Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Manusia biasa


__ADS_3

Tidak perlu mengejar, terkadang, kita hanya harus menunggu. Dan sabar.


Lelah Rian berkelana mencari Kira, yang tak bisa di temukan dimanapun, hilang tanpa jejak. Sejenak Rian berhenti dan kembali ke dunianya, kembali ke kehidupan yang di tinggalkannya. Bukan menyerah, hanya berhenti sejenak. Hanya untuk sebuah maaf, dia harus berdarah-darah.


Sore itu, saat langit berubah jingga, Rian tiba di rumah sakit, setelah pulang bekerja. Dia terlihat lelah dan berantakan. Bulu halus mulai memenuhi dagunya. Dia sangat tidak terawat.


Dari kejauhan, Rian melihat ilusi, ilusi yang berharap menjadi sebuah kenyataan. Yang di carinya, berada di depannya , dalam jangkauannya. Dia sedang berbicara dengan dokter yang membantu persalinan istrinya.


Wajah yang semula lesu itu mendadak berbinar. Bahagia, senang, lega, namun perasaan itu segera hilang secepat datangnya. Ketakutan akan penolakan wanita itu yang memenuhi pikirannya. Sehingga Rian mengurungkan langkahnya. Tangan yang hendak melambai, di turunkannya lagi. Bibir yang hendak menyapa, terkatup lagi. Keberaniannya seakan lenyap saat wanita yang pernah bersamanya itu terlihat bahagia dan cantik. Benar, wanitamu akan selalu menarik di mata pria lain. Namun, kini Rianlah yang menjadi pria lain itu. Cantik, anggun namun tetap sederhana. Melihat Kira, seolah waktu berhenti, semilir angin meniup rambut hitamnya, membuatnya berkibar dalam gerak lambat, dalam iringan sebuah melodi yang di petik oleh malaikat.


Kira sore ini, ada janji dengan Dokter Vivian, Kira sedang memeriksakan kandunganya. Setelah sekian tahun tidak mendapatkan tamu bulanannya, pagi ini, Kira mendapatkannya lagi. Memang tidak ada yang perlu di khawatirkan, hanya saja, Kira ingin memastikan dirinya dalam keadaan sehat dan baik-baik saja.


Ketika hendak meninggalkan ruangan di mana Dokter Vivian membuka praktik, Kira tanpa sengaja melihat Rian. Meski Kira sudah tidak lagi merasakan sakit hati, tapi sisi manusianya, belum bisa berdamai. Kira memilih jalan yang lain, dari pada berpapasan dengannya. Namun, Rian rupanya tak ingin melewatkan kesempatan untuk bertemu dengan mantan istrinya.


"Ra, tunggu. Kira," Teriak Rian. Rian berlari menyambar tangan Kira yang juga berlari menghindar. Namun, jarak mereka yang terlalu dekat, membuat Kira tak bisa untuk sekedar bersembunyi.


"Lepaskan, Mas," Kira mengibaskan tangan Rian yang mencengekeram pergelangan tangan Kira dengan ketat.


"Tidak, Ra. Kau tahu, aku hampir gila mencarimu, Ra. Aku mohon, kali ini saja, dengarkan aku, Ra," Rian menatap Kira penuh permohonan. Tatapan mengiba itu membuat sisi hati Kira luluh. Namun, bukan berarti dengan mudah Kira akan berbelas kasih.


"Bicaralah, Mas. Aku tidak punya banyak waktu," Ucap Kira dingin dan tanpa memandang Rian barang sekilas.


Rian melepas tangan Kira perlahan. "Ra, maafkan aku, ya Ra. Aku salah selama ini, aku telah menelantarkan kamu dan anak-anak, dan kamu harus tahu satu hal, Ra. Aku sama sekali tidak ingkar janji, nafkah kalian masih aku tanggung, tapi Riana menggunakannya. Riana yang telah membuat kita salah paham." Rian menghela nafas. Beban berat di hatinya seakan terangkat.


Kira masih mematung, entah mana yang harus dia percayai. Namun, mendengar ucapan lembut penuh iba itu, Kira tidak yakin Rian membohonginya. Hati juga punya sisi buruk, yaitu prasangka. Terlalu sering di perdayai, membuat Kira tidak bisa serta merta percaya kepada Rian. Dia berpikir untuk mengetahui kebenarannya, sebelum mengambil keputusan.


"Ra, aku tahu kamu tidak akan percaya padaku, tapi kali ini, aku bekata jujur padamu. Aku, bukan mencari pembenaran atas tindakanku, tapi percayalah, Ra, semua di luar perkiraanku. Keluarga kami hancur, Ibu sakit, Riana pergi. Aku mohon, Ra. Maafkan kami, ampuni kami," Rian merosot ke lantai. Menyentuh kaki Kira. Membuat perhatian semua orang tertuju pada mereka.


"Bangun, Mas. Apa kau pikir aku akan memaafkanmu meski kau bersujud?," Ucap Kira dingin.


"Ra," Rintih Rian. Dia menengadahkan wajahnya menatap Kira yang masih tidak bergeming.

__ADS_1


"Bangun, Mas. Berdirilah." Suara Kira meninggi satu oktaf.


"Tidak, sampai kau memaafkan aku," Rian kembali menunduk. Membiarkan air matanya menetes.


"Aku tidak akan memaafkanmu jika kau masih seperti itu," Kira melirik sekilas. Mendesah, Kira benci sekali keadaan ini, benci dengan hatinya yang mudah luluh. Tapi, tidak ada yang bisa di lakukannya, selain memaafkan.


