Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Memintamu Dengan Layak


__ADS_3

Malam hampir menyapa, saat Harris menggedor paksa kamar mandi. Kira tengah mandi saat itu.


"Sayang, buruan mandinya!"


"Astaga, badan baru saja menyentuh air, udah dipanggil aja!"


Kira menggerutu, tetapi dia berusaha mandi secepat mungkin tanpa melewatkan satupun kebutuhannya di kamar mandi. Hingga tak  berapa lama kemudian, Kira sudah rapi dengan gaun tidurnya. Harris tengah berdiri di depan lemari yang berisi baju milik Kira. Belum sempat Kira bertanya, Harris mengambil dress dengan pinggang ketat dan longgar di bagian dada.


"Sayang, ganti bajumu dengan ini!" Harris menyerahkan dress berwarna peach bermotif abstrak. "Jangan banyak tanya, turuti saja!"


Harris yang sudah rapi dengan kemeja lengan pendek, segera meninggalkan Kira. "Ranu sudah siap, tinggal kamu aja!"


Kira memang tak pernah membantah apapun yang diperintahkan suaminya. Pun dengan kali ini. Dia segera melakukan apa yang di minta oleh Harris. Dengan cepat dia menggulung rambutnya, dan memoles make up tipis di wajahnya. Hingga tak sampai 15 menit dia sudah menuruni undakan depan rumah menuju mobil.


***


Lagi-lagi, Kira dibuat bingung oleh suaminya. Harris mengemudi sendiri, hanya bersama Kira dan Ranu. Jalanan yang begitu akrab tampak menyapanya. Kira mengeluh melalui hembusan nafasnya.


"Kau cantik sekali, Sayang!" Harris yang sejak tadi menggenggam tangan Kira, membagi fokus antara jalan dan istrinya. Baginya, Kira terlihat manis dan segar.


Kira berdecak, "Jangan bohong, Bang. Mana ada aku cantik?"


"Kenapa sih ngga percaya sama suami sendiri? Aku jujur, Sayang. Bagiku kamu paling cantik!" Harris mengecup punggung tangan Kira.


Ranu sepertinya tidak terima, dia mengeluarkan suara lucu, sambil menarik tangan mamanya.


"Kenapa Ran? Kau iri karena Papa bilang Mama cantik? Sorry ya, Ran. Meski cinta pertamamu adalah Papa, tapi, cinta Papa, hanya Mama kamu!" Harris melepaskan genggaman tangannya, dan menoel pipi gembul Ranu.


"Masa hal-hal seperti itu di bilang ke Ranu, Bang?" Kira menyela tawa Ranu yang semakin kencang.


Harris kembali memperhatikan jalan, "Kenapa? Itu fakta kan?"


"Iya, tapi itu menyakiti hati Ranu loh!" Kira melirik Harris yang mengulas senyum singkat. "Bang, kita mau kemana sih?"


"Kau akan tahu sendiri nanti!" Harris mengarahkan mobilnya ke sebuah hotel. Yang Kira tahu, itu milik keluarga Hendra.


"Abang selalu begitu!" Harris berhenti tepat di depan pintu masuk hotel. Harris turun, lalu memutari mobil untuk membuka pintu bagi Kira. Dia menolak saat salah seorang petugas hotel hendak membukakan pintu untuk istrinya.


Harris meraih Ranu dalam gendongannya, dan mengulurkan tangannya untuk Kira. Keduanya saling mengadu pandang sebelum mengulas senyum penuh arti. Kira mengaitkan tangannya di lengan suaminya. Mereka bergandengan memasuki hotel.


***


Tak jauh dibelakang Harris, Rio juga baru saja tiba dengan Nina. Wanita itu tampak gugup berjalan bersebelahan dengan Rio.


"Kita hanya akan makan malam dengan mereka, Nina. Lagian Mama dan Papa yang mau ketemu sama kamu! Jangan gugup begitu," Rio mengusap pipi Nina yang bersemu merah.


