Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Janji Kelingking


__ADS_3

Subuh hari, Kira terkejut saat merasakan dirinya terasa terhimpit. Ketika dia menoleh, di lihatnya suaminya menempel ketat, dengan lengan melilit di pinggangnya. Mereka berdekatan tanpa jarak dalam posisi miring, karena ranjang Jen tidak cukup lebar menampung mereka bertiga.


Harris membuka mata saat di rasa tubuh di depannya bergerak lembut. Bergesekan pelan.


"Yang, kenapa kau bisa tidur di sini?" Kira menghadap suaminya, yang terlihat segar. Mata elang itu jernih, memantulkan temaram cahaya lampu.


Harris meletakkan telunjuk di bibirnya, mengisyaratkan agar Kira diam. Dan manik matanya bergeser ke kiri, seakan mengajak bicara di luar. Harris bangkit perlahan, dan membuka pintu.


Kira patuh, dan turun dari ranjang perlahan, mengikuti suaminya keluar dari kamar anaknya.


"Ada apa sih?" Kira mengusap matanya, berulang agar pandangannya tidak lagi samar.


"Ku rasa, ketiga bocah itu sengaja mengunci pintu kamar, Yang," Harris membalik badannya, beberapa langkah menjauh dari pintu. Tepat di antara ruang kerja dan kamar anak-anak.


"Maksudmu apa sih, Yang?" Kira masih memejamkan mata, dan mengusap pipinya dengan malas. Dia masih mengantuk dan tenaganya belum pulih sepenuhnya.


"Kau harus di guncang biar bisa berpikir," Harris menyambar tubuh itu dengan cepat, menyeretnya ke dalam ruang kerja yang letaknya paling dekat dengan tempatnya berdiri.


Tangan kekar itu, mendekap Kira lebih ketat agar tidak terlepas, sebab Kira meronta, minta di bebaskan.


"Yang, badanku masih terasa sakit, jangan lagi," Kira memutar sedikit kepalanya, memohon belas kasihan suaminya.


Kira menelan ludah, saat membayangkan kekerasan yang akan di alaminya pagi-pagi buta. Dan, juga efek kekerasan itu, tidak akan meninggalkan tubuhnya secepat datangnya, sakit yang membuatnya menginginkan lagi. Dia yakin sekali, dia tidak akan bangun seharian.


Harris tak menghiraukan, dia menjatuhkan Kira di sofa lembut dan besar berwarna cokelat gelap. Sehingga tubuh Kira memantul berulang di sana.


"Yang, plis, ini sudah subuh, aku belum mandi. Nih, masih bau," Kira merengek di kaki Harris, dengan pundak terangkat maju, seakan menunjukkan betapa bau badannya tidak ada harum-harumnya, sama sekali. Mengaitkan kedua tangannya di paha suaminya, seperti gurita. Kepalanya menengadah, sehingga tampak olehnya garis lurus tubuh rata itu.


"Memangnya aku mau apakan kamu? Orang aku cuma membawamu ke sini, biar tidak di dengar anak-anak," Harris membuka ikatan tangan Kira di pahanya, yang membuat mati rasa.


Kira merengut dalam. Nafasnya terbuang kasar, saat suaminya juga ikut mendudukkan tubuhnya di sofa dengan keras, sehingga Kira ikut bergoyang lagi.


"Kau sangat menyebalkan," Kira memukul pangkal lengan suaminya yang menonjol di balik lengan piamanya. Berulang kali. Melampiaskan rasa malu yang menjalar hingga ke ujung telinga dan mengambang di permukaan wajahnya.


Harris tertawa, menertawai istrinya yang kesal dan malu. Tangan kirinya meremas ujung hidung yang berkilat merah itu, hingga semakin memerah.


"Otakmu perlu di bersihkan, Sayang. Terlalu banyak racun di sini," Harris mengacak rambut yang masih belum jelas arah belahannya.


Kira mendesis geram, dengan kasar dia menampik tangan suaminya yang secepat kilat menjauh sehingga Kira hanya menampar udara. Yang membuatnya semakin kesal.


Dengan dagu sedikit terangkat, seakan mengusir rasa malu dan kesal, dia menghardik suaminya.


"Apa yang akan kau katakan padaku?"

__ADS_1


"Sudahlah, kau pasti tidak ingin lagi mendengarnya," Harris merentangkan tangannya hingga mencapai bahu kanan istrinya. Menariknya lebih dekat.


