
"Nyonya, ku rasa kau cocok menjadi direktur di sini! Ilmu bisa di cari tapi wibawa itu bawaan!" Ujar Johan tanpa melihat ke arah Kira, dia duduk santai di sofa sambil memeriksa pekerjaannya sendiri. Dia masih mengerjakan tugas yang di bebankan Harris padanya, meski kini dia sedang bekerja untuk Nyonya Bos-nya. Apapun demi Nyonya Bos, Johan rela. Ugh, manisnya.
"Jangan mengejekku! Kau tidak lihat aku kebingungan tadi!" Kira mencebik. Menghadapi laporan berbentuk ocehan, dan tatapan aneh dari beberapa manager di sini, membuat Kira pusing. Entah apa yang di ucapkan, dia hanya mengerti kurang dari seperempat. Beruntung, ada Pak Sofyan dan Johan yang lebih paham dan memberinya penjelasan yang sederhana.
"Aku berkata yang sebenarnya! Kau hanya perlu tangan kanan yang andal, seperti Marsha!" Johan melirik sekilas ke arah Kira yang duduk di kursi kebesarannya. Johan sungguh takut, menatapnya berlama-lama.
"Bukannya dia di Star? Aku hanya mengisi kekosongan saja, Jo! Kau tau kan, semua keputusan di tangan pemegang saham!" Kira membuka lembar-lembar yang di minta pada bagian personalia tadi. Matanya menjadi buram karena terlalu lama melihat layar komputer.
"Ada banyak orang lain selain Marsha, yang loyal dengan perusahaan milik mertuamu. Dan, penguasa saham di sini, paling besar, ya mertuamu! Kau kira dia tidak senang jika mantunya yang jadi direkturnya!" Johan kehilangan fokus pada pekerjaannya. Selain karena perasaannya juga karena ocehan Nyonya Bosnya. Suaranya lembut, seperti mengundang siapa saja yang mendengarnya untuk menoleh dan memperhatikan. Johan membuang nafas, lalu menyandarkan kepalanya di sandaran sofa.
"Benarkah?" Kira menyipit. "Kalau begitu, biar Papa saja yang memimpin di sini!"
"Dia sudah pensiun. Setiap hari main golf dan mengunjungi kerabat dan koleganya. Benar-benar menikmati hari tua!" Johan menerawang ke langit-langit. Membayangkan indahnya masa tuanya nanti. Meski harus sendiri. Tanpa istri, anak dan cucu. Johan memutuskan untuk sendiri seumur hidupnya, dia bertekat untuk tetap mencintai wanita ini, hingga nyawa berpisah dengan raganya.
"Kau saja kalau begitu! Biar suamiku cari penggantimu! Bagaimana?" Kedua orang itu beradu pandang sejenak. Jantung Johan seakan meledak, melihat tatapan mematikan dari wanita ini. Johan membuang wajah dengan senyum mengejek. Mengejek dirinya yang lemah. Sebuah kerugian ketika dia berada satu ruangan dengan wanita ini.
"Akan ku carikan asisten wanita yang sangat cantik dan seksi, agar kau cemburu sepanjang waktu, jika itu terjadi!" Jawab Johan yang sudah kembali kepada lembaran kertas kering seperti hatinya.
"Coba saja, paling-paling tidak akan bertahan seminggu!" Kira mencibir.
"Kau yang meminta, Nyonya!" Johan mengambil ponselnya lalu menekan nomor Harris.
Kira lari tunggang langgang, menyerbu Johan yang langsung berdiri di sofa, dengan telepon menempel di telinganya.
"Tuan, saya di perintah Nyonya, untuk mencarikan asisten baru untuk anda! Katanya yang cantik dan seksi," Ucap Johan sembari menahan tangan Kira yang berusaha menggapainya.
"Baik, Tuan!" Johan menekan tombol merah mengakhiri panggilan yang sama sekali tidak mendapat jawaban. Karena Johan tahu, Harris sedang mengadakan meeting dengan mitra kerja dari luar negeri. Dia sengaja menggoda Kira.
"Kau sangat menyebalkan Jo!" Kira menampik lengan Johan berkali-kali, hingga Johan meringis. Lalu tertawa, terpingkal-pingkal, melihat wajah kesal di depannya.
Hingga seseorang mengetuk pintu barulah Johan berhenti, rupanya seorang Office Boy mengantarkan makan siang dari suaminya.
__ADS_1
"Ada kiriman makanan dari Tuan, Nona!" Ucap pria itu sambil membungkuk dengan sopan.
"Makasih, Pak," Ucap Kira ramah dengan senyum terkembang.
"Sama-sama, Nona," Jawab pria paruh baya dengan seragam biru muda itu. Dia pun melangkah mundur meninggalkan ruangan.
"Makan, Jo! Ngga pesen kopi sekalian, tadi?" Kira berbalik, sembari memeriksa isi kantung yang sedikit berat.
"Aku ngga ngopi kalau siang. Air putih saja, aku sudah tua, kurang-kurangi kopi," Kilah Johan. Padahal dia peminat kopi, bahkan bisa di bilang pecandu kopi. Sehari tidak minum kopi barang sekali, dia akan merasa pusing. Entah pagi siang sore, dan malam.
Kira mencibir, "Baguslah, itu baik untuk tubuhmu!"
Kira mengambil satu kotak dan meletakkan kantung berisi makanan itu di meja kaca depan Johan dan membukanya. Sungguh menggugah selera. Kira kembali ke mejanya untuk mengambil ponsel, mengambil gambar lalu di kirimkan pada suaminya, disertai ucapan terimakasih.
