana aku akan bekerja nanti?” Tanyaku. Aku teringat bagaimana aku akan pergi dari sini nanti. Harris sepertinya akan berangkat sekarang. Taksi juga tidak bisa masuk ke sini. Berjalan ke pintu masuk komplek, jauh sekali.
“Pikir sendiri”
Aku mencibir, masa begitu saja marah, merajuk seperti anak kecil. Dia melangkah keluar kamar. Aku tidak mengantarnya, biar saja.
Karena tidak tahu harus melakukan apa, aku iseng melihat-lihat kotak seserahan. Isinya, aku yakin aku tak akan sanggup memakainya dalam waktu dekat. Dari baju hingga sepatu itu merek yang terkenal. Meski bukan yang sangat terbatas, tapi itu masih tak bisa di jangkau oleh kantongku.
Meninggalkan itu semua, aku segera berangkat menuju kafe. Di rumah itu, sudah sangat sepi. Aku berniat untuk berjalan kaki sampai gerbang, lalu memesan taksi dari sana.
“Agus?” Aku terkejut melihat sosok orang yang ku kenal beberapa tahun belakangan. Diapun tak kalah terkejut melihatku berada di sini.
“Mbak Kira, maksudku Nona. Jadi Nona Muda yang di maksud itu Mbak Kira?” Agus terlihat sangat gembira.
“Apa an sih Gus. Kamu ngapain di sini?” Tanyaku.
__ADS_1
“Aku sopir Mbak, eh, Nona sekarang” Dia menggodaku, sama seperti Johan.
“Baiklah, kita bicara di jalan” Aku duduk di samping Agus. Tidak nyaman menjelaskan semuanya di sini.
“Sejak kapan kamu kerja di sini, Gus?” Tanyaku tak sabar.
“Hari ini hari pertamaku, Mbak” Jawab Agus.
“Jadi, Mbak Kira menikahi Tuan Muda Dirgantara?” Aku benci ekspresi Agus seperti mengejek.
“Jangan di bahas lagi, kau sudah tahu jelas, bukan? Lalu bagaimana dengan Ayah mertua, Gus? Kamu meninggalkan dia, demi gaji besar?” Aku menebak-nebak. Seingatku, dulu Agus sangat ingin memperoleh gaji tinggi demi menyekolahkan adiknya hingga bangku kuliah.
“Mbak su’udzon deh. Aku sudah berhenti kerja di sana, satu bulan lalu kurang lebih. Sejak Pak Rian dan Bu Mel kembali” Agus seperti tersedak biji durian.
“Maaf, Mbak, soal Pak Rian dan Bu Melisa, aku ngga ngasih kabar Mbak, waktu itu. Aku takut, Mbak Kira tidak bisa menerima”
“Aku sudah tahu, Gus. Biar saja, aku juga terlalu bodoh, Gus” Aku menatap keluar jendela kaca mobil. Menghindari pandangan iba dari Agus.
“Kapan Mbak Kira tahu?”
“Beberapa hari lalu, kami bertemu di rumah sakit”
“Lalu?”
“Apa?” Aku tidak mengerti maksud Agus.
“Ya, itu Tuan Muda?” Agus menggaruk kepalanya.
“Bukan, Mbak. Kapan kalian kenal?” Agus semakin penasaran jika aku terus menghindarinya.
“Oke, kami di jodohkan, dan jangan sampai siapapun tahu. Paham?” Aku menatap tajam Agus. Di balas dengan 2 jarinya membentuk huruf “V”.
“Santai, Mbak, sejak kapan sih Mbak Kira jadi galak begini?”
“Sejak dulu” jawabku kesal.
“Apa Mbak Kira tahu? Pak Rian akan menempati posisi lamanya, di kantornya dulu”
“Bukan urusanku lagi, Gus. Dia sudah menjadi masa laluku. Dia sudah bahagia sekarang” Aku menghela nafas, beban di dadaku berkurang seiring nafas yang terbuang.
“Melisa terlalu kejam padamu, Mbak” Celetuk Agus.