"Jangan membuatku semakin penasaran, Yang. Apa yang anak-anak lakukan?" Kira menahan tangannya di dada suaminya, mencegah mereka semakin dekat.


Harris berdecak, ketika bibirnya siap mendarat di pelipis berselimut rambut yang harum dan lembut, tetapi, malah tertahan rasa penasaran istrinya.


"Excel dan Jeje, sepertinya mengunci pintu kamarnya dengan sengaja, mungkin dia melindungimu dariku. Mungkin kau selalu terlihat lelah, jadi mereka berpikir aku menyakitimu. Dan, mungkin juga karena ini," Harris menyisir rambut Kira kebelakang, mengusap sisa pertempuran mereka, dengan lembut. Menyisakan desiran halus menjalar ke punggung. Terasa geli, hingga Kira mendesis di balik bibirnya yang tercapit.


"Dasar, anak-anak bandel. Mereka terlalu lama mendapatkan kelonggaran dariku, sehingga mereka mulai bertindak semaunya," Kira mengepal, kesal karena di kerjai oleh anak-anaknya.


"Sudahlah, itu tak jadi masalah, mereka hanya takut Mamanya terluka. Biarkan saja, aku akan mengikuti permainan mereka. Sekarang, kembalilah ke kamar, pura-pura saja kau tidak tahu apa-apa," Harris menyisir rambut istrinya, menyelipkan di belakang telinga, dengan lembut dan penuh perasaan.


Hem, di perlakukan penuh cinta membuat Kira berkaca-kaca. Seakan tidak ada kalimat yang mampu menggambarkan perasaannya saat ini. Kira menatap penuh kelembutan pada suaminya.


"Apa yang kau pikirkan? Kau mau lagi?" Harris membelai pipi hingga ke dagu, menyisipkan di antara jari tengan dan telunjuknya. Menariknya lebih dekat.


"Aku, aku sangat mencintaimu, Mas," Kira merangsek di pelukan suaminya, membenamkan wajahnya di sana. Mulutnya mulai lancang dan agresif. Malu, tapi dia tidak sanggup untuk tidak mengatakannya.


"Katakan itu setiap hari, meski aku sudah tahu," Harris mengecup sisi kepala istrinya berulang-ulang. Membalas pelukan itu, tak kalah hangat dan erat. "Aku juga sangat mencintaimu, Sayang. Sangat."


"Kembalilah ke kamar, aku tidak mau ketahuan dengan cepat," Ucap Harris saat dirasa mereka terlalu lama berpelukan. Harris menunggu Kira melepaskan sendiri pelukannya.


Kira mengangguk dengan senyum bahagia. Lalu melangkah menuju kamar anak-anaknya lagi, di ikuti Harris yang langsung mengunci kembali pintu itu. Kira menghela nafas, memikirkan ulah anak-anak yang sedikit berlebihan. Beruntung sekali, Papanya mau mengerti, dan tidak membuat masalah semakin runyam.


Perlahan, Kira kembali ke dalam selimut, pura-pura tidur lagi. Namun, beberapa saat kemudian, dia menjadi waspada saat alarm jam di meja, berbunyi. Jeje tersentak bangun, tergesa-gesa dia mengeluarkan kunci pintu di sakunya, dan meletakkan kembali pada lubang kunci. Jeje mengusap dadanya, lega. Lalu, Jeje mendekati Mamanya, saat di rasa Mamanya masih terpejam, Jeje kembali ke ranjangnya. Pura-pura tidur lagi.


****


Hari ini Kira berencana ke Dokter Vivian lagi. Dan juga janjian dengan Ivy untuk ke sebuah klinik perawatan kecantikan. Merasa dirinya perlu melakukan itu sekarang. Membayangkan Harris mengelola dirinya, pasti itu sudah tak berbentuk lagi. Dengan siul menggoda Ivy mengiyakan permintaan Kira. Bahkan Ivy langsung mendaftarkan Kira di sebuah Klinik kecantikan terkemuka dan paling bagus.


"Siapa yang kau telepon? Sepertinya sangat rahasia sekali?" Harris meletakkan ponsel di meja makan, dan tangan kanannya mengusap pundak istrinya yang duduk membelakanginya. Harris curiga, saat istrinya menelpon dengan suara rendah sedikit berbisik.


