
Penanganan Reno dilakukan oleh dokter terbaik di negara ini dengan pantauan langsung dari Wisnu Dirgantara.
Dua malam sudah Reno berada di sini, dan dokter menjelaskan keadaan Reno yang kini sepenuhnya bergantung pada alat medis yang menempel di tubuhnya.
Dirga tampak terpukul dan menyesal, tetapi pria itu berkeras agar membiarkan Reno tetap bernapas dan hidup.
"Saya sudah ikhlas jika semua alat penopang kehidupan Reno di lepas, Dokter!" Giza menyela perbincangan serius antara dokter dan Dirga di depan ruang ICU.
Dirga menoleh dengan kening berkerut. Sesaat, dia dan dokter saling pandang sebelum berkata, "Giza, kami sedang mengupayakan yang terbaik untuk Reno. Jangan bicara seperti itu!"
Mata Giza menatap tajam Dirgantara, tanpa rasa takut atau sungkan lagi. Meski menyisa jejak merah di matanya, tapi Giza tampak tegar.
"Dokter sudah mengatakan kalau Reno mati otak. Jadi dengan adanya alat-alat itu di tubuhnya, hanya akan menyiksa Reno lebih lama. Lebih baik dilepaskan saja, dengan begitu suami saya tidak lagi merasakan sakit di badan dan hatinya."
"Giza—"
"Saya akan menandatangani surat persetujuan pelepasan semua peralatan medis Reno dan akan membawa pulang jenazah suami saya, Dokter. Saya istrinya, saya jauh lebih berkuasa dibandingkan siapapun di dunia ini!" lanjut Giza dengan tegas.
Dokter kepala yang sudah berumur itu melirik Dirga dengan perasaan sungkan. Dia meminta pertimbangan.
"Apa lagi yang anda tunggu, Dokter? Saya tidak ingin berpura-pura lagi dan menyiksa suami saya seperti ini!" Giza menguatkan hati saat mengutarakan keinginannya. Yah, apalagi memangnya yang bisa dia lakukan selain mengikhlaskan.
"Giza ...." Dirgantara mendesis. Terdengar pilu menyayat. Baru kali ini, dia dibuat tidak berdaya dengan semua yang dia miliki.
"Ba-baik, Nyonya ... mari ikut saya!" Dokter itu gugup dan terbata-bata. "Tuan Dirgantara, saya permisi dulu."
Dokter itu pergi ke ruangan yang berada tak jauh dari tempat itu, Giza mengikuti tanpa melirik Dirga sama sekali.
"Giza ... kenapa kamu begini?" tanya Dirga lirih. Mata pria tua itu nanar dan basah memandangi punggung Giza. Wanita yang selama ini begitu ceria dan lembut. Setelah semua kejadian buruk ini, Giza berubah dratis menjadi dingin dan muram. Dirga bahkan seperti tidak mengenalinya lagi.
Giza menghentikan langkah. "Saya tidak mau menjadi beban anda, Tuan. Saya bukan wanita yang hidup dengan belas kasihan orang lain, pun dari anda maupun keluarga anda."
"Giza ... aku tidak bermaksud membuatmu bergantung pada kami atau berpikir kalian menjadi beban kami. Apa yang aku lakukan semata-mata agar kalian bisa kembali lagi bersama Reno. Reno bisa diselamatkan dengan berbagai macam cara—"
__ADS_1
"Anda jangan mengigau, Tuan." Giza menukas seraya memutar tubuhnya. Dengan menatap Dirgantara tajam, seakan keteguhan hatinya ditegaskan. "Orang yang sudah mati tidak akan bisa hidup kembali, sekalipun anda punya uang tak terbatas, anda tidak bisa membeli nyawa dan masa lalu! Itulah kenapa kita harus menghargai nyawa seseorang dan waktu!"
Dirga dibuat mati kutu oleh ucapan Giza, sungguh dia merasa kecil dan kalah. Giza berhasil membuatnya tak berkutik dalam waktu singkat.
"Setelah ini, saya akan pulang! Kunci apartemen saya titipkan pada sekuriti. Semuanya telah berakhir, Tuan. Saya menghargai semua usaha anda, tapi sepertinya jalan hidupku memang harus seperti ini." Suara dingin Giza kembali terdengar.
"Giza ... tapi—"
"Saya mohon agar Tuan Dirga tidak terlalu berlebihan pada kami. Kami akan baik-baik saja setelah ini." Giza segera berbalik dan menuju ruangan Dokter. Membiarkan Dirgantara yang perkasa itu jatuh bersandar pada dinding putih rumah sakit.
Tak lama berselang, Giza keluar dari ruangan Dokter dan masuk ke kamar Reno, tanpa mempedulikan Dirga.
Giza ingin sendirian bersama Reno sebelum Reno benar-benar meninggalkan dirinya selama-lamanya.
Tubuh Reno yang semula kokoh, kini begitu lemah dan kurus. Pucat dan dingin. Giza tahu, Reno sebenarnya sudah tidak lagi bersamanya.
"Sayang ...!" Giza menyatukan jemarinya dengan jemari Reno. Suaranya memberat, butir-butir air mata mulai menetes.
