
Rumah kembali sepi, Viona yang memutuskan untuk menginap karena permintaan Kristal, sepertinya sudah ikut terlelap bersama putranya.
Harris dan Kira saling memeluk pinggang saat keduanya memasuki rumah. Kini, perbincangan lebih serius berpindah ke sofa lembut, memanjang di ruang tengah.
Kira segera melepaskan diri dari Harris dan menghampiri Papa mertuanya yang sepertinya kerepotan dengan bayinya yang bergerak-gerak gelisah.
"Maaf, Pa," Kira segera meraih bayi yang sepertinya merasa tidurnya kurang nyaman.
"Mungkin karena Papa takut saat menggendongnya, dia jadi tak nyaman," Tuan Dirga tersenyum. "Naiklah, dan segera istirahat."
"Kira ke kamar dulu, Pa," Setelah mendapat anggukan dari mertuanya, Kira segera ke kamar tidurnya di lantai dua.
Harris duduk di antara Johan dan Rio. Johan sedang meneguk soft drink, sedangkan Rio, mengalihkan perhatiannya ke ponsel yang dipegangnya, ketika Harris menekan bahunya. Semula, dia memandang Kira yang tengah menaiki tangga.
Johan menggoyangkan kaleng yang sudah kosong ditangannya, dia segera bangkit. Diiringi tatapan Harris dan Rio, Johan melenggang santai ke dapur.
Dapur bercahaya temaram, rapi dan bersih. Johan mencampakkan kaleng soft drink ke tempat sampah, sebelum membuka pintu kulkas.
"Pak Jo sedang apa?" Johan terlonjak saat suara Nina begitu dekat dengannya.
Johan menoleh membawa ekspresi keterkejutan yang memenuhi wajahnya, "Kau mau membuatku mati berdiri?"
Nina mengerjap menahan tawa, sebelum menyeringai lebar hingga menampakkan giginya yang kecil dan putih.
"Maaf Pak Jo, habisnya Pak Jo mencurigakan banget sih!"
Johan membelalak, "Mencurigakan apa maksudmu? Kau pikir aku mencuri?"
"Hehehe, ya ngga juga sih!" Nina mengusap alisnya berulang-ulang. "Em, Pak Jo! Boleh ngga Nina bertanya."
Nina menurunkan tangannya, ditautkan kedua belah jemarinya, raut wajahnya mengerut dalam, tampak sekali dia ragu dengan ucapannya.
Johan menaikkan sudut bibirnya, "Sejak kapan kau menahan diri saat ingin tau sesuatu dariku?"
"Em, tapi Pak Jo jangan tertawa ya!" Bibir Nina terkatup penuh harap, tangannya bertumpuk ragu-ragu terangkat. Bergesekan perlahan.
Johan menaikkan pundaknya, "Ya tergantung apa yang kau tanyakan! Jika lucu tentu saja aku tertawa."
"Pak Jo, ih. Ngga asik," Nina merengut, kakinya menghentak.
Johan terkekeh, "Apa yang ingin kau tanyakan?" Johan membuka kaleng sambil melirik Nina yang terlihat lega.
Nina menghela napas, "Jadi Pak, Dokter Vivian itu...istrinya Pak Hendra ya?"
Johan menaikkan alisnya, "Menurutmu? Kau pikir Vivian istrinya Rio?"
Johan terbahak sampai memegangi perutnya, setelah Nina mengangguk ragu.
Nina menghentak kesal, dia berlalu meninggalkan Johan yang berusaha menghentikan tawanya sambil mengejar Nina.
"Hei, masa gitu aja marah sih, Nin?!" Johan menyambar tangan Nina yang segera di tepisnya dengan kasar.
Nina menyilangkan tangannya di dada, dia mendengus kesal dengan wajah berpaling.
"Ck, maaf! Jangan marah dong!" Johan menarik lengan Nina dengan paksa. Menyeretnya ke bangku taman yang melingkar dengan atap rumbai.
__ADS_1
Johan mendudukkan Nina di depannya, namun Nina masih enggan menatap Johan.
"Oke, biar aku luruskan," Johan mencapit dagu Nina agar menghadapnya. "Sejak awal aku sudah bilang, jika kamu menyukai Rio jangan menyerah, karena Rio dan Vivian memang dekat. Kau tahu Vero, kakak perempuan Rio? Suaminya adalah kakak Vivian! Dan dia menitipkan Vivian pada Rio dan Harris, apalagi sejak menikah dengan Hendra, Vivian tampak semakin murung."
Nina menatap Johan dalam, seakan mencari-cari kebohongan. "Pak Jo tidak bohong kan?"
