
Hari yang dinanti oleh Rio dan Nina pun tiba. Setelah berminggu lamanya mereka berkutat dengan segala ***** bengek persiapan penikahan.
Sejak pagi, Nina sudah di rias oleh perias yang cukup terkenal. Ada yang berbeda dengan pernikahan kali ini, bukan hanya Rio dan Nina tapi juga Johan dan Viona.
Johan sengaja menyembunyikan fakta bahwa Martin sudah berhasil di tangkap. Dia takut Viona akan berubah pikiran. Dan Viona, wanita itu semakin pintar saja dari hari ke hari. Dewasa dan mandiri. Hanya satu yang mungkin tidak bisa Viona lakukan, membuat kopi seperti buatan Ibu dan Nyonya Bos. Johan harus menelan kenyataan itu, sepertinya seumur hidup dia tak akan bisa lepas dari kopi buatan mereka.
Lagi-lagi, hotel milik Hendra adalah pilihan mereka untuk menggelar acara pernikahan mereka. Mulai akad hingga resepsi. Tetapi Johan hanya akan melakukan akad saja tanpa resepsi. Bagi Johan, biar seluruh perhatian tertuju pada Rio dan Nina. Mereka benar-benar baru menapaki jalan bersama, berbeda dengan Johan dan Viona yang sudah menikah untuk kedua kalinya.
"Lo ngga punya hari lain atau lo ngga punya modal buat kawin?" Celetuk Rio dari arah belakang Johan, dia sebal sebab Johan tampak tak peduli dengan kekesalan Rio.
Johan sedang membenarkan jas hitam nya dengan dasi kupu-kupu mengait di lehernya, tampak acuh, "Gue juga ikut bayar kali, Bro! Kalau untuk hari, gue percaya sama Ayahnya Nina! Kalau lo mau protes, sana," Johan berbalik menatap Rio di belakangnya, mengibaskan tangan seakan mengusir Rio.
"Protes sana sama mertua lo! Gue sih ogah, daripada dicabut restunya! Batal kawin gue! Ngga jadi mancing tar malem!" sindirnya pada Rio.
Rio berjalan ke arah Johan sambil melayangkan sepatunya di betis Johan yang berbalut celana hitam. "Sialan lo! Awas saja kalau lo mengacau, gue tendang aset lo, ngga punya anak tau rasa!"
Johan mengangkat kakinya, ujung sepatu hitam Rio menumbuk betisnya terlalu kuat, membuatnya meringis. "Lo yang mengacau, gue mah udah pernah! Setidaknya gue punya pengalaman!"
"Hei, pria-pria macho, yey jan tengkar dech ah! Pengar idung eike denger ocehan kelean!" Lerai seorang pria melambai sambil menutup telinganya.
Johan dan Rio saling pandang, "Lo sewa dia, Jo?"
"Enak aja!" Johan mendengus sebal. "Lo kali!"
"Hei, sutra dech ah, sindang nurut sama akika!" Pria itu melambaikan jemarinya yang lentik dengan kuku panjangnya.
Johan dan Rio saling dorong, hingga si jemari melambai, meraih tubuh Johan. "Ya ampyun, kesel deh sama dunia, laki kece pada kewong sama wanita tulen. Apose lah, eike, wanita jadi-jadian!"
Jemari kemayu itu menekan-nekan wajah Johan dengan puff, diikuti tatapan menggoda. Sehingga membuat Johan risih dan ingin menyudahi saja hal acara make up yang tak penting baginya.
"Saya ngga suka pake itu, Mbak!" Seru Johan saat tangan lentik mengambil liptint.
"Ih, ge er, ini buat akika!" Si melambai menjauhkan liptintnya sambil merepet seakan takut Johan merebutnya. Dia mengaplikasikan liptint berwarna merah terang ke atas bibirnya yang masih penuh dengan pewarna sebelumnya.
Johan segera bangkit, dia takut jika sampai makhluk jadi-jadian itu menyentuhnya lagi. Pun dengan Rio, dia juga berlari menuju pintu sebelum si melambai menyadari tawanannya kabur.
