Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
The Choice


__ADS_3

"Jadi seperti itu kejadian yang sebenarnya, Giza." Kira mengait cangkir untuk menyesap isinya, setelah menceritakan secara rumit detail kejadian yang menimpa Reno, Viona, dan Martin.


Giza menghela napas. Matanya lekat menatap Kira. "Apa aku harus memaafkan Viona?"


"Itu terserah kamu, Giza." Kira meletakkan cangkirnya, seraya membalas tatapan Giza. Bibir Kira tersenyum. "Aku hanya memberikan gambaran saja. Sama sekali aku tidak menyarankan kamu untuk memaafkan atau melupakan. Di sini, bahkan aku dan suamiku juga bersalah, sebab melupakan kisahmu dan Reno."


"Reno cukup baik selama beberapa waktu, berkat bantuan kalian. Aku hanya syok dan tidak bisa menerima ketika Reno yang aku usahakan mati-matian harus pergi secepat ini." Giza mulai menangis. Mengingat bagaimana hari-hari terakhir bersama Reno sangatlah membahagiakan.


"Kalau begitu, nikmati saja kesedihan dan rasa kehilanganmu sampai puas, Giza. Dunia tidak akan melarang." Kira tersenyum, berusaha ikut kemana Giza akan membawa pembicaraan ini.


Giza tampak terkejut, tersinggung sudah pasti. Kata-kata itu cukup kejam, tetapi Giza tidak mampu mengecam Kira. Tanpa Kira, bahkan mungkin kesempatan bersama Reno tidak ada sama sekali. Dengan salah tingkah, wajahnya ditundukkan.


"Bukan kesedihan sedang aku bicarakan, tetapi keadilan," kilah Giza.


"Pengadilan tepat semua keadilan dunia diperjuangkan Giza." Kira kembali tersenyum, ekspresi wanita ini sangat tenang dan lembut. "Tetapi mungkin kau tidak akan menemukan kepuasan yang benar-benar membuat seluruh kebencianmu lenyap."


Giza menelan ludah. Mengapa ucapan ini terdengar benar? Viona memiliki segalanya, meski Dirgantara lepas tangan. Johan pasti berusaha membuat ringan hukuman Viona. Martin? Cukup Harris membuatnya tidak bisa melihat dunia yang penuh warna, pria itu pasti merengek untuk segera dihabisi saja sekarang.


"Kau benar-benar punya pilihan, Giza. Lepaskan saja, biarkan dunia bekerja dengan caranya. Manusia tidak akan memberikan kepuasan yang benar-benar memuaskan keinginanmu. Mereka tidak akan mengerti kehilangan yang dirasakan orang lain. Hanya dirimu sendiri yang tahu seberapa puasnya melihat orang lain merasakan karmanya." Kira menghela napas, membuka tangan untuk memberikan Giza pilihan.


Giza menatap Kira lekat-lekat. "Kau percaya karma?"


"Tidak ... tapi dikehidupanku, balasan-balasan atas perbuatan tidak baik padaku, mendapatkan balasan sendiri-sendiri. Aku malah mencoba menghindar tidak bersinggungan langsung. Cukup aku menjadi manusia yang bahagia dan berguna. Yah, walau itu hanya untuk anak-anakku saja, sih, ya." Kira berkelakar, matanya memandang tiga buah hatinya yang masih kecil.


Kemudian tatapannya berpaling ke arah Giza yang sedang termangu menatapnya.


"Anak-anak sangat membantu mengalihkan pikiran, kau tau?" Kira mengendik dengan perasaan senang.


Giza gelagapan. Wajahnya bersemu merah. Kira memang bisa membuat orang lain salah tingkah.


"Aku beberapa tahun lebih tua darimu, lihat kerutan di wajahku? Apa aku tidak malu pada wajah tua ini jika masih memikirkan itu?"


"Banyak pria yang tidak mempermasalahkan kerutan. Kurasa, Papa cukup baik dan perhatian denganmu."


"Apa?!" Giza terlonjak. Kira sedang bicara apa sebenarnya?

__ADS_1


"Iya, bahkan Asisten Toni curiga akan perhatian aneh Papa kepadamu." Kira hanya mengutarakan apa yang dia dengar. Selebihnya, kalaupun iya ... dia akan menerima Giza dengan baik.


"Kau bergurau." Giza tertawa rendah seraya menutup mulutnya. "Beliau adalah ayah bagi Reno. Itu sangat tidak sopan. Melanggar etika. Dan, aku tidak memikirkan apa-apa selain Rega sekarang."


"Rega bahkan sudah dewasa, kau hanya tinggal berdamai dengan keadaan jika tidak ingin menikah lagi. Nikmati hidupmu dengan baik." Kira sampai pada apa yang ingin dia ucapkan.


Tentu saja, dia tidak mau wanita yang telah dianggap seperti saudaranya ini rusak karena dendam dan kebencian. Giza pantas bahagia, sendirian atau bersama seseorang.