Aku setuju. Tapi, singa tidak akan menyia-siakan kesempatan saat buruannya lengah. Melisa menggiringku ke tepi jurang, dan saat aku terlena, dia mendorongku. Orang yang paling beruntung adalah orang yang mampu memanfaatkan setiap peluang yang ada, bukan?
Keheningan melingkupi kami berdua. Aku sibuk menyelami pikiranku dan Agus fokus dengan kemudinya. Jalanan yang mulai lengang, membuat Agus lebih leluasa berjalan.
“Makasih ya Gus” Aku turun di depan kafe milik Ivy, yang sudah di buka.
“Mbak Kira, bosku sekarang. Jadi jangan begitu, aku yang seharusnya menghormati Mbak Kira. Nanti, anak-anak aku yang jemput, Mbak Kira fokus kerja saja”
__ADS_1
Aku tersenyum menanggapi Agus. Aku segera masuk ke kafe Ivy. Begitu melihatku, mereka semua menghambur ke arahku. Memberi ucapan selamat kepadaku. Aku terharu mendapat perhatian dari mereka. Andai pernikahanku layak di beri ucapan selamat. Huft.
“Tidak bisa menyimpan rahasia, eh?” Aku menghampiri Ivy yang pura-pura tidak tahu aku datang.
“Mereka tau dari akun Bibir say, bukan aku, aku mah apa atuh, sahabat yang tak di anggap” Ucapnya sedikit melebih-lebihkan. Memangnya aku Viona, yang memenuhi akun Bibir.
“Maaf, Vy. Kamu tau kan, ngga ada yang aku undang, memangnya apa hebatnya pernikahan ini?” Aku mencoba untuk meraih tangan Ivy, namun dia membuat semuanya sulit. Apa dia marah beneran?
“Jadi, marah nih? Baiklah, aku pulang aja, toh ngga kerja, duit juga ngalir”
Aku mengambil tas yang aku letakkan tak jauh dari Ivy. Menyesal aku tak memakai tas di kotak seserahan tadi. Kalau Ivy tahu sudah pasti dia heboh sendiri. Dia menempatkan tas itu dalam bidikannya.
“Eh, kok pergi sih? Berantem kek, biar makin seru. Masa langsung kabur aja” Ivy menarik tanganku.
“Aku takut kamu kalah kalau berantem denganku”
“Yeee, yang ada situ kali, yang babak belur” Ivy bersungut ketika aku memutarbalikkan fakta.
“Oke, oke, sekarang kita kerja dulu. Bentar lagi waktunya buka kan?” Aku mengakhiri debat unfaedah ini.
“Ini juga di sambi kerja, Ra. Kau kira aku sedang tidur dari tadi?” Ivy menunjuk kemoceng di tangannya.
“Iya, maksudku, kerja dulu baru ngobrol” Aku berdalih takut di interogasi lebih lanjut.
“Tidak bisa. Aku tau kamu menikah dengan Tuan Muda Dirgantara. Bukan dengan Tuan Senior, benar?”
Aku mengangguk, enggan menjelaskan. Biar Ivy berasumsi sendiri. Dia kan pandai sekali mengkhayalkan sesuatu.
“Apa rasanya?” Astaga, apa ini? Rasa yang mana yang kurang jelas, Vy?
“Maksudku, rasanya menikah dengan pria muda?”
“Dia 2 tahun lebih tua dari kita, Vy”
“Benarkah? Dari mana kau tahu?”
“Di buku nikah lah, dimana lagi?”
“Aww.... gemes” Ivy mencubit pipiku dengan keras dan mengguncangnya. Sakit, Vy.
“Apaan sih? Sakit tahu" Aku menampar tangan Ivy.
"Pasti kalian diem-dieman gitu? Terus, tidur jauh-jauhan gitu? Lalu, dia memandangi kamu dengan dingin dan angkuh. Kaya di Drama-drama itu?" Ivy mendekatkan wajahnya yang di tumpu pada telapak tangan. Matanya di kedipkan berulang, membuatku meringis. Jijik.
"Bayangin sendiri, bayangin terus sampai tuyul numbuh rambut" Aku meninggalkan Ivy yang masih senyum-senyum sendiri.
.
.
__ADS_1
.
#terhambatsinyal