"Ivy, Yang. Kau kira siapa?" Kira mematikan sambungan teleponnya, dan meletakkan ponsel di depan suaminya, "Aku buatin kopi dulu ya, Yang,"


Kira segera beranjak ke dapur setelah mendapat persetujuan suaminya. Kira tahu, Harris akan memeriksa ponselnya, setelah kepergiannya. Namun, Kira sama sekali tidak keberatan, toh, tidak ada yang perlu di khawatirkan, Kira sendiri tidak punya banyak koneksi melalui ponselnya.


"Pagi, Papa," Jen menyapa Papanya dengan senyum ceria.


Harris menoleh, dan menyambut Jen ke dalam pangkuannya. "Pagi juga, Anak Gadis Papa. Heem, wangi sekali anak Papa."


"Jen kan sudah mandi, pasti wangi lah, Pa," Jen meraih ponsel Mamanya, sebelum menyandarkan tubuhnya di dada Papanya.


"Oh ya? Bukannya Papa yang wangi?" Harris menempatkan dagunya di pucuk kepala Jen, saat gadis kecil itu mengarahkan kamera ponsel ke arah mereka, "Dasar gadis centil."

__ADS_1


"Satu lagi pakai ponsel Papa," Jen merebut ponsel Papanya, dan dengan gesit membuka menu kamera. "Papa senyum yang paling manis ya, biar imut kaya Jen."


Harris pasrah saja mengikuti perintah Jen. Tiba-tiba terlintas ide, untuk menaklukkan ketiga bocah ini.


"Eits, tunggu dulu," Harris menjauhkan wajahnya dari sisi Jen. "Foto sama Papa ngga gratis, Jen harus bayar sama Papa."


"Papa kan kaya, masa masih butuh uang dari Jen?" Jen mengerjap bingung. Bulu mata itu bergetar, membingkai mata bulat nan murni.


"Bukan pakai uang, tapi Jen harus jawab pertanyaan Papa. Bagaimana?"


Jen menggaruk rambutnya dekat dengan belahan yang membagi rambut itu menjadi dua. "Jangan yang susah ya, Pa."


"Ini sangat mudah, dan hanya satu. Em, siapa yang punya ide untuk mengunci kamar kalian?"


Raut wajah Jen menyurut, dia bimbang, antara Papa dan Kembarannya. Menimbang-nimbang kemana pilihannya condong.


"Oke, Jen akan jawab, tapi, Papa jawab dulu pertanyaan Jen. Bagaimana?"


"Kau sama liciknya dengan Mamamu. Baiklah, Papa jawab pertanyaan Jen," Harris tak punya pilihan, selain menuruti kemauan Jen.


"Apa benar Papa menyakiti Mama?" Jen memandang manik mata hitam Papanya dengan berani.


"Menyakiti seperti apa misalnya?"


"Papa memukul Mama atau mencubit Mama, mungkin?" Jen menaik turunkan bahunya dengan cepat, dan juga mengalihkan perhatiannya ke sembarang arah.


"Papa hanya menghukum Mama, karena Mama tidak menurut sama Papa. Tapi, Mama senang kok, malah minta di hukum lagi. Mama aneh kan, Jen?" Harris merendahkan suaranya di telinga Jen.


"Benarkah? Mama sangat nakal ya, Pa?" Jen juga berbisik dengan kepala tertunduk berdekatan dengan Papanya.


"Iya, Jen. Mama sangat nakal, Papa sampai tidak tahu harus bagaimana, Sayang. Untungnya, anak-anak Papa baik dan cantik seperti Jen."


"Oh ya? Papa benar, Jen sebenarnya tidak mau mengikuti perintah Jeje, tapi katanya demi Mama, tak taunya malah Mama yang nakal."


"Jen janji jangan beritahu Jeje, Kak Excel atau Mama ya. Ini rahasia kita. Oke," Harris mengacungkan kelingking yang langsung di sambut Jen.


"Jen berjanji, Pa," Jen mengangguk seiring jari mereka bertaut mengikat sumpah.


Harris tersenyum senang, Jen sangat berpihak padanya. Berulang kali Harris menghujani ciuman di pipi menggemaskan milik Jen. Dan, membiarkan dia mengambil foto dengan berbagai ekspresi yang di minta Jen.



__ADS_1




__ADS_2