
Johan bersama keluarga kecilnya yang tengah diliputi kebahagiaan, kini berada di kota dimana Evan dimakamkan. Evan memang tidak dipulangkan ke tanah air, agar Viona tak menemukan jejaknya. Tuan dan Nyonya Darmawan memandu mereka hingga ke sebuah pemakaman yang langsung menghadap ke laut lepas. Dari sini Stevan Darmawan dapat melihat bintang saat malam hari, menyaksikan senja yang menggurat indah di kaki langit saat hari berganti, dan debur ombak yang senantiasa mendamaikan hati. Evan menyukai hal tersebut.
Kristal berjalan di depan bersama kakek dan neneknya, tangannya menggenggam beberapa kuncup bunga mawar putih. Ia terlihat senang ketika berbincang dengan kakek neneknya.
Sepanjang perjalanan, Johan terus menggenggam tangan Viona, ia menghujani istrinya yang tengah hamil muda itu dengan belaian di atas punggung tangannya sementara kepala Viona bersandar pada lengan suaminya tersebut. Helaan napas begitu sering keluar dari dada Viona, sejujurnya ia sangat gugup meski hanya akan bertemu sebuah batu nisan. Namun, ini adalah pertemuan pertama setelah sekian tahun lamanya.
"Kita sudah seperti orang mau lamaran saja, Vi," bisik Johan di atas telinga Viona. Bibir Johan terus saja menghadiahi rambut hitam berbalut kerudung, dengan kecupan lembut. Entahlah ... apa ini berhasil atau tidak untuk menenangkan seorang wanita, dia hanya meniru bosnya yang sering melakukan hal ini pada istrinya. Sejauh ini, Johan lebih banyak mempraktekkan apa yang dilakukan bosnya sebagai acuan kehidupan rumah tangganya, dan ... it's work.
Pemakaman itu begitu luas seperti hamparan permadani di atas laut. Hijau dan sejuk tentunya. Johan mengira, makamnya tidak terlalu jauh, tetepi ternyata nisan itu hanya berjarak beberapa puluh meter saja dari tepi tebing. Debur ombak jelas sekali terdengar dari sini, menghantam tebing hingga airnya mecuat naik.
Nisan dengan tulisan 'Stevano Inggara Putra Darmawan' telah berada di depan sepasang orang tua yang bersedih itu. Mereka berhenti dan membuka jalan agar Viona dan Kristal bisa melihat rupa makam orang yang mereka cintai. Kristal meletakkan bunga mawar putih di depan batu pusara tersebut. Ia hanya memandang saja tanpa berkata apapun, kemudian ia menundukkan kepalanya. Berdoa dalam hati.
Johan mendorong tubuh Viona yang berkeringat. Telapak tangan istrinya tersebut berembun sangat banyak dan dingin. "Ayo, temani Kristal sana," bisiknya sambil memegang kedua bahu Viona.
Viona menoleh, ia butuh penguatan. Matanya yang sendu seolah meminta agar Johan menemaninya ke sana. Viona terlihat rapuh dan lemah.
"Aku akan ke sana sendiri nanti, sekarang kamu harus berbicara pada ayahnya Kristal, sebagai kamu sendiri, wanita yang mencintai dia. Ayolah ... kamu pasti bisa," tutur Johan sangat lembut. Ia mengusap berulang lengan Viona hingga wanita itu akhirnya mengangguk.
Viona berjalan dengan pelan karena gugup. Perasaan yang sejak tadi ia tata gejolaknya kini tak mampu lagi ia bendung. Bertahun-tahun lalu teringat kembali, tahun dimana mereka bermandi cinta, dan tahun dimana ia terlunta. Mencari kepastian dan keberadaan kekasihnya. Ayah dari anak yang sedang di kandungnya.
Ia ingat ketika ia mengutuk Evan, menyumpahi hidupnya tak tenang. Frustrasi dan kecewa berkepanjangan waktu itu membuat jiwanya yang gelap dan sepi, mengundang setan merasuki jiwanya. Viona yang lembut dan penuh kasih, berganti menjadi Viona yang arogan dan berhati dingin. Dia akan menaklukkan seluruh pria, menyentuh kakinya, memujanya, lalu menghempaskan ketika mereka mulai menuntut balas akan cintanya. Ya, kecantikannya menyembunyikan betapa ia sangat sepi dan merindukan Evan.
