
Matahari sudah sangat tinggi, memancarkan panas yang menghangatkan. Cerah, mendung yang beberapa hari ini bergelayut manja di langit, kini menyingkir, membiarkan langit menunjukkan batas yang tak tertembus.
Harris memicingkan matanya, silau sinar matahari menusuk matanya, melalui celah celah tirai. Pikiran pertamanya adalah, dia sudah sangat terlambat untuk bekerja dan terpaksa mengatur ulang jadwal rapat ataupun janji bertemu dengan beberapa klien.
Tetapi, dia tersenyum tipis, melihat wanita dengan surai yang berantakan menutupi sebagian wajahnya. Harris mengambil ponselnya, mengambil gambar wanita ini. Suatu saat bisa di gunakan untuk menggodanya.
Sepertinya, kali ini, dialah yang harus menyiapkan sarapan untuk Nyonya Harris. Segera dia mandi dan bersiap ke kantor meskipun sudah sangat terlambat. Membiarkan Kira terlelap dalam tidurnya. Dia pasti sangat lelah dan mengantuk.
Namun, baru saja, Harris melangkah menuju pintu, Kira bangun dan berteriak.
"Astaga, aku kesiangan. Bagaimana ini?," Kira kelabakan, menarik selimut, menutupi tubuhnya yang masih polos. Berlari ke arah kamar mandi, dan nyaris terjungkal. Selimut tebal itu terinjak ketika Kira berlari semakin cepat. Seolah pintu kamar mandi itu menjauh darinya.
Harris tertawa melihat kelakuan istrinya, yang bahkan tidak menyadari jika Harris masih di ambang pintu. Entahlah, Harris tiba-tiba menjadi orang yang sangat sabar, mudah tertawa dan perhatian akhir-akhir ini.
"Kenapa buru-buru? Kau mau ke kantor?," Harris meraih selimut yang membalut tubuh istrinya. Membuat langkah Kira tertahan. Selain karena eratnya pegangan Harris, tetapi, juga karena dia mempertahankan selimut itu agar tidak lepas, tidak ingin Harris melihat tubuhnya yang, polos. Kira sangat malu, meskipun mereka sudah menghabiskan waktu untuk saling menjelajahi diri mereka.
"Tidak, tapi anak-anak harus sekolah kan?," Kira terlihat menyerah dari usahanya menjauhkan diri dari Harris yang sudah wangi. Istri macam apa aku ini, batin Kira. Suaminya sudah rapi dan dia masih acak-acakan.
Harris menarik istrinya, memutar tubuh yang semula membelakanginya. Harris menyentil dahi Kira, pelan, namun tetap saja itu sakit. Kira meringis, namun dia tidak bisa mengusap keningnya, karena kedua tangannya masih mengatupkan selimut di dadanya.
"Kau harus sering di jitak biar tidak mudah lupa," Harris mengecup bekas jentikannya. Ah, mau di jentik lagi dong.
"Kau lupa, anak-anak di rumah Papa?,"
Kira membenturkan dahinya di bahu Harris, alih-alih menepuk dengan tangannya. Kenapa dia sangat pelupa sih?
"Apa yang kau pikirkan di otakmu yang kecil ini?," Harris mengecup sisi kepala Kira. Membuat wajah Kira memanas. Harris sangat tahu bagaimana membuat wanitanya merona.
Kira berpikir sejenak, apa yang di pikirkannya? Tidak ada juga sih. Hanya perlakuan Harris padanya, semua yang selama ini di inginkan oleh hatinya. Segalanya, yang selama ini di carinya. Harris menghujaninya dengan perhatian, seperti kasih sayang yang selama ini dia inginkan. Andai, itu bisa menjadi miliknya seorang.
Kira menggeleng, mengembalikan fungsi dan isi otaknya seperti semula. Pikiranya mulai kacau, setiap hatinya menginginkan Harris menjadi miliknya sendiri. Setiap hatinya mulai serakah.
"Mandilah, segera sarapan, kau tidak perlu bekerja, biarkan aku saja yang bekerja," Harris menangkup pipi Kira dan menggoyangnya perlahan. "Biarkan aku menjadi kepala keluarga yang sesungguhnya. Kau nikmati saja."