"Gila, masa yang nyamperin makhluk begituan!" Gerutu Johan sambil menyusul Rio yang sudah sampai di depan lift.
Rio tak terlalu mendengarkan ucapan Johan. Dia terlalu gugup dan tegang membayangkan prosesi akad nikah nanti.
"Tegang banget muka lo? Mau eksekusi mati apa mau kawin?" Celetuk Johan yang sudah sampai di sisi Rio, bersamaan dengan pintu lift yang terbuka. Keduanya memasuki lift, namun ketegangan di wajah Rio tidak pernah meninggalkannya.
"Diem lo!" Sembur Rio, wajahnya yang kaku semakin mengeras saat dia gugup. "Lo dulu akad gimana?"
__ADS_1
"Gue ngga terlalu ingat! Tegang sih, tapi pas inget wajah istriku malah jadi ngga sabar buat ngucapin ijab!" Johan mengerut mencoba mengingat masa itu, masa indah saat bersama istrinya yang kini sudah tenang di surga.
Rio terdiam, dia membayangkan Nina. Membayangkan saat gadis itu berurai air mata saat dia menolaknya, saat Nina dekat dengan Johan, saat Nina akrab dengan Raka. Ancaman yang mendorongnya untuk segera menghalalkan wanita yang membuatnya gila karena rindu.
Ballroom hotel bernuansa putih gading lengkap dengan dekorasi senada membuat ruangan ini terasa hangat. Tampak oleh mereka keluarga besar Dirgantara sudah memenuhi ruangan dengan banyaknya bocah yang dibawa.
Kristal dengan dress peach yang begitu anggun, membuatnya semakin manis. Dia berlari ke arah Johan dengan mengulurkan tangannya.
"Anak Ayah cantik sekali!" Puji Johan sambil berjongkok menyambut putri sambungnya.
Kristal meneliti wajah calon Ayah sambungnya, lalu segera melingkarkan lengannya di leher Johan. Meletakkan dagunya di pundak Johan, "Terimakasih, sudah mau menjadi ayah untuk Kristal dan Nicky, Ayah Jo! Terimakasih juga sudah menerima Mama dengan segala kekurangannya. Kris tau, Mama memiliki masa lalu yang buruk, tapi Kris yakin, Mama akan menjadi istri yang baik untuk Ayah Jo!"
Johan menggigit bibirnya, menahan buliran bening di ufuk matanya. Ucapan tulus seorang anak yang terpaksa harus dewasa menyikapi hidupnya. Kasihan sekali kau, Kris, batin Johan sambil mengusap surai ikal yang dikepang serampangan.
Johan melerai pelukannya, di pegangnya bahu kecil yang rapuh itu. Manik mata keduanya terpaut dalam. "Ayah juga minta satu hal sama Kristal, bantu Ayah untuk selalu mencintai Mama, dengan segala kekurangan Ayah. Ayah dan Mama sama, kami sama-sama memiliki kekurangan. Kristal dan Nicky lah yang akan membuat kami menjadi sempurna!"
Binar dimata Kristal tak bisa di sembunyikan lagi. Gadis kecil itu kembali memeluk erat leher Johan. "Kristal sayang sama Ayah!"
Momen berkasih yang membuat Rio berdecak, "Ini acara gue, lo cuma numpang! Tapi kisah lo yang bakal mengundang decak kagum para tamu!"
Gumaman Rio terdengar jelas di telinga Johan, sehingga Johan mencebik di balik kepala Kristal.
"Ayah, Kristal ikut Jen dulu!" Kristal menjauhkan tubuhnya. Dan membuat Johan lega, selama beberapa saat kakinya terasa kebas akibat menahan tubuh Kristal dalam pelukannya.
"Sialan lo! Kenapa emangnya? Angkat joran ngga perlu pake kaki kan?" Seru Johan sambil berlalu untuk bergabung dengan yang lain.
