
LED Display atau di kenal dengan Videotron di jalanan menampilkan video yang tampak tak asing bagi Kira. Dari kejauhan dia menyipitkan mata, bahkan dia sampai memiringkan kepalanya agar apa yang dilihatnya pas dengan praduganya.
Kira menepuk pundak suaminya berulang kali. "Abang, itu kaya kita deh?" Kira menunjuk layar besar yang terpampang di sisi jalan. Lampu jalanan yang menyala terang membuat tampilan gambar itu kurang jelas.
Harris masih mengemudi dengan santai. Membiarkan Kira sibuk sendiri, dan tak lama lagi pasti akan membasahi pipinya dengan air mata bahagia. Harris sudah hafal, tetapi dia suka mengulang lagi dan lagi kejutan untuk istrinya. Selama dia bisa, kenapa tidak?
Kira mulai tak tenang dalam duduknya, dia menoleh kanan dan kiri. Kemanapun dia bergerak, gambar di sana juga melakukan hal yang sama.
"Abang, kenapa Abang habiskan uang untuk hal yang memalukan seperti ini?" Kira tak habis pikir dengan suaminya. Bukannya menyewa baliho bergerak seperti itu mahal, pikirnya.
Harris mengulurkan tangan untuk membelai belakang kepala istrinya. "Menyenangkan istri tak perlu mikirin banyaknya uang yang dikeluarkan! Malah ini akan jadi magnet penarik uang, Sayang!"
Harris berhenti di lampu merah, tak sedikit orang yang melihat videotron besar di tengah jalan perempatan ini. Rambut Kira melambai diterpa angin sore yang bertiup lembut. Memaksa Kira menahan helaian rambutnya yang mengenai wajahnya.
"Abang, aku tahu Abang berusaha menyenangkan aku, tapi ngga gini caranya!"
Nada suara Kira terdengar kesal, namun Harris hanya menarik sudut bibirnya, sebelum memainkannya sedikit manyun. Harris melirik Kira, tangannya sudah mencapai dagu sedikit bulat itu.
"Lalu dengan cara apa? Aku bosan mengatakan cinta setiap hari, kau juga tidak bisa menerima cintaku setiap waktu bukan? Jadi aku mengungkapkan cintaku sambil menjalankan proyek baru!"
Kira melirik tajam suaminya, "Abang menjadikan aku bintang iklan di videotron-mu? Begitu?"
Harris menaikkan alisnya, bibirnya tertarik seakan berkata "begitulah"
Bibir Kira berkerut, "Ingat, ini tidak gratis, Bang!"
"Hei, itu ucapanku! Kau kena biaya royalti jika menggunakan jargonku!"
"Iya, Tuan Perhitungan! Sekarang aku juga mau jadi Nyonya Perhitungan sama Abang!"
Harris hendak menyahuti, namun traffic light sudah berganti hijau, Harris melajukan mobilnya lagi. "Kau menyebalkan!" Kira mencibir mendengar umpatan suaminya.
Tiba-tiba....
"Abang, aku mau makan sate, tapi yang di warung dekat rumahku yang lama!"
Harris membelalak, "Kenapa tidak bilang dari tadi! Ini sudah hampir sampai rumah, Yang!"
"Tinggal putar balik kan?"
"Ya Tuhan, untung kau sedang hamil, Yang! Kalau tidak," Harris tak menyelesaikan ucapannya saat Kira mendelik kepadanya.
"Apa? Kalau tidak apa?"
Harris menghela napas, dia mencari posisi aman untuk berputar balik. "Yang, bukannya hamil ngga boleh makan daging yang tidak dimasak sempurna?"
"Tapi, kalau ngidam bagaimana? Nanti anakmu yang cakep, tapi ileran, bagaimana?"
Lagi-lagi, Harris menghela napas, wanita selalu benar, pikirnya. "Ya sudah, ayo! Tapi, nanti minta yang matangnya sempurna, ya!"
Kira mengangguk, membayangkan saja, air liur Kira hampir menetes. Harris menghela napas melihat istrinya yang sangat senang ketika kemauannya dituruti. Seperti bocah saja, batinnya.
Beruntung jalanan mulai lengang saat menjelang malam, sehingga mobil dengan kecepatan tinggi itu bisa melesat mulus tanpa hambatan. Tak kurang 15 menit berjalan mereka sudah tiba di sebuah kedai sederhana.
Kira menelan ludah, aroma yang begitu menggiurkan, menggugah selera. Harris memarkirkan mobil dengan benar, lalu, dengan sabar, dia membenarkan helai rambut Kira yang bertebaran.
__ADS_1
"Makasih, Abang," kecupan singkat mendarat mulus di sudut bibir Harris.
