
Senja masih lama menyapa, bahkan mentari masih bersinar meski hanya sekedar menerangi, tak mampu menghangatkan dinginnya raga.
Kabar yang sangat mengejutkan datang dari rumah sakit, membuat Rian, Ibu dan Sia bergegas mendatanginya. Raut wajah Rian tampak tegang. Sebersit penyesalan sepertinya tersirat di sana. Tetapi dia memantapkan hati untuk membuka pintu yang membentang di depannya.
Berderit lirih, namun mampu mengusik tidur seorang penghuni ranjang. Sebelah mata itu membuka perlahan. Meski buram, dia tahu siapa yang datang. Bayi mungilnya, suami dan mertuanya. Dia ingat, ingin memanggilnya, tapi dia tak bisa. Lidahnya sudah kaku, bibirnya lupa cara berbicara.
Berpisah dengan suaminya, adalah jalannya ke neraka. Fatamorgana yang dia ciptakan dengan keserakahannya. Dia menyangka neraka yang berkobar adalah cahaya yang menuntunnya menuju indahnya dunia luar.
Bagaimana dia bisa berpikir angkuh seperti itu saat langkah pertamanya keluar rumah sudah disambut kejamnya dunia.
"Mel...bagaimana keadaanmu?" Rian mendekat setelah menyerahkan Sia kepada Ibu. Sia menangis melihat wajah mengerikan Melisa.
Semula, manik mata Melisa seperti hampa dengan menatap ruang kosong di samping Rian. Perlahan, Melisa mengarahkan pandangannya kepada Rian. Melisa hanya mengangguk dengan mata mengedip.
"Maaf Mel, semua salahku...tak seharusnya aku menyuruhmu pergi!" Rian meraih telapak tangan Melisa yang tertancap selang infus. Tangan yang pernah digenggamnya penuh cinta.
Melisa menggeleng dengan air mata berderai. Meski lemah, Melisa menggeleng cukup lama, bibirnya terkatup rapat.
"Iya Mel. Semua bermula dariku. Andai aku bisa mengendalikan diriku, bersikap layaknya seorang lelaki, tidak ada kamu atau Kira yang harus menderita. Tidak ada anak-anak yang kehilangan sosok orang tuanya."
Wajah Rian tampak sendu saat mengatakan itu, meski tak ada air mata yang keluar. Rian ingin mengakhiri kutukan yang telah dia ciptakan. Dia memandangi luka-luka yang sudah hampir kering itu. Wajah yang tergugu dalam tangis.
"Mel, segeralah sembuh! Aku akan merawatmu!" Cetus Rian. "Aku akan membawamu pulang."
Tak masalah, setelah Riana yang menderita depresi, kini Melisa yang tak bisa melakukan apa-apa. Meski Rian hidup dalam kesedarhanaan kini, merawat mereka adalah kewajibannya.
Ibu tak bisa berkata apa-apa, dia menerima keputusan Rian. Walaupun dia tahu, betapa sulitnya kehidupan mereka ke depannya. Sebelum kepergiannya, Ayah rupanya telah melakukan pengaturan dan menyelesaikan semua urusan hutang piutangnya. Juga telah membagi harta yang tersisa kepada semua ahli warisnya. Termasuk anak-anak Kira.
"Mel, kau mendengarku?" Rian mengguncang bahu Melisa yang sejak tadi menunduk. Lalu dia mengangguk lemah.
"Jangan memikirkan hal lain, pikirkan saja dirimu dan kesembuhanmu!" Rian mengulas senyum, memberikan dorongan semangat kepada Melisa. Yang hanya dijawab dengan anggukan.
Melisa memang tak bisa berbicara karena trauma akibat kekerasan yang dialaminya dan kecelakaan itu memperburuk keadaannya. Namun, tangan kirinya masih berfungsi meski terbatas.
"Kau pasti merindukan Sia?" Rian bangkit dan mengambil Sia dari Ibu. Meski masih takut tapi Sia tak lagi menangis. Melisa menatap Sia, dia rindu, rindu sekali. Segera diraihnya sebuah papan dengan kertas diatasnya. Melisa menulis sesuatu dengan tangan kirinya. Begitulah dia berkomunikasi dengan perawat setiap hari.
Rian menerima papan itu dan membacanya. "Kau ingat ulang tahun Sia? Bolehkan kusimpan ini untuknya?"
Melisa mengangguk, lalu mengambil lagi papan itu. Rian tak mampu lagi menahan air matanya saat melihat binar bahagia di wajah Melisa. Meski ulang tahun Sia sudah berlalu beberapa waktu yang lalu, sebenarnya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Sia tidak membutuhkan apapun kecuali Mamanya," ucap Rian usai membaca tulisan Melisa. "Lihatlah Sia, dia sangat pintar dan manja. Tapi dia sangat pengertian, dia tidak rewel sama sekali."
Melisa mengangguk lagi, kali ini dia mengucap sesuatu seperti kata cantik. Kemudian, Melisa mengalihkan matanya ke arah Ibu yang sudah berurai air mata.
Dengan cepat, Melisa menulis sesuatu di papannya. Dan menyerahkan papan itu kepada Ibu.