Tak banyak yang diundang dalam acara ini, hanya keluarga dekat saja. Mereka ingin acara ini lebih terasa khidmat.
Nina dan Viona berada di kamar yang berbeda, namun mereka berjalan beriringan. Nina tak meredakan sorot mata yang tak bersahabat saat Viona dan Nina beradu pandang. Kebaya berwarna gold simpel serta rambut yang di sanggul sederhana membuat Viona tampak anggun dan dewasa. Sedangkan Nina menggunakan adat jawa dan kebaya putih bersih.
Keduanya digiring ke sisi mempelai pria, yang tampak terpana dengan pengantinnya. Sekalipun tersenyum, tak bisa menyembunyikan kegugupan di wajah mereka.
Secara bergantian Rio dan Johan mengucapkan lafal Ijab. Meski gugup, keduanya berhasil mengucapkan dalam sekali tarikan nafas.
Riuh rendah sambutan untuk kedua mempelai yang tengah berbahagia itu. Ritual pernikahan mereka lalui hingga lantunan doa tersiar untuk kelanggengan pernikahan mereka.
Ucapan selamat terus mengalir dari seluruh keluarga yang hadir. Mereka terlarut dalam suasana haru dan penuh kebahagiaan.
Diantara antrian yang tal terlalu panjang, Johan menatap Nyonya Bos nya yang tampak ceria. Johan mengerutkan bibir, memantapkan hati, bahwa dia harus bisa beralih perasaan darinya.
"Nyonya, sudah saatnya mengganti perasaanku kepadamu! Hanya sebatas sahabat ataupun saudara!" Batin Johan.
"Apa kau lelah?" Bisik Viona saat Johan membuang napas begitu keras.
__ADS_1
Johan agak gugup, "Ya sedikit!" Senyumnya terkembang saat manik mata keduanya saling beradu pandang.
"Kau cantik sekali!" Bisik Johan yang berhasil membuat Viona blushing.
Johan terkekeh saat Viona menatapnya tajam, seakan apa yang diucapkannya adalah bualan.
Deheman lembut dari wanita yang begitu akrab dengan keduanya, membuat mereka menoleh serempak.
"Duda tua ini sudah tidak sabar rupanya!" Sindir Kira yang memakai dress longgar berwarna hijau pastel, membuatnya semakin terlihat kalem.
"Selamat ya, Vi!" Kira menautkan pipinya dengan pipi Viona bergantian. "Samawa, langgeng selamanya."
"Aamiin, makasih ya, Ra! Sudah banyak membantuku selama ini!" Kira mengibaskan tangannya sebagai ganti "jangan dipikirkan".
"Uncle Jo, selamat melepas masa duda tuamu ya! Sekali lagi, sumpahku ngga mempan untukmu!" Kira menyalami Johan. Johan tampak menahan senyum, menahan rasa ingin mengakhiri perasaanya dengan sebuah pelukan. Namun, itu tidak akan terjadi sebab dua mata elang tengah menatap setiap pergerakan istrinya.
"Makasih, Nyonya! Sumpah anda adalah doa yang berlaku sebaliknya!" Alih-alih memeluk, Johan menjabat erat dengan kedua telapak tangannya.
Harris menyalami keduanya, tanpa mengucap sepatah katapun baik kepada Viona maupun Johan. "Anda kejam sekali, Tuan! Saya menikah lho! Bukan lagi main drama! Upcapin apa kek? Diem aja kek lagi tumbuh bisul di pipi!"
Harris menaikkan sebelah bibir atasnya. "Selamat atas pernikahanmu!" Ucap Harris dingin.
Johan mencebik, "Ya walau tidak ikhlas, kurasa itu lebih baik daripada tidak sama sekali!"
Jawaban Johan memancing gelegar tawa, dan itu membuat Harris mengepalkan tinju di sisi tubuhnya. "Besok kerja seperti biasa," desis Harris sambil melenggang menuju Rio dan Nina.
Johan memandang hampa atasannya itu, "Anda benar-benar kejam, Tuan!"
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.