
Pagi merayap naik, menuju siang. Benar-benar sangat nyenyak, dan bangun dalam keadaan segar. Kira bergegas bangun tanpa peregangan seperti hari-hari sebelumnya. Dia membersihkan diri dengan cepat, tetapi tidak melewatkan satupun apa yang menjadi kebiasaannya di kamar mandi.
"Sayang, bangun. Kau tidak ke kantor hari ini?" Kira duduk di belakang suaminya dengan sebelah kaki menggantung di sisi ranjang. Kira menggoyangkan pelan tubuh suaminya yang masih berbalut selimut.
"Heem," Tangan Harris keluar dengan lima jari terbuka.
"Bisa jadi lima kali lipat, jika kau tidak segera bangun," Kira menarik selimut, menampakkan bahu lebar nan kokoh suaminya dari arah samping. Kira harus membangunkan suaminya yang sekarang suka bermalas-malasan di kasur.
"Kau harus mencari uang buatku, aku tidak mau ya, kalau sampai jatahku berkurang?" Ancaman Kira biasanya sangat manjur, tapi kali ini, Harris tidak peduli.
"Ya, sudah. Aku sudah menyiapkan bajumu, aku akan turun, Ayah dan Ibu pasti sudah bangun sekarang," Kira mendesah pasrah. Mungkin karena lelah dengan jadwal pekerjaannya, suaminya ingin menikmati waktu untuk dirinya.
"Ayah?" Harris melompat bangun. Bahkan Kira belum sempat menjejakkan kaki di lantai.
"Kau membuatku jantungan, Yang," Kira melotot, sambil memegang dadanya. Seakan jantungnya hendak terlepas dari tempatnya bergantung.
"Kapan Ayah kemari?" Harris melompat ke kamar mandi.
"Kemarin. Ayah menginap di sini, mungkin karena kita pulang terlambat, jadi mereka menemani cucu-cucunya," Terang Kira pada Harris yang berada di dalam kamar mandi. "Kau lupa handukmu, Yang."
Kira meletakkan handuk di handel pintu kamar mandi. Dan meninggalkan kamar untuk turun ke ruang makan.
"Papa?" Kira terkejut bukan main saat melihat mertuanya duduk santai di sofa ruang tengah dengan memegang koran di kedua tangannya. Masih baca koran aja, si Papa? Batin Kira.
"Papa baru pulang dari luar kota, dan Papa kangen sama cucu Papa, sekalian saja, Papa menginap," Jelas Tuan Dirga pada mantunya yang bersegera menyalaminya.
"Maaf Pa, Kira tidak tahu Papa datang."
"Tidak apa-apa, sepertinya kalian sedang ada acara semalam?" Tuan Dirga tersenyum, memaklumi menantunya yang merasa tidak enak hati padanya.
"Iya, Pa. Kami di undang makan malam di rumah Tuan Darmawan," Kira tiba-tiba ingat akan Viona, Kristal dan juga Evan. Apa Papa tahu tentang ini? Pikir Kira. Yang buru-buru di tepisnya, saat matanya menangkap bayangan Asisten Toni di ruang depan. Tidak ada yang tidak bisa di ketahui oleh si kepala botak itu, pikir Kira.
"Dia pasti sangat menyukaimu?" Tuan Dirga kembali memfokuskan perhatiannya pada koran di tangannya.
Kira tersipu, tangannya membenarkan rambut yang menyisip di belakang telinganya. "Papa, sudah sarapan?"
"Belum, tuan rumahnya saja belum bangun," Jawab Tuan Dirga mencandai Kira. Dan itu berhasil membuat Kira malu. Tanpa berucap lagi, dia melangkah ke dapur, yang sudah ramai dengan suara Ibu dan 4 orang ART, minus Santi yang pulang kampung.
"Papa?" Harris terkejut saat melihat Papanya, sama seperti Kira.
"Anak pemalas, kau tidak tahu Papa menginap di sini?" Tuan Dirga pura-pura marah.
"Dapat berkah apa semalam? Bokap gua nginep di gubuk anaknya," Harris mencandai Papanya.
"Salah sendiri kamu ngga mau nginep di rumah Papa."
__ADS_1
"Harris masih sibuk, Pa, kalau harus ke sana sini," Harris duduk di sebelah Papanya.
