
Agiel dan Azziel telah selelsai berganti baju dengan bantuan Rina. Jen yang juga sudah selesai berganti baju itu tampak memakai lipglos di depan cermin. Sambil terus bertanya apa guna ini dan itu. Atau bagaimana cara memakainya. Astaga, bibir Kira terasa kebas menjawab pertanyaan Jen.
Jangan tanya Excel dimana, remaja itu lebih suka menyendiri. Namun, tetap siaga bila di butuhkan. Juga pasrah saja dengan apa yang di inginkan Mamanya.
Diatas kasur, Jeje tengah bermain dengan Azziel. Bukan bermain, lebih tepatnya menggoda Azziel. Hingga membuat Azziel histeris dan kesal. Tak jarang Azziel memukul Jeje, yang malah tergelak. Mungkin baginya itu lucu.
"Ayolah Je, Mama bisa darah tinggi nanti!"
Bukannya berhenti, namun Jeje malah semakin gencar menggoda Azziel dengan menyembunyikan gerbong kereta mainan Azziel.
"Sayang, Mama mohon hentikan!" Suara rendah Kira berhasil membuat Jeje menghentikan aksinya. Tangan dan mata Kira tak beralih dari kepala Ranu. Rambut cokelat gadis itu dikepang dua. Menyisakan poni di dahinya.
"Iya Ma! Maaf!" Jeje segera mengembalikan mainan Azziel. Jeje tahu, ketika Mamanya tak lagi mengeluarkan suara penuh tenaga, artinya, Mamanya sudah tak punya cara lain untuk membuatnya mengerti.
Perhatian Jeje kini sepenuhnya tercurah pada Mamanya. Kedua sudut bibir remaja itu perlahan berangsur naik, sejauh yang dia ingat, Mamanya selalu mengukir senyuman sekalipun suasana hatinya buruk. Pada anak-anaknya, tak pernah menunjukkan kesedihan.
"Aku ingin kekasihku nanti memiliki hati seperti Mama!" Gema bisikan batin Jeje bagai sebuah janji.
Jeje menaikkan alisnya. Menertawakan janji konyol yang entah mengapa malah membuatnya merasa bodoh.
"Oke, siap!" Tarikan terakhir pada karet pengikat kepangan Ranu terpasang sempurna. Manik berupa mutiara tersemat di ujung ekor kepangan.
Setelah me-review ulang penampilan anak-anaknya, Kira juga menata ulang penampilan dirinya sendiri.
Tangan kekar mengusap pinggang hingga ke perut, membuat Kira membelalak. Apalagi dagu lancip itu menancap di bahunya.
"Kau lebih cantik daripada saat kau berusia duapuluhan, Yang!"
Kira menoleh, ujung bibirnya bertemu pipi dingin milik suaminya. "Abang pernah lihat saat aku berusia 20 tahun?"
"Tidak pernah!" Harris membalas kecupan istrinya, sebelum menggiringnya duduk di bibir ranjang. Menyodorkan segelas jus jeruk dingin sekedar meredakan dahaga.
"Minumlah, Abang yang buat tadi!"
"Maksudnya yang nuangin ke gelas?" Kira melirik suaminya yang tersenyum tertahan.
Harris mendorong tangan Kira agar segera mendekatkan gelas dengan bibirnya. Memperhatikan wajah segar yang masih menghadapnya.
"Makasih, Cintaku!" Gelas kosong itu bergoyang di depan hidung Harris. Membuktikan bahwa dia tak akan pernah mengecewakan apapun usaha Harris untuknya.
"Good mommy!" Diraihnya gelas itu, lalu mengajak Kira bangkit, bagaimanapun acara dibawah tak akan dimulai tanpa kehadiran mereka.
__ADS_1
Mengait lengan yang sudah disiapkan untuknya, Kira berjalan seirama dengan suaminya. Mata dengan eyeliner lancip di ujung dan bulu mata terkesan basah dan pendek berkibar saat menghadapnya. Menambah kesan sendu yang memanggil.
Harris mendesis pelan, menahan godaan setan cantik di sampingnya. "Stok pil masih aman kan?"
Membuat Kira mengerucutkan bibirnya. "Aman! Tapi malam ini aku minta break! Tulangku serasa rontok semua, Bang!"
Harris mengedikkan bahu. Tergantung situasi.
