
Ayah dan Rian memandang Ibu dengan amarah yang berkobar. Sedangkan Ibu, menyandarkan tubuhnya yang gemetar ke dinding yang dingin.
Sebenarnya, Ibu mengikuti Riana ke kamar Melisa, namun tubuh tuanya tak mampu lagi menaiki tangga secepat Riana. Sehingga dia tertinggal jauh.
Dan, Ibu tidak mengetahui, sejak kapan dua orang lelaki ini berada di belakangnya, mendengar semua ocehan kedua wanita di dalam kamar.
"Apa itu benar, Ri?," Rian berdiri diambang pintu, dengan napas yang naik turun. Kentara sekali dia sedang menahan kemarahan yang besar.
"Mas," Melisa mengalihkan perhatiannya dari Riana. Terkejut melihat suaminya yang sudah berdiri di sana.
"Kakak," Riana tercekat. Tak bisa di gambarkan lagi rupa wanita ini. Bibirnya terbuka tetapi tak ada yang keluar dari sana. Ketakutan, tak pernah terpikirkan olehnya, ketika dia memutuskan untuk kemari, adalah akhir dari semua kebohongannya.
"Mas, sudah pulang?," Melisa mendekati suaminya. Mengelus lengan suaminya, Melisa terlihat cemas akan kemarahan Rian.
"Sejak kapan kau melakukan ini, Ri?," Rian menatap tajam Riana yang membatu. Mengabaikan pertanyaan Melisa.
"Kak, aku bisa jelaskan semuanya. Ini tidak seperti yang Kakak dengar," Riana meraih tangan kakak kandungnya. Namun, belum sampai menyentuhnya, Rian sudah terlebih dahulu mencekal tangan adiknya.
Rian menyeret paksa adiknya keluar dari kamarnya. Menuruni tangga dengan tergesa-gesa. Mengabaikan rintihan Riana, adik yang di sayanginya.
Melisa mengekori mereka berdua menuju ruang keluarga yang hangat. Namun, sepertinya, ruangan ini tak lagi hangat, tetapi membakar. Kemarahan sudah menembus kulit Rian, wajahnya terlihat memerah.
Rian menghempaskan Riana di hadapan Ayah dan Ibu. Tubuhnya ambruk di kaki Ayah yang sama sekali tidak melihat Riana. Anak yang di kasihinya sepenuh hati.
"Katakan, apa kurangnya Kakak kepadamu, Ri?," Alih-alih membakar ruangan ini dengan amarah, Rian menginterogasi Riana dengan suara dingin membunuh. Namun, siapa saja pasti bisa merasakan betapa besar kemarahan yang menguar bersama suara itu.
"Maafkan, aku Kak, aku tidak bermaksud seperti itu, aku-aku terpaksa melakukannya," Riana merangkak, menghiba di kaki Kakaknya, percuma mengkambing hitamkan orang lain. Kakaknya sudah mendengar semuanya. Kini, selain memohon belas kasihan Kakaknya, dia sudah tidak punya pilihan lain.
"Lalu, maksudmu seperti apa, Ri? Kau tahu bukan semuanya? Seperti apa kehidupan Kira dan anak-anakku? Mereka menderita, Ri. Dan mereka membenciku karena aku melalaikan mereka. Aku sama sekali tidak lalai, Ri, kau lah yang telah membuatku seolah melupakan mereka. Ri, kau juga seorang ibu, di mana nurani kamu?,"
"Maafkan aku, Kak. Aku-," Riana tak mampu lagi melanjutkan perkataannya. Dia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.
__ADS_1
"Aku sangat marah, Ri, sampai aku tidak bisa berkata-kata lagi. Kakak, hanya tidak bisa mengerti jalan pikiranmu," Rian mengusap wajahnya berulang kali, terlihat sekali bahwa dia sedang dalam emosi yang sangat besar. Rian berjalan hilir mudik dari kiri ke kanan, menahan amarahnya.
Ayah sama murkanya dengan Rian. Dia merasa benar-benar gagal memberi pendidikan yang baik untuk anak ke duanya.
"Bu, apa Ibu tau semua ini?," Rian mengalihkan perhatiannya ke arah Ibu, yang wajahnya sama pucatnya dengan Riana.
"Maafkan Ibu, Sayang. Ibu tidak tahu jika uang itu untuk anak-anakmu juga. Kata Riana, sekolah mereka dan kebutuhan mereka sudah kamu urus sendiri, dan, dan uang itu hanya untuk Kira," Ibu mendekat ke arah Rian, mencoba meluluhkannya dengan kata-kata halus dan lembut. Tidak mungkin kan, Rian menyakiti Ibu yang melahirkannya.
"Apa itu benar, Ri?," Rian mengabaikan Ibunya.
Riana hanya menunduk, dia sudah tersudut. Kalah. Air matanya meleleh menuruni pipinya, lidahnya tak mampu lagi berkelit.