Rian berdiri perlahan, Rian mencoba meraih tangan Kira, namun Kira segera menarik tangannya. Kecewa, Rian merasa kecewa.


"Aku memaafkanmu bukan berarti aku bisa menerimamu lagi," Jawab Kira tegas.


Rian menghela nafas, dia memang tidak berharap banyak, Kira mau memaafkan dan mengerti saja sudah sangat bagus.


"Ra, bisakah aku minta satu hal lagi?," Rian meremas tangannya. Lebih baik mencoba dan gagal daripada tidak sama sekali.


Kira memutar kepalanya ke arah Rian yang masih melayangkan tatapan mengiba. Kira bisa menduga, lelaki di depannya sedang dalam tekanan besar.


"Ikutlah denganku sebentar," Sambung Rian. Sebelum Kira menjawab, Rian sudah berjalan mendahuluinya. Sehingga Kira tak punya pilihan selain mengikuti Rian.


"Kira," Lirih seorang wanita dari ranjang. Wanita yang semula berbaring lemah, kini bangun dan duduk untuk melihat Kira yang baru saja masuk.


"Ibu," Kira terperanjat mengenali siapa yang sedang terbaring di sana.


Belum sempat berbicara apa-apa, Ibu sudah menangis sesenggukan, sampai mengguncang bahunya. Rian yang berdiri di samping ranjang, menatap iba ibunya.


Ibu semakin lemah setiap harinya, memaksa Rian membawa Ibu untuk mendapat perawatan. Tubuh tua ini, seperti terserap oleh siksaan penyesalan. Hanya tinggal tulang terbalut kulit.


Tak ada lagi yang tersisa, kesombongannya kini lenyap, berganti tangisan penuh sesal. Ibu benar-benar sendiri, tidak ada anak atau cucu yang menemani. Setiap hari, dia hanya memandang langit-langit kamar rumah sakit, berteman air mata.


Sesekali, Rian datang untuk melihat Ibunya. Ibu tetaplah ibu, seburuk apapun dia. Sesibuk apapun dia, tetap dia sempatkan menjenguk wanita yang melahirkannya.


"Ra, maafkan Ibu," Lirih Rian. "Mungkin akan sulit bagimu, tapi, lihatlah Ibu, dia sudah menjalani sisa umurnya dengan kesedihan dan penyesalan."

__ADS_1


Kira masih mengawasi Rian dan Ibu secara bergantian. Memang, tidak ada lagi kuasa ataupun hardikan mengerikan dari mulutnya, tapi entahlah, memaafkan itu memang hanya mudah di ucapkan. Kira hanya manusia biasa, ketika sakit tentu hatinya akan membenci secara otomatis. Meski begitu, Kira tak sampai hati untuk melisankan kebenciannya, dia masih punya perasaan empati terhadap sesama manusia.


"Aku sudah memaafkan kalian, hiduplah dengan baik mulai sekarang," Ucap Kira dingin. Menatap Ibu tanpa berkedip. Ibu bahkan tak mampu berucap sepatah katapun. Hanya dengungan tangisnya semakin kerasa terdengar.


"Terimakasih, Ra. Ini sungguh membuat hidup kami lebih baik," Lirih Rian. Dia tak mampu menyembunyikan lagi, bagaimana lega dan bahagianya dia bisa bertemu Kira. Mendapat pengampunan dari orang yang telah di lukai oleh mereka selama bertahun-tahun.


Ibu beringsut turun dari ranjang, di bantu Rian, Ibu menghampiri Kira. Ibu bersimpuh, memeluk kaki Kira, dan kembali menangis, bibirnya bergetar, dan berulang kali mengucap kata maaf yang tidak terlalu jelas.


"Jangan seperti ini, Bu. Semua orang pernah salah, dan semua orang akan memaafkan kesalahan. Ini berlebihan Bu," Kira tidak pernah berpikir semua akan seperti ini. Ya, dia memang berharap mereka mendapatkan hukuman, tapi tidak sekarang, saat sebelah hatinya bahagia. Ini akan membuat hukuman mereka lebih ringan. Pengaruh sisi bahagia sangat kuat, hingga dia lupa rasa sakit yang pernah menderanya.


Rian menarik Ibunya dari kaki Kira, sedikit kesulitan karena Ibu enggan melepaskan pelukannya.


"Bu, berdirilah, aku akan terlihat kejam membiarkan wanita tua dan sakit duduk bersimpuh hanya karena mengharapkan maaf," Ucapan Kira sedikit mempengaruhi Ibu. Ibu melonggarkan pelukannya. Dan dengan susah payah, Rian membantu Ibu berdiri dan menuntunnya kembali ke ranjang.


"Setelah ini jangan pernah hadir lagi di kehidupanku, Mas. Kita sudah memiliki kehidupan masing-masing, jadi jangan mengganggu aku lagi,"


Setelah mengucapkan kata-kata itu, Kira segera meninggalkan ruang rawat Ibu Rian.


Mencoba berdamai dengan masa lalu memang mudah di lafalkan, tetapi sulit di peragakan. Andai, semua itu semudah pasang membalik kapal. Atau semudah otak membalik telapak tangan. Tetapi, baik pasang maupun otak, mereka punya kuasa dan digdaya. Bukan manusia lemah seperti Kira.


.


.


.


.


Untuk pertama kalinya, #BWW masuk rangking vote ya, aduh, senengnya diriku tidak terkira, udah mau salto aja nih bawaannya,🤭


Btw, terimakasih readers semua yang sudah dukung diriku yang masih kelas belajar ini😘🥰.

__ADS_1


Salam paling manis dari Author


__ADS_2