"Bagimu hanya makan malam, tapi bagiku ini ajang penjurian!" Nina mengerutkan bibirnya. Dia masih terus melangkah mengikuti Rio. "Lagian, makan malam kan bisa di rumah, ngapain sampai ke resto hotel begini?"


Rio tertawa tanpa suara melihat Nina yang melayangkan keberatan dengan makan malam kali ini, "Menyewa chef dari resto hotel malah lebih mahal, Sayang!"

__ADS_1


Nina terhenyak kemudian membekukan langkahnya. "Kenapa malah berhenti sih, Nin? Orang tuaku sudah menunggu!"


Rio menoleh dengan malas, batinnya berdecak. Harus sabar menghadapi Nina yang apa adanya ini. Apa yang dirasakan itu pula yang dia tunjukkan.


"Kau tau maksudku kan, Pak Rio? Aku tidak memintamu untuk menyewa koki!" Nina menatap Rio dengan tajam dan bersungut.


"Aku tahu, tapi kali ini menurutlah denganku! Aku sudah cukup banyak mengikuti maumu!" Rio menarik tangan Nina. Keduanya kembali melangkah. "Jangan cemberut seperti itu,"


Nina malah semakin manyun.


"Mau kucium di sini?"


Nina membelalak, dipukulnya lengan kekasihnya itu. Rio terkekeh, "Jangan banyak tingkah, atau aku akan benar-benar melakukannya.


Rio tersenyum penuh arti, saat melangkah ke dalam lift yang terbuka. Rio tahu, Nina akan segera menurutinya dengan sedikit ancaman. Bukan karena ciumannya, tapi tempatnya. Ups!


Resto hotel tampak begitu sepi, hanya ada beberapa orang yang hampir menyelesaikan makan malamnya. Rio menautkan tangan Nina di lengannya. Mencoba menenangkan kegugupan Nina.


"Mana orang tua Pak Rio?" Nina mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.


"Sampai kapan kau akan memanggilku seperti itu? Awas saja kalau kau masih memanggilku pak dihadapan semua orang!" Rio bersungut. Dia kesal dipanggil dengan sebutan Pak, seolah dirinya sudah tua saja.


Nina berdecak, "iya...iya! Kalau tidak lupa!"


Rio melirik sebal ke arah Nina. "Besok kutukar tambah di pasar loak, mau?"


"Eh, sembarangan! Ini anak orang, Pak, eh!" Nina menutup mulutnya. Kemudian dia nyengir lebar saat Rio menatapnya dengan kesal.


Semua mata tertuju pada Nina yang mematung. "Wah, calon mantu sudah tiba," seorang wanita berwajah cantik mendorong kursinya ke belakang. Dia langsung menghampiri Nina dengan wajah berbinar-binar. "Ayo duduk, kenapa masih berdiri di sini?"


"Eh, maaf Tan..." Nina yang tersadar dari keterkejutannya segera menyalami wanita yang di ketahuinya sebagai mama Rio.


"Panggil Mama...sebentar lagi kan jadi mantu Mama!"


"I-iya, Ma!" Nina mengikuti mama Rio yang bernama Yola, ke kursi cokelat mengkilap. Nina menyalami Papa Rio, dan duduk di sebelah Ayah, di posisi paling depan.


Menu makan malam mulai berdatangan, keluarga besar itu mulai makan dengan tenang sesekali mereka mengomentari rasa makanan dan tampilannya. Hingga akhirnya, acara makan malam selesai, Rio mengambil posisi di ujung meja, membelakangi kaca-kaca yang menampakkan cahaya berkelip bagai lautan kunang-kunang.


