Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Wajah Berbingkai Luka.


__ADS_3

Rasanya hanya seperti sekedip mata, musim hujan telah kembali menyapa bumi. Bau khas tanah kering tertimpa air hujan, terasa sangat menyengat menusuk hidung.


Seperti biasa, penyakit musiman Kira datang lagi. Bahkan lebih menyakiti daripada sebelumnya. Hidungnya terasa sakit saat menghirup udara, dan lebih sering bersin. Tentu saja ini sangat mengganggu Ranu. Bayi bongsor yang kini sudah aktif bergerak dan berguling.


Usai bertemu dokter spesialis THT, Kira menyempatkan diri menemui Vivian. Tetapi, langkahnya terurung saat dia mendengar beberapa perawat yang mengatakan ada seorang wanita mengalami kecelakaan dan tak ada sanak saudara yang mengunjunginya. Atau menjamin pasien tersebut.


Kasihan, batin Kira. "Maaf Sus," Kira berbalik untuk menghadapi kedua perawat yang sepertinya tidak mengenalinya, karena masker yang dikenakannya.


"Ya, Nona. Ada yang bisa saya bantu?" Salah seorang perawat itu dengan ramah mendekati Kira.


"Dimana pasien yang anda ceritakan barusan?" Kira mendekat dan membuka maskernya.


"Ah, Nona! Maaf, kami tidak mengenali anda. Maaf," perawat itu membungkuk berulang, nyaris menyentuh lutut.


"Sudahlah, tidak apa-apa!" Kira meraih lengan kedua perawat yang tampak canggung itu. "Tunjukkan kamarnya, biar aku melihatnya!"


"Mari, Nona. Dia baru pagi ini di pindah ke kamar dan tak ada yang menjenguknya. Beberapa hari lalu, tangan kirinya di amputasi, Nona. Karena luka membusuk di lengannya. Ah, pokoknya dia sangat mengenaskan. Masih beruntung, nyawanya bisa tertolong!" Perawat itu menjelaskan panjang lebar.


Kira mengernyit dalam, lalu menoleh sekilas ke perawat itu, "Luka membusuk?"


"Iya, Nona," mereka bertiga terus berjalan menyusuri koridor panjang menuju kamar pasien itu berada. "Mungkin dia mendapat kekerasan fisik sebelum mengalami kecelakaan itu."


"Lalu, luka akibat kecelakaan itu?" Kira semakin penasaran dengan keadaan si korban.


"Dia mengalami patah tulang dan belum bisa berjalan. Kasihan sekali, Nona. Beruntungnya lagi, Tuan Rio meminta agar dia mendapat perawatan yang layak," perawat itu mengarahkan Kira ke sebuah kamar perawatan.


Kira meneliti ruangan yang bercat biru muda. Terasa tenang dan nyaman. Di tengah ruangan, ada ranjang dengan seseorang bersandar dengan bantal sebagai tumpuan. Matanya tampak menerawang ke luar jendela. Kosong, seakan tinggal raga. Luka-luka di wajahnya tertutup kain perban, di pelipis nyaris mengenai mata, di pipi dan beberapa goresan kecil yang tak begitu tampak dari posisinya sekarang.

__ADS_1


Kira menoleh kepada perawat di sebelahnya. Perlahan, Kira mendekati ranjang setelah mendapat anggukan dari perawat itu. Batin Kira menjerit, melihat betapa mengerikan kondisi wanita itu, kurus dan tampak tak terawat.


Kaki kirinya terlihat di perban ketat hingga ke telapak kaki. Sebelah tangannya tertancap jarum infus. Dan, sebelah lagi tersisa sebatas pertengahan lengan. Rambutnya sepertinya di pangkas asal, dan tampak ada beberapa bagian yang tak ada rambutnya. Di lehernya hingga sebatas kerah bajunya, tampak bekas luka menghitam bulat dan dalam.


"Siapa yang tega memperlakukan wanita seperti ini?" Batin Kira miris, hatinya ikut tersayat melihat pemandangan ini. Hingga tanpa terasa tetesan air matanya menggenangi pipi.


Langkahnya semakin dekat, dan sepertinya tak mengganggu lamunan wanita itu sama sekali. Kira mengikuti kemana kepala itu mengarah. Menyela di antara mata dan jendela. Kira menahan nafas, sebelah wajahnya bahkan menderita luka cukup parah. Menyeluruh, hingga sebelah matanya memejam.


Awalnya, wanita itu masih acuh. Mata itu masih kosong, tampak sangat jelas pikirannya sedang berkelana. Akrab sekali rasanya dengan wajah ini, tapi siapa? Kira sendiri sedang menggali memorinya ke belakang. Membuka gulungan ingatannya ke masa lalu.


Keduanya saling memaku pandangan, hingga wanita itu perlahan mendapatkan kembali fokusnya. Sebelah manik matanya bergerak, memindai Kira secara menyeluruh.


Tiba-tiba, tangan wanita itu terulur ke arah Kira dengan gemetar. Kira yang tak mengerti, menatap tangan itu, dan dengan ragu dia meraihnya. Tangan kurus, sangat kurus hingga otot-ototnya tampak menyembul bagai akar pepohonan. Gelap, segelap kulitnya. Goresan tak beraturan terlihat menyela diantara guratan otot itu.