Johan menghela nafas, dijauhkan tubuhnya dari Nina. Sangat menyebalkan, pikir Johan, "Jika Rio suaminya Vivian, kenapa yang pulang dengan Vivian si Hendra? Kalau kau cemburu, kau salah orang! Harusnya kau cemburu pada ka-"
"Siapa Pak?" Nina memburu Johan yang merapatkan bibirnya dan mengusap kasar rambutnya.
Johan membuang napas kasar, nyaris saja dia kelepasan bicara. Dan wajah polos di depannya ini, terus saja menatapnya penuh tuntutan.
"Kau sungguh menyebalkan," Umpat Johan sambil mencubit pipi mulus Nina.
Nina menampik tangan Johan, "Au, sakit Pak!" Ia menggosok pipinya yang masih terasa sakit.
"Tidurlah! Ini sudah malam!" Johan bangkit sambil mengusap kepala Nina, "Jangan banyak berpikir, kalau kau masih menyukainya, buka hatimu lagi untuknya!"
Johan mendorong kening Nina hingga tertolak kebelakang. "Selamat malam, Bocah!"
"Iih...Pak Jo. Aku bukan bocah!" Teriak Nina saat Johan sudah jauh melintasi rerumputan basah karena embun. Dilambaikan tangannya pada Nina, yang masih menghentak kasar.
Nina celingukan, dia di halaman belakang seorang diri. Lampu-lampu di kamar para Art dan sekuriti sudah banyak yang dipadamkan. Gelap. Nina menelan ludah sebelum lari tunggang langgang ke dalam rumah. Tak dihiraukannya rumput yang basah, dan membuatnya terpeleset beberapa kali. Sesampainya di teras belakang, Nina baru memelankan langkahnya.
Nina mengatur napas, ketika sampai di dekat dapur. Batinnya menggerutu, menyumpahi Johan yang meninggalkannya seorang diri. Nina meraih gelas dan meletakkan di bawah keran dispenser.
"Gila, gara-gara Pak Jo, aku harus lari-larian tengah malam," Nina berkacak pinggang sembari menunggu gelasnya penuh.
"Sudah puas?" Nina tersedak air minum yang memenuhi mulutnya. Tumpah membasahi baju dan lantai.
Nina memandang galak ke arah Rio, tangannya meraih kotak dengan kasar. "Bukan urusan Pak Rio."
Nina bergerak menjauh, namun tangan Rio terlebih dahulu menyambarnya. Menarik Nina dekat dengannya. Menabrak tubuhnya.
"Itu akan menjadi urusanku sebentar lagi," Rio mengeraskan rahangnya, wajah yang biasanya datar itu menegas dan mengerikan. Nina yang masih tak mengerti pada situasi yang dia hadapi saat ini, melebarkkan matanya. Jantungnya berlompatan membentur rongga dadanya.
"Pak Rio jangan bicara omong kosong. Kita tidak dekat untuk sekedar saling mencampuri urusan masing-masing," Ucap Nina setelah beberapa saat keduanya saling pandang.
"Tidak perlu dekat untuk saling mencampuri urusan orang lain bukan?" Pegangan Rio mengeras di tangan Nina.
"Kau pikir, setelah tiba-tiba kau mengusikku lalu menghindariku, itu akan hebat bagimu?"
Ucapan Rio membuat Nina meradang. Dipaksanya menatap manik mata gelap milik Rio.
"Bukankah anda yang menginginkan saya untuk menjauh? Apa ini salah saya juga? Salah jika saya ingin melupakan anda?"
"Tentu ini salahmu, Nina! Kau yang memulai semuanya, kau yang menyita waktu dan pikiranku! Kau, yang membuatku tak bisa menyukai orang lain selain kamu!"
"Lalu kau seenaknya menjauhiku, menghindariku! Kau pikir kau siapa, ha? Berani-beraninya kau muncul dalam mimpiku, berlarian dihadapanku saat mataku terjaga?"
"Pak Rio...," Nina menatap Rio yang dipenuhi luapan emosi. Setiap ucapan Rio, membuat sisi hatinya bergetar, hingga terlahir titik bening di sudut matanya.
"Aku belum selesai, Nina! Jangan menyelaku,"
Rio mengangkat dagu Nina yang basah. "Dengar, aku tidak suka ada orang yang tidak mau bertanggung jawab! Kau harus mengganti delapan bulan waktuku yang kuhabiskan untuk memikirkanmu, dengan seumur hidup berada di sisiku. Jika kau menolak, akan kupastikan tak ada tempat lain untukmu membagi perasaanmu!"
__ADS_1
Nina memejamkan mata. Gertakan ini sungguh manis. Nina tak bisa membedakan mana sakit hati dan bahagia. Semua bercampur menjadi satu.
