Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Mimisan


__ADS_3

"Tunggu saja, aku akan segera menghukummu," Batin Harris.


Kira melanjutkan membuat teh panas, yang sedianya untuk menemaninya selama menunggu Harris pulang. Beberapa saat lalu, Kira masih menemani Jen tidur.


"Kau mau?," Kira menawari Harris, sekedar basa basi, Kira tahu, Harris akan menolaknya.


"Kau lihat, aku baru saja minum," Harris mengangkat kaleng di tangannya.


"Ya, sudah. Aku kembali ke kamar," Kira mengambil jas milik Harris dan membawanya ke kamar.


Harris menyunggingkan senyum di bibirnya. Senyum yang terkesan jahat. Harris mengekori Kira yang sedang melenggang ke kamar. Harris memperhatikan setiap langkah Kira, matanya mengikuti gerakan indah yang mengayun menyertai hentakan kakinya.


Kira yang tidak sadar di perhatikan, terus saja melangkah dengan cepat seperti biasa. Mengayun-ayunkan jas Harris di tangan kanan dan secangkir teh di tangan kiri.


"Kenapa kau belum tidur?," Harris melonggarkan dasinya yang memang sudah longgar. Tiba-tiba saja udara di sini terasa panas.


"Jen baru saja tidur, dia terlalu banyak bicara," Kira meletakkan jas Harris hati-hati. "Kau mau mandi?."


"Iya," Harris memandangi Kira tanpa berkedip. Batinnya terus berbicara tanpa bisa di cegah. Mau tidak mau, Harris mengakui, Kira memang cantik, walau tidak secantik Viona. Tubuhnya sintal dan berisi. Dan, itu pula yang membuat sesuatu di sana, bergelora. Bagaimanapun, melihat Kira memakai dress berbahan kaos yang melekat pas di badannya menunjukkan lekuk tubuhnya. Membuatnya terlihat seksi dan menggoda.


"Kemana piyama bergambar kartun yang kembaran dengan Jen? Mengapa memakai baju seperti itu? Batin Harris.


"Mau ku siapkan airnya?," Kira menghadap Harris yang masih berfantasi.


"Tidak usah, aku bisa sendiri," Harris berbalik menuju kamar mandi.


"Aku tidak tahu nasibmu, malam ini, dengan baju seperti itu," Batin Harris.


"Baiklah." Jawab Kira acuh. Kira mengambil ponsel dan melemparkan badan di sofa dan menyalakan televisi.


Kira mulai lelah, matanya seakan memberat. Tak kuat lagi sekedar membuka kelopak matanya. Sudah tak terhitung lagi berapa kali dia menguap.


"Sudah mengantuk?," Harris baru saja keluar dari kamar mandi. Wangi dan segar.


Kira hanya mengangguk, menoleh ke arah Harris yang sudah memakai piama. Kira menghirup dalam-dalam aroma dari tubuh indah itu. Matanya terpejam, menikmati wangi ini, merekamnya dalam memori otaknya.


"Kau tidak lupa kan? Aku akan menghukummu malam ini," Harris duduk di sebelah Kira.

__ADS_1


Kira yang semula mengantuk, kini matanya membelalak lebar. Kekhawatirannya akan terjadi sebentar lagi. Kira mengigit bibir, menerka apa yang akan terjadi. Kira bukan gadis polos yang tidak tahu apa-apa, Kira tahu, tapi apa ya harus sekarang?


"Kau takut?," Ucap Harris lembut, matanya menatap wajah tegang di sampingnya.


Kira menggeleng tanpa membalas tatapan Harris. Dia enggan melihat ekspresi apa yang di tunjukkan Harris.


Harris membuka kancing bajunya, menanggalkan baju di sofa, lalu menarik tangan Kira, membawanya menuju ke ranjang.


Kira panas dingin di buatnya. Di suguhi tubuh indah nan mempesona, membuat air liurnya hampir menetes. Harris duduk di tepi ranjang, menyibakkan rambut hitamnya ke arah belakang. Nyaris membuat Kira mimisan, Kira tak sanggup lagi menahan kuatnya pesona yang di miliki Harris. Namun, dia seorang wanita, ia harus bisa menahan diri, dan dia juga merasa tidak pantas. Entah mengapa, Kira selalu di ingatkan akan statusnya.


Menikah dengan pria lajang bukanlah keinginannya. Bagi Kira, perbedaan status ini yang selalu membebani pikirannya. Stigma negatif terlanjur menempel pada diri seorang janda. Kira takut jika di bilang menggoda laki-laki kaya demi hidup yang nyaman. Walaupun, Kira sendiri tidak tahu apa yang di pikirkan Harris tentangnya.