"Ibu lah yang harusnya minta maaf padamu, Mel. Ibu yang paling bersalah di sini. Cepatlah sembuh, agar Ibu bisa menebus kesalahan Ibu padamu Mel! Ibu akan merawatmu!"
Melisa mengangguk, sambil menarik bibirnya. Sebutir kebahagiaan mengalir di sudut matanya.
***
Rian membawa keluarganya kembali ke rumah, setelah berjanji pada Melisa untuk datang mengunjunginya.
Di sisi lain rumah sakit, Kira tengah kerepotan dengan Ranu yang rewel karena demam pilek. Berbagai usaha dilakukannya agar Ranu tenang dan tidak lagi merajuk.
Kira membawa Ranu menuju taman rumah sakit yang ada banyak bunga dan kupu-kupu. Entahlah, Ranu sama sekali tak mau diajak Papanya sejak beberapa hari yang lalu. Hal ini membuat Kira merasakan lelah yang luar biasa. Sedangkan Harris, masih mendengar penjelasan dokter juga menunggu obat.
Kira menggedong Ranu yang tidaklah ringan itu, menggelilingi taman, sambil berceloteh. Menjelaskan apa yang dilihat dan di pegang, hingga akhirnya Ranu tertidur.
"Tanganku bisa patah, Ran!" Keluh Kira sambil mencium gemas putrinya yang terpejam.
"Ra,..." lirih Rian. Meski kini keduanya berdamai, tapi rasa canggung itu masih ada.
"Selesaikan semua, Sayang!" Harris yang tiba-tiba sudah di samping Kira, mengambil alih Ranu yang menempel di tubuh Kira. Diusapnya kepala istrinya, dan mengulas senyuman.
"Mengapa bisa seperti ini, Mas?" Rian sejak tadi hanya menggosok kedua telapak tangannya. Tanpa sekalipun menatap ataupun memulai pembicaraan dengan Kira. Keduanya kini duduk di bangku taman, tempat pertama kali dia berjumpa dengan Rian beberapa waktu lalu. Kira tersenyum samar, mengingat getirnya saat itu.
"Karena aku pecundang, Ra! Karena aku laki-laki bodoh," tawa penuh cibiran terukir di bibir Rian. "Tapi aku menerima ini dengan lapang, Ra. Aku ikhlas. Kini aku tahu, kau memang terlalu sempurna untukku!"
Rian menggeser tubuhnya menghadap Kira yang sama sekali tak mengubah posisi duduknya. Dia masih memaku pandangannya pada suaminya yang berdiri jauh di seberang.
"Ra, terimakasih untuk masa indah yang kau berikan padaku. Maaf karena aku membuatmu sakit. Maaf untuk semua derita yang ditimpakan keluargaku kepadamu! Selamanya aku akan mengingatmu sebagai satu-satunya wanita yang berharga dalam hidupku!"
Kira mengulas senyum, "tak perlu seperti ini, Mas. Mulailah hidupmu yang baru, jadilah pria baru yang berbeda. Aku harap, tak ada wanita yang tersakiti olehmu lagi!"
"Tentu, Ra! Tentu aku akan menjadi pria yang lebih baik mulai sekarang!"
Kira tersenyum, biarlah jika semua harus berakhir seperti ini. Bahkan jika harus melebur terlebih dahulu untuk bisa bersama cinta sejatinya, Kira teramat rela. Demi pria yang tak sempurna, yang mampu mencintainya apa adanya.
__ADS_1
***
Rian melepas kepergian Kira dengan lega. Langkahnya tak lagi berat. Memandangi wanita yang setengah berlari mendatangi kekasih sejatinya.
"Kau pantas bahagia, Ra!"
Harris tersenyum saat Kira melebarkan tangannya untuk memeluknya.
"Sayang, kau beri makan apa anakmu ini? Kenapa berat sekali dia?" Harris mengecup kening istrinya, tangannya merangkul punggung wanita yang memasang wajah penuh kepuasan.
"Asi yang berkualitas, karena mamanya bahagia!" Kira merebahkan kepalanya di sebelah dada Harris yang kosong.
Harris tertawa bahagia, didekapnya dengan erat wanita yang memberinya sejuta warna. "Kau akan selalu bahagia bersamaku, Yang! Ingat janji suamimu yang ganteng ini!"
"Aku akan selalu ingat, Abang! Aku juga akan membuatmu bahagia dengan caraku tentunya!" Kira mengangkat wajahnya, menatap manik mata yang membuatnya tenang.
"Apa kau sedang mengajakku membuat bayi?"
Kira menjauhkan tubuhnya. "Apa tidak ada gombalan lain dalam kamusmu selain itu, Bang?"
"Ada," tangan Harris terulur meraih jemari Kira. "Ayo kita buat bayi lagi!"
Kira memdaratkan cubitan kecil di pinggang Harris dan memelintirnya. "Aduh, aduh...kau senang sekali mencubitku di situ!"
Harris mendekatkan tubuh Kira padannya. Dikecupinya pelipis istrinya dengan lembut, tak peduli orang lain melihatnya, "Aku tidak akan membuatmu sakit lagi, Yang!"
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.