
Bias mentari mulai menyibak mega kelabu. Menjejalkan hangatnya menembus dinginnya fajar. Harris mengulas senyum saat memandangi dua orang yang masih berbagi selimut itu. Seakan tak terusik dengan gerakan Harris.
Harris nyaris tersandung, dia selalu lupa. Kini kamarnya adalah arena bermain bayi. Kamarnya yang semula rapi, kini menjadi berantakan dengan mainan. Ya, itu memang salahnya. Bayi baru lahir tidak memainkan mainan apapun. Mainannya adalah ibunya.
Selain itu, ada kasur besar yang digelar di bawah ranjangnya. Isinya ketiga anak yang lain, tengah meringkuk di batasi guling. Harris menggeleng pelan. Mereka ingin bermain dan menjaga adik bayi, tapi yang ada mereka malah mengusik adiknya.
Harris menyerak mainan dengan kakinya. Dia bergegas ke kamar mandi untuk segera membersihkan diri. Selalu seperti ini setiap hari sejak kehadiran si kecil dalam kehidupannya. He is a perfect Daddy. Di dunianya yang kecil, tentunya.
Harris mengangkat bayinya yang masih pulas, dan menaruhnya dalam dekapan. Meski menggeliat sedikit tapi dia tak mampu menolak hangatnya pelukan sang papa. Sebelah tangan Harris mengangkat baby bouncer. Setiap pagi, Harris selalu menjemur bayinya di halaman belakang, sambil menikmati sarapan paginya. Hanya itu yang bisa dia lakukan untuk membantu istrinya. Meski tidak mengajak bergadang, tapi sering terbangun untuk menyusui dan memerah asi, membuat jam tidurnya berkurang. Terlebih kondisi tubuhnya belum pulih pasca persalinan.
Harris menempatkan baby bouncer di meja taman. Lalu membuka baju bayinya, tak lupa Harris memasang penutup mata untuk melindunginya dari sinar matahari.
Lima belas menit berlalu, dan si bayi mulai bergerak gelisah.
"Kau pasti haus," Gumam Harris sambil mengangkat bayinya. Bergegas dia melangkah ke kamar dimana istrinya mungkin masih tidur.
"Sayang, dia haus," Seru Harris dari balik pintu kamar mandi.
Kira muncul, baru beberapa langkah Harris menjauh dari pintu. Harris menoleh, Kira masih masih memakai handuk dan rambut yang basah menetes-netes.
"Hei, kenapa kau terburu-buru. Keringkan rambutmu dulu," Harris membuka lemari yang tak jauh darinya. Mengambil sebuah handuk dan melemparnya ke arah Kira. Dan juga dress berkancing untuk memudahkannya saat menyusui.
"Kupikir dia nangis tadi," jawab Kira sambil membungkus rambutnya. Dia menerima baju dan mengenakannya dengan cepat. Sedangkan Harris, setelah meletakkan bayinya, dia segera menyingkirkan mainan yang berserak ke dalam keranjang
Kira mengangkat bayinya lalu duduk di tepi ranjang, dan mulai menyusui. Harris mengambil sisir dan hair dryer untuk mengeringkan rambut istrinya.
"Abang ngga kerja?," Ucap Kira saat Harris duduk dibelakangnya.
"Hendra akan kemari, bersama Vivian dan Almeer," Harris mulai membuka handuk yang melilit rambut Kira. Perlahan dan hati-hati, dia mulai menyisir dan menyalakan hair dryer. Aroma shampo menyeruak memenuhi rongga hidungnya, lembut dan...
"Benarkah? Almeer pasti sudah besar sekarang!" Kira tersenyum mengingat bayi lelaki yang tembem dan menggemaskan itu.
"Bukannya kalian bertukar foto setiap hari?" Harris menyisir bagian kanan rambut Kira. Harris sering melihat ponsel istrinya dipenuhi foto-foto kedua bayi mereka. Tentu saja, percakapan ala ibu-ibu pasca melahirkan yang sambung menyambung seperti gerbong kereta.
Kira memutar tubuhnya sedikit, ekor matanya melirik suaminya, "Abang membuka hapeku?"
__ADS_1
"Kenapa?" Harris mematikan hair dryer, memutar kepala Kira yang seakan macet rotasinya. Sialan, kelepasan, batin Harris sambil merapatkan bibirnya.
"Itu memalukan. Abang baca semuanya?" Kira ingat betul apa yang mereka obrolkan di aplikasi itu. Harris mengangguk, "Kalau sampai Hendra tahu, Abang yang akan menanggung akibatnya."
Kira menatap tajam suaminya, Kira sudah berjanji pada Vivian, untuk tidak memberitahu siapapun. Bahkan Harris sekalipun.
Harris mengecup sekilas bibir istrinya, "Aku tak punya waktu untuk memikirkan atau mengingat chatmu dengan Vivian. Hanya kebetulan saja aku melihatnya."
Kira memajukan bibirnya, Kira tahu betul suaminya tak akan mudah melupakan sesuatu.
"Jangan bertingkah seperti itu," Harris memeluk istri dan anaknya sekaligus dari belakang, "Aku merindukanmu, Yang."
Kira berdecak, "Jangan macam-macam, Bang! Bayimu baru berusia seminggu."
"Otak kotor!" Harris menggigit ringan bahu Kira. "Aku merindukan memelukmu seperti ini."
Kira membelalak, dengan kasar dia membebaskan diri dari suaminya yang masih terkekeh. "Abang menyebalkan."
