
Harris gelisah di kursinya, dia tidak menyangka meetingnya kali ini akan memakan waktu selama ini. Dia berulang kali melihat ponselnya, sejak beberapa saat lalu, Johan tidak membalas pesannya. Mungkin mereka sudah di jalan, pikirnya.
Gelagat Harris yang mulai tak tenang membuat rekan bisnisnya keheranan dan takut. Si rekan berpikir materi presentasinya, tidak sesuai dengan keinginan sang calon investor.
Harris mendesah, seraya bangkit dari tempat duduknya. Mengisyaratkan untuk menghentikan presentasi dengan gerakan tangannya. Kemudian dia berbisik pada salah satu stafnya yang mengikuti rapat. Si staf mengangguk mengerti, kemudian meminta si rekan bisnis melanjutkan presentasinya lagi. Harris melenggang meninggalkan meeting itu, dengan tergesa, tanpa mengucap sepatah katapun.
Si rekan bisnis, sudah kehilangan pengharapan. Dia menatap kepergian Harris dengan pandangan hampa.
Harris bergegas mandi dan memakai setelan yang dia persiapkan sebelumnya. Meski hanya undangan makan malam biasa tetapi, Tuan Darmawan adalah orang yang membawa Papanya menjadi seperti sekarang. Orang tua, guru juga mentor Wisnu Dirgantara. Tidak etis jika sampai datang terlambat, atau membuat mereka menunggu lama.
Sementara di perjalanan, Johan mengatur agar rearview mirror di depannya, bisa menjangkau Kira dengan leluasa. Meski berulang kali harus menghela napas, karena merasa sesak. Atau sesekali, menepuk dadanya. Sakit. Sekali lagi, kata-kata hanya mudah di ucapkan, tetapi sulit di lakukan. Ingin melupakan dan melepaskan tetapi, dia ada di depanmu setiap hari. Sangat sulit bukan.
"Jo, kenapa berhenti di sini?" Kira celingukan saat Johan menghentikan mobilnya di depan kantor.
"Kata suamimu, kita di suruh menunggu di sini," Johan mengambil ponselnya untuk menghubungi Harris.
"Kami sudah di depan, Tuan." Johan melapor melalui sambungan telepon.
"Aku masih menyelesaikan meeting, tunggu sebentar," Jawab Harris di seberang sambungan telepon
"Baik, Tuan," Jawab Johan yang kemudian mematikan teleponnya.
"Bagaimana?" Kira mencondongkan badannya ke depan, dia sangat penasaran dengan apa yang di katakan Harris pada Johan.
"Tunggu sebentar katanya," Johan meletakkan kembali ponselnya.
"Memangnya siapa yang mengundang makan malam, Jo?"
"Dia salah satu rekan kerja Tuan Dirga, sudah seperti kakak bagi Tuan Dirga," Johan sedikit memutar kepalanya. Setidaknya dia punya alasan untuk melihat wajah itu secara langsung.
"Oh," Kira menaikkan alis dengan bibir membulat, kemudian dia beringsut mundur lagi. Duduk tegak di tempatnya.
Sebentar versi Harris itu seperti nunggu biji jadi pohon alias lama banget. Kira sudah mulai tak sabar duduk diam di dalam mobil. Berulang kali dia menekan kontak suaminya, tetapi tidak mendapat jawaban.
"Jo, aku susulin aja ya, di telpon juga ngga di angkat sama dia," Kira mulai menggerutu, kesal, lelah, sedikit mengantuk dan lapar.
"Kalau di suruh tunggu ya tunggu, kau sudah lupa?"
"Tapi, Jo. Mau sampai kapan? Sampai lumutan?"
"Paling sebentar lagi, sabar saja," Johan masih asyik memainkan game di ponselnya.
Kira mendengus sebal, tanpa pikir dua kali, dia membuka pintu mobil dan keluar menuju lobi. Dengan langkah lebar dan wajah masam, dia menuju lift, tetapi masih membalas sapaan dari beberapa karyawan Harris.
"Sudah merindukanku, Sayang?" Kira terkejut setengah mati ketika pintu lift terbuka dan menampakkan sosok gagah suaminya.
Kira menelan ludah, sosok yang memakai setelan yang senada dengannya itu, tengah berdiri dengan senyum tersungging di bibir kissable miliknya, sangat mempesona. Ingin rasanya Kira terjun ke sana, memeluknya erat, tetapi, pikiran warasnya, masih berjalan dengan normal. Ini kantor, masih banyak orang di sini.
"Harusnya aku yang terpesona karena penampilanmu, bukan kamu yang ileran melihatku!" Harris maju beberapa langkah mendekati istrinya, dan mencubit hidung pas-pasan milik Kira.
"Auh, sakit, Yang," Kira mengusap hidungnya yang sedikit memerah.
