Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Bonus Part Luka Penebar Luka


__ADS_3

Waktu berganti, hari berlalu tapi luka tetap saja luka. Yang pergi tak akan pernah kembali. Meninggalkan pedih tak terperi.


Pria berusia 38 tahun itu tampak menatap bantal dimana istrinya biasa berbaring. Bersih dan sudah kembali wangi. Selalu begitu sekalipun Melisa masih berbaring di sana, Ibu selalu memberikan kenyamanan pada Melisa. Entah kesabaran dan keikhlasan dari mana Rian tidak tahu, tapi Ibu seperti bersungguh-sungguh merawat Melisa, tanpa mengeluh lelah atau sakit. Meski kini tubuhnya tergolek lemah akibat kelelahan dan tertekan.


–Sekalipun Melisa selamanya tidak bisa bergerak, selama nyawa masih terasa, Ibu akan merawat istrimu, Rian–


Kalimat Ibu yang belum sekalipun pernah terdengar tulus. Sebab Ibu selalu sungguh bahkan saat menyiksa Kira dulu. Begitu tega menyakiti wanita itu hingga akhirnya perpisahan menjadi penutup kisah Rian dan Kira.


"Mel ... apa kau bahagia sekarang? Apa kau kembali cantik dan tidak lagi sakit, hm?" Lirih Rian kepada bantal yang di usapnya seolah Melisa masih berbaring di sana, sedang tersenyum menatapnya.


Kalimat itu meluncur begitu saja, apakah dia sudah mencintai Melisa sebenarnya? Entahlah, beda terpaksa dan cinta sangat tipis sejak mereka memutuskan menikah.


"Maaf Mel, aku bukan suami yang baik ... hingga membuatmu memilih pergi tanpa mengucap kata perpisahan padaku. Aku terlalu egois saat terus mengejar Kira yang bukan lagi milikku ... harusnya aku sadar Mel, aku sudah memilikimu,"


Kilasan pertengakaran terakhir hingga menyebabkan robohnya rumah tangga mereka kembali berputar. Seakan tersadar, Rian kini mengerti kenapa Melisa begitu marah padanya.


"Mel ... maafkan aku. Aku buta untuk melihat betapa kau begitu mencintaiku. Aku terlalu fokus pada obsesiku akan Kira ...."

__ADS_1


Rian kembali tergugu dalam tangis penyesalan, hingga tubuhnya terguncang. Seakan matanya baru terbuka saat Melisa telah pergi.


"Papa ...," Rian dengan cepat menyeka air mata yang membasahi pipi.


"Iya Sayang ... anak Papa belum ngantuk?" Rian melambaikan tangan memanggil Sia agar mendekat.


"Belum Pa, Sia kangen Mama ... Sia mau tidur di kamar ini Pa." gadis bermata bulat dengan bulu mata pendek melengkung sempurna itu melangkah mendekati kasur. Tangan kecilnya memeluk boneka beruang berwarna pink berukuran sedang.


Rian menyisihkan surai yang berhamburan di sisi kiri dan kanan putrinya. Menyelipkan di belakang telinga. "Cantik seperti Melisa," batin Rian. Bahkan pada Sia sekalipun, tidak dititipkan seguratpun dirinya. Sama seperti ketiga anak yang lainnya. Bahkan Excel semakin hari malah semakin mirip papa sambungnya.


Rian terkesiap sejenak, lalu mengangkat tubuh putrinya ke atas pangkuannya. "Papa lagi mikirin Mama ... Papa rasa Mama itu sangat baik, Sayang. Karena dia memberi Papa tiruan dirinya."


"Maksud Papa?"


"Ya ... kamu itu sangat mirip Mama, mata ini, bibir ini dan juga wajah ini semua milik Mama ...," Rian menyentuh satu per satu apa yang disebutnya, kemudian menghadiahi putrinya kecupan dan pelukan yang begitu lama.


"Jadi kalau Sia rindu Mama, Sia hanya perlu melihat pantulan wajah Sia di cermin. Sia akan bertemu Mama."

__ADS_1


"Tapi Pa ...," Sia mendorong dirinya melerai pelukan Papanya. "Kata Nenek, kalau Sia rindu Mama, Sia harus berdoa sama Allah agar Mama bisa datang di mimpi Sia?"


"Itu juga benar, Sayang. Mama membutuhkan doa dari bidadari kecilnya ini." Rian mencubit hidung mungil putrinya. "Dan Mama yang mendengar doa Sia akan bahagia lalu jika Allah mengizinkan, Mama akan datang dalam mimpi Sia."


Rian kembali memeluk putrinya yang mengangguk sambil membulatkan bibirnya. Binar di wajah Sia adalah obat lara di hati Rian. Benar, Alicia Assyifa adalah obat hati orang tuanya.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2