"Kau yang merindukanku, hanya kau tidak mau mengakui."
Akhirnya, Harris memang tak jadi pergi ke kantor. Kerabat silih berganti berdatangan kerumah Dirgantara. Rumah dipenuhi bungkusan berwarna warni. Kado dari kerabat dan sahabat Kira.
Meski tak semua bisa datang ke rumah Dirgantara, tetapi setiap hari selama seminggu ini, Harris dan Johan selalu membawa bingkisan sepulang dari kantor. Sebagian besar dari Giant, dimana Kira pernah beberapa waktu memimpin di sana.
Hendra, Vivian dan Almeer tiba saat mentari menyengat tubuh. Kira menyambut mereka turun dari mobil. Vivian seperti kewalahan dengan bawaannya. Namun sepertinya Hendra tak punya niat untuk membantu.
"Jalan ditempat, sepertinya!" Bisik Kira saat Vivian sudah dalam jangkauannya.
"Begitulah! Kurasa, aku tak bisa bertahan lebih lama, Ra. Meski kami tinggal seatap tapi kami masih seperti orang asing," Kira dan Vivian berjalan bersama kedalam rumah. Meninggalkan Hendra yang masih berbincang dengan Tuan Dirga.
"Cobalah memulai berbicara padanya, Vi." Kira melirik Vivian sekilas, "Semua dimulai dari komunikasi meski sekedar pertengkaran,"
Kira mengingat dirinya dan Harris dulu, mereka bahkan sama sekali tak saling mengenal. Berbeda dengan Vivian dan Hendra yang sudah saling mengenal sejak lama.
"Aku tidak yakin akan berhasil, Ra! Aku setiap hari memulai berbicara padanya. Meski hanya untuk secangkir kopi," Vivian terlihat kesal.
__ADS_1
"Pertahankan pernikahan kalian, ku rasa kau hanya perlu terbiasa dengannya," Kira tersenyum.
Mendengar ini, Vivian menghela nafas panjang, bahunya terangkat. Entahlah.
Kira mendorong pintu kamar hingga terbuka lebar, menampakkan pemandangan yang luar biasa indah. Namun menyesakkan bagi Vivian. Hendra cukup perhatian pada Almeer tapi pada dirinya, Hendra lebih banyak mengacuhkan.
"Hai Almeer, sudah besar kau rupanya," Sapa Harris. Vivian jelas tampak kaget, dia sedang melamun saat melihat Harris sangat perhatian kepada istri dan anaknya. Harris terlihat luwes saat mengganti popok anaknya.
"Halo Paman! Almeer banyak makan jadi cepet gede," Jawab Vivian menirukan suara anak kecil. Vivian menggerakkan tangan anaknya yang masih tertidur pulas.
"Tidurkan Almeer di kasur, kau pasti lelah menggendongnya," Ujar Kira, melihat tubuh Vivian yang kecil dan Baby Almeer yang cukup gendut, dan mungkin terlalu lama Vivian menyangga tubuh anaknya, Kira tahu pasti betapa pegalnya tangan Vivian.
Vivian mengangguk dan menidurkan Almeer di ranjang. Bayi laki-laki itu, bergerak sedikit sebelum kembali pulas.
Vivian bergabung dengan Kira dan bayinya di sofa. Dia merebahkan diri, terlihat sekali dia sangat lelah dan kewalahan mengurus Almeer.
"Kenapa tak pakai babysitter aja, Vi?"
"Ada kok, beberapa hari ini dia sakit, dia disuruh pulang sama Hendra," Vivian membenarkan posisinya. "Ra, apa aku terlihat buruk sekarang?" Vivian melirik ke arah Kira yang memangku bayinya. Apa aku harus cerita sama Kira? Batin Vivian.
"Tidak juga, siapa yang bilang kamu buruk?" Kira meneliti penampilan Vivian. Vivian memang tampak lelah, tapi dia sangat cantik dan imut. Kontras sekali dengan Hendra yang sangarnya hampir menyamai Johan.
"Ngga ada sih, aku cuma ngerasa buruk setelah melahirkan!" Vivian memandang tubuhnya sendiri, meraba perutnya yang sedikit berlipat saat duduk.
Kira tertawa, dia melihat Vivian persis dengannya dulu, merasa buruk dan tidak percaya diri. Dukungan suami setelah melahirkan memang sangat berpengaruh, terlebih karena bentuk tubuh yang berubah dan kelelahan membuat ibu muda, mudah sekali tertekan. Tak jarang menyebabkan depresi sehingga seorang ibu mudah sekali berubah-ubah emosinya.
"Apa ini Dokter Vivian yang penuh percaya diri itu? Kau menyarankan pasienmu untuk berpikir positif untuk mengurangi stress tapi kau sendiri?"
"Ya kupikir semua itu semudah teori, Ra! Pantas saja banyak sekali pasienku yang minta dicarikan psikiater, aku baru tahu sekarang, Ra!" Vivian menghela napas, Hendra dan segala keacuhannya adalah penyebab dirinya terpuruk.
"Jadilah dirimu sendiri, Vi. Seorang ibu juga butuh waktu untuk diri sendiri. Menurutku penting, untuk menjaga kewarasan ini," Kira mengetuk sisi kepalanya. Keduanya tertawa. Senang rasanya ada yang mendengarkan dan mendukung. Memiliki pengalaman buruk di masa lalu, bukan berarti tak bisa lebih baik di masa depan. Bisa. Selama kau mau.
•
•
__ADS_1
•