"AAARRRRGGGHHHH," Raung Rian. Frustasi, ketika semua menjadi jelas, keluarganya sendiri yang menghianatinya. Rian tak mampu lagi menyangga tubuhnya, ambruk, ke lantai. Bertikai dengan keluarganya sendiri, Ibu yang melahirkannya, adik yang di sayanginya. Adakah yang lebih kejam dari ini? Rian, kecewa, marah, terluka, karena orang-orang yang di sayanginya, orang-orang yang di percayainya.
Rian bangkit perlahan, matanya berkilat merah, di penuhi amarah. Melisa bahkan bergidik ngeri. Seberapa parah luka seorang lelaki yang telah bersamanya beberapa tahun ini.
"Kenapa Bu? Kenapa Ri? Kenapa kalian melakukan ini padaku? Apa aku punya salah pada kalian? Apa dosaku pada kalian? Dan kamu Ri, apa kamu manusia, ha? Bahkan seekor lintah saja tau kapan berhenti menghisap darah. Ibu, apa Ibu bukan seorang ibu? Bagaimana rasaanya jika anakmu membencimu? Menolakmu? Kenapa tidak bunuh aku sekalian saja, ha? Bunuh saja aku Bu!," Rian menatap nanar Ibu dan Riana. Langkahnya di seret, terhuyung sesekali, tangannya bergerak liar tak terkendali. Meremas dadanya dengan kuat seolah jantungnya lepas dari rongganya.Kemudian, Rian ambruk lagi di hadapan Ibunya, wanita yang sangat di hormatinya.
"Apa Ibu tahu, dia tak pernah mengeluh dengan apa yang Ibu perintahkan padanya. Selama bersamaku, pernahkah dia menyusahkan Ibu? Pernahkan dia merengek karena sesuatu? Pernahkah dia mengabaikanmu? Seingatku, tidak pernah, Bu. Mengeluhpun dia enggan. Tapi apa balasan Ibu? Apa kurangnya dia Bu? Sehingga Ibu tega membuatnya menderita. Cucu Ibu menderita," Rian menangis di bawah kaki Ibunya. Siapapun iba melihat betapa kacaunya lelaki itu.
Ibu tergugu dalam tangis penyesalan. Dia bahkan tidak pernah berpikir akan sampai seperti ini. Semua ide yang keluar dari mulutnya maupun Riana, tidak terdengar sadis ataupun jahat. Hanya terdengar lucu, terlebih mereka berdua tertawa.
Ibu memang tidak setuju Rian menikahi Kira. Dan dalam hatinya sudah terpatri sumpah, bahkan sampai akhir hidupnya, dia tidak akan menganggap Kira menantunya. Tetapi, cucunya, walaupun dia enggan menyentuhnya, mereka adalah darah daging anaknya, darah mereka berasal dari satu tempat. Meskipun, Ibu menolak, ikatan darah tidak bisa di hapus. Bisa di putus tetapi, tidak bisa di hilangkan.
Ayah bahkan tak kuasa menahan air matanya, dia juga ingat betapa Kira begitu legowo menerima semua perlakuan tidak adil dari Ibu mertuanya. Bukan sekali dua kali, Ayah memergoki Ibu menyuruh Kira melakukan tugas rumah tangga yang seharusnya di lakukan oleh pembantu. Menyuruh Kira membayar tagihan rumah mulai dari listrik hingga air. Bukannya Ayah tidak menegur, Ayah menegur, tetapi Ibu menyalak lebih galak, daripada Ayah yang mengingatkan dengan lembut.
"Riana, apa yang membuatmu menjadi seperti ini?," Lirih Rian. "Iblis mana yang membisikimu kejahatan sekejam ini? Apa suamimu kurang memberimu nafkah? Apa Ayah kurang memberimu materi? Ini hanya uang receh bagi kita, Ri! Namun berarti untuk anakku, untuk keponakanmu. Apa kau sudah kehilangan naluri manusiamu, Ri?."
Riana masih menumpu tubuhnya di lantai. Meratapi nasibnya kedepan, dia takut di campakkan oleh keluarganya sendiri. Pikirannya di penuhi bayangan kelam ketika dia harus hidup sendiri, tanpa kemewahan mengelilinginya. Potret kelam di dalam ilusinya, membuat sisi gelap dirinya bangun dari tidur panjangnya. Merangkak naik memenuhi otaknya. Jika dia harus hancur, maka dia akan membawa serta orang lain.
"Riana, bagian mana yang kurang dari kasih sayang kami padamu?," Ucap Ayah mengakhiri perang saudara di ruangan ini. Ruang keluarga yang menjadi saksi pertempuran mereka.
