
Harris terlihat tegang dan seperti kurang tidur, matanya terlihat lelah, saat memasuki kantornya. Bukan karena pekerjaan yang akan dihadapinya, tetapi karena Jen merengek minta di temani Mamanya. Harris selalu kesal saat Kira harus berjauhan darinya. Dia merasa guling tak mampu lagi menghangatkan tubuhnya. Sehingga membuatnya tidak bisa tidur nyenyak.
Beberapa karyawan yang berpapasan dengannya, menyapanya dengan hormat, tetapi, dia sama sekali tak membalasnya. Tatapannya sangat dingin dan tidak bersahabat. Bibirnya berkerut, berkumpul menjadi satu, seakan lupa cara merentangkan senyuman. Berdasarkan pengalaman para karyawan yang sudah-sudah, mengatakan bahwa, jika si bos sedang dalam mood yang buruk sejak pagi, sebaiknya mereka berkerja dengan benar dan menghindari kesalahan sekecil mungkin. Jika tidak, SP akan menjadi surat cinta paling syahdu, atau lebih buruk, kau akan kehilangan masa depanmu. Di pecat secara tidak hormat sama dengan blacklist dari seluruh daftar perusahaan benefit. Menyisakan perusahaan kecil yang membutuhkan tangga untuk naik dengan mudah.
Harris duduk menghadap meja kerjanya saat Rian memasuki ruang kerjanya. Dari penampakannya, dia seperti gentar dengan pandangan membunuh dari Owner grup WD. Dengan langkah pelan seakan lantainya akan ambruk jika tertimpa kakinya, Rian berjalan mendekati meja kerja Harris.
"Selamat pagi, Tuan. Saya harap, saya tidak terlambat," Rian membungkuk hormat. Dua orang pria yang saling beradu pandang dengan pikiran masing-masing.
"Silakan duduk, Pak Rian," Harris mempersilakan Rian duduk di depan meja kerjanya. Rian menunduk patuh pada perintah bos barunya.
"Jadi, Pak Rian, anda tentu tahu mengapa anda saya panggil kemari bukan?" Tanya Harris saat Rian baru saja mendaratkan tubuhnya di kursi. Bahkan gerakan pelan kursi itu belum berhenti. Entah apa yang membuat Harris begitu tidak sabaran menginterogasi Rian.
"Iya Tuan, saya tahu,"
"Bagaimana anda memberi penjelasan kepada saya tentang hal itu?" Harris menegakkan tubuhnya yang terlihat menonjol di balik jas yang istrinya persiapkan. Aura kepemimpinan dan kharisma yang dia miliki, semakin terlihat dengan dukungan busana yang di kenakannya.
"Saya memang ada keperluan pribadi, Tuan. Saya membawa pekerjaan saya ke rumah, saya rasa saya tidak melalaikan tugas saya," Jawab Rian tegas. Sejak mendapat kabar semalam, Rian segera mengebut semua pekerjaannya, tetapi hanya sebagian kecil, sedangkan yang berada di kantor, sama sekali belum dia sentuh. Bahkan dia sempat bersitegang dengan Melisa saat Melisa meminta haknya.
Sejujurnya, Rian tidak lagi memiliki keinginan untuk menjamah Melisa, mungkin karena tekanan emosi yang menimpanya, membuat naluri kelelakiannya, menguap. Atau memang Rian tidak benar-benar memiliki perasaan apapun pada Melisa.
"Benarkah? Bagus kalau begitu. Jadi saya mau semua laporan itu ada di meja ini sore ini." Harris menarik sudut bibirnya, samar. Bahkan Rian yang sedang bersitatap dengannya pun, tidak menyadari.
Rian gugup setengah mati, "Tapi, Tuan-,"
"Kenapa? Waktunya terlalu panjang? Baiklah, siang ini setelah makan siang. Kirimkan lewat email, agar sore hari semua pekerjaan saya sudah selesai."
__ADS_1
Rian menelan ludah. Bagaimana bisa dia menyelesaikan semua itu dalam waktu singkat? Bahkan semua laporan itu baru separuh jalan, dalam keadaan normal saja, dia butuh waktu hingga berhari-hari. Apalagi sekarang, saat dia dalam tekanan.
"Tuan, tolong beri waktu lebih lama lagi."
"Kenapa? Kau belum menyelesaikan pekerjaanmu kan?" Ucap Harris, dia tak mampu membendung kesenangan dalam setiap baris ucapannya.
"Tuan, saya tahu, saya salah telah meninggalkan kantor kemarin, tapi saya rasa anda terlalu berlebihan dengan semua ini. Saya yakin, semua ini ada motif pribadi yang mengikuti," Rian terprovokasi dengan pertanyaan Harris yang sangat memojokkannya. Merugikan dirinya. Apalagi, sidak di lakukan usai mereka bertemu Kira yang notabene adalah istri Harris.
"Saya mohon, Tuan. Berpikirlah objektif dan profesional,"
Harris tertawa, seakan ada seseorang sedang membicarakan hal yang menggelikan di telinganya.
