
"Riana?”
“Kakak?”
Dua bersaudara itu terkejut. Saling memergoki di tempat mantan keluarga mereka bekerja. Tentu saja, mereka berdua saling mencurigai.
“Sedang apa kamu di sini?” Tanya Rian terlebih dahulu. Dia memasang tampang garang untuk menakuti adiknya.
“Em, lagi sama temen kak, makan-makan” Riana menunjuk meja di depannya yang di penuhi aneka makanan.
“Pulang," Perintah Rian.
“Kenapa sih kak? Ada masalah aku di sini?," Protes Riana, dia bahkan belum menyentuh mantan istri kakaknya itu.
“Kakak bilang pulang," Ucap Rian tegas.
Rian sedikit menyeret adiknya keluar dari kafe Ivy. Riana sangat kesal karena dia di permalukan oleh kakaknya sendiri, setelah tadi bertindak jumawa.
Kira dan Ivy yang melihat kejadian ini tak henti tertawa. Bahkan seorang teman Riana, sedikit malu ketika membayar makanan yang mereka pesan.
“Apa dia bertindak kurang ajar di sini?” Tanya Rian setelah memastikan adiknya meninggalkan kafe.
“Iya, sedikit” Jawab Kira. “ Kenapa?”
“Tidak ada."
"Ehm, Ra, bolehkah aku bertemu anak-anak?” Tanya Rian hati-hati.
“Untuk apa, Mas?” Kira menatap Rian siaga.
“Aku kangen mereka, Ra. Aku sudah mencari ke rumah kalian, tapi katanya kalian sudah pindah?”
“Iya, sejak kamu datang, aku memang pindah. Dan, apa kamu yakin anak-anak mau bertemu denganmu?”
“Ra, aku Papanya, dan aku berhak bertemu dengan mereka, Ra,”
“Harusnya kau lakukan itu sejak dulu, Mas. Mengapa baru sekarang? Kami sudah melupakan kalau kamu, Papanya,” Ucap Kira yang masih melayangkan tatapan tajam kepada Rian.
“Iya, aku salah, tapi jangan menghakimi ku terlalu kejam, Ra. Kamu tahu kan, aku di pindah keluar kota?” Tatapan Rian mengiba, matanya berkaca-kaca, dia tidak bohong mengatakan rindu pada anak-anaknya.
“Ra, biarkan aku melihatnya, jika tak kau izinkan menyentuhnya. Asalkan aku bisa melepas kerinduanku pada mereka,”
Kira mendesah, sepertinya dia tidak punya pilihan. Walaupun dalam hatinya sangat membenci Rian, tapi dia juga tak tega saat melihat Rian memohon hanya untuk menemui darah dagingnya.
“Jangan memaksa mereka, jika mereka tidak menerimamu, Mas,” Kira memperingati Rian. “Anak-anak bersekolah di SD X, tak jauh dari rumah,” Sambung Kira.
“Aku janji, Ra. Aku tidak akan menyakiti anak-anak,” Rian tersenyum penuh kelegaan.
Rian segera meninggalkan kafe, menuju sekolah ketiga anaknya. Sedangkan Kira mulai gelisah dan ketakutan akan keselamatan ketiga anaknya.
“Vy, aku keluar dulu ya,” Pamit Kira kepada Ivy.
“Hati-hati, Ra”
Kira setengah berlari keluar dari kafe. Dan berlari menuju jalan raya mencari taksi, namun kerena terburu-buru, dia nyaris menabrak mobil yang tiba-tiba berhenti di depannya.
Harris, usai rapat dengan dewan direksi, memutuskan untuk menemui Kira. Entah, Harris sendiri bingung, selama rapat, hanya ada wanita bermata sedih itu di pikirannya.
Kira sungguh terkejut melihat siapa yang keluar dari mobil. Seperti menjawab kegelisahan Kira, Harris datang saat Kira membutuhkan bantuan.
“Ris, tolong antarkan aku ke sekolah. Mas Rian sedang dalam perjalanan kesana,” Kira menyambar lengan Harris dan mengguncangnya pelan.
“Dia tahu di mana anak-anak sekolah?” Harris juga mulai khawatir.
“Iya, aku baru saja memberitahunya,”
__ADS_1
“Kau ini bodoh atau bagaimana?” Harris membentak Kira. Membuat Kira terkejut dan hampir menangis.
“Masuk” perintahnya.
Kira kini benar-benar ketakutan. Karena kebodohannya, dia tidak berpikir jauh.
“Kau kan Mamanya, apa kau tidak berpikir untuk memepersulit mantan suamimu itu? Kenapa mudah sekali kau mengatakan dimana anakmu? Apa kau lupa kalau dia menelantarkan kalian? Apa kau masih berharap padanya? Ha? Harris memarahi Kira. Saking marahnya, sampai dadanya naik turun.
“Cepat Jo, kenapa kau jalan seperti siput?” Bentak Harris.
