Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Alasan Dibalik Hilang


__ADS_3

Sekalipun melihat dengan mata kepalanya sendiri, Kira masih belum memercayai apa yang dilihatnya. Ibu mertuanya, yang bergelimang kemewahan, kini tinggal di sebuah rumah kecil. Meski masih layak, namun, kawasan padat penduduk ini adalah satu tempat yang sangat tidak disukainya. Dia dan Riana.


Sepetak tanah kosong didekat pagar kayu itu ditanami sayuran. Beberapa kantung tanah ditanami bunga beraneka jenis. Kira ingin menangis menyaksikan ini.


"Bu, kenapa memilih tinggal ditempat seperti ini?" seakan tak mampu menahan rasa penasaran yang menggelitik dan juga tak habis pikir.


-Kemana semua harta yang dibanggakan nya dulu?-


Ibu berhenti sejenak, tangannya yang sudah keriput mendorong Sia pelan. Menempatkannya di depannya. "Sia masuk dulu ya, Nenek ada perlu sebentar dengan Tante Kira!"


Sia mengangguk, lalu melangkah riang dengan melompat kecil dan bersenandung lirih. Gadis kecil seolah tidak memiliki beban dan kesedihan.


"Duduk dulu, Ra. Jika tidak keberatan tentunya!" Ibu mempersilakan Kira duduk di teras, dengan kursi seadanya. Kursi kayu yang sudah usang dan lapuk, sehingga Kira meletakkan tubuhnya perlahan. Kini dua wanita itu tengah duduk saling berhadapan. Ibu dengan ekspresi tenang sedangkan Kira penasaran.


"Banyak hal yang terjadi setelah Melisa kembali. Ada banyak pekerjaan rumah yang harus ibu benahi, Nak! Ada banyak hal yang Rian ingin resapi dan pahami. Tentunya kami semua, Nak!"


"Kami mengerti, meminta maaf padamu rasanya tak adil bagimu, Nak, setelah semua yang kami lakukan padamu. Enak sekali ya, minta maaf dan memaksa dimaafkan, tanpa tahu bagaimana rasanya kamu berjuang dulu. Bukan masalah kau memaafkan atau tidak, Nak. Tapi bagaimana rasanya menjadi kamu dimasa sulitmu yang ingin kami rasakan."


"Tapi Bu, ini tidak bagus untuk cucu Ibu dan Melisa." sela Kira.


"Tidak, Nak. Ini bagus untuk kami. Lagipula, kami pantas mendapatkan semua balasan ini."


"Bu, kasihan Sia."


"Tidak Nak, Sia senang dan tumbuh dengan baik disini. Oh ya, sebaiknya kau segera pulang, Nak. Rian sebentar lagi pulang. Dia akan marah jika tahu kau ada disini. Sebenarnya, Rian tidak ingin ditemukan olehmu, Nak."


"Tidak perlu kau mengerti jalan pikiran Rian dan kami, cukup terima saja pilihan kami, Nak! Biarkan kami tetap seperti ini, hingga kami rasa kami tak lagi mampu!" ucap Ibu saat Kira masih belum bisa menerima apa yang menjadi pilihan keluarga mantan suaminya.

__ADS_1


Tak lagi mengerti dan tidak bisa memaksa, Kira undur diri. Iba namun dia tak bisa meragukan atau mengacaukan rencana hidup orang lain. Sekalipun mereka pernah bersama sebagai keluarga.


-Mungkin jalan hidup harus seperti ini, atau memang harus seperti ini dulu, agar bisa mengerti, agar bisa mengurangi rasa bersalah yang terus menggerogoti-


Sekalipun Kira tidak menginginkan ini. Bukan dia yang menentukan, dia tidak punya hak.


Ibu masih berdiri di depan pagar hingga mobil Kira lenyap dari pandangan.


"Maaf, Ra....kami tak ingin lagi membebanimu. Kami merasa malu dengan kebaikan keluargamu."


Ibu segera kembali ke dalam rumah. Menuju kamar dimana Melisa sedang terbaring lemah. Sejak beberapa bulan lalu, mereka memilih menjual seluruh harta menyisakan satu saja tempat usaha sebagai penopang hidup mereka.


Riana yang tidak ingat dirinya sendiri, juga Melisa yang membutuhkan perawatan. Meski Melisa menolak setiap perawatan medis yang datang padanya. Harapannya setiap hari adalah dia segera pergi.


Ibu mengulas senyum saat Melisa membuka mata.


"Tadi ada Kira yang datang, makanya Ibu tidak bisa langsung masuk." Ibu mendekat, mengusap kepala Melisa dan Sia yang sedang berbaring di sebelah Mamanya.


-Aku mendengarnya, Bu-


"Kau tahu, Kira sangat cantik dan bahagia sekarang, Mel. Dan juga hatinya masih seperti dulu, lembut dan penuh kasih. Ibu merasa Ibu lah yang harus menghukum diri Ibu sendiri karena Kira tak akan pernah menyentuh Ibu. Seharusnya, Ibu menyadari ini sejak lama, agar kalian berdua tidak menderita." Rintik bening air mata berjatuhan sempurna diatas pipi renta termakan usia.


"Karena Ibu kamu dan Riana jadi seperti ini. Kenapa tidak Ibu saja yang mendapatkan hukumannya, Mel? Ibu sakit melihat anak-anak Ibu yang menerima hukuman atas kesalahan Ibu. Maafkan Ibu Mel, maaf!"


Tubuh tua itu merosot di sisi kasur yang digelar di lantai. Ambruk diatas tubuh Melisa yang kurus dan pucat. Tergugu, penuh penyesalan.


Melisa yang kesulitan mengekspresikan kesedihannya, hanya bisa menggerakkan sebelah matanya. Sebelah lagi, mungkin sudah mati rasa. Ya, Melisa kini bagai hidup yang terasa mati. Masih bernapas namun tak bisa berbuat apa-apa. Hanya tangan kiri yang masih bisa bergerak dan menulis, meski sulit sekali dibaca.

__ADS_1


-Segera ambil saja nyawaku, bertobatpun rasanya sudah tak bisa Kau terima-


Tangis ibu semakin menjadi saat tangan kecil Sia membingkai pipi neneknya, membawanya tegak berdiri menatapnya.


"Nenek, jangan menangis, kalau kita sudah mengakui kesalahan, Tuhan akan memaafkan," ibu jari kecil itu menghapus jejak air mata di pipi neneknya. Lalu menciumnya hingga meninggalkan suara khas.


"Mama dan Nenek setelah ini jangan menangis lagi ya, kata Bu Guru meskipun kita sedih harus tetap tersenyum agar kesedihannya pergi,"


Sia, gadis kecil yang masih lugu dan polos itu menangkup tangan Mama dan Neneknya, menumpuknya menjadi satu. Lalu mengerling kedua orang tua itu dengan wajah berseri yang menggemaskan.


-Mas Rian, sekalipun aku pergi, aku bahagia. Sia adalah berkah dalam hidupmu nanti, lentera saat kau merasa gelap dan sunyi-


Mendengar celoteh cucunya, Ibu tak bisa menahan haru dan bangga. Setidaknya, ada didikan nya yang berhati lurus dan berhati lapang. Setidaknya, sejarah hidupnya tak melulu kelam. Sudut bibirnya tertarik, mengembang penuh kepuasan dan kebanggaan.


"Sia memang cucu Nenek yang paling pintar," di usapnya pipi mulus cucunya, meraihnya dalam dekapan, dihujani seluruh wajah dan kepala bocah itu dengan ciuman dan air mata.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2