__ADS_1
Kira menatap mata hitam berkilauan seperti tetesan tinta yang sempurna. Sekali lagi, mata itu, menghipnotisnya. Membawanya dalam pusaran lembut, menghisapnya menuju alam lain yang sangat berwarna. Penuh kebahagiaan.
Harris mendesah, wanita ini terlalu banyak berpikir. "Katakan apa yang kau pikirkan?," Harris tidak ingin membuat Kira salah paham dengan ucapanya barusan. Harris menarik tubuh Kira, mengendurkan paksa selimut yang membalutnya. Mendudukkan Kira di tepi ranjang. Mereka kini saling berhadapan.
"Dengar, bukannya aku melarangmu bekerja, tetapi, aku ingin kau fokus mengurus anak-anak. Mereka pasti akan merasa Mamanya semakin jauh dari mereka," Raut wajah Harris berubah serius, dia tidak ingin Kira menyangka, dia hanya main-main." Begini saja, kau bekerja lah untuk ku. Aku akan membayarmu,"
"Benarkah? Berapa gajinya?," Kira yang semula datar, berbinar ketika menyinggung soal bayaran.
"Sebanyak yang kau minta," Jawab Harris. Dasar wanita, uang saja yang di pikirkannya, desah Harris dalam hati.
"Baiklah, aku akan memikirkan berapa banyak yang aku inginkan," Kira tersenyum bahagia. Membayangkan banyaknya uang yang mengisi tabungannya dan apa saja yang dilakukannya denga uang-uang itu nanti. Tapi,. Kira mendadak waspada. Ini aneh, dan terlalu tiba-tiba.
"Apa pekerjaanku?," Kira menatap Harris penuh selidik. Jangan-jangan dia memintaku menggosok atap rumah, bisik iblis jahat dalam hati Kira.
"Apa saja yang kau bisa, kau akan mengerjakannya. Apapun yang ku minta, lakukan, jangan banyak protes, jangan banyak mengeluh. Bagaimana?,"
"Kau tidak sedang berpikir untuk mengerjaiku, bukan?,"
"Tentu saja tidak," Sorot mata Harris menajam. Dia mulai kesal dengan Kira karena banyak bertanya. " Jangan banyak bertanya, pergilah mandi,"
Kira menenggelamkan seluruh tubuhnya dalam air. Enggan berpikir banyak, otaknya tak mampu menjangkau masa depan. Dia hanya ingin menikmati saat ini dan mengusahakan esok hari. Biarlah dia menikmati perasaan memiliki, sementara belum terbagi. Membenamkan dirinya dalam lautan cinta yang Harris berikan, meski suatu saat dia akan susah payah berenang ketepi, mencari daratan dan kehidupan baru.
Sepanjang hari, Kira menghabiskan waktu dengan Rina dan Sari. Mengajak mereka nonton film dan drama. Tertawa hingga perut mereka sakit dan menangis hingga tisu berhamburan di lantai. Berbagai macam camilan dan minuman ringan memenuhi meja. Tanpa perlu khawatir siapa yang akan membereskan.
Hingga waktunya menjemput anak-anak pulang sekolah, Kira baru beranjak dari kursinya. Kira sudah sangat merindukan mereka. Rencananya, hari ini, Kira akan mengunjungi Ayah dan Ibunya. Sudah lama dia tidak kesana.
Kira memakai kaus berkerah tinggi nyaris menyentuh dagunya. Menutupi kissmark yang di tinggalkan Harris untuknya, meski sudah tidak terlalu merah tapi dia tidak ingin menjadi bahan tertawaan orang lain.
Bersama Agus, Kira menunggu anaknya keluar dari sekolah. Seharusnya, mereka sudah keluar tapi, hingga 15 menit berlalu, mereka belum juga tampak.
Karena sudah terlalu lama, Kira berniat mencari tahu apa yang menahan ke tiga anaknya di dalam sekolah. Namun, baru beberapa langkah meninggalkan mobil, Kira di kejutkan dengan kehadiran mantan Ayah mertuanya.