__ADS_1
Riana bangkit, dengan tatapan gelap. Dia menghapus air matanya dengan kasar. Menatap nanar Ayah, Ibu dan Melisa bergantian. Tatapannya begitu mengerikan, seperti film Suzzana hanya kurang lingkaran hitam di matanya.
"Kalian menumpukan kesalahan kepadaku? Benarkah ini semua salahku? Ayah, apa ini hanya salahku? Ibu, kita tim yang kompak bukan?," Riana tertawa lirih kemudian semakin keras dan menggema, seperti orang yang kurang waras. Riana menghadap Ayahnya, menatap wajah tua laki-laki yang menuntunnya berjalan.
"Dengarkan, aku baik-baik kalian semua. Aku selalu menyukai uang, dengan uang aku bisa mendapatkan apapun, bahkan perhatian dari semua orang. Aku tidak sudi berbagi dengan wanita miskin itu bahkan dengan anakmu, Kak. Mereka orang lain bagiku, sejak dulu. Dan Ayah, tahukah kau? Aku selalu membenci menantu yang Ayah banggakan itu. Dia yang pandai segalanya, tidak mengeluh, sederhana, dan masih banyak lagi pujian untuknya. Ayah tahu, aku sakit, aku benci ketika Ayah membanding-bandingkan aku dengan wanita kampung itu. Yah, aku tidak tahu bagaimana hidup, yang ku tahu uang adalah kehidupan dan kebahagiaan. Apa Ayah pernah memberitahu ku apa itu hidup atau bagaimana hidup itu? Apa Ayah memberi tahu ku, bagaimana berbagi? Tidak kan, Yah? Apa Ayah segera datang padaku saat aku butuh Ayah? Tidak, uanglah yang Ayah berikan padaku. Seolah semua selesai dengan uang. Ayah terus saja sibuk bekerja, memperluas usaha Ayah, tanpa peduli padaku," Riana menelan salivanya, membasahi kerongkongannya yang terasa kering.
Riana berbalik menghadap Ibu.
"Dan Ibu, kau yang mengajariku merengek pada Ayah dan Kakak, jika aku tidak mendapat apa yang aku inginkan. Kau yang mengajariku mendulang uang lebih dari Ayah. Kau yang mengajariku merekayasa sebuah kejahatan. Darimu, aku bisa seperti sekarang. Dan sekarang, Ibu menimpakan semua padaku? Ini tidak adil, Bu?," Riana menatap Ibunya dari dekat. Ibu tua yang sudah renta itu, sesenggukan. Seolah matanya perlahan di buka. Melihat betapa buruknya keluarga ini sekarang.
"Kak, kau juga bodoh, jika kau mencintai Kira, kau tidak perlu tergoda oleh Melisa. Melisa juga memperdayaimu, Kak. Kau hanya tidak sadar, dia adalah ular yang akan memakan kulitnya sendiri."
"Aku juga korban kalian berdua, Ri. Aku tidak tahu jika kalian memanfaatkan ku. Dan beruntung aku masih punya nurani, dan sadar jika kalian adalah orang yang licik," Teriak Melisa yang sejak tadi membisu. Menyaksikan semua peperangan dari sudut ruangan.
Riana menatap nanar Melisa, namun, Melisa tidak takut. Malah, dia sekarang membalas tatapan Riana lebih galak.
"Korban apa yang menikmati peran? Umpan mana yang bahagia ketika ikan akan memangsanya? Kau menikmati hidupmu selama ini, Mel. Kau jangan munafik, kau senang menjadi Nyonya di sini. Kau juga memakai uang itu, kau bahkan lebih licik dari kami!," Sergah Riana.
"Aku memang tidak memberikan semuanya, karena tahu kalian tidak akan memberikannya kepada Kira dan anak-anak Mas Rian," Jawab Melisa, dia berteriak hingga otot di lehernya menyembul keluar.
"Bohong, kenapa setelah sekian lama kau tidak kunjung memberikan padanya? Bukankah kau juga sudah bertemu Kira?."
"Aku tidak bohong, aku hanya menunggu fakta ini terungkap oleh kalian sendiri," Kilah Melisa.
"Dan ini semua bagian rencana mu kan, Mel? Kau sengaja membuatku mengakui semua di hadapan kedua orang tuaku dan kakakku kan? Kau tahu, kau wanita yang paling licik, Mel," Ucap Riana sinis.
"Riana, berhentilah menyalahkan orang lain, akui saja, Ri. Kami akan memaafkan kamu," Melisa ikut bersimpuh dengan suaminya. Memeluk suaminya yang masih terlarut dalam tangis. Membantu suaminya mengurangi kesedihan.
"Dasar wanita ular." Desis Riana.
Ruang keluarga, berubah menjadi medan pertempuran. Benih-benih pertikaian sudah di tebar sejak keluarga ini ada, di siram, di pupuk dan tumbuh menjadi pohon yang rimbun, dan akhirnya berbuah.
__ADS_1