Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Ganti Kulit


__ADS_3

Sibuk. Satu kata yang menggambarkan suasana siang ini. Sebenarnya berlangsung sejak pagi. Hari ini, satu tahun usia Agiel dan Azziel. Semula Kira enggan merayakan ulang tahun anak bontotnya dengan acara besar, alasannya selain belum mengerti apa arti ulang tahun juga pasti ribet urus ini itu.


Dan benar saja, satu jam sebelum acara digelar, ada saja masalah yang membuat Kira gerah dan ingin berteriak.


"Gimana sih, Mbak? Kok bisa sampai kekecilan? Bukannya kemarin sudah saya bilang untuk membuatnya longgar?" Ujar Kira dengan wajah yang sedikit menajam.


"Maaf Nyonya! Kami akan mengambilkan yang baru!" Butik rekomendasi dari Luna ini memang terkenal dan bagus, tapi kenapa hal seperti ini bisa terjadi?


"Yang benar saja, Mbak! Jarak butik Mbak kesini berapa lama? Belum macetnya!" Kira benar-benar kesal saat si pegawai butik dengan enteng memberinya solusi yang menggelikan.


"Ini bukan salah saya sepenuhnya, Nyonya! Kemarin gaun Nona kan tidak di fitting terlebih dahulu!" Jawab pegawai itu sambil memasukkan gaun Ranu kembali ke plastik pembungkusnya. Jawaban yang membuat Kira makin meradang.


"Mbak, saya yakin desainer anda orang yang hebat dan profesional. Kalau saya tidak salah ingat kemarin bos anda bilang, baju Ranu belum selesai di jahit, jadi tidak bisa di fitting saat itu! Dan dia juga bilang kalau akan mengantarnya sore hari, ketika saya tanya lagi sore harinya, bos anda bilang besok saja! Saya tanya, salah saya dimana? Apa bosmu takut saya ngga bisa bayar?" Kira sejak baju Ranu mulai di coba hingga di lepas lagi, belum mengubah posisi dan ekspresinya. Kesal, marah dan kecewa.


Mahal dan lama. Bagaimanapun, dia wanita yang sayang jika uangnya terhambur percuma.


"Sebaiknya Mbak segera pergi dari sini dan bawa baju itu, juga baju saya! Sekalipun saya ngga pakai akan saya bayar penuh! Tapi ini pertama dan terakhir saya membuat baju di butik anda! Bibir manis, iya-iya doang, bukti ngga ada!" Pegawai itu benar-benar tak berkutik di bawah tatapan penuh amarah Nyonya Harris. Dia tak menyangka wanita berwajah sendu itu menyimpan cakar yang tajam. Mengoyak nyali.


Omelan Kira menggema di dalam ruangan ini. Harris yang sedang mandi juga di buat heran dengan ceramah Nyonya rumah yang membuat telinga merah.


"Ada apa Sayang?" Suara Harris terdengar di balik pintu yang terbuka, namun tubuhnya belum nampak.


"Baju Ranu kekecilan!" Jawab Kira ketus. Dia kembali memakaikan Ranu bajunya yang tadi. Bocah itu pasrah saja dengan perlakuan Mamanya.


"Ma, Nanu itut Mbak Ina!" Ranu turun dari ranjang, dan berlari menuju lantai bawah di mana Rina sedang membawa Agiel dan Azziel yang sudah siap.


Harris mengambil baju yang disiapkan Kira untuknya. "Wanita emang ribet!"


"Abang kan yang membuat ide ini? Aku kan sudah tidak setuju, anak-anak masih kecil dan ini yang aku ngga suka sama orang yang sukanya main iya-iya saja! Aku lebih suka mempersiapkan semuanya sendiri!" Kira merengut.

__ADS_1


"Sudahlah, cari baju yang lain saja!" Harris memilih mengalah, daripada harus berdebat dengan istrinya yang lelah dan kecewa. "Ulang tahun pertama pasti akan jadi kenangan yang indah, Yang! Ngga ada salahnya kan kita rayain bareng-bareng!"