"Anda mengajari saya untuk objektif? Dan apa maksud anda dengan motif pribadi? Saya mengabaikan profesional, karena jujur saja, saya belum bisa bersikap seperti itu, banyak hal yang mengganggu saya, sehingga saya harus bersikap manja pada istri saya, ketika suasana hati saya sedang buruk," Terang Harris. Yang tentu saja, kalimat Harris membuat Rian semakin mengepal geram di bawah meja. Andai mereka tidak saling terkait karena seorang wanita, Rian akan bersimpuh memberi pujian saat mendengar itu. Tetapi sayang, mereka saling terlibat dalam sebuah hubungan yang sebenarnya bukan masalah lagi, karena mereka sudah tidak ada ikatan lagi. Gurat samar kebencian mulai terarsir di dalam hatinya.
"Baiklah, Tuan. Saya tidak akan bersikap formal lagi, karena kita sudah sampai pada motif tersembunyi kita masing-masing. Saya rasa Kira sudah memberitahu anda dengan apa yang terjadi kemarin. Karena saya yakin, dia masih memikirkan saya, karena saya adalah Ayah dari ketiga anak yang ada di rumah anda," Seru Rian dengan gagah berani, seakan tak ada yang membuatnya takut ketika mengucapkan itu.
"Dia hanya wanita sederhana, Pak Rian. Dia hanya butuh di mengerti, tanpa harus bertanya, menelisik atau membuatnya semakin tidak nyaman dengan pertanyaan-pertanyaan tak penting kita, kaum pria. Cukup ingat apa yang sering membuatnya marah atau menangis. Kira adalah wanita paling jujur dengan apa yang dia rasakan. Sedih ataupun bahagia, dia akan menunjukannya pada saya."
Entah apa yang membuat Rian dengan lancang menyudutkan Kira. Yang jelas-jelas sangat di cintai oleh suaminya kini. Sekarang, dia di buat malu akan tuduhan sembrono yang seharusnya dia sendiri paham dengan sifat mantan istrinya.
Bagaimana bisa hubungan seumur jagung bisa mencurahkan cinta sebesar itu? Padahal, satu tahun tahap pacaran dan sepuluh tahun pernikahan, tidak bisa memberikan efek yang berkesan di hati Kira? Lucu bukan?
Pecundang. Itulah kata yang sangat tepat untuk Rian. Berjalan kemari dengan segala tuduhan dan alasan agar dia bisa selamat dari penurunan jabatan atau lebih parah, dia akan diberhentikan secara tidak hormat. Menggunakan Kira sebagai kelemahan Harris, menggunakan cintanya, namun strategi itu malah membuatnya tak berkutik di bawah senyum bahagia Bosnya, suami dari wanita yang sangat diharapkannya.
Dia dengan sadar, mengakui bahwa pekerjaannya terbengkalai karena sibuk memikirkan mantan istrinya. Melupakan keluarga, dan hilang akal. Seharusnya dia melepaskan dan mengikhlaskan. Bukan meratapi dan berharap bisa kembali. Hanya wanita bodoh yang meninggalkan merak demi gagak.
__ADS_1
"Saya telah membuang banyak waktu berharga saya, Pak Rian. Karena kesalahan anda, saya mengganti posisi anda dengan Pak Sofyan. Saya rasa, beliau cukup mampu di bandingkan anda," Ujar Harris seraya bangkit dari kursinya. Entah pesona apa yang di miliki pria itu, bahkan dengan kehadirannya, sudah membuat orang lain gugup setengah mati.
"Dan, jika anda masih mau bekerja, juga sebagai bentuk rasa terimakasih atas pengabdian anda, anda saya tempatkan di bagian personalia. Saya rasa ada satu kursi kosong di sana."
"Tuan, saya mohon. Jangan lakukan itu padaku, keluargaku pasti akan kesulitan Tuan," Rian yang masih terguncang dengan keputusan Harris, berusaha menghalangi niat atasannya yang terlihat picik.
Namun keputusan Bos, mutlak tanpa bisa dinegosiasikan, Harris malah melangkah keluar ruangan, "Jo, rapat kita mulai sekarang."
"Baik, Tuan," Johan segera melakukan panggilan melalui siaran di grup kantor, sehingga saat dia sampai di ruang rapat, sebagian besar karyawan yang bersangkutan sudah menunggu disana.
Rian menyadari satu hal, sebuah hubungan bukan di hitung dari lama tidaknya mereka bersama, tetapi dari seberapa dewasa pikiran seseorang itu. Sepuluh tahun yang hanya sekedar angka, tanpa meninggalkan kesan apa-apa. Rian berjalan gontai menuju kantornya, mau tidak mau, jika dia tidak ingin telinganya penuh dengan omelan Melisa, dia harus mengambil posisi itu. Tanpa memberitahu Melisa, bahwa dia bukan lagi pria dengan jabatan tinggi di kantornya. Bukan lagi, pria dengan gaji ratusan juta. Huh, sanggupkah dia menerimanya?
•
•
•
•
Maaf lagi, typo bertebaran. 🙏🤗
Happy reading semua, lag-lagi efek mata sepet,
Malam all, mimpi indah semuanya😴😴😴
__ADS_1
Salam Manis selalu dari Author👩🦰😘