Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Memaafkan, Tapi Tidak Melupakan


__ADS_3

Setelah kepergian Reno, Giza nyaris tidak bisa tidur setiap malam, makan juga susah jika tidak dipaksa Rega. Tubuhnya semakin kurus, tetapi dia memaksakan diri bekerja setelah masa berkabung usai.


Sebenarnya, Rumah sakit memberikan Giza waktu sebanyak-banyaknya untuk berduka, tetapi Giza tidak mau terlihat seperti orang yang lemah jika terus berdiam diri di rumah. Selain itu, rumah juga mengingatkan Giza akan kenangan bersama suaminya tersebut. Bekerja dan berada di luar rumah lebih lama, membuat Giza sedikit terhibur.


Hari itu, Dirgantara sedang mengunjungi rumah sakit, dia berpapasan dengan Giza yang hendak keluar ruang kerjanya.


"Giza ...," panggil Dirga saat Giza seolah menghindarinya.


Giza berhenti dan memberikan hormat pada bosnya tersebut.


Dirga tidak punya alasan berlama-lama berbincang dengan Giza, atau Harris yang hari ini mengantarnya check up rutin, akan menuduhnya yang tidak-tidak.


"Bulan depan, ikutlah bersama kami ke Jepang. Kami ingin mengunjungi rekan di sana," ucap Dirga.


"Maaf, Tuan ... saya tidak bisa ikut." Giza menolak tanpa sungkan. Dia menduga, kunjungan rekan yang dimaksud adalah Darmawan dan keluarganya. Giza tidak sudi jika harus bertatapan dengan wanita jahat itu lagi.


"Tolong pikirkanlah dulu. Rega pasti senang kalau bisa melihat pertandingan bola bersama Excel dan Jeje." Dirga membujuk.


Giza membalas tatapan Dirgantara begitu dingin. "Rega tidak butuh melihat pertandingan bola, seolah di masa depan nanti, hidupnya hanya akan dihabiskan untuk bersenang-senang saja, Tuan. Rega akan menjadi penopang keluarga kami, dia akan belajar tanpa perlu memikirkan hal yang lain."


Dirga kehilangan napas untuk sesaat. "Giza ... tolonglah. Aku mohon dengan sangat, jika kamu sudah mengikhlaskan, tolong jangan membenci berlebihan. Lebih baik lepaskan saja, jangan menyiksa dirimu sendiri."


Giza melebarkan matanya, rahangnya terlihat mengetat. Tampak tersinggung dan marah karena ucapan Dirga, tetapi alih-alih meraungkan amarah, Giza meredam semuanya dalam hati. Dia harus tetap elegan, meski dalam hatinya membara.


"Saya memaafkan, Tuan, tetapi tidak melupakan. Saya ikhlas jika suami saya harus berakhir dengan kematian, tetapi saya tidak pernah ikhlas, kalau pembunuh suami saya masih berkeliaran bahkan hidup berbahagia. Ini tidak adil. Lagipula, saya masih waras untuk tetap tersenyum di hadapan para pembunuh itu."


Dirga kembali tersudut, diam seribu bahasa. Ucapan sarkastik Giza benar-benar menusuk nurani Dirga.


"Selamat siang, Tuan," pamit Giza. Wanita itu berbalik dan meninggalkan Dirga mematung sendirian.

__ADS_1


Jadi seorang Dirgantara harus bagaimana? Jauh sebelum menjadi Viona yang jahat, Viona sudah memiliki takdir sebagai ibu dari anak seorang Stevan Darmawan. Seseorang yang memiliki segalanya dalam hidupnya.


Dirgantara mengambil ponsel, berniat menghubungi Johan untuk berdiskusi. Jika Viona harus dipenjara misalnya, apa itu artinya, Harris akan melepaskan Martin dan membiarkan pria itu ditindak polisi. Hukuman yang diberikan pasti sangat ringan dan di sel, Martin pasti bisa merencanakan banyak hal, apalagi bila disatukan dengan narapidana kasus pembunuhan. Bukan hanya Harris dan Viona, Giza juga bisa berada dalam bahaya.


Dirgantara menjadi resah memikirkan hal itu.


Johan masih berada di sini, sampai Viona lebih kuat untuk kembali ke Singapura. Viona akan menetap di sana bersama Johan dan kedua anaknya.


Tanpa saling mengetahui, Johan sedang berada di rumah sakit untuk memeriksakan kandungan Viona. Viona terlalu stress dan tegang sehingga beberapa kali mengalami flek.


