
Di luar, langit terlihat cerah, awan-awan putih menghiasi langit. Matahari bahkan tak malu-malu lagi memancarkan sinarnya. Tetapi, di dalam rumah ini, terasa kontras dengan suasana di luar. Awan-awan hitam seolah menggelayuti setiap penghuninya.
Sudah beberapa hari berlalu sejak rumah ini menjadi medan pertempuran, sejak itu pula tak ada lagi keceriaan dan kehangatan layaknya sebuah keluarga di sini. Dingin, itulah penggambaran sempurna keadaan rumah ini.
Ayah dan Ibu tak lagi bertegur sapa, Rian yang dulu penuh hormat dan selalu menuruti Ibunya, kini tak lagi mau berada dalam satu ruangan yang sama dengan mereka. Riana, dia bahkan tidak pulang ke rumah suaminya, ketika Ibu mencarinya ke rumahnya. Kacau, hanya Nyonya muda dan bayinya yang masih bisa bernyanyi riang.
Ibu sering mengurung diri di kamar, tubuhnya semakin kurus dan rapuh. Sering menatap kosong halaman rumah, dan memeluk sebuah guling berkepala boneka, guling kecil, milik cucunya. Terkadang dia mengusir sepi dalam dirinya dengan menyaksikan televisi, dimana ada tayangan kartun kesukaan cucunya. Teringat saat dia menghardik cucunya, ketika acara kartun dan sinetron kesukaanya tayang di waktu yang sama, membuat Ibu semakin terisak. Apa ada adegan dalam acara kartun yang bisa membuat seorang nenek tergugu dalam tangisan?. Dulu, ruangan ini ramai dengan suara tawa dan tangis ketiga cucunya, mainan berserakan dimana-mana, dan dialah yang membuat semua itu hilang. Mereka keluar hanya membawa pakaian seperlunya, tanpa membawa apa-apa walau hanya sebuah mobil-mobilan atau sebuah boneka. Tangisan Ibu semakin menjadi-jadi mengingat itu semua.
Dalam ingatannya jelas sekali, ketika dia merencanakan penindasan kepada Kira. Dia ingat, ketika bibirnya melontarkan hinaan kepada Kira. Mulutnya memang terbiasa berucap pedas, jadi dia tidak merasa bahwa itu sebuah kejahatan saat mengucapkannya. Dia tidak berpikir itu menyakiti hati menantunya, yang dia tahu, dia benar dan harus di patuhi.
Ayah, setelah merasa dialah yang bertanggung jawab atas semua kekacauan ini, dia sudah bisa tegar menghadapi sisa umurnya, apalagi setelah bertemu dengan Kira. Tentu saja, tanpa sepengetahuan siapapun. Ayah memang sudah lama menyiapkan rumah untuk Kira dan cucunya, namun dia tidak menyangka akan memberikannya, dengan cara seperti ini dan di saat seperti ini. Dia berharap, akan memberikan itu semua, dengan suasana hati yang bahagia.
Walaupun Ayah akan di benci oleh cucunya, itu sudah resiko besar yang sudah siap di terimanya. Dia dengan legowo akan menerima dan menghadapinya. Materi memang tidak bisa membeli kebahagiaan, menutup luka ataupun mengembalikan masa. Bahkan, jika bisa menukar seluruh kekayaannya demi kembali ke satu menit di masa lalu, dia akan melakukannya. Namun, sayangnya itu mustahil. Yang bisa di lakukannya adalah menjadikan masa lalu sebagai pijakan dan saat ini sebagai titik balik dalam sebuah rangkaian kehidupan, untuk masa depan yang lebih baik jika masa depan cerah tak lagi bisa di raih. Mengembalikan semua pada tempatnya, mengembalikan apa yang seharusnya menjadi milik mereka, meski sudah terlambat. Setidaknya, mereka tidak lagi khawatir akan tempat tinggal mereka.
Sementara, Rian, sepertinya yang paling terluka di sini. Dia seperti kehilangan separuh nyawanya. Kekasihnya, tak lagi bisa di temui, keluarganya seperti lenyap tanpa meninggalkan jejak. Bahkan, ketiga anaknya, sudah seperti menghilang dalam dimensi. Rian selalu berangkat pagi-pagi sekali untuk ke sekolah anaknya, tetapi hingga jam pelajaran di mulai, mereka tidak menampakkan diri. Bahkan Rian sampai memaksa masuk ke dalam kelas untuk mencari mereka. Namun, dia tidak menemukan salah seorangpun dari mereka.
