
Tuan Dirga berbalik membawa tatapan keheranan. Setelah di dengarnya lagi tangisan bayi kedua.
"Iya Tuan! Saya yakin, sebab saya melihatnya sendiri, hanya Nona di dalam sana" Rina juga tak kalah terkejut. Mereka berdua menahan napas, terlalu terkejut. Dan terlalu bahagia.
"Selamat, Tuan!" Tanpa bisa dicegah, Rina menyalami Tuannya yang masih terlarut dalam syukur.
"Apa sudah lahir?" Doni berlari membawa sekantung berat berisi kotak makanan. Napasnya bersahut-sahutan, diiringi gerakan dada yang naik turun.
"Sudah Don, baru saja!" Jawab Rina dengan binar yang membuat dunia Doni teralihkan. Bahkan dia dibuat lemas saat Rina memeluknya erat.
"Lepas Rin, engap!" Doni tidak bohong, pelukan itu nyaris meremukkan tulang rusuknya. "Tulang rusukku yang hilang saja belum ketemu, masa iya kau akan membuat yang lain terluka!"
Rina meninju dada dimana jantung Doni berada, "Biar gue yang balikin tulang rusuk lo!"
"Anak muda kalau jatuh cinta lupa sama yang tua dan juga lupa tempat!" Celetuk Tuan Dirga yang sejak tadi menahan senyum melihat manisnya mereka berdua. Sehingga membuat Rina salah tingkah dan merona.
"Sebaiknya segera bismillah, dan di minta sama Ayahnya, sebelum di dahului yang lain!" Ucapan Tuan Dirga membuat Doni menggaruk pelipisnya. Bibirnya melebar saking malu dan salah tingkah. Tapi juga senang, setidaknya ada yang membuka jalan untuknya mendekati Rina.
Pintu ruang operasi terbuka, membuat semua orang mengarahkan pandangan nyaris bersamaan. Seorang perawat terlihat keluar dari sana.
"Maaf Tuan Dirga, silakan mengadzani cucunya!" Perawat tadi memberi ruang kepada Tuan Dirga yang begitu berseri-seri. Namun, sejenak dia berhenti.
"Menantu saya bagaimana keadaannya, Sus?"
Suster itu tersenyum, "Nona dalam keadaan baik, Tuan!"
Lantunan syukur terus bergema di bibir dan hatinya sambil berjalan masuk ke dalam ruang operasi. Pertama kali yang masuk ke dalam penglihatannya adalah menatunya yang masih tergolek lemah, dengan selang terhubung ke hidung. Kira tersenyum lemah saat Papa mertuanya, memandangnya dengan sendu.
"Paman, cucumu disini!" Vivian menunjuk boks bayi. Mereka bersahutan meramaikan suasana ruangan yang hening. Suguhan pemandangan indah dari kedua bayi menggerakkan kakinya, membuat Tuan Dirga menitikkan air mata. Mengingat bagaimana menantunya berjuang mempersembahkan kebahagiaan untuk keegoisan nya dan putranya.
Tuan Dirga menoleh ke arah Vivian, dari sorot matanya dia bertanya, tetapi Vivian menggeleng pelan. "Aku tunggu di kantor Rio, setelah urusanmu selesai!"
Tuan Dirga mulai mengumandangkan adzan dan iqomah di telinga cucunya secara bergantian. Suara kaku dan tegas itu terdengar indah saat melantunkan adzan dan iqomah. Tidak ada yang mempercayai pendengaran mereka, kecuali Kira. Sejak mengenal ustadz Ilham, papa mertuanya rajin memperdalam ilmu agama.
"Bagaimana keadaanmu, Nak?" Tuan Dirga menghampiri Kira setelah selesai dengan segala urusan perbayian.
"Baik, Pa!" Kira mengukir senyum. "Tolong beritahu Ibu dan anak-anak ya, Pa! Aku takut mereka khawatir dengan keadaanku!"
"Tentu Nak, mungkin Rina sudah mengabari orang rumah!" Dirga tersenyum meyakinkan, "Papa keluar dulu, ya! Istirahatlah!"
Tuan Dirga berbalik dan melangkah menuju pintu, namun, dia kembali lagi menghampiri Kira. "Terimakasih telah melengkapi kebahagiaan kami, Nak!"
Kira menaha rasa haru saat mertuanya menatapnya sendu, diiringi gelengan, Kira menitikkan air mata. Pria yang begitu tinggi itu merendahkan diri hanya karena telah memberi kebahagiaan yang sederhana. Keluarga yang utuh dan lengkap.
__ADS_1
"Jangan berterimakasih, Pa! Kira juga bahagia melihat kalian bahagia, tak ada yang lebih penting dari itu."
Dirga benar-benar bahagia sekarang, menantu yang sempurna meski banyak kekurangan. Cucu yang meramaikan sisa hidupnya yang sepi, juga putra yang suka membangkang meski sikap itu amat dia rindukan.
"Jika boleh, panjangkan umurku, aku ingin melihat mereka tumbuh besar," pintanya dalam hati.
***
Seperti dugaannya, saat ini Rina sedang memberi kabar orang rumah. Juga beberapa kerabat yang mengetahui kabar persalinan Kira. Dia terlihat sangat sibuk dengan ponselnya.
Akhirnya kini pria lanjut usia ini bisa bernapas lega. Ketegangan sirna berganti rasa bahagia. Sekali lagi, tubuhnya mendarat di kursi yang sama namun dengan perasaan yang berbeda.
Pria yang mengganggu Tuan Dirga tadi sedang berjalan ke arahnya, sedikit sungkan dan seperti mau menangis, dia memilih jarak terjauh untuk melewati Dirgantara. Dan menjaga pandangannya agar tidak bersitatap dengannya.