Johan menerima telepon dari Dirga saat menunggu antrian di poli kandungan. Meski memiliki koneksi, tetapi Viona tidak mau melanggar hak orang lain dengan menyerobot antrian. Dia dengan tekun dan sabar menunggu giliran.


"Aku angkat telepon dulu, ya, Sayang." Johan berpamitan, seraya mengecup kepala Viona.


Viona mengangguk dan tersenyum lemah. Johan hanya bisa menghela napas melihat betapa lesunya Viona. Dia tidak mampu berbuat apa-apa untuk membebaskan istrinya itu dari rasa bersalah yang begitu besar.


"Pergilah ke ruangan Rio, aku menunggu di sana."


Jawaban dari Dirga membuat Johan mengerutkan kening. Tetapi pria itu segera beranjak ke ruangan dimana Rio berkantor.


Sudah ada Harris, Dirga, dan Rio di sana. Mereka bertiga adalah tonggak utama kerajaan bisnis Dirgantara.


"Masuk, Jo." Harris menyapa lebih dulu. Berharap di pertemuannya dengan Johan, akan ada sesuatu yang istimewa sebelum mereka akan menjadi rekan yang setara.


Namun, kejadian demi kejadian membuat mereka bahkan belum sempat bicara lebih lama.


"Sepertinya, ini akan tidak baik untuk saya." Johan menjatuhkan tubuhnya pelan di kursi depan Harris usai menjabat tangan semua orang.


"Kalau kau bisa ikhlas, ini akan menjadi sesuatu yang sangat indah di masa depan." Dirgantara merasa ini sangat rumit. Beratnya berimbang. Tetapi pihak Viona sedikit lebih bisa dimaklumi keadaannya, sementara Giza, terlalu banyak mendapat kemalangan.

__ADS_1


"Apa saja asal Viona bisa lebih fokus pada kehamilannya. Jujur saja, kejadian ini membuat kami terpukul, Viona terus saja merasa dirinya paling bersalah." Johan membuka kedua tangannya, pasrah pada apa yang diputuskan Dirga, berharap ini akan menjadi hal baik untuk ke depannya.


"Kita akan menyerahkan Martin dan Viona ke pihak kepolisian." Dirga berkata seraya menatap Johan.


Harris yang tidak sepakat hanya bisa membuang napas, tidak nyaman dengan ucapan sang ayah.


Johan melirik Harris yang menunduk dan muram. Martin adalah pria yang paling ingin Harris habisi dengan tangannya sendiri. Terutama setelah Reno tidak bisa di selamatkan.


Johan menatap Dirga kemudian. "Selama ini bisa mengurangi kemarahan Giza, saya ikut saja, Tuan. Viona pasti akan mengerti."


Harris menoleh tidak percaya, Viona sedang hamil ... Astaga! Johan sudah tidak waras rupanya.


"Kami bahkan jauh lebih tersiksa dengan semua kebencian Giza, jadi jika penjara bisa membuatnya lega, saya merasa Viona tidak akan keberatan." Johan melanjutkan setelah merasa orang-orang ini tidak memahami bagaimana hidupnya berjalan beberapa waktu terakhir.


Giza hendak bertemu Rio, untuk urusan pekerjaan. Tetapi tidak di sangka, dia akan mendengar diskusi yang menyangkut soal dirinya. Giza tidak mau terlihat sedang menguping, sehingga dia memilih kembali ke ruang kerjanya.


Dia merasa ada yang tidak diketahui soal pengeroyokan suaminya. Siapa Martin? Giza bertanya-tanya.


Lantas, dia mengambil ponsel dan menghubungi Kira. Disana, dia bisa menemukan jawaban setiap resahnya. Walau ini agak terlihat tidak tahu malu, setelah sikapnya yang dingin pada Kira beberapa waktu lalu, tetapi demi kebenaran, Giza tidak ambil peduli tentang penilaian Kira padanya.


"Halo, Ra ... apa aku bisa ketemu kamu?" tanya Giza saat panggilannya terjawab.


"Akhirnya, kamu mau nemuin aku, Giza. Aku di rumah sama anak-anak, kalau ada yang mendesak, datanglah. Aku akan mendengarkanmu."


Giza meraih tasnya, lalu berjalan buru-buru ke meja sebelahnya. "Aku kesana sekarang."


Giza mematikan panggilannya, lalu berkata pada wanita yang bingung melihat Giza tergesa-gesa.


"Aku keluar dulu, tolong antarkan ini ke ruangan Pak Rio!" Giza mengulurkan beberapa map ke tangan rekan kerjanya. Setelah itu Giza benar-benar meluncur ke rumah Kira.

__ADS_1


__ADS_2