Giza membuang napas. "Yah, kurasa ... lebih baik aku tetap seperti ini. Tidak bersentuhan dengan orang yang membuatku sakit hati. Kurasa itu cukup adil. Dunia ini luas, aku tetap di sini, bersama Rega dan kenangan suamiku, dan dia di sebelah sana ... jauh, jauh sekali dariku."


Giza manggut-manggut. "Kurasa kau benar, Kira. Dunia punya cara sendiri untuk menyembuhkan luka. Aku akan membiarkan semua tetap seperti ini. Aku dan Viona punya garis batas yang tidak akan bisa saling bersentuhan satu sama lain. Ini lebih baik."


Kedua wanita itu mengangguk, meski hati Kira menggantungkan ragu. Khawatir ada dendam masih terselip, ada benci yang tersamar dibalik kedamaian.


Namun, Kira tidak mendesak Giza mengosongkan gelas kebenciannya. Biar waktu saja yang bekerja.


"Kita harus hidup lebih baik, demi diri kita sendiri." Kira menekankan, "Ayo, habiskan coklatmu, itu dibeli langsung oleh Harris saat dia ke Belgia."


Giza terkekeh, "di supermarket banyak yang seperti ini, kau jangan berbohong hanya agar aku merasa istimewa, ya."


"Aku lebih kenal rasa-rasa coklat daripada kamu. Cinta pertamaku adalah coklat." Giza menyesap cangkir yang lebih besar. Bibirnya terus tersenyum. Hatinya mulai mantap untuk menata hidupnya.


Ini hidupnya, dia yang menjalani. Viona bisa memiliki segalanya di dunia, tetapi tidak dengan satu perasaan kepada seorang Giza.


Sudut bibir Giza tertarik samar. Bahkan Kira tidak menyadari sama sekali.


"Nyonya ...."


Panggilan seorang pelayan membuat keheningan diantara mereka pecah, Kira menoleh.


"Ada orang dari produk yang bekerja sama dengan Jeje datang." Doni berkata seraya melirk Giza. Dia memberi salam sekenanya.


"Kenapa mesti datang sekarang, sih?" Kira mendadak kesal. "Sudah ku bilang nanti sore saja. Jeje tidak dirumah sekarang."


Doni menggaruk kepalanya, saat Kira berdiri dan mengomel, seakan-akan ini adalah salahnya.

__ADS_1


"Aku pulang dulu, Ra ... makasih atas pencerahannya." Giza ikut berdiri, menyandang tas dan mendekati Kira. "Kapan-kapan aku main lagi, ya."


Kira menyambut Giza gelagapan. Sebenarnya, dia belum selesai bicara. Astaga.


Giza sudah menyodorkan pipinya.


"Bulan depan, kau ikutlah dengan kami. Kami akan liburan." Kira menempelkan pipinya pada pipi Giza.


"Aku tidak bisa, biar Rega saja kalau dia mau." Giza melepaskan diri. "Kau tau aku bekerja."


"Ayolah, itu bisa diatur." Kira mengeluh. Bahkan Giza boleh tidak bekerja, urusan keluarga mereka menjadi tanggung jawab papa mertua dan suaminya.


"Tidak enak sama karyawan lain." Giza terkekeh, seraya melambaikan tangan. "Sampai jumpa lagi, Ra."


"Giza ... tapi—tunggu!"


Panggilan Kira hanya ditanggapi dengan lambaian tangan saja. Giza sudah melenggang keluar rumah dengan langkah yang begitu ringan.


"Don ... kamu antar Giza, ya!" perintahnya seraya mengusap kening. Lelah sekali rasanya hari ini.


Doni mengatakan "baiknya" seraya berlari menyusul Giza. Sebelum wanita itu memesan taksi.


Kira segera keluar menemui dua orang urusan dari produk es krim dan makanan olahan. Mereka akan meminta Jeje mengiklankan produk mereka di setiap kegiatan Jeje. Entah itu makan, bermain, atau saat Jeje gabut mungkin.


Kira membuang napas saking keberatan dengan itu semua. Dia tidak mau anaknya menjadi selebritis.


Belum apa-apa saja, Jeje sudah kebanjiran kartu, bunga, dan berbagai macam gift. Dari yang kecil, seperti gantungan kunci, sampai yang besar seukuran mobil. Yah, Kira sedang mengurus pengembalian mobil itu ke pihak pengirim.


Seorang gadis sepantaran Jeje meminta ayahnya yang memiliki showroom, mengantarkan mobil dengan pita merah muda besar kemarin. Kata-kata yang tersemat dalam sebuah voice note cukup membuat Kira ingin mengamuk hari itu.


Kira tidak ingin anaknya populer dan menyulitkan begini.


Dan kedua pria bersama rombongannya ini harus merasakan aura galak seorang Kira.


"Saya akan bicara dengan pihak yang berkaitan dengan promosi berbayar ini, Bapak-bapak!" ucap Kira tegas.

__ADS_1


Kedua pria itu buru-buru mengangguk dan merogoh ponsel. Mereka masing-masing menghubungi atasannya tanpa banyak menawar.


__ADS_2