Hanya suara berdenting pelan dari monitor di sebelah Reno yang menjawab. Giza dengan emosional melanjutkan. "Pergilah dengan tenang, Suamiku. Peluklah anak perempuan kita di surga. Kau bilang, jika Rega punya adik perempuan, maka aku tidak boleh memilikinya. Anak perempuan adalah milikmu sendiri."
Giza makin tergugu. "Kini kau benar-benar memilikinya sendirian, Sayang. Maafkan aku ... maafkan aku."
Giza bergerak mengecup kening, mata, pipi, dan bibir Reno bergantian, kemudian menciumi tangan dingin Reno sampai tak terhitung jumlahnya.
"Sekarang, tangan mu ini tak akan melambai untuk memanggil datang, tak ada usapan sayang di rambutku lagi. Reno ... aku ikhlas jika kau pergi, aku ikhlas asal kau tidak sakit lagi. Bahagia dan tenang di sana, Sayang. Aku akan menjaga Rega dengan baik. Awasi kami selalu dari atas sana, dan tunggu kami datang padamu."
Kepala Giza merebah di sebelah Reno, memeluk tubuh kaku itu penuh cinta untuk yang terakhir kalinya. Dokter memberikan waktu sampai Giza siap.
Rega yang mendengar perdebatan mamanya dengan Dirga, memilih keluar dari area rumah sakit. Langkah kakinya menyusuri jalan tanpa tahu kemana tujuannya. Pria kecil itu melamun, memikirkan bagaimana nasibnya setelah sang Papa benar-benar pergi.
Napas Rega terhela berat. Kepala pria itu menengadah ke langit, seakan di sana ada jawaban dari semua keresahan hatinya.
"Rega!"
__ADS_1
Suara panggilan dari seseorang yang akrab di telinganya membuatnya menoleh. Rega berhenti untuk menunggu pria tua yang selama ini dianggapnya sebagai kakeknya sendiri. Sama seperti Excel.
"Mau makan es krim sama Kakek?" Dirga terengah, tetapi menahannya di depan Rega.
Rega mengangguk, meski dia sedang tidak ingin makan apapun sekarang.
Dirga tersenyum dan membawa Rega ke toko es krim tak jauh dari tempatnya berdiri.
Dirga memesan dua porsi untuk mereka, lalu membawanya sendiri ke kursi yang dipilih Rega. Dekat jendela, dan menghadap jalanan kota yang begitu ramai.
"Siapa ya, penemu es krim ini? Bagaimana dia bisa memikirkan makanan lezat dan manis seperti ini, ya?" Dirga berbasa basi seraya mendorong gelas kaca berpenyangga itu ke depan Rega.
Rega tersenyum kecil, lalu menyuapkan satu sendok kecil ke mulutnya. Dia hanya menghargai Kakek Dirga, tanpa berminat memikirkan siapa atau bagaimana es krim tercipta. Entah mengapa, dia merasa marah dan kesal pada pria ini.
"Kakek minta maaf." Dirga menunduk. Merasakan dadanya sesak, tenggorokannya tersumpal hingga kesulitan bernapas. Dirga merasa bersalah dan tidak berguna di hadapan Rega. Anak yang seharusnya tumbuh dengan ayah di sisinya.
"Saya sudah terbiasa selama beberapa tahun ini, Kek. Saya membiasakan diri dan bersiap jika suatu saat Papa pergi." Rega berhenti menyuap, mendorong gelas lebih jauh.
"Ini semua karena Kakek. Kakek yang salah, Nak." Dirga menatap Rega yang sendu. Dia tidak menyembunyikan tangisnya. Sungguh di depan Rega, dia benar-benar merasa buruk.
"Ini adalah takdir, Kakek! Saya menerimanya dengan lapang. Kakek jangan merasa bersalah pada kami." Rega tidak tahu harus berkata apa. Semua orang sudah berusaha melakukan yang terbaik untuk kesembuhan papanya. Rega tahu, pria tua inilah yang selalu hadir di setiap pengobatan yang papanya jalani. Rega tidak bisa menutup mata soal itu.
Sudahlah. Rega tidak mau memelihara sakit hati berlebihan. Dia hanya memikirkan bagaimana menyambung hidupnya nanti dengan sang Mama.
Ketegaran Rega membuat Dirga semakin merasa bersalah. "Setelah ini, Kakek mohon, jangan menjauhi Kakek. Jadilah bagian keluarga Kakek, Nak."
Mungkin hanya itu yang bisa Dirga berikan. Dia bisa menopang kehidupan ibu dan anak ini dengan semua yang dia miliki sekarang. Meski rasanya tetap saja kurang.
"Saya akan melakukannya, Kek." Rega mengangguk, "kalau begitu, saya kembali ke rumah sakit dulu. Mama mungkin memerlukan bantuanku."
Dirga tercekat. Dia hanya bisa memandang Rega meninggalkannya tanpa bisa berkata-kata.
Setelah Rega menghilang, Dirga menangis sejadi-jadinya. Dia merasa tidak berguna.
__ADS_1