Kira merasakan benar, wanita itu sangat menderita, terlebih dia mulai mengeluarkan isakan yang mengguncang seluruh tubuhnya. Tangannya berkeringat, dan menggenggam erat telapak tangan Kira. Meremas, semakin lama semakin sakit saja.


"Sus, apa dia seperti ini sebelumnya?" Kira menoleh, perawat itu masih di sana.


Perawat itu tampak bingung, "Selama saya mengawasi dia, baru kali ini dia bertingkah seperti itu, Nona. Bahkan, dia tak pernah melihat kami sama sekali. Maaf Nona, dia seperti sudah mati jiwanya."


"Ketika dia sadar, pertama kali yang diucapkan adalah kenapa dia masih hidup! Aneh kan, Nona?" Kira mendesah, tak bisa dibayangkan betapa menderitanya wanita ini.


Beberapa saat lamanya, wanita itu menangis, hingga kaki Kira terasa kebas. Tak ada suara, ataupun interupsi, dari angin sekalipun.


Pada waktu itu, Kira menyadari satu hal, yang membuatnya melepas genggaman tangannya. Menyeret mundur kakinya, dan berbalik meninggalkan ruangan itu.


***

__ADS_1


Harris menyegerakan langkahanya menuju kamarnya di lantai dua. Mengabaikan Ranu yang tengah bermain dengan pengasuh dan Jen. Ranu yang sudah bisa duduk itu, sebenarnya berusaha mengejar papanya, tetapi Ranu kalah langkah.


Harris mendorong pintu hingga terbuka lebar, kamar terasa sepi, pun dengan kamar mandi yang kosong dan kering.


"Jen, Mama kemana?" Harris berteriak dari ujung tangga, dia berlari menuruni tangga dengan tergesa-gesa.


"Mama tadi di kamar, Pa!" Jen menoleh ke arah Papanya. "Ada apa, Pa?" Jen bangkit saat melihat papanya terlihat cemas.


"Tidak ada, Jen!" Harris berhenti sejenak, otaknya berputar. Dimana kiranya istrinya berada. Harris melesat ke ruang fitnes, semoga dia di sana, pikirnya.


Harris menata napasnya yang terengah-engah, setelah dilihatnya, Kira tengah duduk termangu di tengah ruangan. Dia menumpu dagunya di atas lulut yang ditekuk. Dari penampilannya, dia usai berduel dengan samsak, dengan tangan kosong.


Harris melepas jas yang membuatnya gerah. Menarik dasi yang masih menggantung di kerah bajunya. Lalu melemparnya asal.


"Kau menyakiti jemari yang suka menyentuh tubuhku, Sayang!" Harris menempatkan diri di depan Kira yang perlahan mengangkat wajahnya. Harris bersila, lalu di raihnya punggung tangan dan jemari yang memerah itu. Diusapnya perlahan. Ditariknya kedua tangan itu ke bibirnya. Sesekali ditiup, sesekali beradu dengan irisan bibirnya.


"Aku tahu kau akan marah setelah melihat ini! Aku tahu kau bukan wanita pemaaf. Aku tahu semua terasa berat bagimu, Sayang. Tapi, suamimu ini, tidak mau kau masih menyimpan duri yang akan menghujam jantungmu lebih dalam. Atau, mungkinkah abang tersayangmu ini belum bisa mengobati sakit hatimu?"


Kira menggeleng, Harris mengusap kepala wanita yang amat di kasihinya ini. "Sayang, dokter mengesampingkan dendam, dia sudah bersumpah akan menyelamatkan nyawa yang datang padanya. Kau tahu apa akibat mengingkari sumpah dihadapan Tuhan?"


Kira mengangguk. "Itu alasan dokter menyelamatkan Melisa saat di bawa ke Rumah sakit. Tidak ada yang tahu bahwa itu Melisa sampai berhari-hari. Bagaimanapun sistem harus berjalan, rumah sakit sudah keluar biaya banyak untuk Melisa. Tentu saja, setelah tak ada yang menyokong biaya perawatan, rumah sakit akan menghentikan pengobatan. Beruntung, Vivian melihatnya dan akhirnya kami berdiskusi. Kami akan mengobatinya hingga sembuh, Papa yang menanggung biayanya. Setelah dia sembuh, Melisa akan di bawa ke dinas sosial. Karena, Rian sudah menceraikan Melisa sejak lama."


Kira terperangah, ditatapnya kedua manik mata suaminya yang selalu memberi ketenangan.


"Sayang, aku hanya mau kau hidup untukku. Jangan lagi kau memikirkan masa lalumu. Mereka sudah menjauh. Aku tidak mau lagi melihatmu menyakiti dirimu sendiri seperti ini. Kau mengerti?"


Harris meraih Kira dalam pelukannya. Merasakan kedamaian yang menentramkan jiwa keduanya. Benar, Kira hanya terlalu terkejut melihat Melisa. Meski benci, Kira tak pernah menyumpahi Melisa. Melihat kondisinya yang mengenaskan, membuatnya merasa iba.

__ADS_1


Kehidupan telah menjalankan tugasnya. Menjatuhkan hukumnya. Bahkan jika itu terlalu kejam, masih ada dunia keabadian yang menanti. Pembalasan yang sesungguhnya.


__ADS_2