Johan pun melajukan mobil dengan kecepatan penuh, mengklakson mobil di depannya agar memberi jalan. Sedangkan, Kira, dia masih menunduk dengan air mata yang menetes.
Harris mengusap wajahnya kasar, dia merasa menyesal telah menyudutkan Kira.
“Sudah, jangan menangis,” Harris meraih tubuh Kira ke dalam pelukannya. Meletakkan dagunya di atas kepala Kira. Mengusap pelan punggung wanita yang menangis di dadanya.
“Selama kita cepat, kita belum terlambat,” Ucap Harris lembut. Tidak ada sahutan hanya isakan yang semakin keras.
“Berhenti menangis, atau masih mau menambah hukumanmu?”
Ancaman hukuman dari Harris selalu membuat Kira ketakutan. Yang kemarin saja belum selesai, masa mau di tambah lagi, pikir Kira. Seketika tangisnya berhenti, namun, Harris tak melepaskan pelukannya. Membiarkan Kira menikmati tubuhnya lebih lama. Mendengar detak jantungnya. Harris tersenyum, dia lah yang menikmatinya.
Johan memperlambat laju kendaraan, ketika melihat Rian keluar dari mobilnya. Kira perlahan melepas pelukannya dari suaminya. Kira melihat Harris malu-malu. Dan itu berhasil membuat Harris tertawa.
“Ingat, ini tidak gratis,” Harris berbisik di telinga Kira, yang berhasil membuat sekujur tubuhnya meremang. Menimbulkan sensasi lain pada tubuhnya. Tanpa sadar, Kira menggigit bibirnya, menahan efek berlebihan tubuhnya. Harris tersenyum penuh arti, sayang sekali sekarang bukan waktu yang tepat untuk menggodanya.
Harris memperhatikan gerak-gerik Rian. Jam pelajaran memang sudah usai beberapa saat lalu, siswa berhamburan meninggalkan sekolah. Aguspun sudah sampai di depan sekolah, namun Johan memberitahu Agus untuk tidak keluar dari mobil.
Posisi mereka memang tidak terlalu jauh dari Rian, memungkinkan mereka bisa mendengar percakapan Rian dan anak-anak. Kira duduk dengan perasaan gelisah, dia tak henti merutuki kebodohannya. Namun, Harris berhasil menenangkan Kira dengan sentuhannya. Kini, mereka berdua seperti orangtua yang menunggu anaknya pulang sekolah. Orang tua yang penuh cinta.
Rian menghampiri ketiga buah hatinya, namun, mereka seperti melihat orang asing. Bahkan Jeje kembali ke pos satpam.
“Sayang, ini Papa,” Rian berjongkok di depan Excel dan Jen. Mengusap pipi kedua anaknya bergantian. Terlihat sekali, Rian memendam rindu terlalu lama.
Excel memperhatikan Papanya dengan ekspresi datar, sedangkan Jen, memegang tangan Excel, dia menunggu Excel memberi respon.
“Tidak.”
“Sini peluk, Papa. Kalian tidak merindukan Papa?” Rian setengah memaksa Excel mendekat. Namun, Excel tak bergeming sama sekali.
“Tidak,”
Jawaban Excel membuat Rian kecewa. Ketakutannya benar terjadi, Kira telah membuat anaknya melupakannya. Rian berpikir Kira meracuni pikiran anaknya, tapi dia tidak tahu, bahwa Excel dan Jeje sudah bisa menilai sendiri Papanya seperti apa.
“Jen, sayang. Jen tidak merindukan Papa?” Kini Rian beralih kepada putrinya yang selama ini selalu bermanja-manja padanya.
“Tidak, Jen sudah punya Papa” Jawab Jen lugas. “Papa yang sayang sama Jen”
“Apa maksud Jen?” Pikiran Rian di gelayuti ribuan prasangka.
“Papa baru Jen sayang sama Jen. Papa memberiku banyak boneka, dan menemaniku saat tidur” Celoteh Jen. Excel menarik adiknya ke pos satpam menyusul Jeje. Jeje bahkan tidak melihat Papanya sama sekali.
Rian menatap sendu ke dua anaknya. Lagi dan lagi, Rian menelan pil kekecewaan. Kali ini lebih pahit, menghadapi kenyataan bahwa anaknya mengabaikannya, dan mantan istrinya sudah menikah lagi.
Rian tertunduk lesu, seakan tak ada lagi tenaga tersisa. Penolakan darah dagingnya membuatnya lemah.
Harris meminta Kira untuk tetap di dalam mobil dan melihat apa yang dia lakukan. Harris berjalan penuh percaya diri, dan melewati Rian begitu saja.
“Papa," Teriak Jen. Jen berlari menghampiri Harris di susul Excel dan Jeje. Walau agak ragu, tapi kedua anak lelaki itu tahu, harus memanfaatkan keadaan.
Harris pura-pura terkejut, seolah mereka tidak saling kenal. Karena dia merasa Rian sedang mengawasinya.