Mantan istrinya yang sudah di anggapnya seperti kekasihnya pun tak juga menampakkan batang hidungnya. Lenyap. Ketika dia tak bisa menemukannya secara terbuka, dia mengupayakan secara sembunyi-sembunyi. Tetapi sama, dia tidak menemukan siapa-siapa.
Dia tau harus kemana, tapi apa yang akan dia katakan? Mengingat kembali kemesraan antara mantannya dengan bosnya, mengisyaratkan mereka sangat dekat. Tetapi, dia tahu, dia tak bisa menyentuh Bosnya sembarangan. Atau, masa depannya semakin suram.
Dan, Nyonya muda di keluarga ini, masih bisa tertawa dan bernyanyi bersama putri kecilnya yang semakin menggemaskan. Suasana hati Mamanya yang bagus membuatnya tumbuh dengan baik. Meskipun, tidak ada yang tahu apa yang di rasakan seorang bayi. Melisa berjalan dengan mendongakkan wajah, jumawa, karena sudah berada di jalur kemenangan. Tak perlu lagi ada yang membuatnya khawatir. Dia hanya perlu waktu yang sangat tepat untuk membidik lawannya. Ketika mereka berada dalam satu titik, secepat kilat dia menghunus pedang ke arah mereka. Tepat, dan mematikan.
.
__ADS_1
.
.
Akhir pekan, Melisa berencana menikmati waktu dengan suami dan anaknya. Namun, semua terurung karena Rian ada urusan di kantor. Di tambah cuaca berubah sangat cepat, sedetik lalu matahari masih mengobarkan panas yang membakar, sedetik kemudian, hujan menghapus teriknya dengan rintikan kecil namun pasti.
Rian memacu mobilnya menuju kafe, dia berhenti di seberang jalan. Ini sudah ke tiga kalinya, dia menaruh harapan besar di kesempatan ke tiganya. Menunggu di bawah guyuran hujan, dan tidak hanya sebentar, ini nyaris setengah hari. Namun, dia belum mendapatkan apa-apa. Sepi, ditemani denting hujan di atap mobilnya.
Kemana lagi dia harus mencari? Rumah bos besar? Lalu dia harus bertanya seperti apa? Tidak mungkin dia serta merta bilang mencari mantan istrinya, atau apa mantan istri saya tinggal di sini? Kan lucu!.
Dia memilih menyerah dan kembali pulang. Menemui istri dan anaknya. Apa dulu Kira seperti Melisa? Menunggu suaminya pulang dari berkerja? Bekerja? Bukan, menemui kekasihnya. Jika Kira, menyambut Rian dengan senyum lelahnya, Melisa menyambutnya dengan segala keluh kesahnya. Kira memang tidak mengeluh, bahkan ketika uang bulanannya di kurangi oleh Rian demi wanita lain dalam pernikahan mereka. Dia hanya perlu mengurangi jatah untuk dirinya, dan tetap mendahulukan suami dan anak-anaknya. Buta, itulah keluarga Rian. Atau bertingkah buta.
"Mas, apa sih yang kamu pikirkan?," Sapa Melisa saat melihat suaminya pulang dalam keadaan lesu dan lelah.
"Tidak ada, hanya pekerjaan di kantor yang menumpuk," Rian berdalih, apa jadinya jika Melisa tahu jika dia tidak ke kantor dan menunggui mantan istrinya sepanjang hari? Terlebih membatalkan rencana jalan-jalan mereka hanya karena Kira. Bisa jadi perang dunia lagi, nantinya. Rian mengabaikan Melisa yang cemberut, menekuk wajahnya. Dia memilih menghempaskan tubuhnya di sofa. Memijat pelan keningnya, seakan kepalanya ingin meledak. Beban yang sangat berat, beban penyesalan.
"Baguslah," Gumam Rian. Rian sangat lelah dan frustasi. Jika Sia tidak rewel, berarti dia bisa menyisakan ruang di otaknya untuk dirinya sendiri. Keluhan Melisa terkadang membuatnya jengah, dia merawat Sia di bantu pengasuh. Dan Sia memang tidak rewel, menurutnya. Seorang bayi memang baru bisa menangis, apapun yang di rasakanya, di ungkapkan dengan tangisan. Melalui tangisan dia mengatakan haus, mengantuk, lelah atau tidak nyaman. Sia belum seberapa di banding rewelnya Jaden saat seusia Sia.