"Dia menantu saya," ucap Tuan Dirga datar tak lebih dari sekedar ucapan ke dirinya sendiri. Pria itu menoleh.
"Maaf, atas kelancangan mulut saya! Hari ini, istri pertama saya menggugat cerai saya, dan istri kedua saya mengalami koma setelah melahirkan anak saya!"
Tuan Dirga dengan cepat memutar kepalanya, "Saya turut sedih mendengarnya." Tuan Dirga melihat dengan teliti pria yang tengah berduka itu, "Semoga anda bisa bersikap lebih baik, terutama pada orang yang belum anda kenal, dunia selalu berputar, saat anda membawa gelas dipenuhi air, anda harus berpegangan dan tetap menghadap ke atas, lalu tundukkan pandanganmu, melihat kemana langkah anda. Sebab, jika anda terus menengadah, anda akan ikut tergelincir dalam pusaran dunia."
Pria itu menunduk, menangis, entah apa yang ditangisi, Tuan Dirga enggan bertanya lebih jauh. Dia memilih pergi ke kantor Rio.
"Ini makan siang anda, Tuan!" Rina mengangsurkan sekotak makanan berlogo ke hadapan Tuan Dirga. Meski ini ini sudah lewat, tapi Tuan Dirga menerimanya dengan senyuman. Dia terlalu tegang untuk memikirkan makan siangnya.
"Aku akan makan dikantor Rio!" Rina mengangguk bersamaan dengan munculnya Doni. "Beberapa saat lagi, Kira akan dipindah ke ruang perawatan. Tolong jaga dia sebentar, saya akan kembali lagi nanti."
***
Kamar VIP tampak terang benderang, namun hanya ada dua orang di dalamnya. Kedua bayinya masih berada di bawah pengawasan dokter. Meski keduanya baik dan sehat tetapi, karena lahir sebelum waktunya, dokter harus memastikan kondisi bayi kembar tersebut. Ya, selain siapa mereka di rumah sakit ini, tentunya.
"Rin, apa belum ada kabar dari Harris dan Johan?" suara lirih Kira menyadarkan Rina dari lamunannya. Bergegas dia mengambil ponsel milik Nona-nya dan menyerahkannya.
"Tuan tadi menelpon anda, tapi saya tidak menjawabnya, Nona, saya hanya mengirimi Tuan Harris sebuah pesan melalui ponsel anda! Maaf atas kelancangan saya Nona!"
Kira masih lemas untuk menggerakkan tangannya, mengetahui ini, Rina membantu membuka ponsel yang tak pernah di beri keamanan ini. "Silakan Nona!"
Manik mata Kira bergerak mengikuti arah tulisan di aplikasi perpesanan. Sejurus kemudian dia tertawa lirih. "Dia tidak akan percaya ini aku, Rin!"
"Saya juga berpikir begitu, Nona! Tapi, Tuan Harris tidak lagi membalasnya, sehingga saya tidak perlu berbohong lagi pada beliau, Nona!" gelagatnya, Rina tidak suka membohongi Tuan yang telah menggajinya selama bertahun-tahun. Tipikal anak buah yang memiliki kesetiaan tinggi.
"Kau jangan khawatir, Rin. Nanti biar aku yang menjelaskan semuanya jika dia sudah kembali!" Kira mengulurkan lagi ponselnya ke arah Rina yang masih dilanda kecemasan.
***
__ADS_1
"Paman, saya sudah menanyakan kepada Kira, tapi Kira bersikukuh tidak mau melakukannya. Saya sudah menjelaskan semua resiko yang terjadi jika Kira hamil lagi!"
Vivian tengah menghadapi Tuan Dirga di kantor Rio. Keduanya terlibat obrolan yang serius dan bersifat pribadi. Jadi Rio memilih pulang lebih awal setelah menyapa mantan eh kakak iparnya.
Tuan Dirga menghela napas, "Aku hanya ingin membuatnya aman! Jika punya selusinpun aku tak keberatan, tapi, melihatnya kesakitan Paman tidak tega, Nak!"
"Ada banyak cara untuk mencegah kehamilan, Paman--"
"Itu tidak akan bekerja untuk Harris!" Tukas Tuan Dirga cepat-cepat, "Bukankah kau sudah bilang beberapa waktu lalu semua ini? Tapi buktinya, malah muncul lagi dua!"
Vivian menunduk sambil mengusap keningnya. "Kita hanya bisa berencana, Paman. Tuhan yang menentukan!"
Skak Mat.
Tuan Dirga menghenyakkan punggungnya ke sandaran sofa, jika sudah sampai di situ, tak ada lagi jawaban atau sanggahan dari Wisnu Dirgantara yang banyak solusi. Artinya, dia hanya bisa meminta pada Tuhan, bernegosiasi agar mengganti rezeki-Nya dengan rezeki kebahagian keluarga Dirgantara.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sambungan yang semalem, maaf ngga keburu mau nyusulin. Semoga tidak terlalu menggantung ya..😘😘
Makasih yang sudah rindu padaku...makasih yang udah ngebut ceritaku...🥰🥰🥰makasih juga untuk dukungan untukku😘😘😘
Semoga malam nanti bisa up lagi yakðŸ¤ngga janji tapiðŸ¤
Oh ya, mau promosiin karya mentorku ya...Yang udah punya puluhan karya dan femes. Yang punya youtube chanel "Baca Novel". Boleh bantu subscribe juga ya man-teman, siapa tau nanti karya saya bisa nangkring di sana🥰.
__ADS_1