Dia mulai memetik gitar yang sejak tadi bertengger di sebuah kursi. Tak ada yang menyangka gitar artistik itu sengaja disiapkan, bukan sekedar pajangan. Rio mulai mengalunkan sebuah lagu. Suaranya sangat merdu dan indah. Bahkan Kira yang masih asyik menyantap menu penutupnya, dibuat terkaget-kaget mendengar Marry You, dilafalkan dengan sempurna oleh Rio. Ekspresi Kira melebihi ekspresi Nina yang berbinar bahagia. Senyuman tak pernah pudar menghiasi wajah ayunya.


"Nina, maukah kau menyempurnakan hidupku? Aku tak bisa menjanjikan apapun saat ini, tapi denganmu, janji tak lagi berarti, karena kamulah yang membuat semua menjadi pasti," Rio mengakhiri lagunya dengan sebuah bait yang indah.


Nina yang masih terpaku, hanya bisa mengangguk. Ini terlalu indah baginya. Bahkan Rio yang datar bisa melakukan hal semanis ini.


"Ayah, Ibu, bolehkah aku meminta putrimu untuk menemani langkahku dan menjalani sisa hidupku?"


Ayah dan Ibu saling pandang, seolah mengisyaratkan tanya. "Apa ini sebuah lamaran?" Keduanya mengangkat bahu bersamaan.


"Kami mengizinkan, asal Nina mau!" Ayah menatap Nina yang masih belum kembali dari pusaran indah yang menghanyutkan.

__ADS_1


Tepukan di bahu menyadarkan Nina, dia menatap Ibu, "Bagaimana Nin? Apa kau mau menerima Nak Rio?"


Nina menyapukan pandangannya kepada semua yang hadir di sini. Kakaknya sudah mengangguk, sedangkan yang lain menunggu penuh harap. Terlebih Rio yang masih duduk memangku gitar. Nina menunduk, menarik napas, dan membuangnya perlahan.


"Iya, saya mau,"


Suara sarat kelegaan terdengar kental di telinga. Nina melirik Rio yang mengisyaratkan kepadanya agar mendekat. Nina bangkit dan berdiri di samping Rio. Satu lagi sebuah janji suci mengalun bersama petikan gitar. Keduanya hanyut dalam suasana yang menghangat.


Di ujung meja, dua orang pria tampak bersungut. Dua lelaki yang tak memiliki ikatan darah, tetapi memiliki kecenderungan sifat yang sama.


"Kalian kenapa?" Kira menoleh dengan rona merah mengambang di pipi.


"Ini yang wanita bilang romantis?" Harris mencibir. Pun dengan Excel.


"Kalian berdua pria kaku, mana tahu hal-hal romantis seperti ini?" Kira tak kalah sinis membalas keduanya.


"Romantis hanya untuk pria yang diperbudak cinta, Ma!" Tukas Excel yang menyilangkan tangan di dada.


"Benar, Kak! Papa setuju, pria itu pemimpin, mana bisa jadi budak wanita, sekalipun cinta!"


Kira melirik sebal keduanya. Lalu dia mendekatkan wajahnya ke telinga Harris. "Abang yakin tidak sedang mengatakan sesuatu yang salah?"


Kira mengusap penopang tubuh suaminya dengan lembut. Dan itu membuat Harris melotot, "Habis kau olehku!" Ucap sorot mata itu.


Kira mencibir, dialihkan pandangannya pada Excel, "Dan kau Kak, tunggu saja sampai kau mengenal cinta dan apa itu diperbudak cinta!"


"Tidak akan, Ma! Hal seperti ini tak akan terjadi padaku!" Excel membuang muka, menghindari tatapan Mamanya.


Kira mendengus sebal, "Kalian berdua sama saja."


Semua bertepuk tangan saat Rio menyematkan cincin di jari manis Nina.


"Oh, manis sekali," gumam Kira, namun Kira yakin kedua lelaki di belakangnya mendengarnya dengan jelas.


"Jadi, kapan kalian akan berencana untuk menikah?" Suara Papa Rio menggema di seluruh ruangan.


"Besok juga boleh, Pa!" celetuk Rio tanpa mengalihkan perhatiannya dari Nina.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2