Harris berbaring di ranjangnya. Sekali lagi, Kira di buat kagum, oleh tubuh atletis di depannya. Tercekat, tanpa melakukan apa-apa. Hanya memandangi pahatan indah itu.


"Ayo, tunggu apa lagi?," Harris menoleh ke arah Kira yang masih membeku.


"Ta-tapi, aku, aku, tidak, tidak bisa melakukannya," Kira terbata-bata. Membayangkan saja, tubuhnya terasa panas dingin. Apalagi bila harus menyentuhnya.


"Kau ini bisa apa sih?," Harris bangkit dari tidurnya. " Sini."


Kira segera mendorong tubuh Harris menjauh. Namun, Harris sekali lagi, menariknya, meskipun Kira menahan tubuhnya sendiri, tetapi tubuh mereka berdekatan tanpa menyisakan jarak. Kira mengerjapkan matanya berulang, seakan ada pasir di matanya.


"Pijat punggungku," Harris melepaskan Kira. Lalu membalik badannya sehingga posisinya kini menelungkup.


"Apa?," Kira terkejut sendiri dengan teriakannya.


Harris berbalik lagi, kali ini membawa senyum penuh ejekan di sudut bibirnya.


"Kau pikir apa? Kau mengharapkan yang lain?,"


"Ti-tidak, aku tidak mengharap apa-apa," Wajah Kira menceritakan semuanya. Tanpa perlu Harris menduganya.


"Balik badanmu," Kira mengangkat dagunya sedikit. Ingin membuktikan kepada Harris, dia tidak memikirkan sesuatu yang lain.


"Kau tinggal memintanya jika kau mau," Harris menyeringai.


"Jadi tidak di pinjatnya?," Suara Kira sudah naik satu oktaf. Ia sangat kesal di goda terus oleh Harris.

__ADS_1


"Dasar, otak kotor," Harris menjentik dahi Kira dengan keras.


"Awh, sakit," Kira mengusap dahinya. " Kalau tidak jadi di pijat, aku tidur nih."


"Iya, jadi. Kenapa jadi kamu yang galak, sih?," Harris merengut dan segera berbalik badan.


Kira mulai memijat Harris mulai dari pangkal leher turun hingga ke punggung. Berulang kali dia menelan ludah, membasahi tenggorokannya yang kering. Ah, sejak kapan otakku jadi terkontaminasi racun seperti ini, batin Kira.


Harris terlihat sangat menikmati, hingga dia nyaris tertidur si buatnya.


"Apa kau dulu tukang pijat?," Harris merentangkan tangannya, memberi isyarat kepada Kira agar beralih ke tangan kanannya.


"Iya, kenapa? Enak?," Kira beralih ke tangan yang di tunjuk Harris.


"Heuh, enak tidak, sakit, iya. Aawh," Harris mengangkat kepalanya, karena Kira menekan tangannya dengan kuat.


"Sudah, sudah, bukannya malah sembuh yang ada patah tulang aku nanti," Harris menarik tangannya dengan paksa. Melihat ekspresi penuh kepuasan di wajah Kira, Harris ngeri sendiri. Preman saja, di gebuki, apalagi dia yang dalam keadaan tidak siaga. Bisa-bisa besok tidak bisa berdiri.


"Iya ,biar kupatahkan semua kalau perlu," Kira menatap Harris seperti berhadapan dengan musuhnya.


"Dasar pemarah?," Harris mencibir.


"Kau pikir, kau orang sabar? Dia sendiri pemarah, ngatain orang lain pemarah. Kau kira aku buta, aku tahu kau tidur saat ku pijat."


"Kau mengada-ada, pijatanmu seperti traktor membajak sawah,"


"Kau," Kemarahan Kira sudah di ubun-ubun. Lelahnya tidak di hargai sama sekali. Kira mengepalkan tangannya, meninju bantal yang berada dalam jangkauannya.


Kira menghempaskan tubuhnya, membelakangi Harris. Nafasnya naik turun, menahan amarah. Harris bergidik ngeri melihat istrinya yang menakutkan saat marah. Harrispun ikut berbaring, sedikit menjauh dari Kira. Hingga akhirnya mereka berdua tidur saling memunggungi.


β€’


β€’


β€’


Maafkan Author yang up nya kelamaan. Selamat membaca, semuanya!😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2