"Siapa yang mendandanimu seperti ini?" Harris memindai penampilan Kira yang tidak seperti biasanya. Tangannya menyibak pelan rambut Kira yang sedikit keluar jalur dan menyatukannya lagi dengan yang lain.
"Mantan kekasihmu," Jawab Kira dengan penekanan di setiap suku katanya.
__ADS_1
Harris berdecih, "Tidak mungkin dia mau menyentuhmu."
"Ini buktinya," Kira memiringkan kepalanya, menatap manja kepada suaminya. Yang langsung di balas dengan senyuman oleh Harris.
"Kau sangat cantik, Mami pasti sangat menyukaimu," Harris menarik dagu Kira lebih dekat padanya. "Aku tidak tahan untuk menciummu."
"Dasar otak kotor," Kira mencibir suaminya, menepuk pelan dada datar milik suaminya.
"Dan, otak kecilmu menyukai otak kotor milikku," Kira tidak menjawab, dia hanya menahan senyum, mungkin iya, Kira menyukai semua yang ada pada diri Harris, termasuk otaknya yang di penuhi pikiran kotor. Harris melangkah melewati lobi yang masih ramai dengan lalu lalang para karyawan, dengan tangan mengait ketat di pinggang Kira. Tidak peduli, dengan tatapan dari karyawannya, mungkin mereka berpikir bosnya terkena virus bucin akut yang lagi tren sekarang.
Harris memang pria yang tak pernah ingkar pada kata-katanya dan Kira harus berhati-hati akannya.
"Jalan, Jo," Perintah Harris pada Johan yang langsung melajukan mobilnya.
Tanpa aba-aba, Harris menerkam bibir menggoda dengan balutan lipstik merah menyala di sampingnya. Mengabaikan protes dari kepalan jemari yang menggedor dadanya. Menyesap, menggigit, menyapu habis bibir merona itu. Memaksa Johan menggeser kaca spion di depannya agar tak melihat pemandangan menyesakkan itu. Mereka menyudahi momen panas itu, saat Johan menghentikan mobil di sebuah lampu merah.
"Kau gila, Yang. Johan melihatnya tadi," Kira berbisik di telinga suaminya, namun Johan sepertinya mendengarnya.
"Tidak apa Nyonya, aku sudah sering melihatnya, bahkan lebih parah," Ujar Johan tanpa mengalihkan perhatiannya pada jalanan.
"Diam, Jo, atau aku akan melemparmu keluar," Harris mendelik, takut jika Johan membuka aibnya di sini.
"Ceritakan Jo," Kira penasaran dengan ucapan Johan.
"Kalau kau berani mengucapkan satu kata saja, hidupmu berakhir, Jo," Seru Harris, menggelegar memenuhi ruangan di dalam mobil.
Kira merengut saat Johan mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Johan lebih sayang nyawanya, ternyata. Seakan tak sabar untuk cepat sampai di kediaman Tuan Darmawan, dan juga menghindari tatapan membunuh dari Bos nya, Johan melaju lebih kencang dari sebelumnya. Sehingga tidak sampai 20 menit mereka tiba di sebuah mansion yang sangat besar dan mewah.
Kira membuka tas tangan miliknya untuk mengambil tisu dan merapikan lipstik yang berantakan akibat ulah suaminya itu, saat mobil Johan berhenti di depan gerbang yang di buka oleh penjaga rumah.
Harris tertawa lirih, " Sejak kapan kau membawa benda seperti itu dalam tasmu?"
"Sejak tadi, Viona yang memberikan itu padaku," Jawab Kira sewot.
Tawa Harris semakin lebar, " Kenapa marah begitu? Kau marah karena aku melarangmu memakai lipstik atau kau marah karena Viona?"
"Dua-duanya," Kira melirik tajam ke arah suaminya yang masih belum menghentikan seringai menyebalkan itu.
***
Seperti tak sabar menantikan tamunya, seorang wanita berusia 60 an tahun berdiri di depan pintu utama. Di temani seorang maid, beliau terlihat cemas sebab tamunya tak kunjung datang.
Hingga mobil Harris berhenti tak jauh dari tempat wanita itu berdiri, beliau dengan tergesa menyambut Harris.
"Sayangnya, Mami. Mami kangen banget sama kamu, Sayang," Ucap wanita yang bergelar Nyonya Darmawan itu menyambut Harris dengan heboh, memeluk, mencium pipi Harris dan menepuknya pelan.
"Mami apa kabar? Mami sehat kan?" Harris tersenyum lebar pada wanita berwajah oriental itu.
"Seperti yang kamu lihat, Sayang. Mami sangat sehat terlebih melihatmu sudah menikah. Mami sangat senang," Mami mencubit-cubit pipi Harris, seakan Harris putranya sendiri.
"Oh ya, Mi. Kenalkan ini istriku, Akira namanya," Harris seakan terlupa pada istrinya yang sejak tadi hanya melongo melihat keakraban keduanya. Harris menarik tangan Kira untuk mendekat kepada Nyonya Darmawan.