Kira tak menjawab, semua ada benarnya, tapi entahlah, dia merasa lelah saja. Waktu semakin cepat mengejarnya, sehingga memaksanya melihat lagi ke dalam lemarinya. Bisa memesan lagi, tapi waktunya terlalu mepet.


Gaun, gaun dan gaun. Bosan dengan pakaian formal. Diaduknya lagi lemari yang khusus untuk baju yang belum pernah di pakai sama sekali. Dulu mau pakai baju aja mikir, sekarang sampai numpuk tidak terpakai. Hingga tangannya sampai pada kaos dari temannya yang berwarna putih dengan logo merah di dada. Lumayan lah, toh, ini bukan acara resmi.


Kira mencari perpaduannya, ada celana jeans yang pastinya semua anaknya memilikinya.


"Abang, ganti ini!" Kira menyerahkan kaos dengan ukuran paling besar. Dan mulai mengganti pakaiannya sendiri tanpa menghiraukan pandangan keheranan dari suaminya.


"Yang, yang datang tetangga kompleks sama rekan kerjaku yang anaknya seumuran Kembar lho! Yakin pakai celana setan dan kaos aja!"


"Bodo, sekalian nanti biar pada tau, betapa jeleknya butik Rose itu! Dia udah gembar-gembor kalau kita pakai jasa dia, tapi ngga kebukti!" Kira mulai menata rambutnya yang kini sudah mencapai bahu. Dibiarkan lurus begitu saja dengan cepit hitam memenuhi atas kepalanya hingga ke pelipis. Kini dia juga pintar mengaplikasikan soft lens dan bulu mata. Namun, dia tidak memakai semuanya sekaligus. Lebih suka terlihat natural, dengan menonjolkan salah satu kelebihan make up di wajahnya.


Harris mendesah pasrah. Dia bergegas mengganti baju, celana, dan sepatunya.


"Aku panggil anak-anak, ya!" Harris menampakkan diri di bayangan cermin, membuat Kira yang sedang memakai anting-anting bulat sedang, itu menoleh. Terkagum-kagum melihat ketampanan suaminya.


Dia tidak menyangka jika ide dadakan nya, membuat suaminya keren seperti ini. Tapi, seharusnya dia tidak perlu lagi heran, suaminya selalu tampan bahkan tanpa baju sekalipun. Hmm.


"Sudah kubilang, suamimu ini memang ganteng!" Harris meletakkan ibu jari dan telunjuknya membentuk huruf V, di bawah dagunya.


"Ganti baju lagi, nanti emak-emak kompleks pada ileran," Kira meraih lengan kekar menonjol dibalik kaos yang melekat ketat.


"Tidak mau, udah mepet! Anak-anak belum ganti baju tuh!" Harris membebaskan tangannya dari cengkeraman Kira. Sebagai gantinya, dia mengecup puncak kepala istrinya. "Hatiku hanya milikmu, Yang!"


Kira meninju bongkahan dada suaminya yang tercetak jelas. "Aku tahu, tapi aku ngga rela suamiku di pandangi penuh minat dari wanita lain!"


"Suruh mereka pakai kaca mata kuda aja!" Harris mecubit gemas pipi istrinya yang sudah tirus lagi. Meski belum sempat diet, namun lelah dan kurang tidur akibat mengurus anaknya, membuatnya cepat kurus. Sekalipun tidak masalah baginya jika Kira masih berisi.

__ADS_1


Kira mencibir, "Buruan panggil anak-anak, Bang!" Kira mendorong suaminya, yang langsung berbalik menuju pintu.


Kira mulai memadu padankan baju ketiga anaknya yang masih kecil. Tak berapa lama, Harris dan Rina memasuki kamar dan mulailah kehebohan berganti busana. Benar-benar membuat keringat menetes. Tiga balita yang tidak bisa diam. Heboh, berlarian, melompat, bersembunyi, berteriak. Bahkan Harris terpaksa harus mendekap Agiel agar tidak kembali kabur.


.


.


.


.


.


.


.


.



Ini Kak Excel yak🤭.... Udah terbit semalem🤭


Klik avaku, cek disana✌😂


Baru beberapa bab sih...belum bisa banyak😂


credit photo : Pinterest

__ADS_1


@Yang Yang actors


__ADS_2