"Kan bisa tinggal di rumah Papa," Tuan Dirga sama sekali tidak mengalihkan perhatiannya dari surat kabar di tangannya.
Harris menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dia ingin mengatakan sesuatu, tapi dia merasa malu, tidak etis rasanya membicarakan hal-hal bersifat pribadi pada Papanya.
"Kamarmu sudah kedap suara sekarang, kau tak perlu cemas," Ucap Tuan Dirga santai. "Papa juga sudah tidak sabar menimang anakmu."
Kira yang memegang nampan berisi kopi untuk dua orang itu, terkesiap mendengar penuturan Papa mertuanya. Nyaris saja nampan itu lolos dari genggamannya.
Setali tiga uang, Harris juga merasa perutnya berdesir, merasakan sensasi aneh saat Papanya mengatakan itu. Situasi paling canggung yang pernah di hadapi keduanya.
"Kopinya, Pa," Kira menaruh cangkir kopi di meja, berusaha untuk bersikap biasa, seolah tidak mendengar percakapan mereka barusan.
Tetapi, Harris yakin, istrinya mendengar ucapan Papanya barusan. Melihat rona merah mengambang di pipi istrinya dan Kira tidak menatap matanya langsung.
"Kopimu, Mas," Kira menempatkan cangkir kopi di tangan suaminya yang masih memandanginya, dengan rasa bersalah.
"Makasih, Sayang," Harris tersenyum kikuk, terlebih, Kira hanya membalasnya dengan senyuman tak ikhlas, sebelum berlalu dari hadapan keduanya.
"Pasti dia merasa bersalah, setelah mendengar ucapan Papa," Pikir Harris seraya menyesap kopi seduhan istrinya yang nikmatnya tidak ada duanya.
***
Rumah ini bak sedang mengadakan pesta, entah ada angin apa, Rio tiba-tiba mampir untuk sarapan di rumah Abangnya. Tetapi, dia tidak menyangka, ada Paman dan Orang tua Kira, di sini.
Johan bahkan melayangkan tatapan menikam saat ingat kejadian semalam. Dia tahu persis apa alasan Rio kemari, selain membuktikan ucapannya semalam.
"Nak Rio, kapan-kapan main ke rumah Ayah ya, selama Ayah di rawat di sana, Nak Rio sudah banyak membantu kami," Ujar Ayah saat mereka sedang menikmati sarapan pagi yang riuh.
"Akan Rio usahakan, Paman," Rio mengangguk dengan sopan. Johan dan Rio saling melemparkan lirikan. Keduanya pun sering saling memergoki saat memandang Kira.
"Apa kubilang, dia makin cantik kan?" Tatapan Johan seakan mengatakan itu saat beradu pandang dengan Rio.
Kira yang tak sadar dengan perasaan keduanya, hanya melempar senyuman hangat. Bagi Kira, Johan adalah temannya, dan Rio sebatas saudara suaminya.
Harris sadar Johan dan Rio menaruh perhatian pada istrinya, meski awalnya merasa terbakar tetapi, di sini dia harus menunjukkan siapa pemilik wanita itu. Jadi, Harris sengaja bermanja-manja dan secara terang-terangan menunjukkan perhatian dan kemesraan mereka, di hadapan semua orang.
Nina, sejak dia duduk di meja makan, selain diam dan menunduk, dia tidak melakukan apapun, juga dia tidak mengucap sepatah katapun. Buru-buru dia menghabiskan sarapannya, dan mengajak ke empat bocah yang masih berada di meja makan untuk bermain di luar. Nina merasa kebucinan Harris akan merusak pikiran bocah-bocah itu. Juga, menghindari bersitatap dengan orang yang mematahkan hatinya, bahkan sebelum sempat keluar dari bibirnya.
Ayah dan Tuan Dirga, merasa senang karena anaknya saling menyayangi. Dalam hati mereka terlantun doa untuk langgengnya rumah tangga anaknya. Keduanya tersenyum menyaksikan Harris yang seperti bocah. Ayah dan Tuan Dirga memilih ke halaman belakang, melihat cucu mereka bermain, dari pada melihat adegan menggelikan di depan mereka.