__ADS_1
Viona berlutut di depan tanda bahwa Evan pernah menjadi makhluk penghuni bumi, bersebelahan dengan Kristal yang khusyuk berdoa untuk ayahnya. Lelehan air mata begitu lancang menuruni pipinya. Buram pandangannya menatap pusara yang kaku dan dingin itu.
"Evan ... aku berharap kau bahagia dan tidak lagi merasakan sakit. Aku disini telah bahagia dengan putrimu, dan kamu selalu hidup dalam diri Kristal, anakmu. Dia mirip sekali denganmu, mata, rambut, bahkan senyumnya mirip sekali denganmu. Lihat kami dengan senyummu, Van ... kami telah hidup sesuai keinginanmu. Maaf, untuk tahun-tahun yang kuhabiskan untuk meratapimu. Maaf, karena aku tidak bersamamu di akhir waktumu. Aku berjanji, akan terus hidup dengan baik dan merawat Kristal. Terimakasih, Van ... kau lelaki terbaik yang pernah singgah di hidupku."
Viona terisak semakin dalam. Sakit itu terasa nyeri, tetapi ia segera mengusap air matanya, lalu meletakkan bunga mawar putih yang sejak tadi ia genggam. "Aku akan selalu menyebutmu dalam doaku, Van ...," janjinya sambil mengusap pusara Evan.
Kelegaan dalam hati Viona begitu terasa hingga ia mampu tersenyum meski masih lemah. Ia mundur dan mendarat di pelukan Johan.
Mereka berdiri dengan pikiran masing-masing, menghadap makam sebelum beranjak dari sana.
Ketika beberapa langkah beranjak, Johan berkata pada Viona.
"Aku harus membuat perhitungan dengan ayahnya Kristal."
"Hai, Bro ... kenalkan, aku suami Viona." Johan berkata seolah Evan ada di depannya. Ia menoleh ke arah langit yang menggatungkan awan nan cantik, telapak kakinya berjinjit lalu rata kembali. "Aku hanya ingin bilang, kalau akan menggantikanmu di dunia ... tetapi aku akan membiarkan kalian bersama-sama di surga nanti. Aku rasa itu cukup adil, jadi ... tolong restui kami." Johan mengakhir pidatonya sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
"Aku pulang dulu ...," ujarnya sambil mengusap pusara Evan dan tersenyum. Ia membuang napas sebelum benar-benar pergi dari sana.
***
"Gendong aku, Yah ...," pinta Kristal yang langsung memeluk lengan Johan sesaat setelah Johan bergabung dengan mereka lagi. Mata hitam itu menengadah penuh permohonan pada Johan yang hanya menaikkan alisnya sebagai respons. Ingin menolak tapi tak kuasa, tapi jika mengiyakan pasti lelah sekali mengingat jarak dari sini ke mobil cukup jauh.
__ADS_1
"Kau boleh menolak jika kau tak sanggup ... sepertinya, kita akan berbulan madu lagi malam ini," bisik Viona dengan kerlingan nakal. Johan seperti mendapat suntikan semangat, ia sangat senang mendengar Viona berinisiatif "memintanya" terlebih dahulu, semenjak hamil Viona lebih agresif.
"Em ... gendong di punggung ya, Kris? Kamu 'kan udah gede ... Ayah ngga kuat jika menggendongmu di depan." tawar Johan. Ia akan buktikan pada Viona bahwa dia adalah lelaki sejati, yang menyenangkan anak dan istri.
"Boleh, deh ...," ucap gadis kecil itu dan langsung mengambil posisi di belakang Johan yang telah berjongkok.
"Ugh ... anak ayah makannya pasti banyak, berat sekali." Johan berdiri dan menyejajarkan langkahnya dengan Viona. "Tidak apa-apa demi bulan madu lagi," ujarnya riang.
.
.
.
.
.
Hai-hai ... Mama Akira, Papa Harris akan othor akhiri dalam beberapa bab ya ... maaf jika terlalu lama, Othor nya belum siap berpisah dengan Abang Harris tercintah ...🤧
Terimakasih yang sudah marathon ... siapkan galon yah, epsnya cukup panjang😆 takut kehausan di tengah jalan😆 takut kalau melewati gurun, gak nemu oase🤭
__ADS_1
Banyak cinta dari Author❤❤❤
Misshel❤