Mengingat Jaden, membuatnya mendesah, merasa bersalah. Bagaimana kedua anak kembarnya tumbuh? Rupanya saat bayi seperti apa? Jaden sering sakit saat berusia 6 bulan, rewel dan tidak mau tidur saat malam. Tangisannya menggema setiap malam, mengganggu tidurnya. Setiap malam hingga sampai berapa lama dia juga tidak ingat. Kira menggendong Jeje untuk membuatnya tenang, dan Bik Sumi mengurus Jen yang juga ikut menangis. Meskipun Excel sedikit lebih besar, tapi seusianya, tentu juga masih butuh perhatian dari Mamanya, dan Papanya. Jangan tanya di mana Neneknya. Ada. Tapi, Neneknya datang, bukan untuk membantu, tetapi untuk protes dan mengomeli Kira. Tidak becuslah, sembrono lah, kurang ini, kurang itu dan banyak lagi. Bukan membuat Jeje tenang tapi malah membuatnya semakin menangis karena suara neneknya. Kira sering terlihat berkaca-kaca mendengar kata-kata pedas Ibu, tapi dia hanya diam. Dan, Rian hanya menyaksikan, dan juga ikut mengomeli Kira.
Sekarang, gantian dia yang pusing karena keluhan Melisa yang hanya seujung kuku dari apa yang dialami Kira. Sekarang dia yang diam, dengan memendam kekesalan di dalam hatinya. Dia yang ingin menangis, sekarang.
"Kamu kenapa sih, Mas? Aneh banget! Tidak biasanya kamu cuekin aku seperti ini?," Dan, akhirnya, Melisa demo, tidak terima dengan perlakuan Rian kepadanya. Wajahnya semakin berlipat saking kesalnya.
__ADS_1
Huh, Rian mendesah. Hatinya semakin panas, mendengar suara teriakan Melisa. Namun, dia memilih diam, membuka mulut, akan membuat kekacauan. Akan membuat keadaan semakin buruk.
"Mas, kamu dengar aku ngga, sih?," Melisa mengguncang lengan suaminya.
"Apa sih? Kau tidak tahu aku sedang banyak masalah. Bisa ngga diam saja jika tidak membantu? Ocehanmu, membuat kepalaku semakin pusing," Bentak Rian.
Melisa terlonjak saking kagetnya, belum pernah Rian semarah ini, sekasar ini, padanya. Hati Melisa sakit, dia selalu mendapat kelembutan, jadi hatinya langsung luruh saat Rian membentaknya. Melisa menangis, benar-benar menangis karena hatinya yang lembut dan mudah rapuh.
"Mas," Lirihnya. Melisa menutup mulutnya dengan telapak tangannya mencegah suara tangisannya mengganggu Alicia. Tubuhnya bergetar, bahkan terguncang, dia tidak pernah tahu sakit hati dan kesedihan, sehingga bentakan Rian membuat dirinya, kacau.
Rian mengusap kasar wajahnya, menjambak rambutnya sendiri. Dia menengadah, dengan tangan terkepal. Beban di hatinya tak mampu lagi di tanggung, seperti gunung berapi yang siap menyemburkan lava pijar. Rian merapatkan giginya, saat melihat Melisa masih terisak. Dia tidak bisa berbuat apa-apa, selain pergi dari sini dan menumpahkan gumpalan lava pijar, di tempat lain.
Rian kembali memacu mobilnya melewati hujan lebat. Jalanan di depannya nyaris tidak terlihat, pikirannya yang kacau, jalanan yang padat karena semua orang berlomba untuk segera sampai dirumah, membuatnya semakin frustasi. Hingga di jalan yang sepi, Rian memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, seiring air mata yang mengalir deras. Seolah masalahnya tidak ada jalan keluarnya.
Hingga di sebuah perempatan jalan, Rian mengerem laju kendaraannya secara mendadak, saat sebuah mobil melintas di depannya. Rian memukul kemudi berulang-ulang, hingga tangannya terasa sakit. Rian semakin terisak, meraung di dalam mobil, menumpahkan semua beban di hatinya. Laki-laki yang putus asa, menangisi kesedihannya.
"KIRAAA."
.
.
.
__ADS_1
.
Hai, hai👋👋 selamat siang semuanya😘😘