“Hai, guys,” Ucapnya di buat seragu mungkin.
“Maaf, Tuan. Anak-anak saya tidak bermaksud tidak sopan,” Rian menarik ke tiga anaknya dari kaki Bos barunya.
__ADS_1
“Oh, mereka anakmu? Aku tidak tahu itu,” Harris mengangkat sebelah alisnya.
“Iya, Tuan. Maafkan mereka, sejak saya dan Mamanya berpisah, anak-anak selalu menganggap orang lain adalah Papanya” Rian masih berusaha menarik lengan Jen. Namun, mereka seperti gurita yang menempel di karang. Bahkan Jeje, bersembunyi di belakang Harris.
“Jangan menyakitinya,” Harris meraih lengan Jen dari tangan Rian. “Apa mereka tinggal dengan Mamanya?”
“Iya, Tuan.”
“Papa, Jen takut,” Cicit Jen.
“Biar saya yang mengantar mereka pulang, sepertinya anda membuatnya ketakutan.”
“Ah, tidak. Mereka hanya lama tidak bertemu dengan saya”
“Dan, anak-anak sangat peka dengan keadaan. Dia akan mencari perlindungan jika merasakan bahaya. Sepertinya, anak anda lebih menganggap saya sebagai ayahnya dari pada anda yang ayah biologisnya. Sayalah yang membuat mereka merasa aman. Anda tak perlu khawatir, Tuan Rian. Silakan anda pergi,” Harris menatap tajam Rian. Rian bingung, tetapi dia tidak berani membantah atasanya sekalipun di luar kantor. Dia terlalu mendominasi untuk di lawan.
Mereka berempat, melakukan tos kemenangan setelah Rian meninggalkan sekolah. Mereka tertawa lepas seperti telah mengalahkan penjahat. Dan menganggap Harris adalah pahlawan. Kira melongo melihat kekompakan mereka, Kira sendiri tidak tahu kapan ini di mulai. Kira menghampiri anaknya, memeluk mereka dengan perasaan lega. Dalam hati, Kira berjanji tidak akan bertindak bodoh lagi.
Kira mengantar anaknya ke mobil, untuk pulang bersama Agus. Johan telah meminta anak buahnya mengawal mobil Agus dan berjaga di rumah. Mereka berpisah di sini, karena Kira harus kembali ke kafe.
“See...” Ucap Harris penuh kesombongan.
“Akulah pemenangnya, bahkan Papanya bukan apa-apa buatku” Harris membenarkan posisi jasnya, menunjukkan kedigdayaannya. “Setelah bodyguard nya, Mamanya tentu bukan hal sulit di taklukkan,” Harris melirik Kira.
“Kau harus ingat, untuk membayarku. Aku aktor terhebat, kau harus membayar mahal aktor papan atas!”
Kira berdecih, kepercayaan diri yang tinggi membuatnya ingin muntah.
“Kau tidak sehebat itu, kurasa," Kira mencibir.
"Wow, apa ini? Aku sudah menyelamatkan anakmu dan kau meremehkanku? Baik, aku anggap ini adalah pujian, dan malam ini pulanglah lebih awal, aku akan menghukum kamu mulai malam ini," Ucap Harris seraya tersenyum jahat.
"Sebenarnya, apa sih hukumanku?" Kira sebal setiap kali Harris mengatakan hukuman. Dia takut, jika Harris benar-benar menghukumnya dengan hukuman menakutkan.
"Ini, aku menjatuhkan ponselmu kemarin, jadi aku menggantinya," Alih-alin menjawab pertanyaan Kira. Harris menyerahkan sebuah ponsel.
"Dengar, kau sudah membuatku kerepotan sejak kemarin, dan semalam kau membuat tanganku mati rasa, kau memelukku sampai aku susah bernapas. Aku sama sekali belum memberimu hukuman, jadi, jika sampai kau tidak memakai ponsel ini, aku akan menambah hukumanmu 5 kali lebih berat. Mengerti?”
Kira mengerjapkan matanya berulang kali. Dia sama sekali tidak paham apa yang di ucapkan Harris
“Pakai! Jangan sampai, kau tidak memakainya,” Harris menatap Kira dengan tajam.
"Aku sudah mentransfer sejumlah uang ke rekeningmu, gunakan baik-baik, beli apa yang kau butuhkan,"
“Tapi, aku ngga butuh apa-apa” Apa yang Kira butuhkan sudah tersedia semua. Tanpa kekurangan sedikitpun.
“Jangan membantah atau aku akan menghukummu lebih berat” Ancam Harris.
“Kau bicara hukuman terus dari kemarin, memangnya aku salah apa? Jangan seenaknya dong” Protes Kira.
“Hukumanmu, mencuci mobil, membersihkan rumah, dan halaman” Ucap Harris santai.
“Kecil, aku bisa melakukan itu” Kira mencibir.
“Tapi, rumah Papa."
“Apa?”
.
.
.
Beri masukan author dunks🥰
__ADS_1
Tingkyu😘