Ibu dan Viona juga semakin akrab, Viona kini mau bergabung untuk sarapan bersama. Melihat kemesraan Harris dan Kira, membuat Viona sadar, Harris membutuhkan wanita yang mengerti dia. Bukan wanita yang membuat dia kesulitan, seperti dirinya. Harris dan Viona sama-sama kurang mendapat kasih sayang, dan cenderung mementingkan ego masing-masing. Sedangkan, Kira, dia tumbuh di dalam keluarga yang lengkap dan saling mengasihi, sesuatu yang Viona tidak pernah dapatkan. Viona menghela nafas, melepaskan orang yang tak mungkin kita miliki, meski berat, tapi demi kebaikan semuanya. Dia akan mencoba memperbaiki apa yang telah rusak, menjahit kembali luka yang di goreskan oleh orang yang sangat dia cintai.
Tanpa sadar, air mata Viona meleleh, meluncur di pipinya yang mulus.
__ADS_1
"Mau ikut Ibu ke dapur? Ibu butuh bantuanmu, sedikit," Ibu mendekatkan ibu jari dan telujuknya, membuat celah seukuran lubang jarum. Ibu mengerti apa yang di rasakan Viona, menantunya terlalu berlebihan di hadapan mereka.
Viona tersenyum, dan mengangguk, dengan gerakan samar, dia menyeka bekas buliran bening di pipinya.
Ibu menggandeng tangan Viona, seraya mengusap perut bulat itu dengan tangan lainnya. "Sehat-sehat di perut Mama, ya Sayang,"
Viona memekik pelan, ketika sebuah tendangan menyudul perutnya dari dalam. Sontak saja, semua orang menoleh bersamaan.
"Wah, kuat sekali kamu, Sayang. Ini Uti, Sayang. Jangan menyulitkan Mama ya, Nak," Ibu berhenti di depan Viona, mengusap lagi perut itu. Dan, tentu saja, Viona meraung merasakan kebahagian yang mengaliri tubuhnya. Perlakuan Ibu, membuat Viona merasa bahwa dia punya keluarga.
Kira bahkan ikut berurai air mata saat melihat adegan mengharukan ini. Tanpa aba-aba dia menubruk tubuh suaminya, dan menangis di dadanya. Harris tersenyum penuh kebanggaan, kepada dua pria di depannya, yang bermuka masam.
"Sialan, siapa yang menaruh bawang di sini, sih? Mata gua berair nih," Gumam Johan yang engap melihat kemesraan bosnya dan haru melihat kebaikan Ibu Kira. Dia menangis akan dua perasaan yang bercampur.
"Preman cengeng," Bisik Rio, mati-matian dia menahan air matanya. Yang sudah hampir meleleh.
"Cabut," Johan mengisyaratkan Rio untuk ke depan. "Bisa-bisa gua mati kaku di sini."
Mereka berdua melangkah keluar dari ruang makan yang terasa mengharu biru. Menyisakan dua manusia yang duduk berpangkuan, saling memeluk dalam.
"Bayangin gua tiap hari lihat pemandangan kaya gitu, kadang malah lebih parah," Ucap Johan saat mereka berdua berada di samping mobil. Johan menyandarkan tubuhnya di badan mobil yang terasa dingin.
"Nyesek, Jo. Tapi kita bisa apa? Ngga lucu kan, kalau kita rebutan sama Abang?" Rio menghela nafas, pasrah. Melambaikan bendera putih, dan berlutut untuk kebahagiaan abang dan istrinya.
"Mau lebih nyesek lagi?" Johan menumbuk ujung sepatu Rio dengan ujung sepatunya. "Noh," Johan menunjuk belakang Rio dengan dagunya.
Spontan, Rio menoleh, melihat dua orang yang saling memagut, entah di sengaja atau tidak. Kini, Rio mengerti apa yang di rasakan Johan. Sakit, seakan tertusuk ribuan jarum. Ngilu, seperti tersayat sembilu.
"Gua salut sama ketegaran lo, Jo," Rio menepuk pundak Johan dan melangkah menuju mobilnya.
•
•
•
•
Selamat hari minggu evribadih, 🚵♀️
Kemana nih, acara hari minggu kalian?🤗
Apapun, kegiatan kalian, sempatin baca kelanjutan ceritaku yah😆🥰
Hepi Wiken semuanya....
__ADS_1
Love you All🥰🥰😘😘
Salam Manis dari Author👩🦰