Tidak sebelum, Harris membalas istrinya yang tak tahu malu. Tangannya yang masih berada di belakang kepala Kira, digunakan untuk menahan pagutannya. Merontapun percuma.
"Abang, malu ih!" Kira mengusap bibirnya setelah menarik diri dari kungkungan tangan suaminya.
"Kau yang tak tahu malu!" Harris mencibir. "Kenapa kau menggodaku lebih dulu?"
"Aku hanya berterimakasih dengan benar, seperti yang selalu kau minta!" Kira tak mau kalah mendebat suaminya.
Harris berdecak, sekali lagi dia tak mampu membalas istrinya yang mulai berani membalik perkataannya dulu. Sebagai gantinya, Harris turun dan membuka pintu untuk Kira. Keduanya saling merangkul memasuki warung sate sederhana ini.
Harris tak pernah keberatan kemanapun Kira mengajaknya makan. Baginya, tak ada bedanya makan dimanapun, asal Kira bahagia. Namun, untuk saat ini, dia sangat menjaga asupan makanan untuk istrinya. Membatasi bahkan melarang Kira mengonsumsi makanan kurang bergizi. Seperti yang dilakukannya saat Ranu masih dalam kandungan.
Kira duduk sementara Harris yang memesan sate. Ada tiga jenis sate di sini, ayam, kambing dan sapi. Ketiganya di olah di tempat berbeda, demi menjaga kekhasan rasa.
"Pak, tolong panggang sampai matang banget ya! Istri saya lagi hamil!" Pinta Harris pada pemanggang sate. Dia sedikit keberatan pada asap yang mengepul. Sampai tangannya mengibas di depan wajah, mengusir gumpalan putih yang terus menerus muncul menyerbu wajah tampannya.
"Baik, Den! Tunggu sebentar, ya!" Si pemanggang sate tentu sudah tahu hal ini. Jadi dengan ramah dan senyum terkulum, pria itu mengangguk.
Harris membalas dengan senyuman, ia lalu kembali ke meja, dimana Kira sedang duduk sambil menopang dagu. Sebelah tangannya asyik berselancar di layar ponselnya. Harris membaui sisi kanan dan kiri tubuhnya, aroma khas bakaran menempel disana. Sangit. Dia mendesah, parfumnya kalah dengan segumpal asap.
Kira menoleh saat suaminya tiba di sisinya. Menempelkan tubuhnya pada belakang tubuh Kira. Hangat, tapi bau sangit. Kira mengernyit, bau ini membuat Kira ingin muntah.
"Abang kok ngga wangi lagi?" Kira menahan mulutnya dengan sebelah tangan. Perutnya mengaduk, berlomba ingin keluar.
Harris terlihat lesu, hanya bau saja membuatnya mual, pikir Harris. "Ayo ku antar ke kamar mandi!"
Harris menyambut tangan Kira untuk bangkit dari duduknya. "Abang di sini saja!"
Awalnya, Harris mengikuti perintah Kira, namun beberapa saat kemudian dia melesat, menilas jalan yang dilalui Kira menuju ke toilet.
"Ya Tuhan, kenapa terulang lagi sih?" Gumam Harris sambil menggigit bibir dalam. Dia merasa kasihan dengan istrinya yang mengalami siksaan seperti ini.
"Yang...biar kubantu ya!" Rintihnya sekali lagi. Pintu menjeblak terbuka, menampakkan wajah pucat dan rambut yang berantakan.
Harris segera meraih Kira yang berdiri diambang pintu. Meraihnya dalam pelukan. "Yang..."
Harris tak mampu berkata-kata, namun titik bening mulai bergulir membasahi pipinya.
"Abang, jangan begini! Jauh-jauh, ih! Abang bau!" Kira berusaha melepaskan diri dari suaminya. Apalagi perutnya mulai bergejolak lagi. Harris melepaskan pelukannya saat dirasa Kira terlalu kuat memberontak. Dia tak mau keduanya akan terluka.
Harris merapikan lagi penampilan istri tercintanya. "Ayo kita makan, Yang! Mungkin satenya sudah siap!"
Kira menggigit bibir dan memandang suaminya dengan sendu. Selera makannya sudah hilang, dia sudah tak menginginkan lagi sate itu, tetapi, dia tak tega melihat suaminya yang sudah susah payah mengantarnya kemari.
"Kenapa bengong, ayo!" Harris menarik tangan Kira yang sedikit menahan berat tubuhnya.
Kira pasrah, dia akhirnya duduk di samping suaminya. Meski sudah tak lagi ingin, tapi dia tetap memakannya. "Jangan menolak ya, Sayang!" Batin Kira sambil mengusap perutnya.