***
Sekali lagi, rumah dan halaman di buat bak playground. Bocah-bocah kecil berlarian mengintari berbagai mainan yang disediakan oleh pemilik hajat. Dino dan robot autobots, juga turut meramaikan acara siang menjelang sore kali ini.
Bayi kembar tak identik yang menjelma menjadi balita tampan itu berlarian tanpa kenal lelah. Tertawa, membaur dengan teman sebayanya.
Berlompatan di istana balon yang memenuhi halaman belakang. Teras belakang disulap sedemikian rupa dengan balon dan hiasan warna warni.
Kedatangan Harris di sambut dengan meriah. Tentunya dari mama muda yang sepertinya sengaja berdandan habis-habisan. Mengerahkan segenap tenaga dalam untuk mengeluarkan aura kecantikan yang memikat seorang Harris.
Namun, mereka menahan senyum penuh ejekan saat Kira terlihat tampil apa adanya. Tanpa gaun mewah atau sepatu bertahtakan berlian, seperti dalam bayangan mereka. Bagaimanapun, mereka adalah istri milyuner dan tetangga yang tinggal di kompleks perumahan mewah. Tentunya kemewahan melekat pada diri mereka.
"Katanya gaunnya dari butik Rose, mana buktinya? Malah pakai kaos murahan!"
"Suaminya cocoknya sama aku, bukan sama wanita macam dia!"
"Ya ampun, dia tau fashion ngga sih?"
"Cantikan gue kemana-mana, Say! Harris kelilipan kali ya, pas milih dia!"
Dan masih banyak lagi bisik-bisik menusuk telinga. Namun, Kira tak menanggapinya. Hal itu sudah biasa baginya.
Hanya beberapa saja yang menyambut Kira dengan hangat. Mereka yang satu aliran dengan Kira. Sederhana dan membumi. Desi dan Ivy salah satunya.
"Mama muda satu ini, emang selalu kece!" Kira menghampiri Desi, yang anaknya sebaya dengan Ranu.
"Apa kabar, Ra? Kangen banget sama kamu," Desi menautkan pipinya dengan pipi Kira. "Kurusan Buk?" Desi meneliti penampilan Kira yang benar-benar segar dan ramping.
"Entahlah, aku ngga pernah niat diet sih! Kurus dengan sendirinya!" Jawab Kira acuh.
"Laki lo, dikerubuti rayap betina tuh!" Desi menunjuk Harris dengan dagunya. Namun Kira tak menoleh sama sekali.
"Sudah biasa kali, Des!" Kira mendorong Desi untuk duduk di sebuah kursi.
__ADS_1
Di ujung teras, Harris berdehem keras. Risih. Menghindari berhentinya jatah harian. Harris segera memasang dinding es tinggi. Memaksa mama muda yang sepertinya sengaja datang sendiri ke sini, menjauhkan tangan mereka. Memberi jalan pada pria yang menurut mereka sempurna. Tentu saja, Harris segera menghampiri Kira yang sedang menyambut kedatangan Ivy dan kedua anaknya.
Pembawa acara memulai seremoni perayaan ulang tahun sore ini. Bisa dibilang acara ini gagal total. Dua bocah kembar itu, sama sekali tidak mau di ajak untuk tiup lilin, potong kue, bahkan sekedar berfoto.
Menjerit keras dan menangis saat Harris mengapit kedua anaknya ke depan kue ulang tahunnya.
"Sudahlah Bang, jangan dipaksa!" Kira melepaskan kedua anaknya dari dekapan Harris.
Harris mendesah, "Harusnya aku mendengarkan mu!"
"Kurang lebih kau dulu ya seperti kedua anakmu itu, Ris!" ucapan Papanya membuat Harris dan Kira menoleh, membawa senyum kecut.
"Sekarang aku percaya mereka putra seorang Harris!" celetuk Ivy dari arah belakang. Melihat ekspresi lelah seorang Harris membuat Ivy terkekeh.
Harris tak menyahuti semua ucapan itu. Dia memilih memijat keningnya, seakan kepalanya mau meledak.
Kira mengusap dada suaminya. "Sabar, Sayang! Namanya juga anak-anak!"
.
.
.
.
.
.
.
Mama Kira lagi lelah ya man teman, makanya merengutðŸ¤
Authornya lagi sakit kepala ya man teman, makanya slow update🤣🤣
credit photo by google
@Jiang Shuying
__ADS_1