Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Siang Pertama


__ADS_3

WARNING 21+ AREA'S....!!!!!


HARAP BIJAK YA GAES....YANG BELUM 21+ SKIP SAJA....!!!!


.


.


.


.


Johan keluar kamar mandi dengan perasaan yang belum sepenuhnya lega. Tetapi, ketika di dapatinya, Viona tengah duduk di depan meja rias sedang menyisir rambutnya ke samping, menampakkan leher putihnya, Johan kembali di landa kemarau.


"Astaga, godaan macam apa ini?" Johan mengusap wajahnya kasar, dia berlalu begitu saja menuju sofa. Tetapi, langkahnya terhenti saat dia ingat sesuatu. "Tapi, dia istriku, boleh dong kalau berpikir yang iya-iya!"


Johan melebarkan senyuman sebelum menghenyakkan tubuhnya di sofa. Tak kuasa rasanya dia menahan kegembiraan hatinya bahwa dia akan benar-benar melepas masa dudanya.


"Apa kau tidak lapar?" Viona merapatkan bibirnya saat Johan tak menyapanya usai mandi tadi. Bahkan mengabaikannya, memilih merebahkan diri di sofa, mengganti saluran televisi sepertinya sedang memikirkan sesuatu.


Johan bangkit, kini dia menghadapi Viona yang terlihat segar. "Ku kira kau akan tidur tadi, kalau kau lapar, akan kupesan kan makanan."


"Setelah mandi, aku merasa segar! Dan aku tadi belum makan," Viona duduk agak jauh dari Johan.


"Baiklah, kau mau makan apa?" Johan berjalan menuju telepon yang berada di dekat ranjang.


"Apa saja!"


Johan segera menelpon layanan kamar untuk memesan makanan, memesan beberapa menu makanan yang sekiranya mengenyangkan.


Johan meletakkan kembali gagang telepon ke tempatnya semula. Dia kembali ke sofa dimana Viona tengah duduk dengan menggulir layar ponsel.


"Vi..." Viona menoleh, menaikkan kedua alisnya. "Setelah makan kau mau kemana? Em, maksudku, apa yang akan kau lakukan?"


Viona mengerutkan seluruh wajahnya. "Maksudnya?"


"Ya...kau ingin melakukan sesuatu, mungkin?"


Viona menahan senyum saat melihat Johan sangat gugup dan salah tingkah. "Entahlah, kurasa aku ingin di kamar saja. Bukankah diluar sedang terik?"


Suara di depan pintu memaksa Johan membawa senyumannya menjauh. Hingga pegawai hotel di buat terkejut melihat seringai dari Johan. Ditariknya daun pintu, mempersilahkan pegawai hotel itu masuk kamar. Meletakkan troli berisi berbagai menu makanan yang sudah di pesan Johan.


"Makanlah yang banyak, aku tidak mau kau kurus setelah menjadi istriku!" Kelakar Johan saat Viona memandangi banyaknya makanan yang dipesan.


"Baiklah, aku tidak akan sungkan lagi!" Viona segera mengambil aneka menu makanan yang begitu menggugah selera makan. Johan menyaksikan Viona yang suka makan dengan senyum terkembang. Seperti ini saja, aku sudah bahagia, pikirnya sambil mulai menikmati makanan.


****


"Apa yang kau pikirkan?" Viona tengah menopang dagu, matanya memandang kosong.


"Ah, tidak ada!" Viona menegakkan tubuhnya. "Apa ada kabar keberadaan Martin?"


Johan menghela napas, saat Viona menoleh sekilas ke arah Johan. "Jangan pikirkan dia lagi! Dia sudah berada ditempat yang seharusnya!"


"Dia mati?" Viona waspada, namun kekehan Johan membuatnya keheranan.


"Tidak! Aku tak sekejam itu pada musuhku!" Johan beringsut mendekat, meraih Viona dan memposisikan dia menghadapnya, "Jangan menyebut namanya lagi mulai sekarang! Dia hanya masa lalumu! Mari kita pikirkan masa depan kita, keluarga kita!"


Tak ada keraguan di sorot mata yang tiba-tiba teduh, mengalirkan kenyamanan menelusup ke dalam hatinya. Merasa terlindungi dan damai.

__ADS_1


Cup.


Johan terkejut mendapati kecupan Viona di pipinya. "Terimakasih sudah melindungi kami sejauh ini, Ayah Jo!"