Kira mulai memakan makanan itu dengan lahap. Pun dengan Johan, dia malah lebih mengerikan dengan selera makannya yang besar.
"Mbak Kira," Lengkingan suara di ikuti pintu yang menjeblak terbuka, menampakkan sesosok wanita muda, energik dan modis dengan setelan semi formal yang dikenakannya. Kira yang tengah membuka mulut, berhenti sepersekian detik, sebelum keduanya saling berhamburan, melepas rindu. Jejingkrakan layaknya anak kecil.
"Sorry, Jo," Kira meringis ngilu melihat ekspresi Johan yang berubah galak dan menyeramkan.
"Dan, kau!" Johan menunjuk Dinda dengan tajam. Dinda terkejut setengah mati mendengar teriakan Johan, refleks, dia memegang dadanya.
"Ini kantor! Jaga sikap pada atasanmu! Meskipun kalian saling mengenal," Sambungnya lagi, masih dengan suara penuh penekanan.
"Astaga, galak bener. Orang ini pasti makan beling!" Batin Dinda sambil meringis pula.
"Jo, jangan terlalu keras padanya! Dia sudah seperti adik bagiku," Kira menginterupsi tatapan setajam silet itu.
"Dinda, duduklah! Kau sudah makan atau belum?" Kira menghadapi Dinda lagi, usai perkataannya tak di gubris sama sekali oleh Johan.
"Belum, Mbak! Eh, No-Nona," Dinda tentu sangat gugup dan kesulitan mengucapkan panggilan yang belum pernah ia lakukan pada wanita yang sudah seperti kakak baginya. Mulutnya terasa aneh.
__ADS_1
Kira terkikik tanpa suara, "Jangan dipaksa! Ayo duduklah, kita makan bersama!"
Kira menarik lengan Dinda yang seakan memberat, dia menahan berat tubuhnya sehingga langkahnya seperti tertahan di lantai.
"Jangan takut! Abaikan saja dia!" Bisik Kira dengan suara di sudut bibirnya. Bukan tanpa sebab, Johan masih memaku tatapannya pada mereka berdua. Tajam dan menyeramkan. Apalagi goresan-goresan kecil di wajahnya yang semakin terlihat saat wajah itu mengeras. Membuat kesan seram semakin tampak.
Dinda akhirnya duduk di sofa yang panjang, bersebelahan dengan Kira, menyembunyikan tubuhnya pada bayangan tubuh Kira. Kemana saja tubuh Kira bergerak, dia mengikutinya. Sesekali dia melirik Johan yang tak jarang melayangkan tatapan tajamnya pada Dinda.
"Eh, dia makan nasi juga," Batin Dinda tertawa mengejek, saat lirikan matanya menangkap basah Johan, sedang menyuapkan sesendok besar menu makan siangnya.
"Ayo, Din! Makanlah! tunggu apa lagi?" Kira menggeser kotak berisi makanan ke arah Dinda.
"I-iya, Mbak! Eh, No-Nona," Dinda menutup mulutnya dengan ujung jemarinya, seraya melirik Kira dan Johan bergantian. Seakan menunggu reaksi dari Johan saat dirinya masih belum terbiasa dengan panggilan formal itu.
Kira hanya tersenyum penuh pemakluman, sedangkan Johan, dengan acuh membawa kotak itu ke tangannya, disangga pada tangan kirinya. Dia merasa jengah dengan tatapan aneh dari Dinda. Batin Johan menggerutu tidak jelas, sebab kesal.
Usai menyelesaikan makan siang, Dinda membungkuk dengan sopan pada Kira. Sedianya, jika tidak ada Johan dia akan menggosipkan mantan suami Kira. Melihatnya terpuruk membuat Dinda sangat senang. Dinda juga tahu banyak soal rumah tangga kakak sahabatnya itu. Tentu saja dari mulut bocor Nina.
Namun, keributan terjadi di depan ruangan sekretaris yang kosong. Ini masih jam makan siang, tentu sekretaris itu masih di kafetaria. Kira yang sedianya akan menghubungi suaminya, untuk berterimakasih secara langsung sekaligus memastikan suaminya sudah makan siang atau belum, meletakkan kembali ponselnya. Dia memandang pintu dengan alis bertumpuk menjadi satu.
"Ada apa ya? Di luar ribut sekali?" Gumam Kira. Baik Kira maupun Johan masih terpaku menatap pintu tanpa menggerakkan tubuh. Keduanya saling pandang sejenak. Kemudian seakan mendapat komando, keduanya berdiri dan mendekati pintu nyaris bersamaan.
Sekitar dua langkah lagi mencapai pintu, daun pintu terdesak paksa, hingga membentur tembok. Seorang wanita berwajah masam penuh amarah, deru napasnya memburu, rambutnya berantakan. Dia menyentak kasar tangan lain yang di pegang erat seorang karyawan hingga terlepas. Sedikit terhuyung, sebab karyawan itu masih menariknya sekuat tenaga. Dengan angkuh, dia membenarkan posisi bajunya, lalu melangkah tegas ke dalam ruangan.
Karyawan yang berusaha mencegahnya masuk, tampak merasa bersalah, berdiri di luar pintu. Dia ketakutan, karena tak bisa melindungi bos barunya. Seperti perintah Big Boss.
Kira mundur secara otomatis, dan Johan langsung pasang badan di depan Nyonya-nya, ketika Melisa mendekat. Menjaga keselamatan Nyonya-nya adalah tugas utamanya.
•
•
__ADS_1
•