"Ra, maafkan Ayah, kehadiran Ayah sudah sangat terlambat kali ini. Maafkan Ayah yang tidak mampu mendidik anak Ayah dengan baik. Karena Ayah, kalian jadi menderita," Ucap Ayah saat keduanya berada di sebuah kedai kopi tak jauh dari sekolah. Kira, yang sama sekali tidak tahu apa yang terjadi, mengerutkan dahi, bingung dan juga heran.
__ADS_1
"Nak, dengarkan Ayah, Rian sama sekali tidak melupakan kalian, Rian setiap bulan memberikan nafkah untuk anak-anak, melalui Melisa," Ayah menghentikan ucapannya, seolah menunggu Kira mencerna ucapanya.
Kira semakin bingung saja, tidak mau menerka-nerka dan berprasangka, Kira memilih diam dan menunggu Ayah melanjutkan.
"Maafkan Riana dan Ibumu, Ra. Jika kau ingin marah, marahilah Ayah dan jika kamu ingin membenci maka bencilah Ayah. Ayah tidak memaksamu memaklumi apa yang Ayah katakan, Ayah hanya ingin kamu tahu yang sebenarnya," Ucapan Ayah layaknya sebuah pidato, diucapkan tanpa keraguan seolah dia siap dengan semua konsekuensi yang dia dapatkan.
Ayah menghela napas sebelum melanjutkan ucapannya.
"Riana dan Ibu yang mengambil hak kalian selama ini."
Entah mengapa Kira tidak terkejut atau marah, ia bahkan tidak merasakan amarah yang mendidih. Sebelumnya dia tidak pernah menduga ataupun berprasangka ada yang sengaja tidak memberi nafkah untuk anak-anaknya. Hanya saja, aneh baginya, dengan semua perasaan ini. Benarkah dia sudah melupakan rasa sakitnya? Atau karena dia sudah berada di sisi orang yang tepat sekarang? Entahlah.
"Nak, sebagai permintaan maaf Ayah, tolong kamu terima ini, sebenarnya Ayah sudah menyiapkan ini sejak lama, tapi Ayah belum punya kesempatan. Ayah sempat marah karena Rian tidak mau membawa cucu Ayah pulang, tapi kini Ayah bersyukur, anak-anak tumbuh dengan baik dalam asuhanmu," Ayah tersenyum, namun dia belum lega. Masih ada beban di dalam hatinya. Bagaimana jika Kira menolaknya.
"Ayah tidak perlu melakukan itu, Kira bisa berusaha sendiri," Kira mendorong kembali amplop coklat di depannya.
"Tolonglah, Ra. Ayah akan merasa berdosa jika kamu menolaknya. Jangan membuat lelaki tua ini menjalani hidupnya dengan rasa bersalah, Ra. Ayah mohon," Ayah mengiba di hadapan Kira. Wajah tua itu sendu, seolah di gelayuti seribu kesedihan.
"Tapi, Yah-."
"Terima saja, kau akan membutuhkannya suatu saat nanti. Gunakan sebaik-baiknya, sekolahkan anakmu tinggi-tinggi. Mengerti?," Ayah menahan amplop itu di tengah meja, dan mendorong kembali ke tangan Kira. Tanpa menunggu persetujuan Kira, Ayah beranjak dari kursinya.
"Ayah, pamit dulu. Jaga diri kamu baik-baik dan jaga cucu Ayah. Semoga, kamu mendapat jodoh yang lebih baik di masa depan," Ayah tersenyum, senyum yang sangat tulus, sebelum Ayah berlalu dari tempat itu. Kira merasa berat menerima itu semua. Tapi dia juga tidak ingin Ayahnya berpikir dia tidak memaafkannya.
Kira menghela nafas, tidak ingin lagi berpikir macam-macam. Dia akan menyimpannya, dan tidak akan menggunakannya dalam waktu dekat.
Kira kembali ke mobil, sudah ada ketiga anaknya di sana, mereka menyambut Mama mereka dengan riang gembira, seolah, sudah berabad lamanya tidak berjumpa. Mereka memang selalu berlebihan.
*
*
*
__ADS_1
Maafkan part yang kurang greget ini,🙏
Salam manis dari Author😴