Sebaris kata yang menggetarkan sisi lembut seorang Johan. Memaksa tangannya meraih dagu Viona dan menenggelamkan dirinya di sana. Semakin dalam saat keduanya menikmati jatuh yang semakin dalam.


Hanya sadar, saat udara mulai menipis, mereka menjauh. "Terimakasih sudah menerimaku, Mama Vi!"


Keduanya mengukir senyum kepuasan, dengan jemari yang saling bertaut, "Kurasa sofa ini tidak buruk juga untuk memulai sesuatu yang baru!"


"Aku tidak akan menahan diri kalau begitu!"


Johan tak melepaskan tautan mata diantara mereka, mendorong lembut dengan gerakannya, hingga Viona tersudut di lengan sofa. Tangan kekarnya membelai lembut pipi Viona yang bersemu merah. Sekali lagi, Johan membenamkan dirinya diatas Viona. Membiarkan bertaut lebih lama, menyapa setiap rasa yang mendatanginya.


Menjelajahi hamparan bunga yang lembut dengan langkahnya yang kasar. Melahirkan desah pelan namun mampu memompa gairah.


Pekik pelan dari Viona membuat Johan berhenti, "Maaf, apa terlalu keras?"


"Ah, tidak! Aku hanya terkejut!" Viona menggigit bibirnya. Johan berhenti, "Don't stop, please!"


"As you wish, Mom!" Johan tak lagi menahan diri, sekalipun waktu tak mau berhenti untuk mereka. Johan dan Viona memacu diri, berlari menggapai ujung rasa yang mulai mengguyur mereka.


Hingga ambang batas mereka telah sampai, keduanya baru berhenti. Menyeka bulir yang membasahi permukaan. Lelah. Tapi, bisakah mereka berhenti? Tidak, tapi gerakan di atas ranjang memaksa Viona berlari secepat kilat ke kamar mandi, dan Johan, serampangan berbusana.


"Jagoan Ayah sudah puas tidurnya?" Johan menghampiri Nicky yang masih lesu mendekap guling. Johan menyusulnya dan meletakkan kepala bocah laki-laki itu di atas lengannya. Melegakan napas yang belum sepenuhnya memenuhi rongga dadanya.


***


Di kamar lain.


Rio dibuat semakin kesal dengan banyaknya teman Nina yang tiba-tiba datang. Bahkan Rio harus duduk di pojokan, diabaikan dan seakan tak dianggap ada.


Nina sesekali melirik suaminya dengan perasaan serba salah. Dia tidak menyangka temannya akan mengacau "siang pertamanya" dengan pria yang amat dicintainya ini. Melihat betapa masamnya wajah Rio, Nina tahu, suaminya sedang menahan seonggok kekesalan.


"Sorry cuy, bukannya ngusir nih ya! Tapi gue harus ganti baju dan mandi! Kasihan juga laki gue, gerah tuh pasti!" Lirih Nina sambil merunduk.


"Bilang aja lo ga sabar mau iya-iya sama dia, iya kan?" Dinda diantara 10 orang itu yang mencetuskan ide gila ini. "Lo lupa waktu dia bikin lo mewek sampe kaya orang gila? Kita lagi balesin sakit hati lo dulu! Ga da akhlak ni bocah!"


Nina menggaruk pipinya. "Iya gue inget, tapi kan dia udah jadi laki gue sekarang! Masa iya gue cuekin aja! Durhaka gue nanti!"


"Lo emang teman durhaka, Na! Temen makan pagar lo!" Cetus Dinda.


"Emang gue kambing?" Nina mendelik, "Eh denger ya, gue hargai niat lo semua, tapi beneran, gue bentar lagi mau persiapan resepsi tar malem! Plis pake banget ngertiin gue! Lo pada mau, gue jelek, kusut, pas nyambut temen-temen laki gue?"


"Yah, lo ngga asik ah, Nin!" Timpal yang lain.


"Inget ya, tar malem bakal gue gangguin MP lo! Biar tau rasa laki lo, ngga jadi iya-iya sama lo!"


Nina merepet, dalam hati terus bergumam, "Punya temen gini amat ya? Ketinggian solidaritasnya, jadi bikin gue sekarat! Dipikirnya, gue ngga pengen apa diapa-apain sama pria yang paling gue cinta?"


Nina mengantar temannya hingg ke muka pintu, dengan segala macam ancaman yang masih terlontar. Nina menutup pintu setelah melambai untuk terakhir kalinya.


