
Aku harus berterimakasih kepada Harris karena telah meminjamiku motornya. Hari Minggu semua orang tumpah ke jalan. Seolah tidak ada hari esok untuk bepergian. Sehingga menyebabkan macet dimana-mana. Dengan memakai motor milik Harris, aku bisa sampai di kafe tepat waktu. Aku tidak menyangka, Harris yang garasinya di penuhi mobil mewah, terselip sebuah motor matic yang feminim. Bayangkan, Harris mengendarai motor dengan warna Magenta Pink. Ditambah tubuhnya yang tinggi, dia pasti kesulitan melipat kakinya. Aku tersenyum sendiri membayangkan adegan itu.
"Selamat siang, Nona” Suara seseorang yang sangat familiar di telingaku, berdiri di hadapanku. Seakan pisau menggores lukaku lagi, ketika melihat wajahnya.
“Siang, ada yang bisa ku bantu, Tuan?” Aku bersikap seolah belum saling mengenal sebelumnya.
“Ada” Dia tersenyum jahil. “ Maukah duduk sebentar bersamaku?”
“Maaf, Tuan. Saya sedang bekerja, sepertinya anda mengerti akan hal itu” Aku masih menatapnya dengan perasaan yang tak bisa di jelaskan. Aku masih belum memutuskan apa yang kurasakan saat melihatnya.
“Sebentar saja, Ra. Ini menyangkut anak-anak” Aku menatapnya penuh kemarahan. Aku harus tetap waspada. Aku tidak mau dia mengambil salah satu dari mereka.
“Aku yang berhak atas mereka, Mas. Jangan ganggu kami lagi, kami sudah bahagia tanpa kamu” Aku menahan air mataku yang kurasa mulai menggenang di pelupuk mataku. Aku takut kehilangan mereka.
“Kita bicara di luar” Dia menoleh kanan kiri takut ada yang mendengar ucapanku. Aku tak punya pilihan selain mengikuti kemauannya. Aku tidak mau terus di ikuti bayangan masa laluku.
Mas Rian mengajakku ke sebuah taman kecil tak jauh dari kafe Ivy. Karena hari sudah siang, dan langit mulai mendung, sebagian orang tampaknya memilih untuk segara kembali ke rumah masing-masing.
Kami duduk di masing-masing ujung bangku taman. Aku berharap Mas Rian yang berbicara terlebih dahulu, tetapi hingga beberapa saat, dia hanya diam memandang sekeliling taman. Seakan rangkaian kata yang akan di diucapkannya, tersembunyi di setiap sudut taman.
“Apa yang ingin kau katakan, Mas?” Aku tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi. Aku sama sekali tidak ingin bersikap ramah padanya.
“Kamu semakin cantik saja, Ra” Dia tersenyum penuh arti. Namun, aku tak menanggapinya.
“Ra, aku minta maaf atas sikapku, atas kesalahanku, aku tidak menemui kalian selama setahun ini. Kamu tahu kan, aku di pindahkan keluar kota?” Dia berusaha menggapai tanganku, tapi aku menolaknya dengan kasar. Ora sudi.
__ADS_1
“Aku tahu, aku salah, tapi aku tidak ingin melukaimu lebih dalam lagi. Aku dengan sadar mengakui, aku memang selingkuh darimu, sejak Melisa masuk ke rumah kita. Tapi Ra, itu juga bukan kesalahanku sepenuhnya” Mendidih rasanya darahku. Jadi, aku ikut andil dalam kegilaan mereka.
“Apa Mas? Kau menyalahkan aku juga?” Aku masih mencoba menahan amarah.
“Ra, aku selingkuh darimu karena kamu terlalu sibuk dengan anak-anak, kamu tidak ada waktu untukku. Aku juga butuh perhatian dari Istriku” Benarkah semua itu? Aku juga salah karena merawat anak-anakku? Darah dagingnya?
“Aku mendapatkan semua yang tidak bisa kamu berikan, dari Melisa. Aku mencintai dia sama seperti aku mencintaimu. Tapi, aku juga tidak ingin kamu terluka, makanya aku menyembunyikan ini darimu. Sampai waktu yang tepat untuk mengatakan sejujurnya padamu”
“Ra, andai saja kamu tidak gegabah meminta cerai dariku, sampai kapanpun aku tidak akan melepaskanmu. Aku sangat mencintaimu bahkan sampai sekarang. Ra, aku ingin kita kembali lagi, aku sakit melihatmu bekerja seperti ini untuk bertahan hidup” Aku masih membisu, membiarkan dia mengatakan semuanya. Aku ingin semua jelas, sejelas-jelasnya.
“Ra, kamu jangan egois, turunkan harga dirimu, gunakan uang dariku untuk hidup kalian. Kau tidak akan terlihat buruk jika memakainya, Ra. Kau tidak akan terlihat lemah karena bergantung pada nafkah dariku. Aku rasa, uang itu cukup untuk memenuhi kebutuhan kalian” Mas Rian bangkit dan berdiri di depanku. Seakan menghakimiku, karena keegoisanku. Seolah dia yang paling benar di sini. Aku sungguh muak ketika melihat wajahnya.
“Uang? Nafkah? Uang mana yang kau maksud, Mas? Nafkah yang kau janjikan di depan hakim? Astaga Mas, aku ingin tertawa rasanya, sepeserpun aku belum pernah menerima uang dari mu. Aku menghidupi mereka dengan keringatku, dari usahaku sendiri" Benar, aku sungguh tertawa saat ini. Mantan suamiku ini ternyata terlalu percaya diri. Merasa dia hebat karena menafkahi kami, padahal tidak.