"Tatap aku, Nina!" Cekalan itu semakin kuat mencengkeram. "Aku sedang berbicara denganmu!"
Nina menurut saja, perlahan dia membuka matanya. Dibasahinya temggorokan yang terasa gersang. Wajah Rio terlalu dekat dengannya, dan itu membuatnya berpaling. Rio sedikit kecewa dengan sikap Nina. Perlahan dia mengendurkan cengkramannya.
"Kau sungguh angkuh, Nina! Apa kau sedang menolakku? Kau sudah tidak menyukaiku lagi? Kau ingin aku berbalik mengejarmu? Atau kau sudah menyukai orang lain?" Rio mengguncang bahu Nina. Nina masih tertunduk. Sesak dadanya dipenuhi kebahagiaan.
"Kurasa, aku terlambat mendatangimu, Nin! Baiklah, diammu berarti iya untukku," Rio melepaskan tangannya, tubuhnya beringsut mundur. Benar kata Johan, hati Nina sudah menjadi milik orang lain.
Nina mengangkat wajahnya saat Rio sudah membelakanginya. Nina tidak tahu apa yang diucapkan Rio adalah kemarahan atau sebuah ungkapan perasaan. Nina juga tidak tahu apa sakit hatinya lebih besar dari rasa sukanya kepada pria itu. Tetapi, sepertinya sesuatu dalam diri Nina membawanya untuk menubruk punggung itu.
"Apa Pak Rio sedang menyatakan perasaan padaku?"
Rio terkesiap, degup jantungnya meluap-luap. Waktu seakan berhenti untuknya. Perlahan senyuman terbit di kedua sudut bibirnya. Disambutnya tangan yang melingkar di pinggangnya.
"Apa ini terlalu buruk jika dianggap sebagai pernyataan cinta untukmu?"
Nina mengangguk dipunggung Rio, airmatanya masih membanjir membasahi kemeja Rio. "Iya. Pak Rio menakutiku! Dan aku bodoh, mau-maunya ditembak dengan kasar seperti ini!"
Rio terkekeh, kepalanya menengadah. "Apa aku terlalu tua hingga kau memanggilku Pak?"
"Iya, kau adalah pria tua yang menyebalkan!"
Rio melepas tangan Nina dan berbalik menghadapinya. "Dan, kau wanita yang bodoh karena menyukai pria tua,"
Rio menarik dagu yang basah itu. Menahan interupsi yang hendak melompat dari sudut bibirnya, dengan ibu jari. Rio mendekat dan melabuhkan dirinya pada Nina yang tengah memandangnya. Mencecap pelan bibir manis yang membuatnya gila. Rio memejamkan mata, sementara Nina malah melebarkan kelopak matanya.
Rio menyela rambut Nina, tanpa menghentikan sapuan di bibir ranum milik Nina. Nina yang tak punya pengalaman seperti ini sebelumnya, hanya terpaku dan memejamkan mata, menikmati. Tubuhnya kaku dan berdesir hebat, hingga tangannya terasa basah. Rio menghentikan aksinya saat dia tak merasakan napas Nina.
Rio mengusap bibir hingga ke pipi. "Aku yang pertama, benar?"
Wajah Nina memanas. Dia sangat malu. Sementara Rio merasa puas, tak sia-sia dia hampir gila karena Nina. Dia tak salah melabuhkan hatinya kali ini. Hanya mungkin dia harus bersabar.
•
•
•
Epilog
"Kau darimana saja, Jo?" Rio bersedekap, tubuhnya bersandar di dinding dekat pintu ke halaman belakang. "Apa kulkas pindah ke halaman belakang?"
Johan terkejut bukan main. Bukan karena pertanyaan Rio, melainkan keberadaan Rio di kegelapan yang nyaris tak terlihat olehnya.
"Tentu kau sudah tahu aku dari mana, sedang apa dan dengan siapa, Yo!" Jawab Johan santai. Johan kesal karena sikap Rio yang terkesan plin plan dan ragu.
"Kau serakah, Jo! Bagaimana kau bisa mendekati dua wanita sekaligus?" Rio menampakkan dirinya di remang cahaya.
"Kenapa tidak? Bukankan pria boleh beristri lebih dari satu?" Johan mengangkat bahu. Kemudian dengan santai dia melenggang menjauhi Rio yang masih menggeram dalam amarah.
Johan berhenti saat keduanya saling memunggungi.
"Aku rasa, aku bisa menikahi keduanya bersamaan, jika seseorang tak segera menyelamatkannya. Kurasa Kakak dan Pamanmu tak keberatan,"
__ADS_1
Usai mengatakan itu Johan berjalan dengan cepat, meninggalkan Rio dengan siulan penuh kemenangan. Sementara, Rio masih mematung menahan amarah.