"Temenmu dari alam lain ya? Ngga tahu ini kamar pengantin?" Ketus Rio sambil berkacak pinggang. Nina yang merasakan adanya bahaya dari depannya, segera berlari kecil sebab kain yang dipakainya begitu sempit membalut kakinya.


"Iya, mereka dari galaksi sebelah, Mas!" Nina meraih pinggang suaminya, "Jangan marah ya! Nanti di depan pintu aku kasih peringatan! Biar ngga pada gangguin kita!"


Nina mengusap pelan dada Rio, "Kamu kok agresif banget sih? Kemarin-kemarin jaga jarak banget sama aku?"


Nina melebarkan senyumnya, "Sekarang udah sah kan? Salah meluk-meluk suami sendiri? "

__ADS_1


"Resiko tanggung sendiri ya!" Rio mendorong tubuh Nina ke atas ranjang.


"Mas, aku masih pakai sanggul segede gaban lho! Masa udah mau di serang aja?" Nina menahan Rio yang sudah berada di atasnya. Nina merasakan tubuhnya menguarkan hawa panas. Menggigil menahan kuatnya perasaan.


Rio berdecak, menarik Nina hingga duduk tegak lagi. "Sini aku bantu lepasin! Lagian suka banget ribet kaya gini?"


"Melestarikan budaya, Cintaku!" Nina mulai melepas satu persatu hiasan di kepala dan mulai menghapus make up.


Rio menelan ludah saat melihat pundak Nina yang putih mulus, saat dia menarik turun kebaya yang di kenakan istrinya. Menyisakan kemben membalut bagian tengah tubuh Nina.


"Aku mandi dulu, Mas! Lengket rasanya!" Nina mengusap tengkuknya yang meremang akibat ujung hidung Rio yang nyaris menyentuhnya.


Tanpa menunggu jawaban, Nina langsung berlari ke bathroom, menenggelamkan wajahnya yang terasa terbakar. "Hari ini gue bakal jadi wanita, bukan gadis lagi!" Gumam Nina, dia tak mengerti perasaannya kini, berdebar, penasaran, takut, tapi, mau. Iya, Nina ingin merasakan, yang sering orang sebut sebagai surga dunia.


Nina segera berpakaian dengan layak. Meskipun ada banyak lingerie tapi dia tak mau memakainya, sekalipun dia bersikap agresif tapi lingerie terlalu berlebihan baginya. Atau belum terbiasa saja. Mengingat kakaknya yang dulu tak pernah memakai pakaian kurang bahan, tapi sejak bersama Harris, kakaknya seperti pengoleksi lingerie.


Begitu pintu terbuka, Rio sudah menyambutnya dengan uluran tangan di pinggang dan di balik lututnya. Membuat Nina menyembunyikan keterkejutan dan perasaan aneh di bahu suaminya.


Rio membaringkan Nina perlahan di atas ranjang, membungkam Nina dengan buaian. Yang membuatnya tak bisa menolak. Sesekali dia menarik tubuhnya saat pertama kali bagian tertentu terjamah oleh Rio.


Rio juga baru pertama kali melakukan ini, dia hanya mengikuti insting saja. Merangkai semua yang pernah di dengarnya atau dilihatnya.


Tiba-tiba...


Pintu kamar diketuk pelan, membuat keduanya membeku sejenak, saling pandang.


"Ah, sial!" Rio mengutuk dalam hati. Gangguan datang lagi dan silih berganti.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Insya Allah ini karya ori ya gaes...ketara banget dari lamanya up, dan lamanya nagkring di mari...🤭


Biar gak di anggap sama platform tapi seneng hasil peres otak sendiri...✌


Ngga masalah ngga femes secepat yang lain, ngga papa naiknya kek siput keberatan rumah🤭...Ngga papa cuan yang dihasilkan dikit, tapi seneng baca karya sendiri...inspirasi boleh, tapi jangan copas ya...✌ judul boleh sama, isinya hasil pikiran kita sendiri ya...Asli, nulis itu mudah dibayangkan, susah dijalankan...🤭


Oh ya, hari ini ada yang promoin novel saya di FB Noveltoon grup...Siapapun makasih ya...seneng ada yang dengan suka rela mempromosikan saya...🥰🥰❤ semoga menjadi catatan amal baik teman-teman semua...🥰


Bab selanjutnya agak malem ya man teman🙏✌😘


save karya ori ya gais...


Love Love man teman semua😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2