"Kami tidak butuh uang, Mas. Apa uang bisa menggantikan kehadiran seorang ayah? Apa cukup dengan uang, anak-anakmu bisa merasakan kasih sayangmu? Tidak, Mas ! Kau tahu bagaimana aku menangis setiap malam saat Jen memanggilmu dalam tidurnya? Kau tahu, betapa mereka merindukan Papanya? KAU TI-DAK TA-HU!” Kali ini aku berdiri di hadapannya. Menatapnya dengan semua kemarahan dan sakit hati. Telunjukku bahkan juga ikut menudingnya.
"Kau pasti sangat menikmatinya. Dia sangat lihai bermain di atas tubuhmu, bukan? Apa kau tahu, seorang penari balet, bisa menari dengan lincah karena berlatih setiap hari? Kurasa, Melisapun begitu,Mas!" Mas Rian membisu, mencoba mencerna ucapanku.
"Apa kau pernah memikirkan aku atau anak-anakmu saat kalian saling memeluk? Di antara kebahagiaan kalian, apa ada sebersit ingatan akan anakmu?" Aku mendekatkan tubuhku padanya. Dia sepertinya menahan nafas.
“Ya, aku akui aku salah karena mengabaikanmu. Tapi apa kamu tahu, jika ini juga salah Ibumu? Atau kalian sengaja, memberiku setumpuk pekerjaan rumah tangga agar aku sibuk sepanjang hari. Ibumu tahu sejak awal, bukan? Aku baru sadar, kalian semua membodohiku” Iya, memang. Ibu mertuaku bahkan memberhentikan pembantu, menyisakan satu orang saja. Menyerahkan semua pekerjaan rumah tangga padaku.
“Jangan bawa-bawa Ibu. Kenapa sih kamu selalu menyalahkan orang lain?” Dia terlihat jengkel seolah ada nyamuk yang mengganggu tidurnya, saat aku mengusik ibunya.
“Lalu siapa? Aku menyalahkan orang lain karena memang aku tidak sepenuhnya bersalah. Kesalahanku di sebabkan oleh Melisa dan Ibumu. Lalu, kau hanya mendengar mereka tanpa bertanya padaku”
__ADS_1
“Ra,-“
“Aku belum selesai Mas, aku ingin kau tahu semuanya, aku masih menyimpan semua foto yang Melisa kirim padaku. Dari dia, aku bisa tahu kau selingkuh. Dari dia, aku menuntutmu bercerai. Dari dia juga, aku tahu kau ada di hotel waktu itu! Tapi, aku baru tahu, jika wanita itu Melisa. Selingkuhanmu adalah orang yang aku anggap sebagai saudaraku sendiri. Kau tahu artinya apa? Melisa sejak awal ingin kita bercerai, dia ingin memilikimu”
“Aku tahu, Mas, bagimu Melisa adalah wanita sempurna, aku tak berharap kau percaya padaku. Tapi, aku tidak pernah membohongimu, hanya untuk menarik simpatimu kembali” Aku memelankan suaraku. Berharap, hatinya bisa menilai, siapa yang berniat buruk di sini.
“Mas, aku tidak pernah mengharap uangmu selagi aku masih bisa berusaha sendiri, tapi mereka butuh kasih sayangmu walaupun kita sudah berpisah. Mereka darah dagingmu, darahmu mengalir di dalam tubuh mereka, apa kau tidak merasa saat anakmu membutuhkanmu?” Aku mengusap air mata dengan punggung tanganku. Aku rasa sudah selesai, aku tak kuat lagi menahan air mataku.
“Mas, setelah ini, jangan mengatakan cinta atau apapun padaku, cintaku sudah ku kubur bersama kenangan kita. Jangan pernah mengharap aku untuk kembali padamu. Aku tidak mau menjadi seperti Melisa. Aku sudah bahagia dengan hidupku, biarkan aku memulai hidupku yang baru, menyiapkan masa depan untuk anak-anakmu, seperti kau dan Melisa”
Aku meninggalkan Mas Rian. Walau langkahku terasa berat, tapi aku harus tetap mengayunkan langkah meninggalkan masa lalu.
Aku masih ingin menangis, aku ingin melupakan sakit ini. Aku ingin membebaskan diriku dari jerat masa laluku. Aku menyesal bercerai dengan Mas Rian, tapi aku juga bahagia lepas dari lelaki seperti dia.
Bagaimana rasanya ketika jantung mu di renggut paksa? Aku mencintai dia, sepenuh hatiku. Dia menghidupkan cinta dalam hatiku, dia juga yang membunuhnya. Apa yang ku dapat, selain rasa sakit. Rasa sakit yang terlambat.
Aku ingin bersandar sebentar, sebentar saja. Di pelukan- Mu yang terasa damai. Aku tidak sanggup lagi menahan beban ini. Aku ingin sejenak melupakan hari ini. Aku ingin pergi ke laut yang paling dalam atau langit yang tertinggi. Agar laut melarutkan lukaku, dan ruang hampa menghisap rasa sakit dihatiku.
Aku masih berjalan dengan langkah terseok, kepalaku terasa berat, hingga aku menabrak sebidang dada yang sangat nyaman. Sandaran yang selama ini kucari, tempatku menumpahkan air mata. Tangan ini yang ku butuhkan, meraihku dari jurang yang gelap dan dingin.
Aku ingin melihat siapa dia, tapi tangannya malah menekan kepalaku di dadanya. Membelai kepalaku dengan lembut. Aku memejamkan mata. Biarkan aku bersandar sejenak di sini. Dengan tidak tahu diri, aku malah melingkarkan tanganku di pinggangnya. Maaf, aku menikmati hangatnya pelukanmu sebentar.
.
.
__ADS_1
.