"Selamat malam, Nyonya, saya Akira, istrinya Mas Harris," Kira maju untuk menyalami Nyonya Darmawan.
"No, no, no," Nyonya Darmawan mendadak tegas, mengabaikan uluran tangan Kira. Tentu saja hal ini membuat Harris terkejut, pun dengan Kira.
__ADS_1
" Just Mami, Oke." Nyonya Darmawan belum menurunkan ketegasan di wajahnya, "Panggil saya, Mami, seperti dia, mengerti."
Nyonya Darmawan tersenyum sembari menarik Kira dalam pelukannya. Pelukan yang menenangkan sama dengan pelukan Ibunya.
"Kamu cantik sekali, Sayang. Kamu pandai sekali memadu padankan penampilanmu, kau pasti punya stylist sendiri, ya kan?," Nyonya Darmawan memiringkan badan Kira ke kanan dan ke kiri, bahkan memutarnya.
"Tidak, Mami. Ini Mas Harris yang memilihnya, dan teman saya yang merias saya hingga menjadi seperti ini."
"Mau sampai kapan, Mami akan berada di sini?" Suara berat seorang pria membuat mereka semua menoleh nyaris bersamaan ke sumber suara.
"Papi," Seru Harris seraya menghampiri Tuan Darmawan. Mereka berpelukan seperti ayah dan anak yang lama tidak bertemu.
"Bagaimana kondisi Papi?" Harris melepas pelukannya, memperhatikan Tuan Darmawan dengan seksama.
"Papi lebih baik, setelah perawatan Papi yang terakhir," Jawab Tuan Darmawan mengalihkan perhatiannya pada wanita di kiri belakang Harris.
"Pi, kenalkan, ini Kira istriku," Seakan tahu siapa yang di perhatikan oleh Tuan Darmawan, Harris memperkenalkan Kira padanya.
Kira melangkah ke sisi Harris, mengulurkan tangannya dan langsung di sambut oleh Tuan Darmawan, "Dirga memang tidak salah memilih istri untukmu, Ris."
Harris tersenyum lebar menanggapi pujian pria yang di anggapnya seperti Ayahnya sendiri. "Untung saja, aku tidak melarikan diri saat di paksa Papa untuk menikahinya, Pi."
"Ya, beruntung memang, kau tidak melaksanakan niatmu itu, jika kau beneran kabur, kau pasti menyesalinya seumur hidup," Tuan Darmawan menepuk pundak Harris.
"Mau sampai kapan kita berdiri di sini, Pi?" Nyonya Darmawan seakan membalas suaminya yang tadi menegurnya saat tidak segera membawa masuk tamunya.
Tuan Darmawan tertawa, "Maaf, maaf, ayo, ayo masuklah, kita lanjutkan obrolan kita di dalam,"
"Ayo masuk, Nak. Kalian pasti sudah lapar," Nyonya Darmawan menuntun Kira ke dalam rumah, oh bukan, mansion yang bahkan lebih besar dari rumah Papa mertuanya.
Meja makan yang sama besarnya dengan milik Tuan Dirga itu, berisi aneka hidangan. Beberapa maid sudah berdiri di sisi kanan meja makan.
"Ayo duduklah," Tuan Darmawan mempersilakan Harris dan Kira untuk duduk.
Para maid itu segera melayani majikan dan tamunya, membuat Kira membisu di kursinya. Kedua matanya sibuk memperhatikan menu yang di sajikan para maid itu. Tidak ada nasi, batin Kira menangis. Harris melirik istrinya yang sedikit kecewa karena makanan pokoknya tidak ada. Sehingga membuat Harris menahan senyum.
"Orang kaya mah selalu gini, banyakan sendok sama piring ketimbang makanannya," Batin Kira.
"Ayo silakan di nikmati, kami tidak tahu apa kesukaan istrimu, tapi Mami rasa steak masih bisa di terima lah, ya," Nyonya Darmawan memandang Harris dan Kira bergantian, senyum ramah selalu terukir di bibirnya.
Kira mengangguk dan membalas senyuman Nyonya Darmawan tak kalah manis. Meski hatinya menangis, tanpa nasi rasanya kurang nampol.
Mereka mulai menyantap makan malam yang bagi Kira seperti makan di hotel mewah. Dia tau sedikitlah apa saja yang harus di lakukan, meski sesekali dia melirik Harris yang seolah memberi contoh cara makan atau sendok apa yang harus di pakai. Harris tidak berpikir sampai sejauh ini tadi di jalan, mereka berdua terlalu sibuk.
โข
โข
โข
โข
Maafkan diriku yang baru up ya๐๐, semoga masih mau melanjutkan baca ceritaku....๐๐๐๐
Selamat pagi, selamat beraktifitas semuanya๐๐
__ADS_1
Salam manis dari Author๐ฉโ๐ฆฐ