Bukan mengada-ada, tapi benar adanya. Kira bahkan harus berhenti di suapan ke tiganya. Perutnya mengaduk tak karuan, bahkan dia tak mampu menelan. Diambilnya teh hangat tawar untuk mendorong makanan menuju lambungnya.
Kira mengerjap menatap dua porsi sate yang belum habis separuh. Sekilas dia melirik suaminya yang makan dengan lahap. Seketika terlintas ide yang bisa menyelamatkan dirinya dari tatapan kecewa suaminya.
"Bang, aku pengen nyuapin kamu!" Kira mengedipkan matanya berulang. "Selama menikah, aku belum pernah nyuapi Abang!"
__ADS_1
Harris menghentikan suapannya, dan menyesap air putih, "Apa ini kemauan adek bayi?"
Kira mengangguk, akal bulusnya bersambut. Pria penuh selidik ini tak biasanya meloloskan permintaan anehnya tanpa menghakiminya dengan kecurigaan.
"Oke, demi dia," Harris mengusap perut Kira. "Suapi aku, Yang! Sambelnya yang banyak ya!"
"Tapi Abang jauh-jauh ya! Aku masih tak tahan dengan bau Abang!"
Harris menghela napas sambil beringsut ke samping. "Nanti Abang ganti baju dulu, aku ngga suka jauh-jauh dari kamu!"
"Ih...ku rasa anakmu yang tidak suka sama Abang!" Kira menumpuk wajahnya dalam satu titik, membuatnya semakin menggemaskan. Pipinya sedikit tembam menggembung, seperti pipi Jen.
Pantas saja dia semakin berisi, hamil ternyata, pikir Harris. Dia sangat tahu perubahan bentuk tubuh Kira, bahkan setiap jengkal.
.
.
.
.
.
.
.
Holaaa....yuhuuu....3 hari ngga update...hari ini up lagi....semoga bisa tetap konsisten ya man-teman...🥰🥰🥰
Terimakasih untuk dukungan like komen dan Vote ya...sungguh hatiku berbunga-bunga😊😊😊
Bulan februari, insya Allah terbit...cukup klik avaku, nanti akan muncul cerita terbaruku....
Atau cari di kolom pencarian, klik Misshel(kayaknya di Mangatoon/Noveltoon gak ada yang nyamain deh🤭) dan tarraa...muncullah di sana diriku...🤣🤣🤣
Okey...jadi aku ngga kasih pengumuman atau apa yah...udah kek author femes aja...🤣🤣🤣
Di sini, saya menulis sesuai rules platform, untuk pemula macam saya, cari aman itu penting, untuk 21+ saya nggà berani terang-terangan, pertama menghindari sensor yang akan membuat kita mikir lagi apa sih yang di bintangin itu...kedua, takut kena report jika ada yang kurang berkenan....
Untuk part yang terputus, misal part menyenangkan suami, hehehehe...jujur ya...saya geli sendiri untuk nulis...jempol rasanya kek maju mundur gitu...🤣🤣🤣 mohon di bayangkan sendiri.
Saya ngga bisa berteka-teki atau membuat penasaran pembaca sebenarnya, sebisa mungkin saya jelaskan meski ngga begitu jelas sih...intinya, di sini yang ngga baca keseluruhan akan banyak menemukan tanda tanya...kenapa? saya menjelaskan di awal atau bab sebelumnya, tetapi saya yakin pembaca saya disini cerdas semua, semua alur saya, teka-teki saya mampu dijawab dengan benar...saya tidak menghakimi pembaca yang tahu alur saya, malah saya anggap ini interaksi yang begitu nyata antara saya dan pembaca. Saya justru senang dengan hal ini. tetapi ada juga bagian yang terkesan ngga nyambung, mohon di maafkan yak...🙏😊
selanjutnya untuk jumlah like dan komen yang dikit. Anda saja heran apa lagi saya...bulan lalu saya ajuin banner, ikut lomba update, promo di Grup FB dan di lapak author lain, tapi hasilnya, zonk...pembaca paling banyak 3ribu saja...tapi saya bersyukur. Saya tahu batas saya, mungkin hanya sampai di situ saja "nilai" karya saya di hargai. Hopeless, pasti. tapi ya sudahlah, saya harus menyelesaikan apa yang saya mulai.😍😍🤭
Terakhir, selama tiga hari ini, lonjakan pembaca membawa saya untuk berani membaca tulisan saya sendiri, lengkap dari awal hingga bab akhir. Saya malah berpikir, apa benar ini saya yang nulis?wkwkwkwk..🤣🤣🤣
Okey, udah kepanjangan catatan kakinya, ngga guna juga kan...🤣🤣🤣
Sambung esok lagi ya man-teman😘😘😘
Love you all
Misshel😘😘😘
__ADS_1
Em....kurang lebih ini cover untuk sekuel dari Novel ini ya...🥰